
ICPA bisa bergerak cepat di satu waktu dan lambat di waktu yang lain.
Ketika Alex dan Emil kembali ke markas pusat ICPA, Fergus memanggil mereka ke sebuah ruangan berkomputer canggih. Fergus berdiri di tengah ruangan sembari memijat dahinya, memasang muka suram. Tiger di atas kursi roda melipat tangannya di depan dada. Pada dinding besar di seberang mereka, tampak wajah garang Caitlin.
[Apa ini? Setelah merebut Zetta Sonic dariku, membiarkan profesor terbunuh, sekarang kamu menuduhku dan Baron menculik Jayden? Memang aku ini apa? Orang jahat? Aku ini bagian dari Special Force sampai kamu mengacaukan semuanya. Apa sih maumu, Alex?]
Spontan, semua orang menoleh pada Alex. Alex sendiri bergeming, tak mampu merespon. Emil bergerak untuk menutup pintu di belakangnya. Dalam keheningan itu, mata Fergus bergiliran melihat setiap orang di dalam ruangan. Seolah ingin keluar dari sana tapi ingin ikut mendengarkan karena tanggung jawab misi menemukan Jayden ada padanya. Fergus membuka mulut ketika Caitlin sudah kembali bicara dengan nada tinggi.
[Asal kamu tahu, Baron berusaha memintaku keluar dari ICPA berulang kali. Menurutnya, organisasi ini berbahaya. Dan, aku menempuh bahaya untuk mengamankan dunia bersama kalian. Baru beberapa waktu aku meninggalkan ICPA, kalian sudah menuduhku seperti ini. Apa ini balasan yang kudapat?]
Tiger menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar Caitlin sedikit tenang. Namun, itu tidak berhasil. Si gadis masih mengomel.
[Aku mendapat kehidupan yang jauh lebih baik bersama Baron. Dia benar. Kalian tidak ada bedanya dengan penjahat. Sama-sama berbahaya. Wajar saja kalau dia ingin aku tak terlibat dengan kalian lagi. Jadi, untuk apa aku menculik Jayden? Balas dendam? Jangan konyol! Kalau aku ingin balas dendam, aku akan menculikmu. Bukan Jayden. Coba pakai otakmu!]
“Kalau begitu, buktikan!” Alex berteriak.
Kali ini, semua pasang mata menatapnya dengan berbeda. Mereka bukan menunggu respon seperti yang terjadi saat dia masuk ke ruangan. Semuanya tak menyangka Alex bisa membalas demikian. Tak ada ketakutan atau keraguan di matanya. Dia benar-benar sedang menantang Caitlin secara virtual.
[Apa? Bukti apa maksudmu? Membuktikan kalau aku enggak terlibat? Huh! Kamu yang menuduhku, jadi kamu yang harus membuktikannya!]
“Emil dan aku menemukan banyak kesamaan misimu dalam penculikan Jayden. Itu bukti dari kami,” balas Alex cepat. “Mana buktimu? Kalau kamu benar-benar tak bersalah, seharusnya kamu bisa membuktikannya juga kecuali kamu memang terlibat.”
Caitlin mendengus. [Konyol! Dengar, ya. Baron dan aku berada di luar kota waktu penculikan Jayden terjadi. Ada tiket pesawat dan bukti pemesanan hotel, kalau memang itu yang kamu mau.]
__ADS_1
Fergus berdehem. “Agen Caitlin— maksudku — nona Caitlin, aku menghubungimu untuk memberikan sedikit pertanyaan bukan menuduh—”
“Kamu bisa menyiapkannya sebelumnya!” Alex menghiraukan ucapan Fergus pula. “Penculikan ini terencana dengan baik. Terlalu baik. Hanya orang yang tahu detail misimu bisa menirunya persis. Seolah… Seolah kamu memberitahu Baron detailnya dan membuatnya lagi.”
Fergus mengusap dahinya. “Oke. Itu baru tuduhan.”
[Baron tidak bersalah. Dia sibuk dengan bisnis ini itu. Aku bisa memberikan agenda kegiatannya kalau kamu mau. Atau, kamu mau bilang itu semua palsu? Seperti agenda palsu yang biasa dilakukan ayahmu?]
“Ayahku tidak ada hubungannya dengan ini!”
[Baron juga tidak ada hubungannya! Jangan libatkan dia! Kupikir kita bisa jadi teman setelah aku keluar dari ICPA. Ternyata kamu malah berusaha mencari-cari kesalahanku. Memberikan Dragon Blood padamu benar-benar kesalahan besar. Seharusnya kami membiarkanmu mati—]
“Cukup!” Tiger berteriak.
Tak ada yang berani memecah keheningan sampai Tiger sendiri bicara lagi. “Caitlin, aku percaya padamu. Aku juga percaya pada Alex. Kita semua adalah rekan. Entah itu dulu atau sekarang. Kita bukan anak-anak. Jangan main emosi. Kamu membongkar identitas Alex begitu saja. Itu benar-benar kekanak-kanakan.” Tiger melirik Fergus. “Soal ini… kamu… baru dengar, ‘kan?”
“Apa? Oh. Soal apa? Tidak. Maksudku… Ya, ya. Tentu saja.”
Alex bersumpah melihat Fergus salah tingkah. Dia hendak memijat dahinya atau pelipis atau malah mengusap dagunya. Tangan itu pada akhirnya malah terlipat ke depan dada, membuat otot-ototnya terekspos di balik baju lengan panjang kelabu. Fergus menangguk canggung. Alex tahu kalau Fergus tak terkejut dengan ucapan Caitlin soal identitas Zetta Sonic. Alex memutar bola matanya.
Fergus menambahkan. “Ini… Ini memang sedikit… sangat mengejutkan.”
Tiger mengernyit ikut bingung. Detik berikutnya, raut wajahnya kembali seperti biasa. “Bicara berdasarkan fakta, rekan-rekan. Berikan bukti. Itu yang harusnya kita lakukan, bukan begitu?” Tiger menoleh pada Fergus.
__ADS_1
Fergus berdehem lalu memberikan beberapa anggukan mantap. “Ayo bicara soal fakta.” Pemimpin ICPA tingkat negara itu akhirnya mendapat kesempatan bicara. “Apa yang ditemukan Emil dan Alex soal kemiripan misi Caitlin dalam penculikan Jayden memang sangat sulit diabaikan. Di sisi lain, kita percaya siapa pun yang menculik Jayden akan dapat keuntungan. Sementara Baron — kalau benar dia pelakunya — tidak akan dapat keuntungan apa pun. Kita bisa bicarakan masalah ini bersama. Caitlin, kamu bisa berikan bukti yang kamu punya supaya Emil bisa melanjutkan penyelidikan.”
Caitlin terdiam sesaat sebelum akhirnya ikut mengangguk. [Akan kukirim datanya sebentar lagi. Setelah itu, kuharap tidak ada tuduhan gila lagi dikirimkan padaku atau Baron. Aku permisi.] Sambungan video pun terputus.
Emil baru bersuara. “Kamu perlu duduk, Alex. Detak jantungmu terlalu cepat.”
Alex tak melawan. Dia memang merasakan jantungnya berdetak kencang seolah ingin melompat keluar. Tangan gemetar. Mungkin oleh amarah, mungkin oleh yang lain. Dia merasa lemas sekaligus kesal. Dia ingin bertarung juga beristirahat di waktu yang sama.
“Aku tidak seharusnya mencampuri urusan Special Force. Kalian ada di bawah pimpinan Nadira. Aku hanya membantu menemukan Jayden. Cuma itu,” kata Fergus. “Jadi, kubiarkan kalian sendiri. Hubungi aku kalau kalian butuh sesuatu.” Fergus pun meninggalkan ruangan.
Tiger kembali membuka percakapan. “Hei, bocah—”
“Kamu mau bilang kalau aku terlalu gegabah?” Alex memotong ucapan Tiger.
Tiger menggeleng. “Tidak. Itu berani.”
“Kamu lebih percaya padanya daripada aku.”
“Tidak. Aku percaya padanya sama seperti aku percaya padamu. Aku percaya padamu sama seperti aku percaya pada Caitlin juga Emil juga Jayden. Sekalipun harus diakui, kita banyak sekali perbedaan. Satu persamaan yang kita punya saat ini adalah soal Baron. Aku tidak percaya dengan Baron. Sama sekali. Kalau pun dia tidak menculik Jayden, aku yakin dia punya agenda tersembunyi.”
“Setidaknya dia punya motif. Membuktikan Caitlin lebih baik dariku,” tambah Alex.
Emil mendengus geli. “Itu menyebalkan. Melihat hari ini. Sambungan komunikasi barusan. Kamu sudah membuktikan kamu lebih baik darinya.”
__ADS_1