
“Apa yang kamu lakukan?” Alex berteriak. Tangannya gemetar karena geram. Meski begitu, dia tak tahu harus berbuat apa. “Kamu enggak akan lolos dengan ini!”
[Alex, tenang dulu.]
“Lima belas menit, Alex. Itu waktu yang kalian perlukan untuk memberi tahu pihak hotel untuk menemukan bom atau mengevakuasi semua pengunjung. Itu juga waktu bagi kalian bersabar di sini. Kalau aku lihat kalian berani keluar dari terowongan, kalian tahu apa yang akan terjadi.” Baron tersenyum sekali sebelum masuk ke dalam mobil.
“Kenapa kamu melakukan semua ini, Baron?”
“Kenapa? Sederhana saja. Kamu menghancurkan duniaku. Sekarang aku akan menghancurkan duniamu!” Baron masuk ke mobil dan segera saja mobil itu melaju cepat.
Alex dan Jayden hanya bisa melihat Baron meninggalkan mereka. Emil membantu mereka menghubungi pihak hotel Fleur de Lis. Jayden sibuk memeriksa kamera keamanan untuk mengikuti Baron namun gagal karena minimnya kamera pengawas.
Lima belas menit berlalu penuh siksaan.
Alex merasa lelah. Sangat. Lelah. Energi Dragon Blood dalam dirinya sudah hampir habis. Selain itu, dia juga merasa begitu bodoh. Dia duduk bersandar pada tepi terowongan yang sepi ditemani si robot. Seragamnya sudah luruh, dia tak membutuhkannya lagi malam ini.
Jayden memecah keheningan. [Enam belas bom sudah ditemukan. Tidak ada korban jiwa. Ibumu juga selamat.]
“Besok dia akan menghiasi tajuk utama. Berita bom bersama berita perselingkuhannya,” ujar Alex lirih.
[Kamu tidak berpikir kalau ibumu sungguhan selingkuh—]
“Ya. Aku tahu apa yang dia lakukan. Killer Bee menemukan banyak buktinya. Aku bisa menulis lebih banyak artikel dari para paparazzi itu.” Alex mendesah panjang. Dia membuang wajahnya, tak ingin Jayden melihatnya rautnya dari kamera si robot. “Dia banyak berbohong. Lebih banyak dari ayah, padahal selama ini kupikir aku belajar berbohong dari ayah.”
[Apa yang kamu lakukan?]
Alex tak suka arah pembicaraan itu. Dia gelisah dan tak sabar pergi dari sana. “Mencari tahu jadwal ibu, memastikan ke mana dia pergi, dengan siapa, kapan.”
[Tidak. Bukan itu maksudku. Apa saja yang kamu lakukan, Alex?]
“Cuma itu.”
[Benarkah?] Setelah mematikan seragam, Jayden hanya bisa melihatnya dari si robot. Dia tidak ingin memutar posisi robot dan berharap Alex berpaling padanya.
Alex akhirnya memang berpaling, seolah ingin menantang. “Tidak. Aku melakukan banyak hal sebagai Killer Bee. Kamu pikir aku akan berbuat nekat seperti Baron? Memasang bom di kamar ibuku?”
__ADS_1
[Tidak. Kamu bisa melakukan hal yang lain.] Ucapan Jayden membuat Alex menghela napas panjang. “Dengar, aku tahu itu masalah yang menyebalkan buatmu. Tapi, kamu enggak sendirian. Ada aku dan yang lain di markas. Kamu bisa cerita pada kami. Dan, kamu punya Preston di rumah. Ngomong-ngomong soal Preston…]
Alex mengernyit. Dia menanti Jayden melanjutkan ucapannya.
[Aku mengirim video keamanannya ke Zet-Arm.]
“Video keamanan apa?” Alex mengangkat Zet Arm ke depan dadanya. Sebuah layar muncul melayang di udara.
Di sana, dia bisa melihat gambar dari video keamanan rumahnya. Di dalamnya ada Preston dan sesosok anak seperti dirinya. Wajahnya, tingkah lakunya, bahkan cara bicaranya.
“Apa kalian memata-mataiku sepanjang waktu? Dan, darimana kalian dapat badut ini? Dia sama sekali tidak seperti aku,” protes Alex, mengabaikan semua kekagumannya pada si aktor yang berperan jadi dirinya.
[Jangan tanya aku.]
Preston menyuguhkan sarapan bagi majikan palsunya. Dia mengamati sejenak lalu bicara pelan. Suaranya tak terdengar jelas namun Jayden telah sedikit memodifikasinya agar bisa terdengar.
Preston berkata, “Dengar anak muda. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Alex, tapi sebaiknya dia baik-baik saja.”
Sosok Alex itu menggeleng dan berkata, “Apa maksudmu, Preston?”
Video pun berhenti di sana.
Alex memelototi video di depannya. “Itu menyeramkan.”
[Saranku, begitu pulang ke rumah, beri pak tua itu pelukan hangat. Dia benar-benar mencemaskanmu. Rover juga. Katanya, anjing itu awalnya kadang berusaha menyerang dan sama sekali tidak mau masuk ke kamarmu.]
“Dia menungguku di luar.”
[Semua orang menunggu kepulanganmu.]
Alex tersenyum tipis. Sekembalinya dia dari desas Kloster, Alex memang bermalam di markas Zetta Sonic. Kondisinya yang belum pulih benar memerlukan pengawasan dari dokter Vanessa. Baru dinyatakan stabil dan diizinkan pulang, Bompeii malah muncul lagi. Akibatnya, mereka mampir ke pelabuhan sebelum memulangkan Alex.
“Bagaimana denganmu?”
Jayden tergelak. [Aku sudah bilang semuanya, ‘kan.]
__ADS_1
“Aku menghancurkan Jason.”
[Terus, apa masalahnya? Aku bisa membuatnya lagi. Dia memang dibuat untuk membantumu di lapangan saat yang lain tidak bisa. Daripada bertanya bagaimana kamu menghancurkannya, aku lebih penasaran apa dia berguna?]
Alex terdiam. Dia teringat bagaimana si drone tenggelam di dalam air. “Kupikir, ya.”
[Baguslah. Kamu tahu, saat kamu lepas kendali di dermaga dan Tiger menyuruhmu pergi, itu menunjukkan kepeduliannya. Gavin memberitahuku soal Kloster. Fergus mungkin tidak terlihat berperan, tapi dia membantu rute pelarianku dari rumah sakit, khawatir kalau Kloster akan menyerang ke sana. Emil, sekalipun terlihat diam saja, membuat Nadira mengizinkanku ke Kloster untuk mencarimu. Semua menanti kepulanganmu ke kota ini.]
“Kalian membutuhkan Zetta Sonic—“
[Tidak. Kami membutuhkan Alexander Hill. Situasinya akan jauh berbeda kalau orang lain yang menjadi Zetta Sonic, Alex.]
“Sekalipun… seandainya dia Caitlin?”
Jayden menyahut. [Terutama… kalau dia Caitlin. Nadira akan menyesal setengah mati kalau menjadikan Caitlin sebagai Zetta Sonic. Baron berbahaya. Dia punya jaringan kriminalitas luas di bawah nama saudara kembarnya. Termasuk koneksi untuk mendapatkan robot pembunuh dan akses ke Kloster.]
“Kita perlu memperingatkan Caitlin.”
[Dia tidak akan percaya pada kita. Ingat waktu dia membantu menyelamatkanku dari penculik? Dia melakukannya untuk membuktikan kalau Baron tidak bersalah. Sekarang, lihat siapa dalang sesungguhnya. Baron berhasil mencuci otaknya.]
Alex mengepalkan tangannya. Jayden benar. Caitlin tidak akan semudah itu percaya pada mereka, bahkan seandainya mereka memberikan bukti-bukti itu padanya. Untuk sejenak, Alex merasa kasihan pada Caitlin.
[Kita akan mencari cara lain.]
“Aku tahu. Kamu masih punya banyak pekerjaan rumah. Salah satunya, memberi nama robot ini.”
[Baik, akan kumulai dari sana.]
Kemudian, mata Alex menangkap kelebat cahaya dari sisi terowongan. Sebuah mobil SUV putih datang. Tiger membuka kaca dan melambai padanya. “Kudengar kamu butuh tumpangan.” Hanya lelucon.
Lima belas menit mereka telah berlalu. Alex memastikannya lewat Zet-Arm. Dia masuk ke dalam mobil dan Tiger mengantarkannya pulang. Kali ini, Tiger mengantarkannya tepat di depan teras bukan di depan pagar.
Alex melihat Preston berdiri di pintu masuk. Begitu Alex menutup pintu mobil, Tiger pun menyetir keluar. Dari dalam rumah, anjing hitamnya datang menyambut. Alex mengusap kepala Rover di tempatnya sejenak sebelum akhirnya berlari-lari kecil memeluk si kepala pelayan.
Preston mengerjap, bingung. Kemudian, sambil menepuk punggungnya, dia tersenyum. “Selamat datang kembali, Alex.”
__ADS_1
“Aku pulang.”