Zetta Sonic

Zetta Sonic
Bun and Water


__ADS_3

Dalam kegelapan, Alex kesulitan menentukan arah. Dia hanya tahu untuk terus berlari dan lari. Sistem komunikasi dalam seragamnya telah nonaktif. Terakhir kali dia hanya bicara dengan Jayden lalu semuanya menjadi hening. Mungkin Jayden mematikan semua sistem ICPA yang terhubung padanya. Sebenarnya, itu hanya masalah waktu sampai ICPA bisa mengaktifkan kembali sistemnya dan melacak keberadaannya.


Alex mendadak berhenti. Dia tidak tahu dia berada. Dia berdiri di antara perbatasan. Kakinya masih menapak tanah keras dengan sedikit rerumputan. Di depannya terhampar jalan besar dan lengang. Deretan lampu jalan berderet berjauhan. Cahaya remang mereka enggan menerangi kondisi sekeliling. Sementara di seberang sisi jalan satunya, terdapat tanah lapang lain yang dipagari kawat berduri. Tempat itu terasa asing buatnya.


Alex memilih pohon terdekat. Matanya mengawasi sekeliling, memeriksa posisi kamera pengawas, sebelum mematikan seragamnya. Dia lelah. Badannya basah oleh keringat dan juga darah. Rasa sakit itu makin menjadi ketika Alex memilih merasakannya. Erangan pelan mengiring tubuhnya yang merosot ke tanah.


Ini pertama kalinya Alex sadar tak punya tempat untuk pulang. Dia tidak bisa pulang begitu saja. ICPA akan menemukannya dengan mudah di sana, begitu pula Kloster. Dia juga tidak bisa ke rumah sakit untuk memeriksakan lukanya. Dia tahu telah tertembak namun tak tahu separah apa. Dragon Blood membantunya bertahan sejauh ini. Meski begitu, efeknya berangsur-angsur berkurang.


Dahinya dilapisi keringat dingin. Kelopak matanya berulang kali memaksa menutup. Dia ingin beristirahat. Di sisi lain, rasa takut dan cemas memburunya.


Jason, si drone, bergetar di tangannya. Sistemnya aktif. Benda putih tersebut melepaskan diri dari genggaman Alex. Dia mengudara. Mata tunggalnya berputar pada Alex. Alex berpikir kalau drone itu akan menembaknya di dahi tetapi sepertinya Jason hanya memastikan siapa yang bersamanya saat ini. Karena setelahnya, Jason berputar ke arah jalan.


Sebuah mobil SUV hitam melintas cepat tanpa menyalakan lampu. Seolah tahu kalau Alex ada di sana, mobil itu mengerem mendadak. Pintu penumpang pun dibukakan.


Alex mengerjap, masih berusaha mencerna apa yang terjadi.


“Cepat masuk!” Pengemudi di dalam mobil berseru sembari melambaikan tangan.


Alex mengenali suara dan tangan kurus itu. Separuh memaksa dirinya mengabaikan semua rasa tak nyaman, Alex masuk ke mobil. Jason mengikut di belakangnya. Drone itu mendarat di atas pangkuan Alex namun tak sekalipun mematikan sistemnya. Bola mata tunggalnya berkedip beberapa kali seakan memeriksa sekeliling. Alex menutup pintu dan segera saja mobil kembali melaju.


“Apa yang kamu lakukan di sini, Gavin?” tanya Alex pada pria di sampingnya. Pemuda itu mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan kaca mata hitam pula.


“Menyelamatkan kita semua.”


“Ke mana kamu membawaku?” Alex merasakan tubuhnya makin melemah seiring kantuk datang. “Safe house yang lain?” Suaranya makin lirih.

__ADS_1


“Kita perlu ke tempat yang aman untuk mengobati lukamu.” Gavin melirik anak itu. “Kamu terluka dan apa pun yang terjadi, jangan tidur. Aku takut kekuatanmu akan mengambil alih saat kamu tidur.”


“Akan kucoba.” Lebih mudah bicara daripada melakukannya. Mata Alex terasa berat, kepalanya terasa ringan. Rasa sakit yang mengusiknya memaksanya untuk beristirahat. Setidaknya pandangannya tak diselubungi cahaya hijau lagi. Itu satu-satunya hal baik saat ini. “Bicaralah.”


“Kalau boleh jujur, aku enggak biasa ngobrol dengan agen ICPA benua lain. Tapi, kalau teman, itu lain ceritanya.”


Alex menyunggingkan senyum tipis. Gavin terasa menyebalkan kadang tetapi juga bisa diandalkan di saat seperti itu. Dia memanggilnya teman. Itu membuatnya lebih nyaman. Seringnya membolos sekolah membuat Alex terkadang merasa terasing dari teman-temannya sendiri, sebut saja seperti Willy.


“Kamu pernah coba roti di kedai bernama Hummingbird? Pegang kata-kataku, tempat itu enggak menyajikan apa pun yang enak selain roti manis.”


Alex mengernyit. Dia mendapatkan informasi berbeda dari Jayden. Sampai saat ini, Alex belum sempat mencoba roti kismis mereka. Dia bahkan mendapatkan beberapa hal tidak nyaman. Terlepas dari soal makanan, Alex justru menyoroti hal lain. “Kenapa para agen suka kedai itu? Ini bukan soal makanan, ‘kan?”


“Tempat itu tempat rekrutmen agen baru.”


Alex mengernyit. “Kamu bohong.”


“Kamu perlu belajar berbohong lebih baik,” ujar Alex. Senyumnya makin lebar. “Baik, berarti itu memang cuma soal makanan. Ngomong-ngomong, aku lapar. Dan haus.” Kini, Alex merasakan keinginan fisiknya terasa normal.


“Ada roti dan air di belakang.”


Alex memutar kepalanya. Dia melihat kantong kertas di jok belakang mobil. Ketika hendak mengulurkan tangan, Alex justru mendapati rasa tajam menyerangnya bertubi-tubi. Luka itu menyiksanya, memaksanya mengerang dan memejamkan mata erat-erat. Tertembak bukan pengalaman menyenangkan.


“Ini.” Gavin mengambilkannya untuk Alex dan memastikan anak itu bisa menerimanya dengan benar.


Setelah serangan rasa sakit itu mereda, Alex mengambil air dari dalam kantongnya. “Jadi,” kata Alex, “apa yang kamu rencanakan bersama Jayden?”

__ADS_1


“Tunggu! Kamu tahu? Apa yang dia katakan padamu? Apa kamu mencuri dengar pembicaraan kami di kamar rumah sakit?”


“Tidak. Jason yang memberitahu.”


“Jason enggak menyerangku.” Gavin menyadari maksud Alex. “Baiklah, aku bertemu dengan Jayden beberapa waktu lalu. Kami menyadari ada hal ganjil di balik penelitian profesor Otto. Ini soal sumber asal Dragon Blood.”


“Di mana itu?” tanya Alex sambil meneguk airnya.


“Kemungkinan besar. Pulau Kloster.”


“Kamu akan membawaku ke sana.”


Gavin mengerjap. Alex menyimpulkan begitu cepat. Gavin melirik anak itu sekali untuk memastikan kondisinya. Alex bergeming. Wajahnya terlihat lelah. Sangat lelah. Matanya sayu. Dia telah menghabiskan sebotol air sementara roti yang ada di tangannya bahkan belum dikeluarkan dari kemasan.


“Kamu perlu membawaku ke sana.” Alex mengulang kalimatnya. “Kamu, Jayden, dan yang lain. ICPA tahu risiko Dragon Blood. Aku bisa saja berubah jadi monster seperti… Seperti…” Alex berhenti. Suaranya bergetar. Dia takut dan tak ingin Gavin menyadarinya. “Aku… Aku membuat kerusakan. Aku…”


“Tenang, Alex.”


“Aku membunuh orang.” Alex membiarkan kalimat itu akhirnya keluar. Seiring dengan pengakuan tersebut, air matanya merembes keluar. Alex memalingkan wajah. Semakin kuat dia menahan tangisnya justru isaknya terdengar makin jelas.


Gavin menarik napas dalam-dalam. “Selalu ada hal pertama dari segala sesuatu,” katanya lembut. “Kadang untuk menegakkan keadilan, ada korban yang harus jatuh. Naray itu pembunuh. Dia juga membunuh orang. Dan, kamu…”


Alex ingin meneriakkan kalau dia juga sama saja. Sayangnya dia tahu kalau menjawab akan membuat tangisnya makin menjadi. Alex memilih diam sambil berusaha menenangkan hatinya sendiri.


“Kamu korban,” lanjut Gavin.

__ADS_1


Kata-kata itu membuat Alex terhenyak. Perlahan, tangisnya terhenti. Alex berpaling ke arah jalan. Gavin membawa mobil itu berbelok ke luar dari jalan raya. Mereka memasuki jalanan gelap di antara pepohonan tinggi.


“Kamu terjebak dalam kondisi yang rumit. Enggak ada yang memaksamu terlibat dalam masalah ini sejak awal,” tambah Gavin lagi. “Tapi, terus jadi korban atau tidak, pilihan itu ada di tanganmu. Apa pilihanmu, Sonic?”


__ADS_2