Zetta Sonic

Zetta Sonic
S16 - (Spring) One Less


__ADS_3

Mark jelas memberikan usulan yang membuat Dominic bimbang. Untuk sejenak, dia hanya bergeming tanpa bicara apa pun. Pandangannya bergantian beralih dari alat di hadapannya, tatapan Mark, lalu penjaga di mulut gua. Dia tahu jelas apa yang dia inginkan dan juga paham jelas risikonya.


“ICPA dipertaruhkan di sini,” ujar Dominic setelah satu menit hening tanpa pembicaraan.


“Sungguh? Kupikir ada yang lebih.”


“Benar. Banyak.” Dominic mengangguk. “Beri aku sepuluh menit.”


Mark mengangguk. Dia kembali ke posisi juga kegiatannya meliputi potongan kayu. Matanya ikut mengawasi kegiatan profesor Dominic dan kedua penjaganya. Kedua penjaga itu berusaha sekuat tenaga mereka agar tak terlelap. Sementara keduanya sibuk menahan kantuk, profesor menyelipkan satu tube tertutup dalam kantung jaketnya dengan mudah.


Segera setelahnya, si profesor membereskan peralatannya. Kali ini, Mark ikut mendekat. Dia membantu profesor membereskan peralatan, mengemasnya kembali ke dalam ransel.


“Aku baru tahu kamu punya jari yang terlatih,” bisik Mark.


“Itu berguna dalam permainan kartu.”


“Kuharap para penjaga sama senangnya denganku. Misi ini selesai lebih cepat.”

__ADS_1


“Ya, ya. Aku juga.”


Dominic tak bicara lagi. Dia menelan ludah, berharap menekan kegelisahannya. Tiu tak berjalan baik. Dia menjejalkan barang-barangnya secepat mungkin ke dalam ransel dan koper. Dia tak memedulikan lagi di mana letak tube yang telah diberi nomor dan diurutkan. Lagipula semua tube punya ukuran yang sama, nomor itu hanya membantu saja. Ditambah lagi sekarang ada bagian kosong pada lapisan busanya karena tube yang tak kembali ke posisi semula.


Kegiatan yang mereka lakukan menarik perhatian kedua penjaga. Mereka bangkit dari tempatnya lalu buru-buru mendatangi Dominic dan Mark. Mereka memerintahkan sesuatu dalam bahasa lokal. Mark tidak paham tapi dari bahasa tubuh para penjaga, dia paham kalau para penjaga ingin memeriksa bawaan mereka.


“Mereka ingin memeriksa sesuatu?” tebak Dominic. “Apa lebih baik kalau kita pura-pura tidak paham bahasa mereka?”


Mark tak menjawab. Tangannya masih sibuk membereskan barang ini dan itu. Si penjaga sudah sampai Dia bicara lagi dalam bahasanya dengan nada semakin meninggi tepat di samping Mark. Jemari si penjaga menunjuk ransel yang sedang dia isi. Mark hanya diam sampai si penjaga menghentakkan tombaknya ke lantai. Sebuah gertakan.


Kali ini, Mark pun mundur. Dia membiarkan si penjaga menarik mulut ransel. Matanya mengamati permukaan ransel. Si penjaga bicara lagi sambil menunjuk isinya. Mark tahu kalau si penjaga ingin dia mengeluarkan satu per satu barang bawaannya. Setelah mendesah pendek, Mark mengambil satu per satu barang untuk ditunjukkan.


“Mark?” Profesor berbisik nyaris tanpa suara. “Apa menurutmu mereka ingin memeriksa barang-barangku juga?” Sebuah pertanyaan yang tak perlu dijawab. Baik Dominic maupun Mark sama-sama paham apa yang mereka inginkan dan penjaga mau.


“Tenang, prof. Tunjukkan saja. Mereka tidak akan tahu tube yang kamu sembunyikan di saku,” ujar Mark. Dia mengemasi barang-barang, berpura-pura tak memperhatikan apa yang terjadi pada profesor.


Penjaga itu melakukan hal yang sama. Mereka menuntut profesor menunjukkan barang-barangnya. Dia mulai dari tumpukan kotak dan kaleng timah. Isinya beragam. Mark sendiri tidak paham peralatan profesor apalagi kedua penduduk lokal itu.

__ADS_1


Seperti ketakutan profesor, para penjaga menyadari adanya tube yang hilang. Mereka melihat ada bagian busa yang kosong. Keduanya berbincang satu sama lain lalu berpaling pada profesor. Kedua penjaga itu melontarkan pertanyaan. Namun, untungnya, profesor sendiri tidak paham bahasa mereka. Dia hanya tahu kalau mereka menanyakan soal bagian kosong tersebut. Salah satu penjaga bahkan menunjuk-nunjuk bagian kosong tersebut.


Profesor buru-buru menunjuk busa tersebut lalu membuat isyarat angka lima dengan tangannya disusul lambaian tangan. Mark sadar kalau profesor ingin meyakinkan lawan bicaranya bahwa hanya ada lima tube bukan enam.


Pembicaraan itu tak lantas berhenti. Nada mereka semakin meninggi. Dan sebelum Mark sempat bereaksi, salah seorang penjaga telah menghunuskan tombak sambil berteriak dalam bahasa lokal. Ujung tombaknya terarah pada leher profesor Dominic. Ketiga pria lainnya mengerjap kaget. Bahkan teman penjaga itu berusaha menenangkan kawannya.


“Wow! Sabar kawan! Ada sedikit kesalahpahaman di sini,” ujar Dominic buru-buru. “Hanya ada lima tube, oke. Aku tidak membawa enam. Aku tidak menyembunyikan apa pun. Tolong turunkan senjatamu. Itu kelihatan sangat… tajam.”


Mark yang tadi sedang berjongkok hendak berdiri memberi bantuan. Namun, si penjaga itu malah mengalihkan arah tombaknya pada Mark. Selagi penjaga lain berusaha menenangkannya, Mark bergeming. Dia penasaran apa yang akan terjadi pada mereka. Suku Kloster adalah suku pecinta damai. Sekalipun mereka bersikeras mempertahankan mata air tersebut dalam kegelapan, mereka terbuka pada ICPA dan pertolongannya. Mark tahu, salah seorang penjaga itu berbeda.


“Mark…” Profesor berbisik lagi. Dia cukup ngeri melihat pemandangan di depannya. Dua orang membawa tombak sedang berdebat satu sama lain. “Mungkin,” sambung profesor, “kamu bisa melakukan sesuatu.”


Saat itulah, Mark melihatnya. Si penjaga menunjuk ke arah jaket profesor Dominic, lebih tepatnya ke kantung yang berisi tube dengan air. Laki-laki itu menurunkan tombaknya. Sebagai gantinya, dia mendorong profesor keras-keras. Tangannya menarik tube itu paksa keluar dari kantungnya.


Rekan penjaga lainnya terbelalak. Profesor memulihkan dirinya sebelum terjatuh sungguhan. Mulutnya terbuka tak percaya lalu dia mengatupkannya cepat-cepat. Mereka tidak seharusnya membawa air itu keluar dari gua. Dia telah melanggar permintaan kepala suku. Lebih parahnya lagi, dia telah ketahuan.


“Mark… Mereka tahu… Bagaimana sekarang?”

__ADS_1


“Tentu saja.” Mark telah berdiri. Pistol tergenggam erat di tangannya. Moncongnya terarah pada si penjaga yang membawa tube. Jarinya di pelatuk. Dia siap menembak bila ada pergerakan dari lawan. “Ada anggota suku yang belajar bahasa kita. Dia tahu apa yang kita bicarakan sejak awal. Jadi, mari kita akhiri permainannya di sini.”


__ADS_2