Zetta Sonic

Zetta Sonic
Gather


__ADS_3

Tempat tinggal para pekerja tidak bisa dibilang baik. Sebagian gedung tempat tinggal itu hancur oleh ledakan. Beberapa orang terkapar akibat ledakan. Caitlin dan Tiger membantu sebisanya menolong mereka yang terluka.


Jayden tidak, dia ada di dalam mobil. Dia melanjutkan pemeriksaan bom juga berusaha menghubungi Nadira. Ledakan terdekat dengan posisi mereka tadi sempat memutus sinyal di sekitar mereka. Belum lagi dia harus menghapus jejak peretasan lalu memastikan keselamatan Mark Hill. Di atas semuanya, masalah terbesar adalah menemukan di mana Alex berada.


Ketika melihat sosok hitam datang dalam kecepatan tinggi dari spion, Jayden menghela napas lega. Alex berhasil tiba di sana dengan selamat.


“Sonic!” seru Jayden seraya melompat turun dari mobil.


“Ledakan beruntun. Ada tujuh titik--”


“Lima titik meledak, dua aman.” Jayden seolah bisa membaca ucapan Alex. Suara anak itu jauh lebih dewasa si balik kostum Zetta Sonic. “Bagaimana dengan para pemegang saham?” Jayden memilih kalimatnya dengan hati-hati.


“Aku melihat mereka berada di titik kumpul.” Alex melihat sekumpulan pria berjas di titik kumpul di luar pergudangan. Dia melihat ayahnya juga Baron di sana. Mereka sedang menantikan kedatangan pemadam kebakaran, ambulans, dan tentu saja polisi. Polisi pasti akan dilibatkan dalam kasus seperti ini. Alex penasaran bagaimana sikap ICPA.


“Kamu enggak apa-apa?” Jayden mengernyit ketika melihat goresan tak wajar pada pelindung bahu Alex. Pelindung bahu itu seharusnya mulus tak bercela.


“Aku bertemu Rando.”


“Apa? Bagaimana? Dia di sini? Jangan-jangan dia--”


“Tidak. Bukan dia. Dia sudah pergi sekarang.” Alex pun nampaknya bisa membaca pikiran Jayden. “James, dia--”


“Jangan katakan! Masuk ke mobil.”


Alex menurut, masuk ke mobil, duduk di samping Jayden. “Rando menghabisinya. Tapi, aku yakin bukan dia pelakunya. Dia bilang punya urusan denganku. Dia juga bilang ada yang menaruh nilai atas kepalaku. Apa maksudnya?”


Jayden diam sejenak. “Aku tak yakin harus menceritakannya padamu.”


“Bukan hal baik, ‘kan?”

__ADS_1


Jayden menggeleng. “Jelas bukan. Tapi, kupikir itu bisa menunggu. Kita bereskan dulu masalah di sini. Ada lima bom meledak di lima titik berbeda. Komunikasi kita ikut lumpuh karenanya. Aku belum bisa menghubungi Nadira. Kupikir sekarang saatnya mundur.”


“Tunggu, kamu mau kita pergi dari sini?”


“Kondisi sedang kacau. Ini saat yang baik untuk pergi supaya tidak mencolok perhatian. Kita tidak seharusnya ada di sini, Alex. Kita ICPA dari benua berbeda. Belum lagi kalau pihak berwenang di daerah ini terlibat. Semua bisa lebih rumit.”


“Tapi…” Alex berhenti.


Pikirannya mulai menyusun semua kejadian dari awal. Sinyal SOS palsu yang ternyata merupakan lokasi bom. James tewas. Lima bom meledak. Para pekerja tak bersalah jatuh jadi korban. Dia bertemu dengan pembunuh bayaran.


“Kita tidak bisa pergi dari sini. Pelakunya masih berkeliaran.”


“Kita tidak tahu siapa pelakunya. Kita bahkan tidak tahu apa pelakunya memang ada di sini bukan hanya memantau dari jauh.”


“Kamu lihat orang bernama Baron tadi? Dia sama sekali enggak takut dengan ledakan itu. Dia bahkan tersenyum padaku tadi. Seolah … Seolah dia sudah menantikannya.”


“Hei, itu bukan berarti kalau dia pelakunya. Seandainya pun dia pelakunya, kita tidak punya bukti. Kamu tidak mungkin menangkap dia atas tuduhan tanpa bukti, ‘kan?”


Jayden menghela napas pendek. “Apa rencanamu?”


“Bisakah kita bertahan di sini sampai orang-orang itu pergi ke tempat yang aman?”


Jayden mengusap dagunya. “Negatif. Terlalu berisiko. Begitu para polisi dan orang luar datang, akan sulit sekali bagi kita keluar dari sini. Kalau ketahuan kabur, bisa-bisa kita malah dikira sebagai pelaku pengeboman.” Jayden menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan pembicaraan mengenai ide yang tidak dia suka. “Meski begitu, kamu tetap bisa ada di sini. Sendirian, tanpa kami.”


“Maksudmu?”


Jayden mengusap dahinya. “Astaga, aku enggak akan suka ide ini.”


“Jayden. Kumohon.” Suara Alex makin melembut.

__ADS_1


“Dengar, ada beberapa fitur khusus di seragammu. Beberapa fitur baru prototype jadi kita tidak tahu apakah berjalan dengan baik atau tidak. Salah satunya adalah Stealth Mode.”


“Seragam ini bisa membuatku menghilang?” tebak Alex.


“Tidak sepenuhnya menghilang. Intinya, mereka bisa merekam kondisi sekeliling dan memantulkannya pada seragammu. Hindari tempat dengan banyak barang dan orang. Menghilang bukan berarti bisa ditembus. Kamu tetaplah benda padat. Aku juga tidak yakin kamuflase akan berjalan baik di tempat ramai. Kamu paham maksudku? Sebisa mungkin, bersembunyilah di tempat kosong atau gelap.”


Alex mengangguk. Dia segera berbalik untuk membuka pintu.


Jayden memegang tangannya. “Tunggu! Aku belum selesai. Tiger, Caitlin, dan aku perlu keluar dari sini sebelum ada orang luar datang. Komunikasi sedang terputus. ICPA memang punya jalur mereka sendiri. Harusnya sambungan akan segera diperbaiki. Tapi, tetap akan ada jeda waktu di mana aku tidak bisa mengawasimu.”


“Aku sendirian.” Alex paham hal tersebut.


“Kita tidak tahu apakah ada Rando atau pembunuh bayaran lain di sekitar sini. Aku mulai menyesal memberikan ide itu padaku.” Jayden mendesah lagi.


“Aku akan menjaga diriku sendiri. Jangan khawatir.”


“Kamu satu-satunya Zetta Sonic yang dimiliki ICPA saat ini. Akan ada masalah besar kalau sampai musuh menangkapmu atau ICPA cabang Regis yang menemukanmu. Nadira akan bilang begitu,” kata Jayden. “Kalau aku, aku hanya akan bilang. Jangan buat masalah!”


Alex tersenyum meski tahu Jayden tak bisa melihatnya. “Jangan khawatir.” Alex mengulang kembali kata-katanya. “Aku juga belum mau mati.”


“Satu lagi. Bawa ini!”


Jayden menyerahkan drone mungil pada Alex. Dalam kondisi tidak aktif, drone itu seperti piringan yang menggembung di bagian tengahnya. Keenam kakinya menempel rapat ke badan. Bagian atasnya bulat dengan kamera 360 derajat yang bisa memantau sekeliling. Bagian tepinya dilengkapi sensor. Bagian bawahnya menyimpan senjata yang bisa diganti. Jayden menyetel senjata laser padanya saat ini.


“Ulurkan tanganmu!” pinta Jayden.


Jayden membuka Flipad. Zet-Arm di tangan Alex berpendar. Layar-layar hijau transparan muncul melayang di udara. Jayden memasang fitur baru pada Zet-Arm. Tidak sampai semenit, layar-layar tersebut lenyap. Alex memeriksa ulang gelang putih di tangannya sekaligus memeriksa indikator energi Dragon Blood. Masih ada delapan puluh persen lebih. Seharusnya dia akan baik-baik saja. Asalkan tidak ada hal-hal di luar dugaan yang terjadi lagi.


“Sekarang, kamu punya kendali penuh pada drone ini,” kata Jayden. “Jaga baik-baik mainan kecilku. Jangan sampai rusak!”

__ADS_1


Alex mengangguk. “Saat kita kembali nanti, Jayden, kita harus memberikan nama untuk setiap alat canggihmu.”


__ADS_2