
Alex menemukan Emil di lorong. Ada beberapa pegutas lain yang juga berlalu lalang, Mereka sempat bertukar pandang dengannya tanpa bicara apa pun. Tentu saja. Agen semuda dirinya pasti bukan hal umum. Emil sendiri tidak tampak terkejut ketika melihat Alex berkeliaran di sana. Pemuda itu berhenti sejenak berharap Alex akan mengatakan sesuatu. Namun, karena dia tidak bicara apa pun, Emil berbelok di perempatan lorong depan. Dia tahu kalau Alex akan mengikutinya.
“Bosan di kamar?” Emil membuka percakapan ketika lorong sepi panjang membentang di hapannya. “Aku enggak menyalahkanmu.”
“Misi yang sedang kamu tangani. Rando, bukan?” Alex membuat tebakannya. Dia bicara soal misinya beberapa waktu lalu. Dia ingat pertemuannya dengan Rando yang membawa kotak berisi sebuah cairan.
Emil mengangguk sekali.
“Tidak boleh diceritakan pada orang lain?” Alex bertanya, mengomentari respon singkat Emil. Dia tahu kalau banyak hal dirahasiakan di ICPA. Misalnya saja identitas para agen. Tidak mengejutkan kalau perkembangan kasus pun dirahasiakan pada agen yang tidak bertugas.
“Tidak juga. Hanya saja, Nadira bilang itu bukan misimu. Tidak lagi. Tapi, ini lucu. Aku sering melanggar peraturan. Kupikir tidak masalah kalau kamu tahu. Kamu yang berhasil mendapatkan cairan itu pertama kali.” Emil tidak tersenyum ketika mengatakannya.
“Perkembangannya buruk?”
“Sedikit lebih buruk dari dugaan semula.”
“Ada permintaan tebusan?”
Emil terdiam lagi, memilih kata-kata yang tepat. “Sebenarnya. Tebusan terdengar lebih baik. Kita tidak tahu.”
“Apa maksudmu?”
“Cairan itu lebih berbahaya dari dugaan kita. Cairan itu, sebut saja, bisa mengubah seisi kota jadi monster. Takaran tepat, banyak orang akan tewas. Takaran salah, banyak orang akan jadi zombie. Yang mana pun, akan mengubah seisi kota kacau balau. Semua orang akan berebut mengamankan diri.”
“Jadi, cairan itu racun?”
“Semacam bakteri.” Emil membenarkan. Dia mengambil tablet PC yang tadi hanya ternggenggam. “Aku mengirim datanya ke Zet-Arm. “Kupikir kamu penasaran.”
Alex tak menyangkal. Dia memang penasaran. Sangat penasaran. Lebih dari itu, dia ingin tahu apa yang sedang terjadi. Dan, lagi-lagi, lebih dari itu, dia ingin berbuat sesuatu. Sisi lain dalam dirinya ingin beraksi Zetta Sonic. Dia sadar kalau pilihannya bertambah. Dia suka pesta. Dia juga suka bertarung dan jadi penyelamat kota. Kalau saja, tidak ada luka itu.
Alex spontan menggelengkan kepala, mengusir keraguannya. Zet-Arm kini berada di tangan kanannya. Dengan sedikit bantuan jemari pada tangan kiri yang masih dibebat, Alex berhasil masuk ke sistem data.
Layar-layar transparan muncul melayang di udara. Mereka menunjukkan data dari cairan yang dibawa Rando. Komponen asing membuat mata Alex pedih hanya dengan membacanya. Dia tidak paham apa maksudnya. Satu hal yang dia tahu, cairan itu pasti kejutan menyebalkan bagi ICPA.
__ADS_1
Selain itu dicantumkan pula nama para agen yang bertugas menangani kasus tersebut. Jumlahnya tidak sedikit. Mereka melibatkan beberapa agen lapangan, berikut operator, dokter ahli, juga peneliti. Nama profesor Otto ada di sana. Warnanya kelabu, berbeda dengan nama lain yang berwarna putih. Alex tak ingin bertanya apa alasannya. Dia sudah tahu.
Hal lain menarik di sana adalah adanya beberapa kolom kosong. Mereka tersebar di beberapa tempat, di samping atau di bawah nama agen yang tengah bertugas. Masih ada satu kolom kosong pada bagian agen lapangan.
“Apa ini? Kolom untuk agen tambahan?”
Di luar dugaan Alex, Emil terkekeh. “Benar. Mau mendaftar?”
“Tentu,” sahut Alex cepat-cepat.
Emil pasti tidak menduga jawaban spontan anak di sebelahnya. Dia terdiam dengan mulut menganga. Reaksinya membuat Alex ikut terdiam. Keduanya berhenti di posisi mereka masing-masing tanpa bicara sampai Alex tak betah.
“Apa? Kamu enggak akan menarik penawaranmu, ‘kan?”
Emil menggeleng. “Sekalipun aku enggak menariknya, kupikir itu mustahil. Maksudku, kamu tahu ‘kan? Kamu enggak benar-benar-- Maksudku, kamu bukan agen-- Bukan, bukan. Maksudku, kasusmu khusus.”
Ini pertama kalinya Alex melihat Emil kelihatan ragu dengan jawabannya sendiri. Alex kecewa. Dia pun mendesah sambil melangkah maju. Emil mengikuti di belakangnya, tapi tak lagi berani berjalan berdampingan. Dia membiarkan ada jarak di antara mereka.
“Hei.” Emil membuka percakapan lagi. “Sebenarnya. Aku penasaran. Kenapa kamu ingin ikut menyelesaikan misi ini? Kupikir… kamu enggak tertarik dengan pekerjaan ini. Apalagi, saat ini Jayden…” Emil membiarkan kalimatnya menggantung.
“Sebenarnya ada satu cara.” Emil berhenti seraya mengutak-atik tablet PC. “Bukan agen lapangan. Kalau kamu mau.”
Alex berhenti, berpaling padanya. “Jangan bilang kalau kalian masih butuh operator tambahan.”
“Sebenarnya, asisten. Aku butuh asisten operator.”
“Kamu butuh asisten?” ulang Alex. “Untuk apa?”
“Sebenarnya, tidak.”
Alex mengernyit setelah mendengar Emil mengatakan hal berbeda sekarang.
Emil pun menambahkan. “Mereka memberikanku kesempatan. Slot kosong. Siapa tahu aku butuh asisten. Atau, teman. Kamu tahu, banyak hal yang harus dilakukan. Bukan sekadar membimbing agen di lapangan.”
__ADS_1
“Mencari informasi? Mencocokan data?”
“Ya, semacam itu. Banyak yang harus diselesaikan. Secepat mungkin.”
Alex paham kalau Emil mengatakan hal berbeda dengan alasan berbeda. “Kamu punya kesempatan mengambil asisten tapi enggak melakukannya.”
“Semacam itu.”
“Sekarang kamu menawarkannya padaku.”
Emil mengangkat bahu. “Entahlah. Kamu Killer Bee. Kamu terlatih. Mungkin hanya sedikit penyesuaian. Sistem ICPA sedikit merepotkan.”
“Katamu, aku bukan benar-benar agen ICPA.”
“Mereka tidak perlu tahu siapa asistenku. Itu hanya nama. Formalitas.”
“Kamu seperti menggoda kucing dengan ikan.”
“Aku tidak paham. Kamu tidak berminat?”
“Kamu bercanda!? Tentu saja aku berminat!” Alex tak bisa menahan dirinya dari tersenyum lebar. Dia bukan hanya akan dapat kesempatan untuk melihat cara kerja ICPA dari dekat. Dia juga mendapat kesempatan mendekati data rahasia ICPA. “Satu pertanyaan lagi. Aku bisa memilih nama agen sesuka hati, ‘kan?”
“Ngomong-ngomong soal nama… Kamu akan memanggilnya apa?”
“Siapa?” Alex mengernyit lagi.
“Bukan siapa. Tapi, apa. Si robot. Robot lebah.”
“Robot lebah apa?”
Emil menunjukkan tablet PC di tangannya pada Alex. Layar itu menunjukkan gambar dari kamera pengawas di mana sebuah drone sedang duduk manis di samping sebuah benda kecil yang hampir tak nampak dari kejauhan.
Alex mengatupkan bibirnya, menyadari apa yang telah terjadi. Emil berhasil mengamankan Jason dan si drone sudah selesai dengan karyanya. Sebuah robot lebah. Jayden menanamkan suatu fitur rahasia pada Jason. Sebuah cetak biru dari robot lebah.
__ADS_1
“Kalau Jayden membaut ini untuk mengolok-olok aku, itu berhasil.” Alih-alih gembira, Alex berdecak kesal. “Pertanyaannya, untuk apa?”