
Jalan yang mereka lalui bukan hanya makin gelap dan sempit, namun juga terasa makin terpencil. Tidak ada tanda-tanda kalau jalan tersebut sering dilalui. Tak ada jalan beraspal apalagi lampu penerang. Gavin membiarkan mereka melaju tanpa cahaya. Dia mengandalkan semacam radar penunjuk dan kamera inframerah yang terpasang di mobil.
Alex mengusap habis air matanya selagi berada dalam kegelapan. Dia menyuapkan beberapa potong roti pada dirinya tetapi berhenti setelah itu hanya membuatnya mual.
Jason bergetar sekali lagi di atas pangkuannya. Sistem drone tersebut aktif mendeteksi bahaya atau ancaman yang akan muncul. Kali ini dia mendeteksi sesuatu yang telah diduga Alex sebelumnya. Mereka sampai.
Alih-alih melambat, mobil mereka menuruni jalanan terjal dan kembali pada jalanan beraspal. Gavin mempercepat laju mobil, masih tanpa menyalakan lampu. Tidak perlu. Jalanan kali ini lebih terang karena cahaya bulan serta pantulannya di atas laut. Mereka mengendara di atas jalan lebar dengan tebing di sisi kanan dan laut di sisi kiri.
Alex mengedarkan pandangan. Dia tak tahu di mana mereka saat ini namun dia tahu tujuan mereka. Ada sebuah kapal kecil di sisi tebing. Cahaya kuning berkedip darinya seolah memanggil mereka untuk datang. Masalahnya hanya satu. Kapal tersebut ada di laut sementara mereka berada di jalan yang jauh lebih tinggi. Pemisah di antara mereka bukanlah jarak secara horizontal melainkan ketinggian.
“Siapa yang ada di sana?” Alex memberanikan diri bertanya meski takut mendengar jawabannya.
“Orang yang akan membawamu ke tempat lahirnya Dragon Blood.”
“Para Kloster?” Alex menebak seraya pikirannya memikirkan berbagai hal terburuk. Mengingat kalau dia baru saja menghabisi pemimpin mereka, bukannya tidak mungkin kalau orang-orang di kapal akan menghajarnya.
“Sebut saja sejenis tentara bayaran.”
Mobil mereka akhirnya berhenti di tepi jalan raya. Di bawah tebing itu, kapal tersebut berada. Alex membuka pintu mobil. Angin kencang menyambutnya tak ramah. Dinginnya menusuk dan hempasannya seperti menampar-nampar tubuhnya. Rasa nyeri di tubuhnya makin menjadi. Ketika tangannya meraba di mana rasa nyeri itu berada, dia merasakan basah. Hal yang membuatnya terkejut bukan karena dia melihat darah kini menempel di tangannya, melainkan ada bercak hitam pula di sana. Dia tidak begitu ingat apakah darah Damon menghitam seperti itu pula di akhir hidupnya.
__ADS_1
“Alex, kamu bisa melompat?” Gavin memanggil. Laki-laki itu sudah berada di tepi pembatas jalan. Dia telah melambai pada kru yang bersiap di kapal. Kini, dia melambai pada Alex agar mendekat.
“Kamu ingin aku lompat ke…” Ucapan Alex tertahan ketika dia menoleh ke bawah. Kapal itu terlihat begitu kecil di bawah sana.
“Kamu kelihatan pucat.”
Alex sendiri tahu itu meski tak tahu mana penyebab pastinya, luka atau ketakutannya. Dia menelan ludah. Ini jelas berbeda dengan pengalaman bungee jumping yang pernah dia lakukan. Tak ada tali pengaman apalagi jaminan kalau dia bisa mendarat di sana dengan utuh tanpa tulang yang patah.
“Jangan khawatir,” kata Gavin seolah bisa membaca pikiran Alex. “Mereka profesional. Mereka menyiapkan alat untuk menerimamu di bawah sana?”
“Jalan atau trampolin?”
“Haha… Kalau kamu masih bisa bercanda seperti itu, sepertinya tidak ada yang perlu kukhawatirkan.” Gavin tertawa mendengar pertanyaan itu. “Mereka punya sesuatu yang lebih baik. Semacam anti gravitasi. Alatnya akan mengurangi kecepatan jatuhmu. Kedengaran meyakinkan?”
“Kalau Jayden melihat ini—”
“Kenapa? Dia akan mencegahmu?”
“Dia akan mengunggahnya di internet.”
__ADS_1
Gavin menahan tawanya kali ini. Penyebabnya jelas. Mereka melihat sorot lampu mobil di kejauhan. “Baiklah. Kita enggak punya banyak waktu.” Dia menekan tombol pada kunci mobil dan segera saja mobil yang tadi mereka tumpangi beranjak pergi. “Kamu duluan, aku akan melompat setelahmu.”
Alex sekali lagi mengedarkan pandangannya. Sepertinya makin hari, makin banyak hal bodoh yang dia lakukan. Seperti saat ini. Dia sendirian. Tanpa tim, tanpa teman, tanpa diketahui orang rumah apalagi keluarganya. Dia hanya bersama sebuah drone bersenjata laser dan agen dari benua lain.
“Alex, cepat!” Gavin memburu.
Sorot lampu mobil semakin mendekat. Alex juga menyadarinya. Sorot lampu itu bukan hanya sekadar sorot lampu kuning atau putih, melainkan campuran cahaya merah dan biru. Mobil polisi. Situasi bisa jadi semakin rumit lalu memaksanya melakukan hal bodoh lainnya. Jadi, Alex memilih menjalani ini lebih dulu.
Dengan luka di tubuhnya, Alex meringis ketika melewati pagar pembatas. Melewati bukan melompati. Alex baru berniat melompat ketika berada di tepi satunya. Itu lebih sulit dari dugaannya. Kepalanya didera pusing dan matanya mulai berair.
“Sial! Ayo!”
Alex belum sempat memahami apa yang terjadi. Dia merasakan lengannya ditarik ke bawah. Gravitasi membantu mereka menuruni tebing dengan cepat. Mungkin terlalu cepat. Sejauh ini, Alex belum merasakan kalau jatuh mereka melambat.
Kemudian matanya menangkap sorot lampu mobil yang berhenti. Sepasang kepala terlihat dari tepi pagar pembatas jalan. Meski Alex tak bisa melihat bagaimana reaksi di wajah mereka tetapi terdengar suara teriakan. Kedua orang itu berusaha menghentikan mereka. Tak lama lagi, polisi akan mengirim pasukan pencari.
Alex penasaran apa saja yang akan polisi lakukan. Apa yang mereka pikirkan? Apa mereka berpikir telah melihat dua orang yang berusaha bunuh diri? Akankah mereka mencari tahu identitas mereka? Dari mana mereka akan mulai? Mungkinkah mereka akan menghubungi ICPA? Apakah mereka akan mengirim helikopter untuk mencari?
Sekarang, Alex merasa tubuhnya begitu ringan. Dunianya seolah berhenti. Pikirannya lelah berandai-andai. Dia mendapati tubuhnya menabrak benda keras. Bukan menabrak, lebih tepatnya jatuh. Alex sadar telah berada di atas lantai dingin juga lembab. Lantai dari kapal yang tadi mereka tumpangi.
__ADS_1
Alex terbatuk. Napasnya terasa sesak. Dan, nyeri itu, membuatnya mengerang. Tubuhnya mengejang tanpa bisa dia kendalikan. Ada teriakan-teriakan yang dia dengar. Teriakan untuk segera pergi dari sana. Teriakan soal tali dan rantai. Teriakan soal suntikan. Teriakan ketakutan. Itu tak berlangsung lama. Setelah merasakan sengatan tajam di lengan kirinya, semuanya berhenti.
Sekali lagi, kegelapan menjumpainya.