
Alex telah tenggelam di depan komputernya. Ketiga layarnya tengah menyala. Layar di bagian kiri memutar lagu persis dengan yang dia dengar di dapur, laya di kanan tengah mengunduh game terbaru yang baru rilis. Sementara layar tengahnya yang berukuran paling besar menunjukkan diagram dan tabel. Lambang siluet lebah kuning berkelip di bagian bawah.
Dia tak perlu bertanya pada Preston detailnya, dia bisa mencari tahu sendiri. Preston punya putri semata wayang yang sekarang tinggal di luar negeri bersama suaminya. Ini kehamilan keduanya dan telah menginjak trimester ketiga. Alex sudah menemukan di mana rumah sakit tempatnya berada sekarang lengkap dengan dokter yang menangani dan tentu saja penyebab Preston khawatir.
Di laporan rumah sakit, penyebabnya adalah Plasenta Previa. Suatu kondisi kehamilan yang bisa berujung pada pendarahan bahkan lebih fatal lagi. Alex menyandarkan dirinya di kursi, memejamkan mata. Dia menempatkan dirinya dalam kondisi Preston. Kecemasan kepala pelayannya sangat wajar.
Alex ingat ketika Preston batal bertanya padanya. Dia pun mulai menerka-nerka. Mungkinkah pertanyaan itu terkait izin? Kalau diingat-ingat, Preston hampir tak pernah meninggalkan manor ini. Istrinya telah tiada, putrinya di luar negeri. Dia tetap di rumah selama hari libur. Mungkinkah ketika Alex bilang soal pesta padanya, Preston justru hendak mengajukan izin padanya?
Preston sendiri bilang agar tak perlu mencemaskannya. Jadi, kenapa dia cemas?
Alex melemparkan pandangannya ke taman dalam yang kini didominasi putihnya salju. Kemudian, tatapannya mengelilingi ruangan hingga pada Rover yang tidur nyenyak dekat kakinya. Setelahnya, tatapannya mendarat pada pigura kecil. Dia bisa melihat dirinya yang lebih kecil tersenyum lebar di depan ayah dan ibu.
Tanpa sadar, dirinya menghela napas panjang. Malam Natal seharusnya dihabiskan bersama keluarga, itu yang sering dia dengar. Preston sudah berulang kali menghabiskan malam-malam itu di manor. Tak jarang dia malah makin sibuk karena banyak pelayan lain mengambil liburan.
Sebenarnya, ini saat yang tepat bagi Preston untuk mengambil cuti. Dia punya alasan kuat. Alex berpikir mungkin Preston mendapati liburan itu sesuatu yang egois. Sebagai seorang kepala pelayan, dia berpikir untuk bertahan di manor sekalipun kondisi putrinya mencemaskan. Preston mungkin juga merasa kasihan padanya. Dia tak ingin meninggalkan majikannya seorang diri tanpa orang tua.
Alex tidak suka pemikiran itu. Dia tak suka dikasihani. Lebih dari itu, dia tak suka jadi alasan pemisah keluarga. Alex pun mulai menelepon. Dia tahu kalau Willy mungkin akan suka idenya ini. Dia membatalkan pesta malam Natal yang sejak awal dia sendiri inginkan. Dengan begini, Preston bisa pergi menemui putrinya.
Mungkin Willy akan berargumen agar memesan makanan dari luar. Tanpa Preston di sana, Alex tak ingin ada pengantar makanan apa pun masuk ke dalam manor. Sosok kepala pelayan ini bahkan lebih kuat dibandingkan sosok orang tuanya sendiri. Daripada memaksakan pesta di rumah, Alex memilih membatalkan pesta tersebut. Sambil tetap berharap Willy punya ide lain untuk malam natalnya.
Setelah beberapa kali panggilan dengan durasi yang tak sedikit, Alex pun keluar dari kamar. Dia menjumpai Preston masih di ruang tengah. Pria tua itu sudah tak sibuk dengan karangan bunga, melainkan sibuk dengan perapian. Kalau boleh jujur, perapian itu tak lebih dari sekadar hiasan. Manor itu menggunakan pemanas dari pusat, bukan dari api. Meski begitu, perapian tetap ada untuk sisi estetik.
“Preston.”
“Membutuhkan sesuatu, Alex?” Preston bangkit perlahan. Tangannya ditutupi sarung tangan yang kini menghitam oleh kotoran.
“Kamu seharusnya menyuruh pelayan lain melakukan itu.”
__ADS_1
“Aku bisa melakukannya. Kenapa harus menyuruh yang lain?” Preston masih menanti perintah dari Alex. “Ngomong-ngomong, kue jahenya sudah selesai dipanggang. Akan kukirimkan teh dan kuenya ke kamarmu.”
Alex menggeleng. “Tidak perlu. Aku punya hadiah untukmu.”
“Hadiah? Apa itu?”
Alex mendekati Preston. Tangannya mengulurkan sebuah amplop tipis padanya.
Preston menanyakan hal yang sama. “Apa ini?”
Alex tak menjawab. Dia membiarkan Preston membukanya sendiri. Si kepala pelayan melepaskan sarung tangan sebelum menerima amplop putih tersebut. Ketika amplop terbuka, ditariknya lembaran tipis di dalamnya. Dua lembar tiket. Satu untuk pergi, satu untuk pulang. Matanya yang keriput terbelalak. Tatapannya bergerak dari isi amplop pada sang majikan.
Alex tak menyangka bisa tersenyum saat itu. “Aku pernah dengar kalau malam Natal seharusnya dihabiskan bersama keluarga.”
Preston bergeming, ingat jelas kalau dia tidak pernah mengatakan hal tersebut pada Alex. Tapi, dia ingat sekali kalau pernah mengatakan itu pada ayah Alex, Mark Hill, dan juga ibunya, Alicia. Kejadiannya terjadi beberapa kali. Alex pasti tak sengaja mencuri dengar pembicaraan mereka.
Preston menggeleng. “Dokter bilang kalau dia baik-baik saja.”
“Mungkin. Tapi, kamu enggak. Kamu khawatir padanya dan itu sangat normal.”
“Alex, ada pesta yang akan--”
“Pestanya batal. Willy dan yang lain sibuk dengan acara mereka masing-masing. Jadi, kami memutuskan untuk membatalkannya.” Alex berbohong dengan mudah, seperti biasa. “Mungkin kami akan melakukan hal lain. Tidak melibatkan banyak orang, aneka makanan, dan bersih-bersih.”
“Semalaman bermain game?”
“Kemungkinan besar.”
__ADS_1
Preston menggeleng. “Tapi, aku belum bilang apa pun pada ibumu dan--”
“Aku sudah.” Alex jujur kali ini. “Menurutmu, aku akan beli tiket sebelum menelepon ibu? Aku bilang kalau Preston butuh liburan. Ibu memberikan jangka waktu dua minggu. Jadi, aku membelikan tiket itu. Jangan khawatir, kita bisa selalu mengganti tanggalnya bila kamu membutuhkan waktu tambahan.”
Preston terdiam. Matanya menatap tiket di tangan.
Alex melanjutkan. “Pesawatnya berangkat malam ini. Lebih baik kamu bersiap-siap dari sekarang.”
“Aku masih punya sedikit waktu untuk mendelegasikan tugas.”
Alex tergelak mendengar ucapan Preston yang terdengar sangat seperti dirinya. “Lupakan soal tugas kali ini. Cepat berkemas sana!”
Preston mengangguk. Dia merentangkan tangannya lebar-lebar dan menarik sang majikan dalam pelukannya. “Mungkin aku sedikit kotor. Tapi, aku hanya ingin kamu tahu betapa berharganya tiket ini untukku.”
Alex tak merasa canggung dengan Preston. Laki-laki itu sudah seperti kakeknya sendiri. “Anggap saja itu hadiah natal,” bisik Alex. “Atau, tugas. Mana pun yang membuatmu merasa labih baik.”
“Hadiah natal yang terbaik.”
Ucapan Preston membuat Alex menggigit bibirnya. Matanya mendadak basah. Dia menahan agar tak ada yang jatuh di pipinya. Mungkin Preston juga sama karena dia merasakan bagaimana badan Preston bergetar dalam pelukannya. Keduanya bertahan sebentar hingga merasa lebih baik.
Setelah melepaskan pelukannya, Preston langsung bicara, “Akan kubuat satu minggu. Itu seharusnya lebih dari cukup.”
Alex membalas dengan senyum simpul. “Jangan.”
“Kenapa? Kamu tidak berniat melakukan sesuatu yang akan mengancam manor ini, ‘kan, Alex? Aku harus memperingatkanmu, anak muda. Aku bisa menghukummu lebih buruk dari Mrs. Bellsey.”
“Jangan khawatir. Ada tempat lain yang lebih menyenangkan untuk diacak-acak.”
__ADS_1