Zetta Sonic

Zetta Sonic
Dock


__ADS_3

Tiger menjemput Alex lagi seperti malam-malam sebelumnya. Kali ini, Tiger bersama Jayden. Jayden duduk santai di kursi belakang mobil SUV. Mobil itu masih sama seperti mobil yang biasa dipakai Alex. Tidak ada penambahan fitur atau tambahan. Bukan masalah besar memang. Profesor Otto tidak bilang apa-apa soal mobil. Alex hanya berharap barang-barang baru itu lebih banyak dari dugaannya.


Alex mengintip ke belakang. Jayden bersila memangku laptop dalam balutan jumper hitam bertopi. Kantung matanya masih ada. Telinganya tertutup headset. Suara dari dalamnya sesekali terdengar keluar. Semacam lagu hip hop. Wajahnya muram, menunjukkan nuansa hati berbeda dengan lagu yang sedang didengar. Alex tak ingin menebaknya.


“Biarkan saja dia!” pinta Tiger. “Dia sedang sibuk mengkalibrasi Jason.”


“Jason? Siapa itu?”


“Drone miliknya. Kudengar kamu mulai menamai barang-barang. Jadi, dia ikut memberikan nama untuk teknologinya. Flipad lalu sekarang Jason, si drone penyerang atau bala bantuan. Kamu enggak berpikir kalau Jason seperti robot pembunuh mini milik ICPA?”


Itu memang kedengaran mirip. Namun, Alex malas berkomentar. Dia lebih berminat berkomentar soal nama yang diberikan Jason pada si drone. “Kenapa Jason? Dari Jayden’s son? Putra Jayden? Semacam itu?” Alex mendengus geli.


“Tanyakan padanya. Kamu akan kaget dengan alasannya.”


Alex menoleh ke belakang lagi. Dia melihat drone kecil di dalam koper yang sedang terbuka. Sepintas, drone tersebut tidak berbeda jauh dengan drone yang selama ini bekerja bersamanya. Bentuknya memang sedikit lebih lebih besar, satu setengah rentang tangan orang dewasa. Masih serupa piring terbang dengan tiga pasang kaki terlipat rapi di setiap sisinya. Warnanya putih berhias garis hijau mengelilingi kelereng hijau terang di bagian tengah.


Jayden melemparkan tatapannya ke depan. “Apa?” tanya Jayden sembari menjauhkan satu sisi headset dari telinganya.


“Tidak ada. Lanjutkan kerjamu!” Alex menyesal menoleh ke belakang sekarang.


“Kalau kamu cari seragam dan barang-barangmu, semua ada di sini.” Jayden menyerahkan tas ransel hitam sederhana padanya. “Aku sudah mengunggah buku manual ke Zet-Arm. Baca dulu baru tanyakan padaku kalau ada yang tidak jelas.”


Ransel itu lebih berat dibandingkan bayangan Alex. Dia kembali menghadap ke depan sambil membongkar isinya satu per satu. Dia menemukan emblem Zetta Sonic di dalam, perisai segilima dengan bintang  hijau yang bisa ditekan. Itu seragamnya, Alex tak perlu bertanya. Dia menemukan satu senapan laser, satu gelang penembak tali pengait, dan botol minum.


“Hanya ini?” Alex mengernyit.

__ADS_1


“Kamu mau tanya padaku atau padanya?” Tiger menyahut tanpa menoleh.


Mobil mereka melaju kencang di jalan tol. Jalanan masih ramai padahal sudah lewat pukul sebelas malam. Tiger berbelok di perempatan depan. Mereka menuju ke arah dermaga.


“Jangan bilang kalau kita akan naik kapal.” Alex tidak mengharapkan perjalanan mereka akan dilanjutkan dengan kapal. Pabrik itu jaraknya hanya beberapa puluh kilometer dari ibu kota. Mereka bisa mencapainya dengan naik mobil selama dua jam.


“Bukan aku yang mengatur jalurnya.”


Alex tahu Tiger tidak akan banyak bicara padanya. Dia pun melanjutkan memeriksa kompartemen lain di dalam ransel. Tangannya meraba-raba kain tanpa menemukan barang lagi. Alex mendesah. Dia mendekatkan emblem ke dadanya. Emblem tersebut menempel ke pakaiannya bagai magnet.


Ketika hendak menekan bintangnya, Alex mendapat ide lain. Dia tahu polisi juga biasa memasang emblem mereka di sabuk. Jadi, dia menarik lepas emblem tersebut dan mendekatkannya ke sabuknya yang tertutup kaus. Alex menggesernya ke samping, membuatnya bukan hanya tertutup kaus tapi juga jaketnya.


Tiger meliriknya, tersenyum simpul, tanpa bicara.


Alex menekan bintang tersebut hingga melesak ke dalam. Sensasi yang sama kembali. Alex melihat kepingan segienam keluar dari sekitar emblem. Mereka membalut badannya, kakinya, hingga tangannya. Sepatu bot tinggi dan sarung tangan itu kini terpasang sempurna. Lebih pas dan tidak menyesakkan. Selalu ada sensasi dingin dari seragam tempurnya. Kemudian, dia menyadari kalau semua sudah tertutup sempurna kecuali bagian kepala.


Alex tahu kalau dia harus memanfaatkan buku manual yang diunggah Jayden ke Zet-Arm. Ada berkas-berkas baru. Salah satunya mengenai seragam. Alex mendapatkan informasinya ketika mengakses bagian pelindung kepala. Dia membacanya cepat dan menyadari perbedaan seragam tersebut dengan seragam barunya. Alex menarik sun shade, menyingkap cermin di baliknya untuk memperhatikan dirinya sendiri.


Bagian depan seragam itu memang terlihat berbeda. Bagian kerahnya tinggi, membungkus lehernya dalam kehangatan. Bagian dadanya punya pelindung dada dengan kerah V dimana emblem Zetta Sonic kini muncul di sana. Ada garis di bagian bawah emblem membentang ke bawah. Pelindung tersebut terbuat dari bahan khusus yang dikembangkan ICPA. Ringan seperti plastik tapi kuat seperti baja, tidak heran kalau dia bisa meredam benturan tapi tetap empuk dipakai. Kali ini pelindungnya berbentuk seperti rompi sepinggang.


“Ini lebih dari perkiraanku.” Alex berdecak kagum.


“Jangan lupa puji profesor, seperti biasa, dan Jayden.”


“Jayden kali ini bekerja sama dengan profesor? Bisa kutebak kalau mereka juga terlibat banyak perselisihan.”

__ADS_1


“Lebih dari yang duga, Sonic.”


Alex tersenyum mendengar bagaimana Tiger berusaha membiasakan memanggilnya Sonic ketika berada dalam kostum tersebut.


Seragam tempur Alex juga punya tambahan bantalan di siku, pundak, dan beberapa sisi lain bak otot manusia. Semuanya berwarna hitam legam. Bagian hijau terang hanya bisa dia dapatkan dari pelipit pelindung dekat bahu dan di bawah emblem. Mereka memantulkan cahaya dengan baik. Alex bisa mengaturnya nanti sesuai keinginan. Seperti ucapan profesor, Alex juga menemukan bagian untuk mengganti warna seragamnya. Semua dalam kontrol Zet-Arm dan pikirannya. Seragam itu bisa menerjemahkan gelombang pikirannya langsung. Praktis dan cepat. Alex tak sabar menggunakannya.


“Kita sampai.” Tiger menjalankan mobil ke bagian paling sepi dan gelap. Tidak ada mobil lain dan orang di sana selain mereka. Penerangan pun tidak ada, hanya dari lampu mobil. Begitu Tiger mematikan mesin, mereka terperangkap dalam gelap gulita. Alex menyadari bagaimana mobil mereka masih bergerak. Sesuatu menarik mobil mereka.


Ketika baru hendak bertanya, mendadak muncul suara keras dari cahaya lampu sorot. Alex mendapati kalau mereka kini berada dalam kontainer besar. Di depan mereka ada landasan kecil dengan benda bulat besar persis seperti bola kelabu.


“Tunggu. Ini kapal selam?” tebak Alex.


“Kamu benar-benar membaca buku manualnya. Anak baik!” Jayden memberikan pujian lalu menguap lebar. “Itu kendaraan kita ke pabrik. Kamu tahu kalau pabrik itu berada dekat laut, ‘kan? Mereka membangunnya dengan suatu tujuan. Menyelundupkan para robot pembunuh lewat kapal selam.”


Alex mengangguk, dia ingat.


Jayden turun bersama laptop dan koper berisi Jason. Ketika mereka mendekati bola kelabu, bolanya berpendar putih. Ada beberapa garis samar muncul. Setelah garis itu berpendar, bagian atas dan samping bola pun menunjukkan dinding mereka yang sesungguhnya. Kaca transparan anti tekanan dalam bingkai bulat.


“Mereka menamainya SM-302. Coba pikirkan nama lebih baik, Sonic!” Tiger sudah berada di depan kapal selam bola mereka. “Aku yang menyetir.” Seolah menurut, bagian depan bawah kapal selam itu terbuka.


Sebelum masuk, Alex ingin protes karena sempit. Tapi, setelah ketiganya masuk, Alex mendapati ada cukup ruang untuk mereka semua. Ketiga kursinya pas dan empuk. Mereka menghadap ke tiga sisi berbeda dengan panel kontrol berbeda pula. Ini bukan soal pemandangan, posisi seperti ini efektif untuk mendeteksi penyerang.


Alex tahu SM-302 punya kendali rudal juga. Sayangnya, panel di depan Alex hanyalah panel navigasi. Panel senjata ada di depan Jayden. Sementara panel di depan Tiger merupakan satu-satunya panel dengan kemudi. Meski Alex yakin kalau nanti mereka akan menggunakan pilot otomatis.


“Siap menjelajah?” Tiger menyunggingkan senyum.

__ADS_1


Sebelum Alex sempat menjawab atau bertanya soal bagaimana mereka akan masuk ke air, landasan di bawah mereka lenyap, menjatuhkan mereka ke dalam kegelapan.


__ADS_2