
Nadira cukup paham apa saja yang bisa terjadi dengan lenyapnya Jayden dari sisi mereka. Kalau lawan mereka begitu perhitungan, seharusnya dia juga pasti paham kalau Nadira tidak akan membiarkan anak buahnya ke sana. Alex lain cerita. Agar masalah ini selesai lebih cepat, Nadira sudah membentuk tim gabungan. Sekalipun mungkin lebih tepat kalau dikatakan mengirimkan bala bantuan ke markas Special Force.
Keberadaan Special Force tak lagi di dalam bayangan. Selain identitas Alex, semua sudah dibukanya. Namun, lain halnya dengan keberadaan markas Special Force. Nadira masih menjaga informasi ini terbatas pada orang-orang tertentu. Karena itu, tim gabungan bergerak di dalam markas ICPA ibu kota.
Ruangan yang digunakan sesungguhnya merupakan ruang rapat. Ruang itu punya meja besar di bagian tengah dengan deretan meja komputer berjajar pada dinding sebelah kiri. Ruangan itu dipenuhi setidaknya sepuluh orang. Empat orang berjaga di komputer. Beberapa lainnya mondar-mandir. Tiger duduk di ujung ruangan bersama Emil.
Tak perlu mengatakan apa pun, mereka bisa membaca pikiran satu sama lain. Keduanya tak nyaman dengan kondisi tersebut. Ada banyak alasan. Salah satunya jelas karena sosialisasi bukan keahlian terbaik mereka.
Emil duduk tenang di depan layar laptop putih tipis. Banyak berita di sana. Terlalu banyak. Data-data berseliweran tanpa terkontrol. Kalau mengira mereka tidak akan dapat petunjuk soal Jayden, ini justru sebaliknya. Para anggota ICPA sendiri pun berusaha membantu menemukannya untuk mencari muka di depan Nadira. Para kriminal berlomba pula meminta tebusan palsu. Untungnya tim gabungan tersebut bisa menyikapinya dengan cepat.
Ketika Tiger bertukar pandang dengan rekannya, pria itu langsung mendesah. “Kalau Jayden kembali, akan kutinju dia tanpa perlu menunggu perintah dari Nadira.”
“Kalian tidak punya hubungan yang baik. Kenapa? Dia cukup menyenangkan.”
“Diktator dan easy-going. Musuh alami.” Tiger mengedikkan bahu. “Tapi, setelah dengar pertanyaanmu tadi… Iya, Jayden sebenarnya cukup menyenangkan. Aku heran kenapa Nadira mau merekrutnya dan kenapa Jayden mau bertahan.”
“Dia yang terbaik di bidangnya.”
“Memang. Tapi, apa kamu tahu kesalahan seperti apa yang pernah dia lakukan?”
“Soal Jason?”
“Kamu dengar langsung darinya?”
Emil menggeleng. “Aku membaca profilnya.”
“Kalau kamu membaca profilku juga, kamu akan menyesal.” Tiger memicingkan mata dengan penuh ancaman.
Emil balas meliriknya dengan matanya yang senantiasa sayu. Kalau boleh jujur, dia tidak tertarik sama sekali dengan masa lalu atau hal apa pun mengenai Tiger. Catatan kriminalnya tergolong lumayan bersih, hanya dihiasi surat tilang. Sangat berbeda dengan Jayden. “Tidak akan. Jangan cemas,” kata Emil singkat.
Ketika Tiger hendak melanjutkan, dia melihat datangnya seorang agen. Agen ini bergegas mendatangi keduanya. Tanpa banyak bicara, si agen pergi setelah menyerahkan sebuah amplop besar pada Emil.
“Hasil lab?” tebak Tiger.
“Komposisi monster. Di dermaga. Rekayasa genetik.” Emil mendesah pendek. “Seseorang jelas berusaha kembali ke zaman purba.”
Nadira mendapatkan laporan soal pertarungan di dermaga. Seorang agen diutus untuk mengecek. Tanpa diberi tahu pun, mereka semua bisa menebak apa yang terjadi. Alex ke sana untuk mencari Jayden. Namun, apa pun yang menunggunya jelas bukan berita baik. Untungnya kekuatan Zetta Sonic sanggup membereskan masalah.
__ADS_1
“Dan, seseorang jelas berhasil menghentikannya.”
“Kali ini.” Emil memperhatikan seksama tulisan beserta angka yang tertera pada kertas dalam amplop tadi. Profesor Otto sendiri yang membantu mereka memeriksa komposisi tersebut. Lebih banyak ilmuwan gila belakangan ini. Profesor Otto hanya salah satu yang cukup menonjol sampai bisa bergabung dengan Special Force.
“Seseorang berusaha membunuh Sonic dengan monster itu?”
Emil menggeleng. “Bukan. Menurutku… Ini lebih cocok disebut…”
“Ujian?” tebak Tiger.
Emil mengangguk. “Mungkin seseorang ingin mengolok-olok profesor Otto. Mungkin ada yang dendam pada Nadira. Atau, seseorang ingin memberi ICPA pelajaran.” Keduanya sadar ada banyak sekali alasan untuk menculik Jayden dan membunuh Alex.
“Kamu harus memperingatkannya.”
“Siapa? Aku?”
“Kamu memperingatkan bocah itu.” Tiger menghindari menyebut nama Alex. “Dia harus diperingatkan agar tak bertindak gegabah. Kita perlu bergerak sebagai tim. Kalau tidak, semua bisa lebih buruk.”
Emil terdiam. Matanya terpaku pada kertas tersebut. Untuk sejenak, dia bergeming tanpa gangguan dari Tiger. Setelah mengembalikan kertas ke dalam amplop, tangannya menutup laptop. Emil berpaling pada pria besar di sampingnya. “Temani aku.”
“Ke mana?”
Itu jelas alasan paling konyol yang pernah didengar Tiger. Meski benci mengakuinya, tapi itu memang satu-satunya tempat yang tidak terjamah oleh kamera pengawas dan penyadap apa pun. Emil sempat memastikan lebih dulu kalau toilet tersebut kosong. Seolah memahami apa yang terjadi, Tiger malah memasang tanda kalau toilet sedang dibersihkan tepat di depan pintu.
“Sekarang apa?” Tiger menyilangkan tangan.
“Profesor Otto memberiku tugas. Rahasia di dalam rahasia.”
Tiger mengedikkan bahu. Tidak tampak terkejut sama sekali. “Jangan bilang kalau kamu mau minta bantuanku sekarang.”
Emil menggeleng. “Aku mencurigainya.”
Tiger langsung melongo. “Tunggu. Kupikir aku tidak mengikuti pembicaraan ini dengan baik. Kamu mencurigai siapa?”
Emil memelankan suaranya. “Profesor. Dia lebih ingin memahami Sonic. Dragon Blood. Lebih dari siapa pun.”
“Menurutmu, dia menculik Jayden?”
__ADS_1
Emil menggeleng. “Dia yang mengirim monster.”
“Kenapa kamu cerita itu padaku? Itu benar-benar pemikiran bodoh. Aku cukup setuju kalau profesor Otto lumayan gila, tapi… Pemikiranmu benar-benar bodoh.” Tiger mengernyitkan dahi. “Kupikir kamu butuh pukulan agar sadar. Siapa pun yang menculik Jayden, juga membuat jebakan di dermaga. Kalau profesor yang membuat monster, artinya dia juga yang menculik Jayden. Kecuali…”
Emil mundur selangkah sebelum Tiger sungguhan mengayunkan pukulan. Sekalipun dia cukup yakin Tiger tidak akan memukulnya, tidak ada salahnya berjaga-jaga. “Kecuali?” Emil memancing agar Tiger mau melanjutkan ucapannya tadi.
“Kecuali dia tidak bergerak sendirian.” Tiger pun terdiam setelah bicara.
“Subjek penelitian harus diuji. Profesor ingin Sonic berkembang. Lebih dari siapa pun. Dia peduli pada penelitiannya. Bukan pada kriminalitas.”
“Itu tetap pemikiran gila,” kata Tiger, “tapi terasa mulai masuk akal.”
“Jayden bisa terbunuh.”
Ucapan Emil tak membuat Tiger berhenti mengernyitkan dahi. “Oke, aku tidak paham soal itu. Kenapa? Karena mereka tidak pernah cocok satu sama lain?”
“Bagi profesor, prioritas ada pada Sonic. Bukan Jayden. Jayden hanya alat. Untuk menekan Alex. Kamu lihat bagaimana dia bersikap? Saat Jayden hilang?”
Tiger mendesah. “Kita perlu bicara pada Nadira—”
“Jangan!” sahut Emil cepat. “Ini hanya pemikiranku. Lagipula, mungkin Nadira sudah curiga.”
“Bagaimana bisa?”
“Komposisi monster. Ada dua laporan tadi. Bukan satu. Satu dari profesor Otto. Satu lagi bukan. Nadira minta petugas lain memeriksanya.”
Tiger mengusap kepalanya yang dicukur. “Ini sulit. Bagaimana memaksa profesor mengatakan di mana Jayden kalau dia sendiri bahkan tidak sadar telah membuatnya diculik?”
“Kita tunggu,” ujar Emil. “Sebenarnya ada satu masalah lagi.”
Tiger makin mengernyit dibuatnya. “Kamu membuatku sakit kepala.”
“Pernah dengan soal pembunuh bayaran yang bisa menghipnotis orang dengan suaranya?”
“Melodiza.”
“Dia bekerja di Wood Peak sekarang. Dia pasti curiga kalau Alex adalah Zetta Sonic. Dia pintar menyembunyikan jejak. Tidak lagi. Aku berhasil meretas ponselnya. Akhirnya. Sekarang, kita harus memperingatkan Alex.”
__ADS_1
“Melodiza bukan tandingan Sonic.”
“Memang. Tapi, bagaimana dengan Alex?”