Zetta Sonic

Zetta Sonic
Keep Hidden


__ADS_3

“Apa yang ayah bicarakan?” Alex tak yakin dengan apa yang dia dengar. Apa yang telah ayahnya mulai dan apa kesalahannya? Kemudian, dia teringat pada kenangan lamanya. “Kita pernah ke sini. Apa itu ada hubungannya?”


“Kamu ingat?” tanya Mark seraya melepaskan pegangannya.


“Enggak. Enggak sampai hari ini.”


“Lebah-lebah itu pemicunya,” kata ayahnya sambil mengangguk. “Waktu itu kamu masih kecil dan mendapat kenangan yang sama sekali tidak menyenangkan. Wajar kalau kamu melupakannya. Sampai sekarang, itu masih jadi penyesalan terbesarku. Aku membawamu ke dalam misi. Aku meninggalkanmu sendirian. Kelalaianku membuatmu berada dalam bahaya. Dokter bilang kamu beruntung. Kami menyelamatkanmu di waktu yang tepat. Itu tidak sepenuhnya benar.”


Alex tidak merespon. Dia hanya diam. Separuh penasaran, separuh takut pada apa yang akan dikatakan ayah selanjutnya.


Mark mengusap wajahnya dan mengeluarkan helaan napas panjang. Lalu, dia melanjutkan. “Beberapa tahun lalu, saat aku masih jadi agen lapangan, aku mendapat misi mengawal profesor Dominic untuk melakukan penelitian di sini. Kupikir kami akan meneliti kebudayaan mereka sampai aku mendengar briefing detail misi itu.


Pulau Kloster memiliki banyak rahasia. Tanah mereka mengandung mineral yang sedikit berbeda dari tanah kebanyakan di dunia. Ini membuat mereka punya varietas hewan dan tanaman yang juga berbeda. Aneh, unik, magis, apa pun itu istilahnya. Namun, itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan sumber air yang mengandung mineral tersebut.


Para tetua suku percaya mata air itu merupakan pemberian dari dewa. Menurut data, suku Kloster menjaga dan menyembunyikannya rapat-rapat. Tidak pernah sekalipun ada meminumnya atau menggunakannya untuk apa pun. Kami cukup yakin itu omong kosong. Tidak. Aku sendiri sangat yakin itu bohong. Kami yakin suku Kloster tahu khasiat dari air tersebut.


Karena ICPA Regis sudah biasa mengirimkan berbagai bantuan ke sini, para petinggi mulai mencoba negosiasi. Akhirnya, setelah beberapa tahun, Kloster membuka dirinya lebih lebar dan mengizinkan agen ICPA meneliti mata air itu dengan satu syarat. ICPA hanya diizinkan menelitinya di tempat. Air itu tidak boleh dibawa keluar dari pulau. Kalau dilanggar, kami akan dihukum dewa.


Para petinggi setuju.


Dominic dan aku dikirim ke sini untuk menelitinya. Aku mengajakmu. Lalu… semua berjalan salah.” Mark menarik napas dalam-dalam.


Alex bisa menebaknya. “Kamu membawa airnya keluar.”


Mark mengangguk pelan.

__ADS_1


“Kami punya kesempatan, nak.” Dominic berjalan mendekat. Kali ini, Mark tidak menghalanginya. Dominic pun duduk di samping atasannya itu dan melanjutkan. “Sayangnya, kami tidak punya banyak waktu. Kloster hanya memberi kami beberapa hari, padahal penelitian itu bisa makan waktu bertahun-tahun. Aku percaya air itu punya potensi.”


“Potensi apa?” Alex bertanya meski masih takut mendengar jawabannya.


Dominic malah tertawa geli. “Apa lagi? Aku seorang dokter, nak. Aku percaya kalau diteliti lebih lanjut, kami bisa membuatnya jadi obat yang mampu menyembuhkan penyakit apa pun. Waktu itu aku sangat yakin kalau obat itu akan mengubah dunia. Bayangkan saja, semua penyakit lenyap dari dunia. Wow.”


“Kamu mencuri airnya?” lanjut Alex.


Mark menggeleng. “Bukan dia. Aku yang mengambilnya. Sesuatu yang muncul ke permukaan tidak akan bisa selamanya ditutupi. Kupikir dunia perlu tahu, jadi aku mengambil airnya untuk diteliti.”


“Keputusan bagus!” tukas Dominic. “Kamu membuat air itu benar-benar mengubah dunia saat ini, Mark.”


Alex masih tak paham. “Bagaimana bisa?”


Dominic terkekeh lagi. “Kamu.”


“Kamu tahu bagaimana kamu bisa bertahan dari Dragon Blood buatan Otto gila itu?” Dominic balik bertanya. Tanpa menanti jawaban Alex, Dominic melanjutkan, “Kamu selamat karena pernah mendapat air itu sebelumnya. Air yang sama yang digunakan Otto untuk membuat ramuan Dragon Blood. Obat buatanku menyelamatkan nyawamu dari insiden Dragon Blood juga menahan kekuatannya mengambil alih kesadaranmu. Aku juga cukup yakin air itu membantumu sembuh dengan cepat.”


Alex terperangah mendengarnya. Dia memang belum pulih sebelumnya tetapi memang memar dan luka gigitan itu berkurang cepat. Alex yakin jauh lebih cepat dari orang normal.


Mark mengambil alih dari sana, “Setelah kamu disengat lebah dan melihat reaksi alerginya, aku tahu akan kehilanganmu. Tidak ada peralatan medis yang memadai waktu itu. Dan, kami tidak akan mencapai kota tepat pada waktunya. Profesor Dominic menyuntikan sesuatu dari air itu padamu untuk menyelamatkanmu.”


Alex mengerjap. Dia terbelalak pada si profesor. “Kupikir kamu hanya berniat mendekati dokter Vanessa gara-gara Zetta Sonic. Ternyata kamu malah membuatnya jadi kelinci percobaan.”


Ucapan Alex membuat Dominic mendesah panjang. “Aku enggak tahu kamu akan jadi Zetta Sonic! Ayolah, mungkin penampilanku tidak seperti dokter. Aku berusaha menjadi stylish dan bersikap gentleman tapi orang malah berpikir aku playboy. Baiklah, mungkin mereka tidak sepenuhnya salah. Apa salahnya dengan wanita-wanita cantik? Oh, tapi Vanessa mengalahkan mereka semua. Dia bukan hanya cantik dari luar tapi juga dari dalam. Sama seperti dia, aku juga dokter. Kami menyelamatkan nyawa bukan membuangnya.”

__ADS_1


Alex tak lantas merespon. Merasa tenggorokannya kering, Alex malah terbatuk-batuk. Dominic melemparkan tangannya ke udara. Dia meninggalkan mereka untuk mulai membereskan barang-barangnya yang berserakan.


Mark mendengus geli melihat perdebatan itu. “Alex, Dominic menggunakan bahan penelitiannya untuk menyelamatkanmu. Setelah kejadian itu berakhir, kami memutuskan kalau dunia mungkin belum siap menerima obat semacam itu. Aku menyembunyikan rahasia ini dari ICPA. Satu-satunya cara untuk menjaganya tetap aman adalah berada di puncak pimpinan.”


“Apa itu jalan terbaik?” Alex berusaha bicara. Suaranya serak. Tenggorokannya sekering padang pasir.


“Aku tidak tahu. Tapi, itu jelas jalan yang paling bisa dilakukan saat itu. Kamu selamat.  Itu yang terpenting. Kalau kuingat, aku cukup kesulitan menjelaskan situasinya pada ibumu waktu itu.”


“Ibu tidak pernah tahu soal ICPA.”


“Itu berbahaya buatnya—”


“Itu berbahaya bagi kami semua,” tukas Alex. Dia berhenti sebentar, menelan ludah agar bisa bicara lebih banyak. Alex bicara meski sesekali terbatuk. “Ayah tidak pernah bicara soal ini pada kami. Ayah menyembunyikan terlalu banyak hal. Kupikir awalnya ayah hanya sibuk seperti orang tua teman-temanku. Lalu, aku mulai berpikir sebaliknya. Seolah ayah hanya ingin lari dari kami. Aku belajar hacking karena… karena…” Alex berhenti.


“Aku tahu aku bukan ayah terbaik. Itu sebabnya aku di sini, Alex.”


“Ibu… Dia pergi… Bukan, maksudku…” Alex berhenti lagi. Bukan karena tidak sanggup melanjutkan atau tenggorokan yang masih kering tetapi lebih karena dadanya tiba-tiba terasa sesak. Lalu, matanya mulai berkunang-kunang. Alex menggelengkan kepala, mengusir semua perasaan tidak nyaman itu.


Dominic menoleh ke belakang sekali. Dia memicingkan mata. Alex terlihat makin pucat. Dominic memasukkan barang terakhir dalam ranselnya dan hendak berbalik ketika mendengar suara pelatuk ditarik persis di belakang kepalanya.


“Alex, kamu baik-baik saja?” Mark melihat bagaimana Alex memucat dengan cepat. Begitu pula bibirnya. “Kupikir kita perlu kembali ke desa sekarang. Kamu bisa jalan?”


Alex mengerjap beberapa kali. Setelah memastikan rasa tak nyaman itu berkurang, Alex pun mengangguk pelan. Mark berpaling pada professor Dominic. Namun, profesor sudah tidak berada di tempatnya tadi. Mark mengedarkan pandangan, mencari rekannya.


“Mark, kupikir kita punya sedikit masalah.”

__ADS_1


Dominic berada di sisi lain pepohonan dengan tas ransel yang masih terbuka teronggok dekat kaki. Di belakang Dominic, ada pria berpakaian hitam bertudung dengan topeng hitam polos sedang menodongkan pistol.


__ADS_2