
Suasana di dalam pesawat sendiri tak kalah kacau. Tiger membawa pesawat mereka menjauh. Setidaknya cukup jauh dari pusaran angin tersebut. Mereka berusaha berputar agar bisa melihat kondisi Alex dengan lebih jelas, namun sejauh yang bisa dilihat hanyalah kekacauan. Angin, debu, kotoran, serta asap membuat mereka sulit melihat.
“Alex, kamu bisa dengar aku? Apa yang terjadi?” Jayden berusaha menghubungi si agen. Tak ada jawaban yang bisa dia dengar.
“Pusaran angin itu penyebabnya.” Emil di sebelah juga berusaha membantu. “Alex ada terlalu dekat dengan pusaran angin. Mungkin dia malah ada di dalamnya. Aku tidak bisa memindainya. Itu membuat kita kesulitan berkomunikasi.”
Kedua agen itu sibuk dengan peralatan mereka yang ada di dalam kokpit. Mereka tak lagi berada di dalam kabin pesawat. Dari tempat ini, mereka punya pemandangan luas ke depan bersama Tiger juga. Sementara itu, para gadis berada di dalam kabin pesawat bersama Gavin. Tapi, tak perlu waktu lama hingga Gavin meninggalkan mereka dan bergabung ke kokpit.
“Apa yang terjadi?” tanya Gavin sembari berlari mendekati Jayden.
“Aku enggak tahu. Kupikir robot itu selamat dari ledakan. Dan, dia sedang kehilangan kendali saat ini.” Hanya itu yang ada dalam pikiran Jayden. “Alex sedang berusaha menghentikannya. Aku mencoba menghubunginya tapi sulit.”
Tiger berusaha mendekatkan pesawatnya lagi. “Kita tidak bisa lebih dekat dari ini. Suruh anak itu kembali ke pesawat. Dia tidak perlu melawan robot itu lagi. Tidak perlu. Kita sudah dapatkan para korban penculikannya.”
“Sudah kucoba. Selama Alex terlalu dekat dengan pusaran angin, sulit.”
Pesawat mereka berputar lagi. Tiger tahu bisa saja menembakkan sesuatu ke dalam pusaran angin itu. Mungkin cara itu bisa menghentikan pusarannya. Tapi, ada risiko salah tembak di sana. Tiger tak mau senjata mereka malah membunuh Alex. Jadi, akhirnya dia hanya berputar-putar, berusaha mencari pemandangan lebih akurat.
Pintu kokpit yang terbuka membuat para gadis yang baru diselamatkan itu bisa mengintip. Salah seorang dari mereka memberanikan diri masuk. Ketika itu terjadi, pesawat sedang bermanuver. Guncangan malah membuat si gadis menabrak Gavin.
“Ma-- Maaf. Ta-- Tapi, bisakah kita pergi dari sini?” gadis itu berusaha berdiri sambil berpegangan pada meja panel Emil.
__ADS_1
Melihat kalau gadis itu bisa masuk, gadis yang lain pun ikut masuk. Mereka ikut mendesak supaya pesawat bisa segera menjauh dari kapal tersebut.
“Kalian tidak seharusnya di sini. Tolong tunggu di kabin bersama yang lain. Kita akan segera pergi begitu situasinya memungkinkan.” Gavin berusaha tegas dan lembut di saat bersamaan.
Gadis itu masih sempat melihat sekelilingnya sebelum berpaling. Namun, gerakannya terhenti sebelum sempat menjauh. Emil sedang memegangi tangan si gadis. Matanya mengamati sekasama tangan yang sedang dia tangkap.
“Siapa kamu?” tanya Emil.
Si gadis terlihat canggung. “Ke-- Kenapa? Aku-- Aku seorang model.”
“Bukan. Tangan model tidak penuh luka seperti ini.” Emil mengamati jemari, tangan, hingga dekat leher si gadis. Dia bisa melihat bekas memar dan lecet. Bukan karena disiksa. Kru kapal tidak akan berani melukai gadis yang mereka culik. Emil melanjutkan. “Kamu bukan seorang model. Kamu bukan gadis yang diculik. Kamu salah satu dari mereka.”
“A-- Apa?”
Alex menemui sumber kekacauan yang sudah dia kenal baik. Di pusat angin beliung ada si robot biru yang masih memainkan kekuatannya. Bentuknya tak lagi sempurna apalagi pelapis luarnya. Catnya telah banyak hilang beserta dengan kulit penutup mesinnya. Kepalanya tak lagi bulat sempurna. Mekanisme rumit di balik kulit bulat itu tersingkap keluar. Dia telah kehilangan salah satu tangannya. Tapi, itu tak membuatnya kesulitan membuat kekacauan.
Mata si robot menyala merah. Penampilannya seperti tengkorak di film horor. Meski begitu, Alex sama sekali tidak takut. Dia datang pada si robot bersama pedangnya.
__ADS_1
Hempasan angin kuat berusaha mencegah kehadiran Alex. Puluhan belati tajam dengan senar menghujam seragam tempur tersebut. Peringatan muncul di layar helm. Ada beberapa belati mengenai titik yang sama. Seperti kata Jayden, goresan yang sama di titik yang sama pula bisa merusaknya. Titik-titik tersebut menjadi kekhawatiran tersendiri.
Namun, selama roket dan sayapnya belum menyerah, Alex tak mau berhenti. Sekuat tenaga, dirinya berusaha menerobos pusaran angin terluar. Mereka seperti cakaran hewan buas. Ganas tanpa sedikit ampun. Di dalam suara bising pusaran angin, ada suara-suara protes dari roketnya. Dengung itu menandakan kalau roketnya sudah berusaha maksimal. Ada pula derak aneh dari sayapnya. Mereka seolah ancaman yang menandakan kalau sayap-sayap itu bisa patah.
Kumpulan belati datang lagi. Alex berusaha menghindar. Belati tersebut berputar seiring dengan arah angin. Mereka mengenai seragam tempurnya lagi. Si robot punya ide lain. Dia menoleh pada Alex. Seketika juga, sebuah dorongan angin kuat keluar dari pusaran tersebut. Dorongan ini menghempaskan Alex menjauh.
Sangat jauh, malah, membuat Alex menabrak tumpukan peti kemas lalu terjatuh ke lantai dasar. Sekarang bukan hanya roketnya yang protes. Punggungnya ikut protes. Kalau tidak terlindung, dia pasti sudah cedera serius.
Alex menengadah. Si robot perlahan turun, masih diliputi pusaran angin. Alex mendapati suara dan gambar Jayden di layarnya agak terganggu. Dia memberi tahu beberapa hal terkait si robot juga memberi peringatan agar Alex segera mundur. Target mereka sudah diselamatkan, tak perlu lagi melawan robot itu. Bukannya menurut, sesuatu dalam dirinya malah melonjak. Kilat hijau kembali menghampiri.
Alex mulai menyadari kalau itu mungkin keinginannya. Bertarung dengan robot itu keinginan sisi lain dalam dirinya. Rasa takut bercampur penasaran memenuhi benaknya. Alex teringat ketika dia pertama kali terbangun setelah menjalani operasi Zetta Sonic. Bagaimana semua inderanya menajam disertai rasa haus tak terkendali. Untuk pertama kalinya, Alex bisa mengenali hasrat ini.
Dan, dia pun berpikir untuk mencoba menyerahkan dirinya pada sisi ini.
Sekujur tubuhnya terasa aneh. Ringan, tapi aneh. Matanya bisa mengamati lebih baik. Dibantu dengan teknologi penerjemah gelombang otak pada seragamnya, semua keinginannya terwujud jadi kenyataan.
Pada awalnya, Alex mengira dirinya tak akan pernah menembus pusaran angin itu dengan kekuatan belaka. Kenyataannya tidak. Dengan roket, sayap, dan tubuh yang sama, Alex merangsek maju. Kekuatan pusaran angin itu masih sama. Pisau-pisau yang berterbangan juga masih sama tajamnya. Beberapa berhasil menembus pelindung dan melukai kulitnya sendiri. Tapi, dia seolah tak merasakan perih.
Keinginannya hanya satu. Menghabisi lawan.
Begitu Alex tiba di tengah pusaran angin, tangan Alex mencengkram leher lawan. Dia melemparkan robot itu seperti bagaimana robot itu menghempaskannya. Pusaran angin berhenti. Si robot terjatuh sebentar, namun keseimbangannya kembali dengan cepat disusul dengan pusaran angin yang lebih kecil.
__ADS_1
Si robot salah besar kalau mengira ancamannya telah usai. Alex sudah berada di depannya. Si robot jelas tak siap dengan kehadirannya. Matanya masih berkelip merah sementara pedang di tangan Alex telah terhunus. Alex memotong kedua kaki si robot. Kali ini, si robot benar-benar kehilangan kemampuannya. Robot itu pun menghujam ke tanah, tertarik daya gravitasi.