Zetta Sonic

Zetta Sonic
Fever


__ADS_3

Jayden tahu kalau dia tidak akan suka dengan idenya meninggalkan Alex seorang diri. Tiger berada di balik kemudi. Caitlin duduk di belakang sambil memangku senapan. Mereka telah meninggalkan area pabrik. Tidak sampai sepuluh menit setelahnya, jaringan komunikasi telah terhubung.


Jayden bisa melihat apa yang dilihat Alex lagi. Dimulai dari seorang yang berhenti bicara karena tertembak, lalu satu lagi, lalu deretan peluru mengincar dirinya. Dia juga bisa melihat bukit salju disertai pepohonan terbentang di bawah. Juga bagaimana gambarnya berputar. Alex jatuh. Jayden hanya berharap kalau Zetta Sonic mereka hanya terpeleset bukan tertembak. Peluru penembak jitu agaknya bisa mengoyak seragam khusus itu seperti kertas.


Mobil mereka berputar ke arah lembah di bawah pabrik. Tempat itu tak memiliki jalan raya beraspal. Roda-roda mereka berputar di atas jalanan terjal berlapis salju. Sejauh mata memandang, hanya nampak pepohonan yang tertutup salju. Suasana remang dan tanpa lampu jalan membuat Tiger yang mengemudi harus memicingkan mata.


Sistem ICPA tidak banyak membantu. Jayden juga tidak bisa mengakses kembali drone miliknya. Kemungkinannya hanya dua. Satu, sinyal drone masih terganggu. Dua, drone tersebut sudah hancur ditembak. Dalam kondisi seperti ini, Jayden menolak kemungkinan kedua meski itu lebih memungkinkan.


Kondisi tak bersahabat membuat radar digital mereka tumpul. Posisi Zetta Sonic belum bisa ditemukan secara akurat. Lokasi titiknya di radar kadang melompat-lompat. Jayden harus mengira-ngira posisi dari kamera Zetta Sonic sendiri. Itu sama sulitnya karena semua nampak sama dan masih berputar. Hingga akhirnya Jayden mengenali sesuatu tepat setelah gambarnya tak lagi berputar. Dia melihat kelebat cahaya kembar dari kejauhan. Itu cahaya dari lampu mobil mereka sendiri.


Jayden mengalihkan pandangan dari laptop ke lembah di depan mereka. Dia bisa melihat sosok samar di dekat pepohonan. Bagian itu punya deret pepohonan lebih renggang. Tiger bisa dengan mudah membawa mobil mereka ke sana.


“Di situ!” seru Jayden. “Matikan lampu! Ada penembak jitu dekat sini.”


“Kamu tahu dari arah mana?” tanya Tiger. Peluh mulai bercucuran di dahinya.


“Arah jam empat dari posisi Alex.”


“Dimengerti!” Tiger melirik Caitlin dari spion tengah. “Akan kuputar mobilnya di depan Alex. Kamu harus menariknya masuk. Kita tidak bisa berhenti berlama-lama.”


Caitlin tak menjawab. Dia hanya sempat melirik balik Tiger dari spion. Rahangnya menegang. Tangannya masih mencengkram senapan seolah enggan melepaskannya. Namun, ketika mereka berada lebih dekat, dia tak punya pilihan selain meletakkannya sebentar.


Ketika mobil tiba di depan Alex, Caitlin bergegas membuka pintunya. Dia menarik lengan Alex, menariknya secepat mungkin ke dalam mobil. Bobot anak itu tidak seberat perkiraannya. Dia sama sekali tidak kesulitan menarik anak itu masuk dan menutup pintunya. “Aku dapat! Aman!”


Tiger menginjak gas, memacu mobilnya secepat mungkin kembali ke area pepohonan. Penembak jitu mereka seharusnya kesulitan menembak mereka sekarang.


“Alex, kamu enggak apa-apa?” Jayden mengengok ke belakang. Dia melihat Zetta Sonic bergeming di kursi sementara Caitlin melihat balik padanya dengan tangan dibasahi cairan merah. “Dia … tertembak?”

__ADS_1


“Aku enggak yakin.” Dengan pakaian serba hitam seperti itu, sulit melihat apakah Alex benar-benar tertembak atau tidak. “Tapi, kupikir, kita harus segera kembali, ‘kan? Kembali ke markas.”


 


 


Caitlin seharusnya tidak perlu memperjelas ucapannya. Tiga orang lainnya sadar kalau mereka tidak berada di Sinde. Mereka berada di benua lain, di pegunungan salju terpencil. Begitu kembali ke pesawat, Tiger bertugas lagi jadi pilot. Jayden dan Caitlin memeriksa kondisi Alex. Di ujung ruangan kapsul, ada satu bagian untuk pengobatan. Di sana ada ranjang lengkap dengan berbagai keperluan medis.


Alex mengerang pelan sebelum membuka mata. Pandangannya kabur, badannya menggigil, sesuatu di kepalanya terasa dingin, matanya berair. Hidungnya mencium aroma obat bukan aroma amis pabrik pengalengan. Setelah mengejapkan mata beberapa kali, Alex bisa melihat wajah Jayden di sampingnya dan Caitlin ke kejauhan.


“Di mana ini?” tanyanya, lirih.


“Kamu membuat kami ketakutan.” Jayden menghela napas lega barulah menjawab pertanyaan Alex. “Ini di dalam pesawat. Kita berada di atas laut. Satu jam lagi seharusnya kita sudah tiba kembali ke markas.”


“Apa yang terjadi?” Alex menggerakkan tangan ke arah dahinya. Dia mendapati ada handuk dingin di sana. Mereka menggunakan kompres air dingin untuk meredakan demamnya. Alex memang merasa tak begitu sehat. Hal yang sampai saat ini selalu terjadi setelah dia menggunakan Dragon Blood.


Caitlin berjalan mendekat. “Kamu enggak ingat?”


Jayden melirik lengan Alex. “Selain itu, untungnya enggak.”


Alex menyadari kalau dia tidak lagi mengenakan seragam Zetta Sonic. Dia mengenakan kaus dan celana yang sebelumnya dia pakai. Alex pun berusaha bangun sekarang. Dia membiarkan kompresnya jatuh di pangkuan. Badannya terasa lemas juga dingin. Jadi, dia menarik selimut itu menutupi bahunya. “Bisa kudapat jaketku lagi?”


Jayden menyerahkan jaket dan bertanya lagi, “Apa dua orang itu sempat bicara padamu siapa yang menyuruh mereka?”


Alex menggeleng. “Mereka bilang kalau James yang memimpin. James dapat instruksi dan uang. Dikirim ke depan pintu kamar yang dia sewa. Hanya itu.”


Caitlin mendesah pelan. “Berarti kita memang tidak dapat petunjuk apa pun mengenai pelaku sesungguhnya? Ini benar-benar masalah rumit.”

__ADS_1


“Enggak juga.” Alex merasakan keraguan ketika dia melanjutkan. “Salah satu dari mereka sempat dengar nama Baron.”


Jayden dan Caitlin sama-sama terbelalak dengan dua akhir reaksi yang berbeda. Jayden terkejut. Caitlin malah marah. Alex mengamati keduanya baik-baik, menyadari kalau ucapannya memancing respon berbeda.


“Tunggu dulu! Aku enggak tahu apa yang dikatakan Jayden padamu tapi Baron tidak terlibat dengan mereka.” Caitlin memberikan pembelaan tanpa diminta. “Dia ada di sana karena merupakan salah satu pemegang saham. Kalau bom itu sampai meledak, dia juga akan kena, lho.” Caitlin melotot pada Jayden sekarang.


“Kenapa melihatku begitu? Bukan aku yang dengar nama Baron disebutkan.”


Alex sadar kalau jaringan komunikasinya belum tersambung saat itu. Dia satu-satunya yang mendengarkan kalau salah satu orang suruhan tadi menyebut nama Baron. Rasanya terlalu kebetulan kalau Baron sendiri ada di sana. Bersama ayahnya. Alex menggeser tubuhnya agar bisa bersandar ke dinding. Kini, perutnya ikut terasa mual.


Caitlin ganti melirik Alex. “Apa Jayden bilang kalau aku sering menelepon Baron?”


“Kalau yang kamu maksud itu tunanganmu? Ya.”


Caitlin melirik Jayden seolah ingin protes namun dia kembali pada Alex untuk bertanya. “Katakan, Alex. Menurutmu Baron terlibat?”


“Tergantung sejauh apa kamu cerita padanya.”


“Apa maksudmu?”


Dia tahu Zetta Sonic. Dia tahu mungkin juga tahu siapa aku dan siapa ayahku. Dia juga tahu ke mana harus mengirim sinyal SOS. Dan, yang terpenting, dia tahu akan berada di sana untuk melihat Zetta Sonic.”


“Kamu enggak punya bukti atas semua omonganmu. Keberadaannya di sana hanya membuktikan kalau dia seorang pemegang saham. Tidak lebih dari itu.” Jawaban Alex membuat Caitlin melempar tangannya ke udara. Kemudian, dia menatap Jayden. “Dan, kau, Jayden! Jangan sok tahu dengan kehidupan pribadiku.”


“Aku bahkan belum bicara apa pun dari tadi.”


“Kamu cerita pada Alex soal kehidupanku!” sahut Caitlin.

__ADS_1


Jayden memutar bola matanya. “Cuma aku yang merasa ini lucu atau memang kamu marah saat orang membocorkan rahasiamu padahal kamu sendiri membocorkan rahasia pekerjaanmu?”


“Cukup! Aku keluar!”


__ADS_2