
Alex menggigil. Tempat itu memang menyebalkan. Dinginnya menusuk. Sepulang sekolah, makan malam, dan mengerjakan pekerjaan rumah, Alex mengira bisa menghabiskan waktunya dengan bermain atau sekadar menonton video lucu. Kalau bukan gara-gara menyandang nama Zetta Sonic sekarang, dia tidak akan rela diganggu. Apalagi dikirim ke pabrik daging olahan seperti itu.
Pabrik itu punya ruang pendingin raksasa. Mereka memastikan semua daging yang didapat tetap segar hingga masa pengolahan. Ini membuat cita rasa tetap terjaga ketika dikirim ke luar negeri. Semua berjalan lancar sampai mereka menemukan monster di ruang pendingin.
Monster. Sungguhan.
Alex awalnya tak begitu paham pada briefing misinya sampai dia melihatnya sungguhan. Tinggi dan besarnya hampir seperti Tiger. Sesosok manusia dengan otot besar tak wajar. Kulitnya merah menyala seperti udang rebus. Bola matanya tak nampak, hanya terlihat bagian putihnya di sana. Alex bergidik ngeri.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Alex bertanya. Dirinya baru saja menutup pintu pendingin di belakangnya ketika melihat sosok manusia separuh monster itu berjalan padanya.
[Pekerja shift malam berubah aneh. Tanpa sebab.] Emil menjadi operator Alex malam ini. Jayden sedang melatihnya.
“Aku tahu. Kalian sudah bilang itu saat briefing dan aku bisa melihat seragamnya yang robek-robek gara-gara otot-otot enggak wajar itu,” sahut Alex. “Bukan itu yang kutanyakan. Tidak mungkin manusia berubah jadi monster seperti ini tanpa alasan. Kecuali…”
[Kecuali dia dapat satu dosis Dragon Blood?]
“Apa itu mungkin? Kupikir semua formula Dragon Blood sudah lenyap bersama profesor Otto.”
[Kenapa tidak?] Emil balik bertanya. [Tidak ada yang bisa menghalangi kebocoran informasi. Kamu tahu itu.]
Semua orang di Special Force telah mengetahui apa yang terjadi di desa Kloster. Jayden menjelaskan ceritanya dengan detail. Di satu sisi, mereka bisa lebih tenang karena kondisi Alex telah stabil. Di sisi lain, mereka menyadari kalau pengkhianat bisa ada di mana-mana. Bahkan untuk sebuah suku yang cukup solid seperti Kloster, ada orang dalam yang bisa menjual informasinya keluar.
Alex melihat ada beberapa plastik bulat menonjol di tubuhnya. “Apa itu? Apa kalian berusaha menembak dia dengan peluru bius atau semacamnya?”
[Obat penenang. Tidak berhasil.]
__ADS_1
Alex mengganti pertanyaan. “Apa menurutmu, pria di depanku masih bisa diselamatkan?”
Alex ingat jelas bagaimana monster eksperimen profesor Otto berakhir hancur dengan bau menyengat. Alex tak ingin pria di depannya mengalami nasib yang sama. Dia cukup yakin kalau pria itu adalah korban eksperimen yang lain.
[Jangan bunuh dia. Hentikan saja. Di tempatnya.]
“Terima kasih untuk saran yang tidak membantu.” Alex sudah tahu kalau dia tidak boleh menyerang secara berlebihan.
Alex bergeming sesaat. Pria di depannya bergerak tanpa arah. Dia menyenggol potongan daging yang digantung dan kadang menabrak meja-meja metal yang ditata rapi. Pria itu nampak menyedihkan. Kehilangan arah dan juga kehilangan dirinya. Meski tak yakin kalau dia bisa melakukan sesuatu, Alex ingin mencoba menolongnya.
Alex pun mulai menghampiri lawannya. Pria itu seperti kebingungan. Sesekali dia terdiam lalu mengedarkan pandangan, kadang dia mengamuk dan menghancurkan apa pun yang ada. Ketika pria itu masuk dalam jangkauannya, Alex meninju rahang lawan cukup keras. Itu seharusnya membuat lawannya pingsan. Ternyata tidak. Sebaliknya, pria atau monster itu bergeming sesaat lalu mulai mengerang marah.
“Sial—“
Lawannya makin kesal karena setiap pukulannya tak membuahkan hasil. Sambil mengerang keras, monster itu memukul meja terdekat dengannya. Diangkatnya meja penuh tumpukan daging itu dengan mudah. Alex terkesiap. Meja tersebut melayang padanya.
Alex berusaha lari. Namun, dia sedikit terlambat. Meja itu mengenai tangan kirinya. Alex meringis. Belum sempat berlari lagi, dia mendapati meja-meja lain melayang padanya. Ini konyol! Alex lebih suka berhadapan dengan lawan yang bisa dia hajar. Sementara lawan di depannya ini punya tubuh yang terlalu keras. Pukulannya tak berarti. Lebih parah lagi, dia merasa bersalah kalau melukainya.
Ketika si monster kehabisan barang untuk dilempar, Alex berlari maju. Dia menghantam perut lawannya. Kalau mengira perut itu akan terasa empuk, Alex salah. Perut lawannya terasa keras. Memang tidak sekeras rahang tadi atau sekeras tembok, tapi pukulannya jelas tidak mengenai tekstur perut pada umumnya.
Si monster mengerang lagi. Kali ini, dia tidak memukul. Tangannya menarik rak yang cukup dekat. Rak itu langsung oleng, hampir menimpa Alex. Namun, tangan Alex yang cekatan menahannya dan justru mendorongnya ke arah berlawanan. Kondisi ruang pendingin itu porak poranda. Salahkan Alex dan si monster.
Alex memukul perut lawannya lagi. Dia mengabaikan betapa keras atau sulitnya menjatuhkan lawan. Dia hanya memukul dan memukul. Pukulan beruntun itu perlahan memaksa lawannya mundur. Namun, belum cukup untuk menjatuhkannya.
Si monster mengerang. Menggunakan kepalan tinju, dia memukul kepala lawan. Alex sudah siap menangkisnya. Dia menahan serangan tersebut dengan tangannya. Spontan, Alex mengaduh. Serangan lawan jauh lebih kuat dari dugaannya. Tangannya kesakitan, membuat Alex lumayan oleng. Lawannya kokoh seperti tembok.
__ADS_1
Alex berputar ke belakang. Menggunakan kakinya, dia menendang lutut lawan, memaksanya berlutut ke tanah. Cara itu berhasil. Setidaknya bagian belakang lutut lawannya masih lumayan empuk.
Alex menarik tangan lawannya ke belakang, bersiap memasang borgol yang telah dia bawa. Ternyata lawan tidak putus asa. Dia tahu kalau Alex ada di belakangnya. Lawannya pun menghentakkan kepala ke belakang. Kepala keras tersebut beradu dengan helm Zetta Sonic. Kekuatan dorongannya terlalu kencang. Alex tersentak. Bukan hanya karena rasa sakitnya namun juga ada retak rambut pada helmnya.
Alex mundur cepat-cepat. “Dia seperti tembok bata!” Alex protes. “Tidak, dia lebih parah dari tembok bata.” Alex yakin dengan kekuatan Dragon Blood, dia bisa menghancurkan tembok dengan lebih mudah.
[Tubuhnya terus mengeras.]
“Apa maksudmu terus mengeras?”
[Aku melakukan analisis pada tubuhnya. Apa pun cairan yang masuk dalam tubuhnya, membuat dia keras. Dan, terus mengeras. Mungkin karena suhu.]
Alex sudah lupa kalau tadi dia menggigil. Bergerak terus membuatnya cukup hangat. “Dia berada di tempat yang menguntungkannya. Kalian seharusnya membuat alat untuk situasi semacam ini.”
[Seperti apa? Penyembur api? Obat bius yang lebih kuat?]
“Entahlah. Mungkin semacam sinar pembeku?” Alex teringat pada Seinu yang sempat bertemu dengannya di desa Kloster. “Tidak, itu ide yang buruk.” Alex teringat pula pada penjelasan Emil tadi.
[Kamu punya kekuatan. Juga pistol laser.]
“Aku tidak mau menembaknya.”
[Bukan. Hanya untuk menurunkan suhu.]
“Menurunkan suhu? Kita hanya perlu membawanya keluar dari sini,” sahut Alex. Dirinya berputar ke arah pintu masuk lemari pendingin dan menyadari kalau jalannya telah tertutup oleh barang-barang berserakan. “Bagus sekali!”
__ADS_1