
Alex separuh berlari kembali ke ruangan bawah tanah. Suasananya tak banyak berubah. Dokter Vanessa masih di sana bersama Tiger di atas kursi roda. Ada pula Fergus. Ketiganya berputar padanya begitu dia masuk. Alex melenyapkan bagian helm agar kepalanya lebih segar. Senyaman apa pun helm itu, Alex suka udara luar.
“Kamu butuh diobati,” ujar dokter Vanessa yang langsung dipotong oleh Alex sendiri.
“Itu nanti.” Alex bergegas menuju meja di mana robot lebahnya tadi berada. Jason si drone melayang dekat padanya dan mendarat pula pada meja itu.
Mata si robot lebah berkedip beberapa kali. Dari sana terpancar gambar peta dunia dalam garis-garis hijau saling silang. Gambarnya bergerak dan diperbesar beberapa kali. Titik-titik bermunculan dari beberapa posisi berbeda.
“Dia seperti itu sejak tadi,” ujar Tiger. “Awalnya kupikir dia rusak, tapi Emil bilang kalau dia sedang… Jayden di dekat sini.” Tiger memotong tepat ketika mata si lebah berhenti memperbesar gambar peta dunianya.
Fergus mengumpat. “Sudah kuduga! Lokasinya sama!” Pria besar ini bergerak cepat ke arah robot si lebah, berdiri di samping Alex. Matanya memelototi gambar peta dunia tersebut.
“Sama dengan apa?” tanya Alex.
“Beberapa menit lalu, ada laporan masuk. Para agen mendapat sebuah penemuan. Tiga mayat di tengah pegunungan es tak jauh dari sini. Salah satunya milik Camellia alias Cindy Amore Ellaria. Sejauh ini, perkiraan kematian adalah jatuh dari tempat tinggi,” ujar Fergus disusul desahan panjang. “Lokasi Jayden ada di pegunungan es yang sama.”
Alex bisa menebak kelanjutannya. “Kalau titik adalah Jayden,” katanya sembari menunjuk satu-satunya titik yang tengah berkedip pada gambar peta dunia, “maka dia sedang bergerak dalam kecepatan tinggi. Sebuah pesawat. Dia ada di dalam pesawat. Persis seperti misi yang pernah kamu selesaikan.”
Pertama, Alex menoleh pada Caitlin. Lalu, barulah semua mengikutinya. Setiap pasang mata melihat kebingungan di wajah Caitlin. Gadis itu ikut terbelalak, bibirnya menganga tak percaya. Sesaat kemudian, matanya ikut berkaca-kaca.
“Aku— Aku enggak terlibat. Sungguh. Se— Seseorang sedang menjebakku. Pasti… Pasti ada yang mau melimpahkan kecurigaan padaku.” Pembelaan Caitlin lebih terdengar sebagai rengekan kali ini. “Aku tidak pernah mengkhianati ICPA. Untuk apa?”
Dokter Vanessa memijit pelipisnya. “Sulit dipercaya. Ini seperti metode balas dendam yang unik. Menculik Jayden di depan Alex. Menggunakan misi yang pernah dulu pernah diselesaikan. Membuat Special Force seolah tak berdaya. Seakan kamu ingin menekan Alex secara psikologis dan membuktikan kalau kami membutuhkanmu. Sekarang, kumohon beri tahu kami. Apa kamu sungguh terlibat dalam penculikan Jayden, Caitlin?”
__ADS_1
Caitlin menggeleng cepat. “Apa!? Tidak. Percayalah! Aku sama sekali—”
“Hei!” Tiger menyipit pada Caitlin. “Aku enggak pernah percaya pada tuduhan Alex sampai hari ini. Enggak ada yang tahu detail misi lebih daripada agen yang menyelesaikannya. Dalam kasus ini, kamu. Aku jadi punya teori. Bagaimana kalau kamu masih tidak terima pada kenyataan Alex adalah Zetta Sonic? Dia merebut kesempatanmu secara paksa. Itu pasti menyakitkan. Berapa persen kebenaran teori ini?” tanya Tiger. “Kamu masih ingin jadi Zetta Sonic, bukan?”
“Tidak. Ma— Maksudku… ya. Ta— Tapi, ini… Ini sama sekali enggak masuk akal. Aku— Aku enggak menculik Jayden!” Caitlin gelagapan. Dia berusaha memikirkan jawaban sambil menahan air matanya yang nyaris tak terbendung.
Alex akhirnya ikut bicara. “Aku tahu. Itu tidak akan menyelesaikan masalah,” ujarnya. “Bahkan kalau Jayden atau aku terbunuh dalam kasus ini pun, itu enggak akan membuatnya jadi Zetta Sonic. Apalagi saat ini profesor Otto sudah tidak ada.” Alex berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, mengutarakan kesimpulannya. “Caitlin tidak terlibat.”
Tiger justru masih curiga. “Apa? Kamu yakin, Alex?”
Alex menggeleng. “Enggak sepenuhnya. Tapi, kita juga enggak punya bukti.”
Tiger mengatupkan bibir, menelan semua protes yang siap keluar, menggantinya dengan pertanyaan. “Bagaimana kita ke sana?”
“Apa ini?” Fergus bergeriak.
“Damon.” Alex mengenali sosok pria yang sibuk melempar barang di tengah landasan.
Sosok itu, Damon, menengadah ke atas. Tepat ke arah kamera yang sedang menunjukkan video tersebut. Damon melompat. Sosoknya pun dekat. Kini wajahnya begitu dekat dengan layar. Videonya bergoyang-goyang. Apa pun yang sedang mengambil video kejadian tersebut sedang berusaha melepaskan diri. Fokusnya berubah-ubah pada Damon lalu ke pesawat di belakangnya, sesekali ke tanah dan kaki Damon yang telanjang, lalu kembali ke seringai Damon.
[Bawakan Zetta Sonic padaku atau kubakar hidup-hidup semua yang ada di sini!]
Video berakhir. Layar mereka dipenuhi menghitam dalam sekejap tepat setelah terlihat kepalan tangan Damon.
__ADS_1
“Apa itu tadi?” Tiger bereaksi lebih dulu. “Jangan bilang kalau Damon mengacau di bandara supaya…” Tiger membiarkan kalimatnya menggantung. “Alex?”
“Dia mau Zetta Sonic.” Alex berbisik pada dirinya sendiri. “Dia ingin aku.”
“Tidak. Dia mau membunuhmu. Kamu tidak akan ke sana,” sahut dokter Vanessa. “Fergus, apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita bisa mengirim pasukan untuk menangkapnya, ‘kan? Agen khusus, penembak jitu, atau apa pun?”
Fergus terlihat enggan menjawab. “Sejauh ini, tidak ada yang tahan menghadapi Damon.”
Keheningan memenuhi ruangan. Dokter Vanessa tak bicara, hanya giliran memandang Fergus dan Alex. Dia berharap pimpinan ICPA itu akan bicara sesuatu. Ketika dia hanya diam, dokter Vanessa melempar pandangannya pada Tiger yang malah menghindar. Sementara itu, Caitlin hanya menghela napas panjang.
“Aku akan ke sana.” Alex akhirnya memecahkan keheningan tersebut. “Dia menginginkanku. Dia akan mendapatkannya.”
“Alex, kamu sendirian. Emil terluka. Tiger juga,” sahut dokter Vanessa.
Fergus berdehem. “Kecuali, Caitlin—”
“Tidak.” Alex tak membiarkan Fergus melanjutkan ucapannya. “Kita harus menemukan Jayden. Segera! Kita enggak tahu di mana dia akan dipindahkan lagi. Kita juga enggak tahu berapa lama robot lebah itu bisa bertahan. Ini satu-satunya kesempatan kita menemukan Jayden. Dan… Caitlin bisa membantu kita.”
Caitlin malah mengernyit ketika Alex berpaling padanya. “Kamu menyerahkan ini padaku?”
“Aku melihat banyak laporan misi, termasuk punyamu. Harus kuakui, kamu hebat. Kamu bukan hanya penembak jitu yang baik, kamu agen yang mahir. Mungkin… Mungkin kamu bisa jadi Zetta Sonic lebih baik dari aku.”
Perlahan, senyum terkembang di wajah Caitlin. “Mungkin kamu juga tidak menyebalkan seperti bayangkanku.”
__ADS_1
Alex ikut tersenyum. “Kali ini aku memilih percaya padamu. Penuhi janjimu. Bantu kami menyelamatkan Jayden.”