Zetta Sonic

Zetta Sonic
Stand Up


__ADS_3

Alex sudah kembali ke sekolah. Dia sengaja tidak menghitung sudah berapa hari berlalu sejak insiden di universitas. Seberapa keras usahanya membuat kenangan itu terasa kabur, semuanya masih terasa sebening kaca. Termasuk rasa sakit dan semua penyesalannya. Dia telah bertekad untuk melakukan apa yang seharusnya. Dia menegakkan dirinya, berjalan menyusuri lorong sekolah yang megah dan besar.


Entah berapa banyak murid dan guru di sekolah itu. Tak satu pun menyadari keanehan pada Melodiza. Guru baru mereka mengajukan pengunduran diri. Teman-teman sekelas Alex, para guru, pegawai sekolah, bahkan kepala sekolah tampaknya tidak merasa janggal. Mungkin mereka bahkan tidak tahu apa yang terjadi di kelas. Alex teringat pada bola sepak yang dibiarkan menggelinding dekat kaca pecah saat Melodiza menghipnosis seisi kelasnya. Terkadang cara ICPA membereskan masalah membuatnya penasaran dan merinding di saat bersamaan.


Ngomong-ngomong soal merinding, Alex melihat seorang murid mengkerut di ujung saja. Cody menatap kotak kecil yang sudah berpindah ke tangan Willy. Itu bukan kejadian pertama. Alex telah melihatnya berulang kali. Willy selalu meminjam paksa barang-barang Cody. Dan, Cody tak pernah kapok membawa kreasi terbaru dari perusahaan ayahnya ke sekolah.


Willy pernah bilang kalau Cody memang anak pendiam yang sedikit aneh.


Sesuatu dalam diri Alex tergelitik. Dia pun mendekati keduanya. Biasanya, peminjaman paksa itu terjadi di lorong sekolah sisi kiri dekat tangga. Seperti saat ini. Melihat Alex mendekat, Cody malah menunduk. Itu membuat Willy sadar akan kedatangan temannya.


“Hei, Alex! Coba lihat ini,” kata Willy sambil mengangkat kotak kecil tersebut. Ukurannya tidak lebih dari genggaman tangan. Warnanya ungu terang dengan garis-garis diagonal putih. “Ini prototipe permainan baru. Sepertinya bertema luar angkasa. Senjata laser, pesawat, perang melawan alien. Ini pasti seru!”


Cody telah kehilangan niatnya merebut mainan barunya dari Willy. Dia pun berbalik. Sambil melangkah gontai, Cody berjalan pergi meninggalkan Willy dan temannya.


“Tunggu!” Alex mencegahnya. Dia juga cepat-cepat menyuruh sahabatnya, “Willy, kembalikan itu padanya!”


“Apa?” Willy spontan melongo.


Cody awalnya hanya berhenti. Setelah mendengar permintaan Alex pada temannya, dai sadar kalau bukan hanya telah berhenti. Dia telah berbalik juga mendengar itu semua dengan jelas. Tapi, tak ada keberanian padanya untuk merespon apa yang terjadi.


“Will, kita bukan anak kecil, lagi. Kembalikan itu pada Cody.” Alex menghindari kata seperti merebut mainan atau melakukan bullying pada orang lain. Kejadian pagi itu jelas mengingatkan Alex pada Emil. Anak aneh dan pendiam. Emil pernah melaluinya. Alex tak ingin Cody melalui masa-masa itu juga.

__ADS_1


Willy masih melongo. Alex menghela napas panjang sambil memutar bola matanya. Dia tak menyalahkan kalau sahabatnya itu kaget. Alex yang biasa akan mengabaikan hal tersebut, tak peduli, bahkan ikut bermain hasil pinjaman paksa tersebut. Itu disebut peminjaman karena Willy memang selalu mengembalikannya pada Cody setelah dia puas bermain. Sekalipun sifat peminjamannya memang paksa. Cody jelas sedih saat barangnya diambil.


Tanpa banyak bicara lagi, Alex mengambil kotak mungil tersebut dari Willy. Dia menyodorkannya pada Cody yang masih tak berani bergerak. Anak laki-laki kurus itu sepertinya terjebak antara takut dan tak percaya.


“Cody, sesekali kamu perlu menolak permintaan Willy. Ini barangmu bukan miliknya,” kata Alex padanya. Lalu, sambil berbisik, Alex melanjutkan, “Percayalah padaku. Dia tidak akan berani memukulmu.”


Cody terdiam. Matanya bolak balik pada wajah Alex dan kotak mungil yang ada di tangannya. Kejadian yang ini jelas pertama kalinya terjadi. Selama ini, Alex berada di pihak Willy. Dia memang tidak ikut bicara, tapi selalu diam ketika itu berlangsung di depan matanya. Pembiaran itu selalu terjadi dan sudah berlangsung cukup lama. Terlalu lama sampai Cody mengira mereka sama saja.


“Kenapa?” Cody akhirnya bicara.


“Kenapa apanya?” Alex balik bertanya. “Ini yang seharusnya terjadi.”


“Ayo, ke kelas!” ujar Alex pada Willy.


Willy mengernyit. Sambil melipat tangannya ke depan dada, dia melempar pertanyaannya. “Apa yang terjadi padamu? Kamu baik-baik saja.”


“Tentu. Aku baik-baik saja. Kupikir kamu yang enggak.” Alex mendengus geli. Setelah menepuk bahu Willy, dia pun melangkah pergi. “Ayo, buruan! Kalau telat, kita bisa kena omel panjang pak Rocky!”


Cody telah berpaling juga. Willy menggaruk kepala. Meski begitu, dia akhirnya ikut memilih mengikuti Alex ke kelas. Untuk sejenak, Alex merasa curang. Dia tahu banyak hal, lebih dari apa yang kedua murid itu tahu. Namun, melihat Willy tak menanyakan apa pun lagi, kini hanya tersisa rasa geli.


Lelucon lain telah menantinya di rumah. Di sore cerah itu, Alex menemukan sebuah truk besar baru saja meninggalkan halaman rumahnya. Dia sempat memelototi supir truk. Jangan sampai supir tersebut adalah supir yang sama dari ekspedisi pengirim monster dinosaurus. Lebih buruk lagi kalau si supir adalah Rocky. Untungnya, keduanya tidak terjadi.

__ADS_1


Truk itu benar-benar truk ekspedisi. Setidaknya, sejauh ini Alex tahu kalau ekspedisi tersebut bergerak di jalur yang benar. Kalau pun ada kecurangan yang perusahaan itu lakukan, semuanya tak lebih dari mengakali pajak.


“Apa yang mereka kirim?” tanya Alex pada Preston yang muncul dari samping rumah.


“Kudanya baru saja datang.” Preston bicara datar seperti biasa, tidak terlihat terkesan atau khawatir bila ada hewan besar berkeliaran di halaman mereka. “Mau langsung melihatnya, Alex?”


“Sebuah patung?”


“Tentu saja bukan.”


Alex mengernyit. Daripada penasaran, Alex pun berjalan dari arah datangnya si kepala pelayan. Preston mendampingi tuan mudanya menuju halaman belakang mereka. Sesuai dugaan Alex, dia tidak menemukan kandang atau apa pun untuk menyimpan hewan tersebut. Dia mendapati sebuah peti kayu besar. Dua pelayan lain sedang berusaha membukanya. Alex pun ikut melihat sampai peti kayunya terbuka.


Dengan tambahan bantuan orang, mereka menyeret benda terbungkus foam di dalamnya. Sebuah kuda dengan kulit putih mengilap. Tingginya lebih dari dua meter. Bermata kelam, berambut keperakan. Helaiannya begitu lembut seperti hewan sungguhan. Sayangnya, itu seekor hewan. Lebih seperti manekin.


Alex mengitari manekin tersebut, penasaran. Sementara para pelayan lain telah minggir. Beberapa bahkan sudah kembali pada pekerjaan mereka. Tinggal dirinya berdua dengan Preston. Saat itu, mata si kuda menyala merah.


Alex terkesiap. Tangannya terkepal. Dia siap bertarung.


“Oh, jadi begini cara menyalakannya.” Preston muncul dari samping kuda. Di tangannya ada sebuah remote putih. Ketika melihat majikannya melakukan kuda-kuda sempurna untuk bertarung, dia pun terkekeh. “Apa kamu berpikir mau menendang mainan barumu, Alex? Tuan tidak akan suka.”


Alex mengerjap, menyadarkan dirinya akan ide brilian yang baru terlintas.

__ADS_1


__ADS_2