Zetta Sonic

Zetta Sonic
S20 - (Spring) Next Flight


__ADS_3

Mark mengingat setiap detail kenangan dari desa Kloster hingga hari ini meski Alex mengingatnya sedikit berbeda. Mark ingat berbicara dengan pimpinan ICPA tingkat benua Regis lalu bagaimana perjalanan kariernya hingga akhirnya dia menggantikan posisi tersebut. Berdasarkan pengalamannya sendiri, Mark sadar kalau ada banyak hal yang bisa saja disembunyikan agen lapangan dari pengawasannya.


Berdiri di gedung pencakar langit saat itu membuatnya teringat. Berada di puncak tak lantas membuatnya bisa melihat banyak hal. Dia tak bisa mengawasi seisi dunia. Butuh orang-orang kunci untuk berdiri di posisi yang tepat di saat yang tepat. Namun, setidaknya dia dapat pemandangan yang lebih baik.


Mark berpaling sekali, memastikan kalau rapat mereka hari ini memang telah usai. Dia mengedarkan pandangan, mengawasi orang-orang berpakaian rapi meninggalkan ruangan. Langit senja tersembunyi di balik awan mendung ketika dia mendapat pesan singkat di ponselnya. Tipis, hitam, berlapis kaca, dilengkapi keamanan tingkat tinggi. Pesan singkat tertera di sana, menyatakan jemputannya telah datang.


Mark meninggalkan gedung, menyusuri trotoar rapi, lalu masuk ke mobil sedan perak polos. “Aku terkesan kamu yang menjemputku secara pribadi, dokter,” ujar Mark menyapa si pengemudi.


“Bagaimana aku bisa menolak memberi tumpangan pada bosku sendiri?” Dominic terkekeh. “Kulihat kamu baik-baik saja tanpa luka.”


“Kalau kita bicara soal luka batin, ceritanya akan lain.” Mark menyampirkan sabuk pengamannya.


“Mereka menyerangmu? Maksudku, bukankah para pimpinan biasa menyerang satu sama lain dengan komentar sinis, kritik pedas, entah apa lagi. Rapatmu adalah medan tempur, kamu pernah bilang sendiri.”


Mark mengangkat bahu. “Tidak ada yang keluar tanpa luka.”


“Benar.” Dominic mulai menjalankan mobil.


Mobil itu meluncur mulus di jalanan ibu kota. Tidak ada yang mencolok dari mobil tersebut. Berbeda dengan mobil dinas ICPA yang mewah dan dipersenjatai lengkap. Mobil profesor Dominic punya sistem keamanan standar, misalnya kaca anti peluru. Tidak ada senjata di sana. Lagipula, mereka tidak membutuhkannya. Anak buah Mark mengikuti mobilnya dengan menjaga jarak. Mark memang ingin bicara dengan si profesor.


Mark mengamati layar ponselnya, memeriksa pesan yang sempat dia dapat beberapa waktu lalu. “Kamu juga dapat pesannya?”


“Kamu yang meneruskannya padaku, ingat?” Dominic buru-buru menambahkan, sadar kalau Mark hanya ingin memastikan. “Bagaimana dengannya? Apa yang kamu katakan padanya? Nadira, maksudku. Kamu tidak meneruskan pesan ini padanya, ‘kan?”

__ADS_1


Mark menggeleng. “Aku hanya sekadar memberi peringatan. Dia tidak tahu apa yang akan masuk ke wilayahnya.”


“Dia akan mengira kamu yang masuk ke wilayahnya.” Dominic menimpali lagi. “Oh, tunggu. Itu memang sudah biasa terjadi. Spionase di dalam tubuh ICPA sendiri. Persaingan yang sehat membuat perkembangan dengan caranya sendiri. Kudengar kamu akan mengirim agen baru ke sana. Siapa namanya?”


“River dan English.”


“River pernah ke sana dan bertemu langsung dengan Zetta Sonic.”


“Dan… English?” Dominic sedikit ragu mengucapkan nama belakang yang sama dengan nama belakangnya sendiri. Dia ingat beberapa agen dengan nama belakang tersebut. Namun, mendengarnya langsung dari Mark membuatnya sedikit curiga.


“Aku mengirimmu ke sana, ke tempat pacarmu.”


“Kamu mengirimku ke Sinde? Nadira akan membunuhku!” Dominic hampir berteriak. “Vanessa dan aku, kami tidak berpacaran. Sejauh ini, kami hanya teman diskusi.”


“Sinde meminjam tenaga medis dari Regis dan kamu memasukkan namaku?”


“Kita biasa meminjamkan sesama agen, dokter.” Mark melipat tangannya ke depan dada. Matanya mengamati wajah dokter yang sedang jadi supirnya juga. “Mereka menyediakan rumah dengan kolam renang, lokasinya dekat dengan bar dan restoran, dilengkapi dengan fasilitas pengamanan. Kamu menolak?”


“Tidak.” Dominic menjawab singkat.


“Bagus. Kamu terbang ke sana besok. Tiketnya sudah disiapkan. Sekarang, kita bicara soal tugasmu. Kamu butuh mengorek informasi dari Vanessa.” Ucapan Mark membuat Dominic mendesah panjang. Mark tidak memedulikannya, malah melanjutkan. “Misi terbaru mereka, persenjataan, hingga ancaman terbaru yang mereka dapat.”


“Menurutmu, pesan itu sungguhan?”

__ADS_1


“Aku bisa mempercayai informanku. Itu pesan asli. Dari suku Kloster.”


Dominic mendesah panjang. “Sulit dipercaya. Sudah lebih dari sepuluh tahun kita membantu mereka berkembang, sekarang mereka malah menusuk kita dari belakang. Mereka memutus hubungan baik dengan kita. Lebih dari itu, mereka menyatakan perang pada ICPA.”


“Tidak, Dominic. Mereka menyatakan perang seluruh dunia.”


Dominic menelan ludahnya. Perang bukan topi kesukaannya. Dia pernah menjadi dokter di medan perang sebelum bergabung dengan ICPA. Itu bukan pengalaman menyenangkan. Dia suka menyelamatkan nyawa seseorang namun dia lebih memilih melihat seseorang tidak terluka sejak awal. Dia selalu terperangkap di antara kedua kondisi tersebut.


“Suku Kloster telah mengirim beberapa putra terbaik mereka ke Sinde. Cepat atau lambat, Zetta Sonic akan bertemu mereka.” Mark melirik Dominic lagi. “Mungkin kamu bisa memperingatkan pacarmu lagi tanpa memberitahu secara lengkap.”


“Nadira akan meningkatkan kewaspadaannya.”


“Sayangnya dia tidak paham betul berhadapan dengan siapa. Suku Kloster berkembang jauh lebih pesat daripada dugaan siapa pun. Mereka berhasil mengembangkan teknologi mereka sendiri bahkan mengetahui formula asli Dragon Blood.”


Dominic berdecak kesal. “Ya, mereka mendahuluiku soal itu. Aku baru bisa mendapatkannya setelah Otto tewas. Formulanya diganti beberapa kali. Kupikir Otto belum sadar rahasia sesungguhnya di balik cairannya sendiri.”


“Terima kasih padamu, aku jadi mendapat jawaban atas semua kecurigaanku.”


Dominic mengangguk. Dia menyetir dengan tenang menuju ke bandara. Mark akan kembali ke Regis hari itu juga, sementara Dominic akan pergi ke Sinde keesokan harinya. Ada pertentangan di dalam hatinya ketika menyadari kalau dia akan mendatangi medan peperangan.


“Hei, Mark. Apa menurutmu mereka bisa mengalahkan Zetta Sonic?”


“Tidak ada yang tahu. Tapi, dia butuh bantuan.” Mark memejamkan mata sejenak. Ada banyak pion di tangannya yang telah berada di posisi. “Nadira tidak akan segan menempatkan Zetta Sonic untuk berhadapan dengan suku Kloster. Mereka meminta perang dan mereka akan mendapatkannya.”

__ADS_1


__ADS_2