Zetta Sonic

Zetta Sonic
Making Call


__ADS_3

Sisa perjalanan mereka dilanjutkan dalam keheningan. Keheningan total. Tak satu pun dari mereka bicara. Tiger konsentrasi menyupir. Emil kembali mengutak atik tablet PC di pangkuannya. Alex berusaha mengatasi segala macam perasaan dalam benaknya. Mulai dari rasa kesal pada diri sendiri hingga rasa penasaran ke mana Melodiza dipindahkan. Bahkan ketika mereka sudah berada di markas pun, ketiganya tak saling bicara.


Tiger beranjak pergi dengan langkah cepat.


Emil melangkah gontai ditemani Jason yang terbang rendah.


Alex, dia bersandar pada pintu mobil SUV yang telah tertutup. Lampu garasi menyala redup, membuatnya nampak seperti gua. Alex mengamati hingga Tiger dan Emil lenyap dari landasan ke bagian dalam markas. Tak perlu waktu lama, Alex sudah merosot ke lantai. Dirinya tak peduli bila lantai itu berdebu dan ban mobil dekatnya berlumpur. Dalam kondisi terpuruk, biasanya Jayden di sana. Kali ini, tidak. Dia sendirian.


Alex menggenggam ponselnya. Dia ingin sekali bicara dengan orang yang bisa memahami. Dan, baru nama itu terlintas, Alex mendapati ponselnya dihubungi orang tersebut. Dr. Vanessa menghubunginya. Alex tahu kalau dirinya masih siap menerima omelan lagi. Dia pun menerima panggilan tersebut.


“Halo?”


[Ke mana saja kamu?] Pertanyaan sang dokter terdengar seperti suara jaksa penuntut umum. [Aku mencoba menghubungimu berulang kali. Kenapa mengabaikan semuanya? Kamu enggak tahu kalau kami semua mengkhawatirkanmu?]


“Aku…” Alex kehilangan kata-katanya.


[Apa? Mencoba melakukan semuanya sendiri? Apa itu berhasil? Tidak, bukan?]


Alex bergeming. Dia menekuk kaki hingga bisa memeluk lututnya. Telinganya mendengarkan bagaimana si dokter wanita itu mengomel.


[Apa kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan? Kamu lari dari masalah. Kamu mengabaikan perintah Nadira. Kamu masuk dalam masalah lain. Lalu, kamu malah minta bantuan dari penjahat. Serius? Kamu sadar apa yang kamu lakukan?]


Alex masih tak menjawab.


[Halo? Apa kamu mendengarkan suaraku? Katakan sesuatu!]


“Ya, ya. Aku masih di sini.”


[Bagus sekali. Sekarang pikirkan baik-baik semua yang sudah kamu lakukan. Kamu sadar di mana kesalahanmu, Alexander Hill?]


Alex menelan ludah. Tidak ada hal baik ketika namamu disebut lengkap seperti itu. “Ya. Aku sadar. Aku membuat diriku dan Special Force dalam bahaya,” kata Alex, mengulang omelan Tiger dalam mobil.

__ADS_1


[Tepat sekali! Kamu paham posisimu, tidak? Kalau kamu anggota biasa, Nadira akan langsung memecatmu.]


Ada jeda sebentar. Lalu, dokter Vanessa buru-buru meralat.


[Tunggu! Bukan maksudku bilang kalau kamu dapat perlakuan khusus. Tentu saja, kamu istimewa. Kamu sang Zetta Sonic, satu-satunya yang memiliki Dragon Blood. Perlakuan khusus justru sudah sewajarnya. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya kamu juga bukan bergabung karena keinginanmu, jadi melawan perintah juga bukan hal mengejutkan. Baiklah, tapi bukan itu poinku. Kamu terjebak bersama kami!]


Alex mengernyit. “Ya, itu benar. Terjebak.”


[Seperti keluarga.]


“Tunggu. Apa?”


[Kamu mungkin berpikir ini semua seperti permainan, kenyataannya tidak.]


Suara dokter Vanessa melembut. Dia mengutarakan hal yang juga sempat dikatakan Tiger di mobil. Tiger bilang kalau dirinya menganggap itu semua permainan dan Emil bilang kalau dia tidak benar-benar mendengarkan. Alex tak menyangkal. Dia mulai menyadari hal-hal yang sengaja dia lewatkan. Alasannya mudah. Alex tidak benar-benar menganggap serius semua hal tersebut.


[Ribuan orang, mungkin bahkan jutaan orang, bergantung pada ICPA. Kita mencoba membuat perbedaan setiap harinya. Setiap agen berjuang mengamankan dunia demi orang-orang yang mereka kasihi. Seperti kita. Special Force Zetta Sonic dibuat untuk melawan para kriminal yang mengusik kedamaian.]


[Apa? Tentu saja tidak!]


Jawaban dokter Vanessa membuat Alex memutar bola matanya. Semua orang menuntutnya jadi pahlawan. Alex harus mengakui dirinya senang sampai hari itu terjadi. Hari di mana dia melihat orang ditembak di depan matanya sendiri dan Jayden diculik. Alex menyalahkan dirinya sendiri karena tidak sanggup berbuat apa-apa. Padahal seharusnya dirinya yang jadi pahlawan super.


[Apa itu yang membuatmu melawan perintah Nadira? Berpikir melakukan semuanya dengan caramu sendiri?]


“Well…” Alex hendak bicara, tapi lagi-lagi kehilangan kata-kata..


Dokter Vanessa menghela napas pelan. Suaranya terdengar lebih lembut lagi.


[Hei, Alex, dengarkan aku. Tidak ada seorang pun memintamu jadi pahlawan super seorang diri. Menurutmu, kenapa Special Force ini adalah sebuah tim? Kita seharusnya bekerja bersama-sama. Seperti keluarga. Apa kamu sadar pengorbanan yang dilakukan anggota ICPA? Mereka meninggalkan keluarga mereka, menyembunyikan identitas mereka, merahasiakan kehidupan mereka. Ini jalan yang sepi. Dan, di sini, di ICPA, kita mendapat keluarga baru. Sama dengan Special Force ini. Kita semua keluarga.]


Alex tak berusaha menahan air matanya kali ini. Satu demi satu butiran hangat menuruni pipinya, turun ke dagu, hingga menetes ke lututnya. Suara dokter Vanessa membuatnya hatinya serasa dipilin. Anehnya, Alex justru mendapati dirinya tersenyum. Ucapan dokter Vanessa seperti teguran lembut seorang ibu. Sesuatu yang tidak pernah dia dapatkan dari Alicia Remnant, ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


[Kamu tidak sendirian, Alex. Jangan hadapi semuanya seorang diri.]


Alex terisak. Seberapa keras usahanya, dia tak sanggup menahan suara tangisnya agar tidak sampai ke seberang telepon.


[Kalau aku bisa pulang dari sini, aku akan memberimu pelukan hangat.]


Alex tak mampu menjawab, masih terisak. Dia sempat berpikir kalau telepon akan segera ditutup. Kenyataannya, dokter Vanessa masih di sana, menanti hingga Alex berhenti menangis atau bicara lagi.


Setelah berhasil menahan diri, Alex akhirnya bertanya dengan suara sedikit agak gemetar. “Apa yang harus kulakukan sekarang?”


[Aku dengar soal kasus di sekolah. Apa kamu terluka? Obati dulu dirimu, istirahat sejenak, isi tenaga, lalu minta maaf pada Nadira. Percayalah padaku. Sekeras apa pun Nadira, dia sendiri berusaha keras untuk menyelamatkan Jayden. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Selalu. Aku mohon. Turuti apa katanya.]


Alex mengangguk meski lawan bicaranya tak melihat. “Apa menurutmu, aku masih punya kesempatan? Aku… ingin memperbaiki semuanya. Melakukan misi dengan benar. Tekad yang bulat. Lebih serius.”


[Tidakkah kamu berpikir kalau sudah melakukannya? Mendengarmu bicara seperti itu, aku yakin kamu sudah lebih siap jadi Zetta Sonic.]


“Begitukah?”


[Tentu saja. Satu hal lagi. Apa kamu melelehkan barang belakangan ini?]


Alex teringat insiden truk yang terjadi ketika mereka berusaha mengejar Jayden. “Itu cerita panjang dan rumit. Aku sendiri enggak mengerti kenapa itu bisa terjadi. Itu… Itu terjadi begitu saja.”


[Astaga!]


Mendengar reaksi dokter Vanessa, Alex mendapat firasat tidak enak. “Itu hal buruk?”


[Kamu sudah bicara pada profesor Otto atau Emil?] Dokter Vanessa mengabaikan pertanyaan Alex dengan memberi pertanyaan, meski pada akhirnya dia menjawab pertanyaannya sendiri. [Oh, tentu saja kamu belum bicara pada mereka. Astaga, ini benar-benar terjadi? Ini hal besar. Bisa jadi baik juga buruk.]


“Aku akan menemuinya.” Sekalipun Alex setuju pada ucapan dokter Vanessa, bukan berarti dia bersedia menemui si profesor. Alex tak suka pada profesor Otto yang selalu memperlakukannya sebagai kelinci percobaan daripada manusia. “Dari mana kamu tahu soal ini, dok? Emil mengatakannya padamu?”


[Itu…] Dokter Vanessa berhenti sejenak. [Alex, bisakah kamu membantuku? Lupakan soal ini. Jangan beri tahu siapa pun kalau aku bertanya padamu, oke? Sekarang, lebih baik kamu segera temui profesor Otto dan istirahat. Zetta Sonic harus siap kalau Jayden ditemukan.]

__ADS_1


__ADS_2