Zetta Sonic

Zetta Sonic
S4 - (Winter) White Smoke


__ADS_3

Jayden, Emil, Tiger, dan dokter Vanessa bersiap-siap untuk kepergian mereka. Pesawat yang digunakan kali ini agak sedikit berbeda. Mereka tidak memerlukan kabin besar. Mereka memerlukan pesawat kecil yang bisa melaju lebih cepat. Dengan pesawat ini, lokasi kecelakaan bisa dicapai dalam waktu dua jam.


Pesawat itu tidak punya kabin besar seperti pesawat yang biasa dipakai Alex. Tidak ada sofa, pantry, apalagi ruang tidur. Hanya ada tempat duduk tegak berlapis kulit imitasi. Juga tidak bisa memuat mobil di dalamnya, hanya satu motor saja. Bagian bagasinya cukup menampung obat-obatan dan semua perlengkapan yang mereka perlukan.


Dari luar, pesawat tersebut masih sama. Badannya didominasi warna putih dengan sedikit aksen hijau di bagian bawah. Kepalanya meruncing, sayapnya agak tebal, ada sepasang baling-baling pada setiap bagian atas sayapnya, dan empat roket pendorong di bagian belakang.


Pesawat tersebut melesat dalam hujan salju tanpa masalah. Seperti biasa, Tiger berada di kokpit. Dia memastikan kalau penerbangan mereka akan dihiasi beberapa guncangan, jadi dia menghimbau semua orang tetap duduk di kursi mereka sambil mengenakan sabuk pengaman.


Kabin pesawat ini jauh dari kata mewah meski masih bisa dalam kategori nyaman. Kursinya disusun berhadapan pada kedua dinding pesawat. Setiap kursi dilengkapi sandaran tangan dan meja kecil yang bisa dikeluarkan dari sana.


Sepanjang jalan, dokter Vanessa membaca artikel dalam bentuk lembar hologram. Di sebelahnya, Emil mendengarkan lagu sambil mengutak-atik rangkaian mesin kecil di depannya. Sementara, Jayden di seberang mereka membaca keterangan misi di tablet. Sesekali, dirinya mengerutkan dahi, melempar pandangan, memeriksa flipad sebelum kembali lagi ke tablet.


Dokter Vanessa memecah keheningan. “Kamu gelisah. Ada masalah, Jayden.”


Jayden menghindari tatapan sang dokter. “Bukan hal besar. Hanya, Alex.”


“Kamu bilang tidak mau mengganggu acaranya bersama teman-teman. Kamu tidak meneleponnya. Sebagai gantinya, kamu sudah mengirim pesan terkait misi kita. Apa yang salah dengan itu?.”


“Sebenarnya, dia belum membaca pesanku,” jawab Jayden.


“Kamu cemas kalau dia tahu-tahu datang ke markas dan mendapatkan tak seorang pun di sana? Atau, ada hal lain? Hadiah natal yang kamu siapkan untuknya, mungkin?”


“Bukan itu. Dia akan suka hadiahnya. Sangat suka. Aku juga sudah membungkusnya dalam kotak merah seperti saranmu, dok.” Jayden tersenyum geli. “Ini bukan soal hadiah itu. Aku hanya merasa sedikit konyol. Special Force Zetta Sonic menjalankan misi tanpa Zetta Sonic.”


Dokter Vanessa mengangguk. “Kalau kamu bilang begitu, itu memang terasa sedikit konyol.” Seolah bisa membaca pikiran Jayden, dia melanjutkan, “Kamu takut kalau Alex akan merasa ditinggalkan?”


Jayden mendesah, melemaskan bahunya, menarik dirinya untuk bersandar. “Dia selalu bersama kita belakangan ini. Dia menghabiskan waktunya bersama kita lebih banyak daripada di rumah. Bukan tidak mungkin kalau total waktunya lebih banyak dibanding waktu yang dia habiskan bersama orang tuanya. Aku merasa curang. Pergi tanpa dirinya.”


“Kalau kudengar dari Tiger, kamu berjuang untuk memberikannya liburan.”

__ADS_1


“Ya, dia pantas mendapatkannya.”


“Kalau begitu, jangan menyesali apa yang kamu lakukan. Kamu percaya itu yang terbaik baginya, ‘kan?” Dokter Vanessa membuat senyuman. Wajahnya menenangkan Jayden. “Kalian seperti kakak beradik sungguhan. Aku senang melihatnya.”


Entah bagaimana, tapi keresahan Jayden lenyap karenanya.


 


 


Setelah perjalanan selama dua jam lima menit, pesawat akhirnya mencapai lokasi kecelakaan. Badai salju sudah lenyap. Tiger mendaratkan pesawat pada tanah lapang yang cukup landai. Sejauh mata mereka memandang, hanya ada pohon pinus tertutup salju, batu tertutup salju, dan jalanan tertutup salju. Semuanya tertutup salju.


Mereka harus mengenakan mantel berlapis dilengkapi topi karena cuaca tak bersahabat. Terutama anginnya. Saljunya sendiri sudah bertumpuk cukup tebal, hampir selutut orang dewasa.


“Di mana pesawatnya?” Emil agak berteriak agar Jayden bisa mendengar.


“Di sana.” Jayden menunjuk ke satu arah yang juga ditunjuk flipad. “Ada di dalam lembah.” Jayden telah mendapatkan lokasi persisnya selama mereka berada di dalam pesawat.


Kelompok ini menyeberangi tanah landai lurus ke arah lembah. Mereka sudah bisa langsung melihat pesawatnya dari sana. Bentuknya tak lagi menyerupai pesawat. Api yang tadinya mengepul telah lenyap oleh salju, menyisakan noda hangus dan bau menyengat. Sebenarnya perjalanan mereka tidak begitu jauh. Namun, karena salju tebal serta medan yang naik turun, perjalanan itu jadi terasa sulit. Pohon pinus yang ada di sekeliling lebih mengganggu daripada membantu.


Jayden yang pertama mencapai bangkai pesawat. Napasnya mengeluarkan asap putih ketika bicara. “Sudah kuduga. Pesawat ini tidak dirawat dengan baik. Nadira harus membuat teknisinya bertanggung jawab.”


Emil beranjak ke sisinya. Pemuda itu masih terengah-engah. Lebih banyak berada di balik layar memang membuatmu lebih rentan di lapangan.


“Kehabisan napas?” Jayden mendengus geli.


Emil mengangguk. “Satu menit. Setelah itu… akan kucari muatannya.”


“Maksudmu, pilotnya?” sahut Jayden.

__ADS_1


Kali ini, Emil menggeleng. “Tidak. Aku tidak mau. Mencari mayat. Di sini.”


Jayden hendak menyela tapi pemandangan di depannya membuatnya tak bisa berkedip. Sesosok gadis berkulit kuning kecoklatan tengah menatapnya tajam dari atas bangkai pesawat yang masih utuh. Mata besar hijaunya segarang serigala. Bibir penuhnya merah kecoklatan bak darah yang tengah mengering. Rambut keriting coklat tuanya tengah dinodai kepingan salju.


Mendapati Jayden terperangah, Emil menoleh ke arah yang sama.


“Yo!” Ketika gadis itu melambaikan tangan, dua pemuda tersebut serentak berteriak. Reaksi mereka membuat gadis ini langsung berteriak. “Apa yang membuat kalian begitu lama, hah!? Kalian pikir sudah berapa lama aku menunggu bala bantuan di sini? Dasar lambat! Memang apa saja, sih kerjaan ICPA pusat!?”


Jawaban itu membuat Emil dan Jayden bertukar pandang.


Emil yang pertama kali berani menyuarakan isi pikirannya. “Tunggu! Apa kamu Smith? Pilot pesawat ini? Kamu belum mati?”


Si gadis langsung menyipitkan matanya. Dia melompat dari atas pesawat, mendarat keras di depan Jayden, lalu menyilangkan tangan di depan dadanya. “Apa aku kelihatan sudah mati buatmu? Aku beruntung berkat teknologi ICPA. Jadi, jangan buat aku mati karena kelambanan tim penyelamat ICPA seperti kalian.”


“Wow, tenang nona!” Jayden menengahi keduanya. “Kami langsung berangkat begitu mendapat perintah langsung dari Nadira. Sama sekali tidak ada niat membiarkanmu sendirian di antah berantah seperti ini.”


“Nadira? Kalian dapat perintah langsung dari Nadira, pimpinan tertinggi dari benua ini? Jangan bilang kalau kalian Special Force Zetta Sonic!”


Jayden tak bisa menahan diri dari tersenyum. Dia senang melihat reaksi gadis di depannya. Setidaknya gadis itu tahu kalau hanya Special Force ini yang biasa mendapat perintah langsung dari Nadira. “Maaf kalau kami sedikit berbeda dari bayanganmu, agen…”


“Kara,” sahutnya. “Kara Smith. Aku penggemar besar Zetta Sonic.” Matanya melebar, senyumnya terkembang lebar, wajahnya mendekat pada Jayden. “Jadi, Nadira mengirimkan Zetta Sonic untuk menyelamatkanku? Di mana dia? Apa kamu Zetta Sonic?”


Jayden bergumam pelan. “Dia enggak di sini.”


Kara menarik dirinya, menyipitkan matanya lagi. “Kamu mau bilang kalian Special Force Zetta Sonic tanpa Zetta Sonic?”


“Kurang lebih.”


“Oh, sepertinya aku terjebak dengan para pembual.” Kara mendesah sambil memutar bola matanya. “Sekarang bantu aku memindahkan barang-barang ini sebelum mereka memancing para beruang datang.”

__ADS_1


Sanggahan yang disiapkan Jayden lenyap ketika dia mendengar nama hewan disebut. Sekali lagi, Jayden dan Emil bertukar pandang. “Beruang? Apa sebenarnya yang dia bawa dalam pesawat ini?”


__ADS_2