Zetta Sonic

Zetta Sonic
Black Suit


__ADS_3

Si robot tak memperlambat dirinya. Setelah penyelaman cukup lama, si robot mulai naik ke permukaan. Tanpa satu tangan, kesimbangannya sedikit berkurang. Ketika tiba di tujuan, dia harus dibantu oleh dua orang berpakaian hitam untuk naik ke permukaan. Bersama kedua orang itu, si robot berlari menuju truk yang terparkir pada pintu masuk terowongan. Sebuah truk dengan pendingin dan gambar ikan.


Si robot masuk ke bagian belakang tanpa diperintah. Kedua orang lainnya berlari-lari menuju ke bagian depan.


Si sopir naik lebih dulu. Rekannya belakangan, berjalan santai, sambil meniup tangannya. Udaranya memang dingin. Itu sudah hampir tengah malam. Sesaat, pikirannya sempat melayang ke dermaga yang baru dihancurkan oleh robot di depannya.


“Hei,” katanya sembari membuka pintu truk. “Apa menurutmu robot itu juga tidak akan menembak kita?”


“Bah! Tidak perlu banyak tanya. Asalkan kita menurut pada si bos, kita akan baik-baik saja.” Si sopir, yang lebih gemuk, berusaha menyalakan mesin truk. Truk itu memang bukan truk baru tapi mesinnya selalu dirawat dan bisa melaju kencang.


“Semoga saja itu benar. Beberapa pengawas lapangan mulai tertangkap. Itu sedikit membuatku khawatir.” Rekannya yang bertubuh kecil ini pun masuk ke mobil lalu mengenakan sabuk pengaman.


“Bah! Lupakan soal itu.” Si sopir menjulurkan kepala keluar jendela. Dia berteriak pada pria lain di samping mobil SUV hitam tepat di depan truk. “Kami sudah siap. Tunjukkan jalannya!”


Pria itu mengenakan setelan jas hitam. Rambutnya diberi gel dan ditata dengan rapi. Penampilannya begitu berbeda dengan dua orang sebelumnya yang hanya mengenakan jaket dan topi rajut. Pria ini tak menjawab atau langsung masuk dalam mobil. Dia malah mengedarkan pandangannya.


“Hei! Kamu dengar, tidak?” Si sopir berteriak untuk mengatasi deru mesin truk.


Pria itu masih di sana. Dia mengedarkan pandangannya ke sisi terowongan yang gelap. Terowongan itu memang sudah lama tak digunakan sejak jalan tol semakin banyak. Jalannya banyak yang telah terkikis, penerangannya hampir tidak menyala, dan tidak ada kamera pengawas. Pria ini akhirnya melambaikan tangan.


Si sopir menunjuk dirinya namun pria itu menggeleng. Dia pun berpaling pada rekannya. “Kupikir dia memanggilmu,” katanya.


“Hah? Untuk apa? Dia tidak mungkin menyuruhku masuk ke dalam mobilnya, ’kan?”


“Mana aku tahu? Lakukan saja! Lebih cepat, lebih baik. Aku enggak suka bawa barang seperti ini di belakang.”


Laki-laki yang lebih kecil itu melompat turun dari truk. Dia berlari-lari kecil pada pria berjas. “Hei, pengawas, kenapa memanggilku?”

__ADS_1


Pria berjas itu melangkah mendekat lalu mengambil pistol dan menodong kepalanya.


“Hei, hei! Jangan bercanda! Apa salahku? Kenapa kamu—“


“Kita kedatangan tamu.”


Perlahan, laki-laki yang ditodong itu pun berpaling ke belakang. Dia melihat sosok berpakaian hitam datang dari arah yang sama dari tempat mereka mengambil si robot. Tercengang, laki-laki ini hanya bisa melongo melihat bagaimana si robot melompat keluar dari truk untuk melawan. Pertarungan itu tak berlangsung lama. Si robot mendapat beberapa tembakan laser di dada yang langsung menumbangkannya.


Melihat kalau kondisi memburuk, si sopir memacu truknya. Dia meninggalkan rekan-rekannya di belakang. Pria berjas itu hanya diam sementara laki-laki yang dia todong hanya bisa gemetar.


“Zetta Sonic, senang bertemu denganmu. Kamu terlihat berbeda.”


Alex menggeram. Dia melangkah perlahan sambil membawa pistol laser di tangannya. Dia tidak akan bisa menembak orang tak bersalah. Keduanya layak ditangkap tapi bukan dibunuh. “Permainan apa yang kamu mainkan ini?”


“Kami hanya menjalankan tugas.”


Pria berjas itu bereaksi meski sedikit. Bahunya turun dan senyum tipis di wajahnya hilang tak berbekas. “Aku yakin kamu salah memanggil orang.”


[Lebih baik kamu hentikan permainanmu. Kami sudah mengetahui semuanya.] Suara Jayden datang dari sisi terowongan yang lain. Robot ICPA melayang mendekat dan menodongkan senjata juga padanya.


Itu tak membuat pria berjas ketakutan. Dia menoleh ke belakang, ke arah robot tanpa menurunkan pistolnya sama sekali. Senyumnya pun kembali. “Aku jadi penasaran sejauh apa yang kalian tahu, ICPA.”


[Kamu melakukan banyak kejahatan dan menjatuhkan semua tuduhan pada saudara kembarmu yang sudah tewas, Roban. Baron, kamulah Roban itu sendiri. Kamu adalah dalang di balik semua kejahatan atas nama Roban. Kamu juga orang yang menculikku.]


“Sepertinya ada yang menyelesaikan pekerjaan rumahnya.” Pria berjas itu terkekeh. Dia melepaskan kaca mata hitamnya, membiarkan wajahnya terekspos. “Lama sekali waktu yang kalian habiskan untuk menemukan itu semua, ICPA— Ah, bukan. Jayden. Lambat sekali kerjamu. Aku bahkan sudah mulai bosan bermain, kalian tahu?”


[Apa itu sebabnya kamu mulai mencari informasi di luar Sinde juga? Kamu membeli informasi dari pengkhianat suku Kloster?] Nada suara Jayden mulai meninggi.

__ADS_1


“Pengkhianat? Itu sebutan yang diberikan sukunya pada informan baik seperti dia? Pantas saja dia pergi dari mereka. Dunia butuh orang-orang yang mau saling berbagi.”


[Kamu menggunakan teknologi mereka untuk berbuat kejahatan—]


“Tidak. Aku menggunakan semua yang kumiliki untuk melindungi hal yang kucintai. Caitlin.” Baron berbalik pada Alex ketika dia mengucapkan nama Caitlin, memastikan anak itu mendengarnya. “Kamu mengambil hal yang paling dia inginkan. Kamu tahu betapa hancurnya dia ketika kamu dinyatakan sebagai Zetta Sonic?”


“Tunggu!” sahut Alex. “Aku sama sekali tidak mengerti. Kamu mencintai gadis yang bekerja di ICPA. Dia penegak hukum dan kamu kriminal. Dia tidak tahu apa pun soal ini, ‘kan?”


“Dia tahu Roban seorang penjahat internasional dan kenal Baron yang mencintainya.”


“Kamu menipunya! Kalau Caitlin tahu—”


“Dia tidak akan percaya padamu. Dia percaya padaku.”


“Kamu gila!”


“Aku melindunginya. Aku tidak bisa membiarkannya terluka saat bertarung melawan penjahat dan aku jelas tidak bisa membiarkannya tewas. Aku juga tidak ingin mencegahnya mengejar mimpi yang selalu membuatnya bersemangat. Jadi, akan kubuat dunia ini sebagai area bermainnya. Tapi, kamu… Kamu mengacaukan semuanya!” Baron berteriak.


“Kamu bukan hanya gila, kamu maniak!” Alex mulai berlari.


“Kamu tidak sadar situasinya?” Pertanyaan Baron membuat Alex berhenti. “Aku bisa menembak orang ini kapanpun aku mau.” Laki-laki di depan Baron mulai terisak.


Alex berhenti. Tangannya terkepal. “Lepaskan dia!”


“Tentu saja. Aku akan melepaskannya setelah dia menyetir jauh dari sini.” Baron menyuruh laki-laki di depannya masuk ke kursi supir. Laki-laki itu berjalan pelan tanpa berani membantah. Baron sendiri membuka pintu belakang. Tangannya yang memegang pistol kini menodong belakang kepala laki-laki tersebut. “Jangan berpikir untuk mengejarku. Kalau kamu percaya aku baru saja meledakkan dermaga, sebaiknya kamu juga percaya kalau aku bisa meledakkan tempat lain. Seperti mansion milik Marcus Anthony Hill atau hotel Fleur de Lis.”


“Apa—“

__ADS_1


“Ibumu, Alicia Remnant, ada di kamar presidential suit hotel itu bersama selingkuhannya. Sepertinya aku terlalu berbaik hati ketika menanam selusin bom di sana. Seharusnya empat saja sudah cukup untuk meledakkan kamar itu.”


__ADS_2