
Alex langsung terlelap ketika berada di dalam kapsul. Dia tidak ingat bagaimana ruang generator kembali mengisi tenaganya atau bagaimana dia bisa kembali ke ruangannya yang ada di lantai enam bawah tanah.
Hal terburuk berada di ruang bawah tanah, selain tidak adanya udara segar dan matahari, adalah soal waktu. Alex tak bisa menebak pukul berapa dia terbangun. Dia butuh jam sungguhan untuk memberitahunya. Bisa dibayangkan kalau dia akan tersesat bila baterai jam tersebut bermasalah.
Alex mengernyit. Matanya terpaku pada jam digital yang terpasang di dinding. Angka depannya menunjukkan nol dan tiga. Dia terbangun pada pukul tiga pagi, itu yang Alex percaya. Terlalu pagi dibandingkan jam bangunnya.
Sambil bergerak untuk duduk, Alex menyadari suara datang dari perutnya. Perutnya keroncongan, mengingatkan Alex akan betapa banyaknya jam makan yang dia lompati. Satu kali sapuan pandang memberi tahu dirinya kalau sedang sendirian. Tidak ada seorang pun di sana. Juga tidak ada makanan atau air. Meski begitu, dia tak lagi merasa terpuruk. Alex tahu akan menjumpai orang di luar.
Dia punya keluarga sekarang. Keluarga baru.
Alex keluar dengan gontai. Dia telah berganti kaus dan celana longgar warna kelabu. Salah satu atribut ICPA untuk digunakan agen mereka berlatih. Menyusuri lorong monoton, Alex berhenti pada sebuah ruangan tak berpintu. Ruangan luas berdinding putih dengan pantry pada ujung dan aneka makanan. Salah satu ruangan baru yang langsung membuat setiap anggota Special Force jatuh cinta. Ruang makan.
Tiger sedang menikmati sarapannya dalam jumlah besar. Nasi, roti, kentang, buah. Pria besar itu makan sesuai porsi yang dia butuhkan untuk berlaga di lapangan. Ketika melihat Alex masuk, Tiger menengok pada deretan benda besar pada tepi ruangan. “Ambil makananmu sendiri, bocah!”
Deretan benda besar itu serupa lemari baju atau kulkas. Sebut saja, campuran keduanya. Mereka membentang sepanjang ruang makan. Setiap pintu lemari punya keterangan. Beberapa di antaranya memiliki laci dan beberapa lagi memiliki pintu mungil yang terhubung ke mesin penghangat.
Emil menyeberangi ruangan sambil menguap. Langkahnya gontai. Meski ada banyak meja kursi di sana, Emil memilih duduk di seberang Tiger. Kontras dengan si pria besar, Emil hanya ditemani sebuah cangkir yang masih berasap.
“Kapan kita akan pergi?” tanya Alex.
“Secepatnya.” Tiger membuat gigitan besar pada apelnya.
“Tidak ada yang membangunkanku?” tanya Alex lagi. Bukan sebuah protes, hanya penasaran.
“Sudah diatur lewat obat tidur.”
“Lewat apa?” Alex spontan mengernyit. Dia berhenti dari kegiatannya mengambil baki makanan. Sekuat apa pun tatapan menuduh diberikannya pada Emil, pemuda itu tak merasakannya. Malah menguap lagi.
“Bukan obat tidur,” jawab Emil. “Recovery Calculation System. Hitungan khusus. Untuk memperkirakan kapan tubuhmu akan pulih. Kapan kamu akan bangun.”
__ADS_1
“Memang aku apa? Robot?”
“Bukan. Pasien.”
Tiger langsung tergelak. Tawa itu menular pada Alex. Dia tidak tersinggung atau marah. Alex pun beranjak dari deretan lemari berisi peralatan makan dan mulai memilih makanannya. Nadira harus mendapat pujian darinya nanti. Lemari itu bukan hanya berisi makanan dari berbagai negara, tapi juga berbagai makanan sehat dengan perhitungan kalori cermat. Sistem ICPA selalu memukau Alex.
Setelahnya, Alex pun bergabung dengan kedua rekannya. “Di mana lokasi Rocky?”
Tiger melempar pandangan pada Emil. “Briefing.”
“Baik.” Emil meletakkan tablet PC di atas meja kelabu setelah menyingkirkan beberapa bungkus makanan milik Tiger. “Kita akan ke laut.”
“Dermaga?”
“Bukan. Taman bermain.”
“Oh, jadi kamu sudah baca detail misinya di Zet-Arm.”
“Bukan. Aku belum melihatnya. Tapi, itu satu-satunya taman bermain dekat laut. Apa yang mau mereka lakukan di sana? Membuat kita berpikir kalau mereka akan membawa kabur Jayden lewat laut?” sahut Alex.
“Mungkin.”
”Bisa dipastikan kalau Jayden tidak ada di sana.”
Tiger berhenti menikmati makanannya. “Datang ke sana, hancurkan monsternya, tangkap Rocky hidup-hidup. Cukup sederhana kecuali kalau kita bayangkan Camellia terlibat. Lawan kita pasti bukan orang sembarangan. Dia membuat Camellia membuang identitasnya sendiri.”
“Ada… satu lagi.” Emil terdengar ragu.
“Virus bebek?” tebak Tiger.
__ADS_1
Dari sana, Alex bisa menduga kalau itu pasti bukan berita baik. “Virus? Jayden mengirimkan virus sama padaku. Kalian tahu itu. Dia mengirimkannya lagi, ya? Ke mana kali ini?”
“Ke Akuarium. Salah satu atraksi terbaik di Debura Fun Park.” Emil menyodorkan tablet PC pada Alex.
Di sana, ada kumpulan gambar yang bisa digeser. Gambar pertama menunjukkan akuarium raksasa milik Debura. Sisanya agak buram, tapi masih bisa dikenali. Gambar selanjutnya menunjukkan sebuah pintu kembar pada tebing di dasar laut. Berikutnya, ada beberapa foto pintu tersebut, sedikit lebih jelas dari sudut berbeda. Lalu, ada gambar yang menunjukkan beberapa lubang di sebelah pintu tersebut. Ukuran mereka lebih kecil dari pintu. Meski belum melihat aslinya, Alex bisa menebak. Setidaknya, pintu tersebut bisa mengizinkan kapal selam kecil masuk.
“Fasilitas bawah laut di bawah akuarium?” tanya Alex sembari menggeser setiap foto. Ini putaran kedua buatnya. “Kenapa Debura punya ini?”
“Kita tidak tahu. Tapi, kalau Jayden mengirim virus ke sana pasti bukan hal baik. Aku sudah melakukan pemeriksaan. Virus Jayden berhasil mematikan aliran listrik de Debura Fun Park. Tepat tujuh menit. Saat listriknya kembali menyala, mereka menggunakan lebih sedikit listrik. Dari yang biasa mereka pakai. Mencurigakan.”
Tiger menghentikan makannya sekarang. “Mereka menculik Jayden untuk meretas sistem ini. Military Grade. Sangat aneh sebuah taman bermain punya sistem dengan tingkat seperti itu. Taman ini jelas menyembunyikan sesuatu.”
“ICPA akan mengirim agen lain. Memeriksa pihak management dan pemiliknya,” ujar Emil. “Tugas Zetta Sonic, menghabisi monster profesor Otto. Memeriksa fasilitas ini.”
Alex tahu tak seharusnya mendengarkan briefing misi saat makan. Kini semua nafsu makannya telah lenyap. Pikirannya disibukkan berbagai asumsi. “Seandainya Debura menyuplai listrik ke fasilitas bawah laut ini… Lalu, Jayden memutus aliran listriknya… Dan, virus itu masuk ke sistem fasilitas bawah laut… Kemungkinan, Jayden mematikan sesuatu di dalam fasilitas bawah laut itu secara permanen.”
“Tinggal mengirim orang untuk memeriksanya,” lanjut Emil.
“Kalau begitu, kenapa mengirim Rocky ke sana juga? Dalang masalah ini, si Mr.X, menginginkan sesuatu di sana. Dia juga tahu aku akan ke sana untuk mengejar Rocky. Aku bisa mengacaukan semua rencananya,” ujar Alex, memberi nama asal pada penculik Jayden. “Kecuali, kalau Zetta Sonic termasuk dalam rencananya.”
“Itu yang kita semua khawatirkan.”
“Menurutmu, Mr. X ini ingin membunuh Zetta Sonic?” tanya Tiger.
Emil melirik rekannya. “Semua kriminal ingin Zetta Sonic tewas. Begitu pula ICPA. Mereka ingin menghancurkan semua penegak hukum yang ada.”
Tiger pun melanjutkan makan apel. Jawaban Emil tak membuatnya terkesan. Dia sadar benar sejak pertama kali bergabung dengan ICPA kalau nyawanya akan selalu terancam. Salah satu hal terburuk dari tewas saat bertugas adalah dilupakan. Saat seorang agen ICPA tewas, hanya identitas palsu mereka yang tersisa.
Bagi Alex, ucapan Emil seperti pengingat yang menusuk ulu hatinya. Sebuah kebenaran pahit. Anehnya, entah kenapa, sangat sulit bagi Alex memercayai bila Mr. X sekadar ingin membunuhnya.
__ADS_1