Zetta Sonic

Zetta Sonic
Free Fall


__ADS_3

Itu tidak seperti yang diingat Jayden. Angin bukan hanya menampar wajahnya tapi juga memukuli badannya tanpa ampun. Hidungnya seolah membeku, dadanya sesak. Telinganya menangkap terlalu banyak suara. Dia tak lagi bisa membedakan suara apa saja itu. Tangannya meraba-raba tali pembuka parasut. Begitu dia berhasil membuka parasutnya, Jayden hanya berharap kalau Marcel tidak berhasil menembak parasutnya sekarang.


Jayden lebih bisa mengenali sekelilingnya ketika kecepatannya melambat oleh parasut. Dia mengerjap, berusaha melihat lebih jelas. Pesawat ICPA berada jauh darinya dan sedang membelakanginya. Namun, mereka pasti melihatnya karena pesawat itu mulai melakukan manuver untuk berputar.


Kelegaan tak lantas datang. Jayden menyadari kalau ada yang tidak beres. Dia pun menengadah ke atas. Parasutnya mengembang sempurna tadi. Sekarang ada lubang di sana. Satu lubang saja itu saja cukup untuk membuat parasutnya berfungsi dengan baik. Gravitasi mulai menariknya dengan cepat. Parasut yang seharusnya membuatnya mengambang di udara kini tak lebih dari beban yang menariknya terus menuju ajal.


Dari balik parasutnya yang mulai tak berbentuk, Jayden bisa melihat Marcel di ujung pintu pesawat. Lelaki itu menembak menggunakan senapan panjang. Dia pasti telah mengikat dirinya dengan pengaman atau tali sebelum menembak. Posisinya terlalu jauh untuk mengenai sasaran, namun dengan sedikit keberuntungan, dia berhasil menembak parasut Jayden.


Otak Jayden berputar cepat di tengah kepanikan. Dia bukan saja mulai jatuh bebas, dia bisa merasakan mulai dihujani tembakan pula. Saat itu, Jayden sadar kalau tak punya rencana. Dia hanya butuh daratan. Segera!


Dunia di sekeliling Jayden berputar. Kepalanya sakit. Matanya hanya bisa menangkap sekelebat benda putih dari kejauhan. Bentuknya seperti roket atau darts dengan kepala runcing. Jayden memicing, sadar kalau dia mengenalinya. Itu hadiah yang disiapkan untuk Zetta Sonic. Detik berikutnya, muncul sosok bersayap dengan kecepatan tinggi menyambar dirinya.


“Dapat!”


Jayden tak mengira bisa mendengar suara rekannya dalam kebisingan seperti itu. Tapi, dia mendengarnya. Dia mendengar suara Alex tepat di atasnya. Alex dalam seragam hitam dan roket sedang memeluk dirinya, menyelamatkannya dari kejatuhan mematikan. Entah bagaimana Alex juga berhasil memotong parasutnya.


Penerbangan itu berlangsung mulus meski Marcel masih berusaha menembaki mereka. Alex tahu kalau dia bisa membawa Jayden ke pesawat Kara dan Caitlin. Mereka punya kabin di belakang untuk barang. Alex bisa mengamankan Jayden di sana sementara dirinya kembali berurusan dengan pesawat barang tadi.


Ketika Alex mendekat, bagian atas pesawat Kara terbuka. Panel ini ada di bagian belakang pesawat. Kara menyeimbangkan pesawat selagi Alex turun melewati pintu panel tersebut. Gadis itu berpaling ke belakang. Pintu kokpit telah terbuka lebar. Caitlin berlari ke belakang untuk menjumpai keduanya. Kara bisa melihat semuanya lewat pintu yang kini digantikan lorong panjang. Melihat Alex dan Jayden sudah masuk, dia pun bergegas menutup pintu untuk membawa mereka semua keluar dari tempat itu.


Sayangnya, kekacauan belum usai. Ketika dia mendengar suara ribut dari belakang, Kara tahu kalau ada yang tidak beres.


Caitlin sudah berada dekat. Dia berhenti sejenak karena melihat seragam hitam Alex nampak basah. Bukan basah oleh air melainkan cairan lain warna merah. Darah. Alex membuka helm, matanya terbelalak. Mereka melihat Jayden tengah terbaring di lantai dalam genangan darah yang kian membesar.


“Jayden!” Alex berteriak panik. Dia langsung berlutut di samping rekannya.

__ADS_1


“Kupikir… Kali ini aku sungguhan tertembak.” Jayden merasakan suaranya tertahan. “Ini… benar-benar sakit.”


Alex tertegun. Dia bisa melihat kalau wajah Jayden memucat dengan cepat. Matanya berair dan napasnya tersengal. Kondisi itu mengingatkan Alex pada penembakan di universitas. Mirip tapi berbeda. Kondisi Jayden kali ini membuatnya takut karena dia tahu kalau penembakan kali ini benar terjadi.


Caitlin mengambil kotak obat besar dari lemari terdekat. “Kita harus hentikan pendarahanmu. Di mana kamu tertembak?” Caitlin ikut panik. Dia tak bisa menemukan dari mana sumber pendarahannya karena hampir sebagian besar tubuh Jayden sudah basah oleh darah.


“Punggung. Mungkin.” Jayden sendiri tak yakin.


“Bertahanlah! Kita akan segera pergi dari sini,” sahut Caitlin. Dia menarik kain tebal entah dari mana selagi matanya masih mencari di mana luka tembak itu berada. Kepanikan membuat Caitlin berteriak ke kokpit. “Bergerak lebih cepat, Kara!”


“Ini kecepatan maksimal!” Kara balas berteriak.


“Ki— Kita bisa memindahkannya ke pesawatku!” Alex mendapati suaranya bergetar. “Pesawat itu… Autopilot. Ki— Kita bisa—”


“Ta— Tapi…” Alex ingin menyanggah meski tak satu pun kalimat keluar. Dia mulai berharap kalau Jayden tidak benar-benar tertembak. Bahkan baginya saat ini, lebih baik Jayden diculik lagi asalkan tidak tewas.


“Kamu terlihat berbeda,” kata Jayden lirih.


Alex mendekat agar bisa mendengar lebih jelas. “Jangan bicara. Tetaplah sadar. Kami menemukanmu. Kami enggak akan membiarkanmu pergi lagi.”


Jayden mendengus geli lalu malah terbatuk-batuk. Kesadarannya mulai menipis. Air keluar dari matanya tanpa henti. Dengan sisa tenaga yang ada, Jayden mengulas senyum. “Aku senang… kamu datang mencariku. Jadi aku bisa melihat… sisi yang berbeda darimu. Kamu terlihat beda… karena kupikir… aku melihat… seorang agen sekarang. Bukan bocah sok tahu. Kamu berkembang banyak… Alex.”


“Diamlah Jayden!” sahut Caitlin.


“Caitlin benar. Simpan tenagamu. Jangan bicara. Kumohon.” Suara Alex masih bergetar.

__ADS_1


Jayden terbatuk-batuk lagi. Dia masih berusaha bicara. “Kalau kita bisa kembali dengan selamat… kita akan ke Hummingbird.”


Alex tak tahu apa yang harus dia katakan terlebih ketika guncangan hebat terasa di pesawatnya. Guncangan itu disusul raungan alarm dan cahaya merah memedihkan. Ada suara ledakan di luar serta bau hangus ganjil.


“Kara! Apa yang terjadi?” Caitlin berteriak.


“Kita diserang!” balas Kara. “Ada pesawat…” Ucapan Kara tertahan. Dia lantas meralat ucapannya. “Bukan, bukan! Kupikir itu monster. Astaga… Sistem ICPA mengenalinya sebagai… Damon? Tunggu! Bukannya dia berhadapan dengan Zetta Sonic?”


Caitlin mengernyit. “Pasti sistemnya salah!”


Berikutnya, Kara terkesiap. Mulutnya menganga dan matanya tak bisa lepas dari sosok bersayap yang datang dalam kecepatan tinggi menuju jendela kokpit. Ketika jarak mereka terpaut sangat dekat, Kara berteriak histeris oleh wajah mengerikan. Itu tidak lagi tampak seperti wajah manusia. “Kyaaa!”


“Apa itu?” Caitlin berteriak lagi.


“Monster! Ada monster di luar sana!” Kara ikut berteriak. Dia melakukan manuver menghindar tajam. Kondisi di dalam pesawat pun terasa seperti dikocok-kocok.


Alex mengepalkan tangannya. “Dia datang untukku.”


“Siapa?” sahut Caitlin. “Damon?”


“Aku memotong tangannya. Dia… bermutasi?” Alex berkata pelan, terdengar ragu.


“Apa yang kamu bicarakan?”


Alex menatap Caitlin lekat-lekat. “Ingat berbagai eksperimen profesor Otto? Dia ingin membuat pahlawan super. Kenyataannya, dia lebih banyak membuat monster. Aku memotong tangan Damon untuk membuktikannya. Ternyata… Menumbuhkan sayap pada bekas tangan terpotong? Kenapa tidak?”

__ADS_1


__ADS_2