Zetta Sonic

Zetta Sonic
S15 - (Spring) Small Tube


__ADS_3

Perjalanan itu benar-benar dimulai di tengah kegelapan. Mark tidak tahu sejauh apa tujuan mereka, tapi dia tahu kalau ini sudah lewat pukul delapan. Secepat apa pun mereka tiba di sana dan Dominic menyelesaikan penelitiannya, mustahil mereka kembali ke desa sebelum tengah malam. Itu menurut Mark dan dia cukup yakin.


Rute yang dilalui juga tidak begitu ramah dengan para pejalan dari kota. Tidak ada jalan beraspal di sana. Hanya ada jalan setapak, itu pun licin dan cukup terjal. Kadang mendaki, kadang menurun. Jalan sempit mengharuskan mereka berbaris. Seorang penunjuk jalan di depan, lalu Dominic dan Mark, barulah dua penjaga yang tadi lagi.


“Kamu tahu, kita bisa saja ditinggalkan di sini untuk jadi camilan malam hewan buas. Leopard, ular berbisa, lebah pembunuh, laba-laba beracun, entah apa lagi. Beruang, mungkin?” Dominic mendesah. Meski napasnya tersengal-sengal oleh lelah, dia masih bisa memecah keheningan.


“Kamu tahu kalau para penduduk lokal ini bisa paham bahasa kita, ‘kan?”


“Tentu saja tidak. Tesiana bilang orang-orang ini tidak akan repot-repot mempelajari bahasa kita. Kepercayaan kuno mereka bahkan beranggapan kalau kita ini terkutuk dan teknologi adalah ciptaan iblis.”


“Itu tidak sepenuhnya salah.” Mark mengedarkan pandangannya ke atas. Dedaunan menghalangi cahaya bulan menjumpai mereka. Penerangan hanya bisa didapat oleh senter atau lentera yang dibawa penduduk lokal.


“Apa? Kenapa? Karena senjata lebih banyak membunuh daripada melindungi?”


“Salah satunya.”


“Ayolah, banyak hal positif. Aku dokter, kamu ingat? Pengobatan modern itu menakjubkan.” Dominic mulai menjabarkan berbagai macam hal.


Tak ada percakapan terjadi di antara para penduduk lokal. Dominic melemparkan komentar-komentar berusaha menutupi kegelisahannya. Suaranya cukup tenggelam oleh gemerisik daun dan para serangga. Mark yang pernah menyelesaikan beberapa misi tengah malam sudah terbiasa dengan hal semacam ini. Dominic jelas lain. Komentarnya kadang berubah sarkastis. Mark hanya berkomentar seadanya.


Mark tak suka udaranya. Semua terlalu lembab. Kulitnya terasa lengket. Banyak nyamuk besar berusaha menghisap darahnya. Kakinya mulai lelah dan pikirannya mulai bosan. Dominic menoleh padanya. Mereka memikirkan hal yang sama sayangnya tak satu pun dari keduanya bisa bertanya dengan bahasa lokal.

__ADS_1


Saat itulah, orang yang paling depan berhenti. Dia bicara sesuatu lalu kedua penjaga di belakang pun melangkah maju. Kedua orang itu menggantungkan lentera mereka di pohon. Kemudian keduanya bersamaan mendorong benda hitam di depan mereka.


Dominic dan Mark bertukar pandang. Kini mereka paham kenapa mata air itu tidak pernah terdeteksi oleh radar ICPA. Bukan hanya karena suku Kloster menyembunyikannya dari ICPA, melainkan karena mata air itu sendiri menyembunyikan dirinya.


Setelah batu besar itu bergeser dari tempatnya, ada secercah cahaya ganjil dari dalamnya. Dominic dan Mark melangkah masuk ke dalam gua. Keduanya tak bisa menyembunyikan kekaguman mereka. Di balik gua itu tidak ada lentera atau lampu atau lilin. Cahaya itu berasal dari sejenis lumut yang tumbuh memenuhi dinding gua. Gua itu seperti ruangan kubah dengan dinding beludru putih perak.


Hanya satu bagian saja yang tampak berbeda. Di sanalah, ada aliran air mengalir dari dinding atas gua terus turun pada aliran sungai kecil yang berakhir pada sisi lain gua. Dekat aliran air itu, ada tumpukan batu membentuk altar. Tepat di sampingnya, sebuah patung beruang berdiri gagah. Pahatannya berbeda dengan yang ada di desa. Patung yang ini punya detail indah dengan ukuran persis aslinya.


“Tempat ini… mengagumkan.” Dominic melangkah sepelan mungkin. Matanya menyapu setiap bagian. Meski matanya terus terhipnotis oleh keindahan alam di sekitarnya, tangannya tak berhenti bekerja. Dia mulai menurunkan barangnya di dekat patung batu.


Mark ikut mendekati mata air tersebut. Ada aroma manis samar tercium darinya. Warna airnya terasa berbeda. Entah karena pantulan sinar putih perak itu atau karena alasan lain. Dominic mungkin akan menemukan alasannya. Si profesor masih sibuk mengeluarkan berbagai peralatan lalu menatanya di atas tanah.


“Kupikir kamu hanya akan mengambil sampel,” ujar Mark. Dia ikut berlutut di samping Dominic. Tangannya ikut membongkar peralatan dari dalam ransel lain yang dia bawa. Itu milik profesor. Dia hanya bertugas membantu membawakannya. Kalau dirasa-rasa, misi ini membuatnya lebih jadi asisten daripada pelindung.”


“Itu akan memakan waktu panjang.”


“Buat dirimu nyaman, agen.” Dominic mendengus. “Tenang saja. Anakmu seharusnya aman bersama Tesiana, jadi nikmati saja momen ini.”


Mark tak menjawab. Dia melirik penjaga yang berdiri di dekat pintu gua. Keduanya sama sekali tak berniat mendekat. Mereka bergeming di sana sejak mereka masuk. Sementara si penunjuk jalan malah tidak berada di dalam gua. Dia berada di luar, duduk bersila, sambil menghisap sesuatu dari pipa panjang.


Dominic mulai mengambil beberapa test tube dari dalam tas. Dia mengisi setiap tabung kecil dengan jumlah air yang sama. Setiap tabung kemudian dimasukkan dalam laptop berkedok koper. Di sana ada mekanisme yang akan membantu profesor mengetahui berbagai macam hal seperti kandungan mineralnya, tingkat keasaman, serta hal-hal lain. Dominic bergumam selama dia bekerja. Mau tidak mau, Mark harus membiasakan dirinya.

__ADS_1


Untuk menghibur diri, Mark mengeluarkan belati kecil dari kantungnya. Belati itu punya ukiran burung hantu di gagangnya. Mark juga mengambil potongan kayu kecil yang sempat dia pungut tadi. Dia pun mulai mengupas kulit kayu dan melukai bagian-bagian tertentu.


“Aku enggak tahu kamu bisa memahat,” ujar Dominic.


“Kupikir kamu sedang konsentrasi pada alatmu, prof.” Mark menghentikan kegiatannya hanya untuk melihat kalau mata serta tangan Dominic memang terpaku pada percobaan itu. “Aku tidak tahu kamu bisa multitasking.”


“Banyak hal yang belum kamu tahu dariku, agen.”


Mark mengangkat bahu.


“Dan,” kata Dominic lagi, “banyak hal juga yang tidak kuketahui dari air ini. Ada kandungan asing di dalamnya. Kalau kita tidak berurusan dengan penjahat super dan teknologi canggih, aku akan berpikir air ini berasal dari surga.”


“Kandungan asing? Kamu tidak bisa mengidentifikasinya?”


“Tidak di sini.” Dominic mendesah lalu melirik agen ICPA itu. “Ah, seandainya saja aku bisa memindahkan kantorku ke sini.”


Mark mengangkat bahu lagi. Dia melirik pada kedua penjaga yang masih berada di posisinya. Kedua orang itu tak lagi berdiri tegap, mereka sudah duduk di atas lantai dengan tombak dekat tangan. Salah satunya menguap, orang lainnya malah sudah tertunduk. Sementara si penunjuk jalan tak terlihat. Orang-orang itu juga pasti bosan.


“Mereka mungkin tidak melihatnya,” bisik Mark nyaris tanpa suara.


“Apa?” Profesor ikut memelankan suaranya. “Tunggu! Kamu ingin aku mengambilnya?”

__ADS_1


“Pilihan di tanganmu, prof.”


__ADS_2