
Entah itu sugesti atau rasa lelah atau memang karena kecepatan pesawatnya yang di atas rata-rata, Alex merasa dunianya memelesat begitu saja. Dia tidak tahu sejak kapan dunia di sekelilingnya berubah.
Alex tahu dirinya tidak terlelap. Tetapi melihat hal-hal yang tidak wajar, membuatnya benar-benar ingin terlelap. Dia tidak melihat kokpit pesawatnya atau langit biru di luar sana. Dia melihat dunia hitam kelam dan hijau. Tidak ada awan, hanya asap kelabu. Dan, entah bagaimana, dia tahu melihat ke dalam dirinya sendiri.
Ada sosok hitam legam menonjol di antara kegelapan. Sosok itu tak lain adalah sosok Zetta Sonic dalam seragamnya. Warna hijau, yang seharusnya jadi aksen, berpendar temaram seolah menyerah oleh kekelaman yang ada. Tak lama setelahnya, seragam itu pun luruh, menunjukkan siapa yang ada di dalamnya.
Dia melihat Alex yang lain berdiri jauh di sana dalam kehampaan. Sosok itu bergeming sementara dirinya terus mendekat. Hawa dingin menusuk setiap tulangnya. Setiap sisi dirinya terasa nyeri. Ada rasa gelisah bercampur takut yang tak bisa dia jelaskan. Dia hanya ingin lepas dari itu semua. Terlebih ketika sosok itu berpaling.
Wajah itu persis seperti yang dia biasa lihat di kaca. Rambut itu, mata itu, semua. Alex mengenali dirinya sendiri. Dia juga mengenali urat-urat tak wajar yang menyembul di balik kulit wajahnya. Itu tanda dari Dragon Blood.
Alex melihat dirinya sendiri dalam fase yang sama seperti Damon. Sejak melihat Damon seperti itu, Alex tahu ada fase di mana Dragon Blood menguasai inangnya. Kekuatan itu akan memakannya, mengambil alih dirinya, menjadikannya apa pun yang dibutuhkan oleh Dragon Blood sendiri. Sejauh ini, itu hanya pemikirannya sendiri. Sayang sekali kalau itu sampai benar terjadi.
__ADS_1
Sekarang sosok itu memegang bahunya. Tak peduli berapa keras usaha Alex meronta lepas, dia tak mampu bergerak. Tangan itu terlalu kuat. Begitu pula rasa takut yang memerangkap dirinya. Sekuat apa pun dirinya berteriak, tak ada suara yang keluar. Sebagai gantinya, Alex mendengar suara sosok itu begitu jelas. Itu suaranya tapi bukan pribadinya. Itu tawanya tapi bukan miliknya. Itu tubuhnya tapi jelas bukan dirinya.
Detik berikutnya, Alex sadar kalau sama sekali tidak memahami apa ucapan sosok tersebut. Tidak satu kata pun. Dia bisa merasakan ketakutan yang timbul akibat ucapan sosok itu. Namun dia tidak memahami apa arti ucapan itu. Satu hal lagi terlintas lagi dalam benaknya. Alex tahu itu masa depannya.
Kini, sosok tersebut perlahan berubah. Bola matanya memerah dan berusaha keluar dari kelopak tersebut. Giginya meruncing seperti hewan buas. Otot-ototnya menegang lalu membesar tak wajar. Baju yang dikenakannya pun robek di sana sini. Seiring transformasi tersebut, terdengar dengung kencang disertai rasa pusing tak tertahankan. Alex memejamkan mata.
Itu hanya sesaat. Ketika mengerjap, Alex tahu telah berpindah dalam tubuh tersebut. Semua hal yang dilihatnya kini berpendar merah. Tangannya, kakinya, semua bagian yang bisa terjangkau oleh matanya nampak kemerahan. Kengerian merayap di punggungnya seiring ada aroma busuk tercium. Alex sekali lagi memperhatikan tangannya, mendapati noda darah di sana.
Pemandangan itu mulai mereda. Sayangnya, tidak begitu dengan ketakutannya. Alex melihat tumpukan orang-orang di depan sana. Tumpukan bersimbah darah. Darah yang sama dengan darah di tangannya. Orang yang ada di tumpukan paling atas tak lain adalah Damon. Alex paham kalau itu adalah korbannya.
Selagi dalam kebimbangan, sosok Damon bergerak. Dia merangkak turun dari tumpukan dan berdiri sempoyongan. Sosok Damon bergerak lagi, berjalan pada arah Alex. Di belakangnya, sosok-sosok dalam tumpukan mulai mengikuti. Mereka berjalan begitu pelan seolah memberi kesempatan Alex untuk lari.
__ADS_1
Kaki Alex sendiri terasa kelu. Dia tak mampu bergerak apalagi berlari. Matanya terpaku pada Damon dan setiap sosok yang ada di sana. Mereka berjalan pelan padanya dengan tangan menggapai-gapai. Mulut mereka menganga, berkomat kamit tanpa bicara sungguhan. Aromanya tak akan pernah dilupakan Alex. Aroma yang akan terus mengingatkannya pada tragedi dan darah. Aroma kematian.
Alex merintih dalam keputusasaan. Matanya pedih, pipinya basah. Tak ada tangan penyelamat atau panggilan dukungan. Dia tahu hanya dia sendiri yang bisa menyelamatkan dirinya sendiri saat ini. Dia mengerjap, berusaha mengusir semua pemandangan tersebut. Dia mulai memikirkan berbagai hal baik yang telah terjadi. Kelegaan dan ketenangan mulai datang dalam balutan cahaya putih.
Dia mengerjap sekali lagi untuk mendapati dirinya telah berada di atas pinggiran ibu kota tempat tinggalnya. Pesawatnya terbang rendah dalam stealth mode. Tahu-tahu saja, dia telah berada di dalam hanggar bawah tanah markas Zetta Sonic seorang diri.
Jantungnya berdegup cepat. Napasnya tersengal. Seluruh badannya terasa lelah. Wajahnya basah oleh campuran keringat, air mata, dan darah. Alex melepas helm tersebut. Ini pertama kalinya dia mimisan di dalam seragam tempur. Biasanya, seragam itu menghalangi apa pun yang berusaha masuk. Kali ini, seragam itu menghalangi apa pun keluar, termasuk hawa panas dari wajahnya juga darah.
Sambungan komunikasinya masih terhubung meski dia tidak mendengar apa pun dari Tiger atau dokter Vanessa. Alex sedikit bersyukur karena tak seorang pun mengetahui mimpi buruknya selain dirinya. Dia memanfaatkan waktu sendiriannya untuk membersihkan diri sebelum ke markas utama ICPA di mana Jayden dirawat.
Alex baru selesai mengganti pakaiannya ketika ada mobil hitam datang menghampiri landasannya. Dia mengenali mobil tersebut. Mobil itu biasa dipakai Jayden atau Tiger untuk menjemputnya. Masalahnya, kali ini Alex tahu pasti itu bukan Jayden. Tiger juga sedang terluka jadi dia juga cukup yakin itu bukan Tiger.
__ADS_1
Kaca jendela belakang terbuka. Alex melihat sosok wanita tua duduk di belakang dan melambai padanya.
“Cepat! Kita tak punya waktu seharian untuk menyelamatkan Jayden!”