
Butuh beberapa saat bagi Alex hingga dia berani bergerak lagi. Alex mencoba berdiri tapi tak mampu. Akhirnya, dia memaksa dirinya untuk merangkak perlahan. Jendela yang terdekat baginya terletak tidak sampai dua meter jauhnya. Namun, Alex memerlukan beberapa menit hingga bisa mencapainya.
Dia tiba di jendela besar itu. Sambil memegangi dinding dengan tangan kirinya, Alex mencoba bangkit. Pemandangan di luar tak membuatnya terkesan.
Taman sekolah mereka mungkin memang bukan yang terbaik. Kondisinya kini lebih buruk lagi. Hampir tak ada pohon yang masih berdiri kokoh. Batang-batang besar mereka sudah terpotong, terbakar, semua dalam kondisi menyedihkan. Hangus dan bekas hitam terlihat di mana-mana. Alex berusaha mengabaikan para siswa. Beberapa dari mereka berteriak kesakitan, menangis, atau sudah tergeletak tak bergerak.
Alex menelan ludah keras-keras. Dia tidak ingin bersikap cengeng. Dia harus melakukan sesuatu karena dia bisa.
Alex berpaling. Dia menarik Willy, membopongnya keluar dari lorong lewat jendela tersebut. Dia melakukannya lagi untuk para siswa yang lain. Satu per satu. Lelah di tubuhnya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan rasa takut yang tadi menyerang. Dia mengabaikan bagaimana fisiknya protes. Dia hanya melakukannya perlahan. Satu demi satu. Satu murid demi satu murid.
Dia menjumpai seorang murid yang tertutup oleh reruntuhan dinding. Menyingkirkan reruntuhan itu adalah satu hal, melihat apa yang ada di bawahnya akan jadi hal lain. Alex terdiam sesaat. Dia menarik napas dalam-dalam. Tangannya memegang bongkahan batu, matanya terpejam, dia menyingkirkannya perlahan. Alex membuka matanya perlahan hanya untuk mentutupnya kembali.
Alex menyingkir dari sana. Perutnya mual tak tertahankan. Air mata telah membasahi seluruh wajahnya. Dia merasa sesak. Dunianya mulai berputar. Ketika Alex berpikir dia akan jatuh ke tanah, tangan yang kokoh menangkapnya. Tangan robot warna putih dengan garis hijau.
[Halo. Zetta Sonic.] Robot itu menyapanya.
“Aku melihatnya! Dia di sini!” Ada suara teriakan yang lain.
Alex tak mengenali orang-orang itu tetapi mengenali pakaian mereka beserta logo yang ada. Para agen ICPA. Di antara mereka, Alex melihat Fergus berlari padanya. Fergus menghalau para agen yang lain. Dia sendiri bersama si robot membantu Alex meninggalkan lokasi.
__ADS_1
Alex tak tahu mana yang lebih parah. Tak bisa berkutik karena ketakutan atau karena harus dipapah menuju ke mobil. Tidak ada SUV milik Special Force. Tiger menyetir mobil truk kecil warna putih seperti ambulans pada umumnya. Warnanya putih polos tanpa ornamen maupun tulisan apa pun. Di dalamnya ada perangkat medis serta dokter Vanessa. Alex dibaringkan di atas ranjang dan mobil bergegas melaju.
Interior mobil itu terlalu canggih untuk jadi mobil ambulans biasa. Peralatan canggih berjajar hampir di setiap sisi. Aneka obat dan peralatan kecil tersimpan rapi dalam panel besi yang menempel di dindingnya.
Guncangan mobil membuat Alex tak nyaman. Namun, setidaknya rasa mual itu telah lenyap. Selain dokter Vanessa, Alex juga melihat Jayden yang menatapnya tanpa bicara apa pun. Ada beberapa menit hening di antara mereka. Dokter Vanessa tahu bagaimana kondisi fisik Alex di balik seragam itu namun tidak dengan kondisi psikisnya.
Ketika seragamnya telah dimatikan, Alex bangun perlahan. Dia duduk dalam diam, menatap sang dokter. Dokter Vanessa merentangkan tangan, memberinya pelukan hangat.
“Tenang Alex, tenang. Kamu sudah aman sekarang,” kata dokter wanita itu. Tangannya membelai punggung Alex yang basah oleh keringat. Anak itu tidak bereaksi. “Kita akan segera kembali ke markas Special Force. Kamu akan aman di sana.”
Alex berpikir dia akan menangis di bahu dokter Vanessa. Ternyata dia hanya terdiam. Tangannya gemetar dan tenggorokannya sakit akibat tangis yang tak kunjung jatuh. Mungkin dia sudah terlalu lelah untuk itu.
“Apa yang terjadi?” Alex bertanya, suaranya masih sedikit bergetar. “Apa tadi itu ledakan… bom?”
Dokter Vanessa membuka mulut tapi hanya mampu memberikan jawaban singkat. “Ya, Alex.”
Sebagai gantinya, Jayden yang menjawab. “Seseorang memasang banyak bom kecil di penjuru Wood Peak. Semua meledak bersamaan.”
Alex menoleh pada rekannya itu. Jayden duduk di bangku yang dipasang pada dinding mobil. Di tangannya ada tablet PC, namun dia tidak melihatnya. Jayden hanya menunduk.
__ADS_1
Alex ikut. Dia bisa mendengar suara-suara datang dari tablet PC di tangan Jayden. Suara dari saluran berita. Tentu saja, ledakan itu merupakan berita besar bagi para wartawan. Wood Peak bukan sekadar sekolah mahal. Banyak putra putri dari orang-orang kaya dan berpengaruh, mulai dari CEO internasional hingga para pejabat. Termasuk juga anak artis seperti dirinya.
“Berbaringlah, Alex.” Dokter Vanessa menyentuh bahunya pelan.
“Aku baik-baik saja.”
Alex memang tidak terluka, tidak secara fisik. Dia selamat berkat senjata tempur. Zet-Arm mengaktifkan seragamnya tepat waktu sebelum semua bom itu meledak. Alex tak mau bertanya detail bagaimana seragam itu bisa aktif tanpa perintahnya. Daripada bersyukur kalau dirinya baik-baik saja, Alex lebih merasa khawatir. Tidak, bukan sekadar khawatir. Dia takut, dia bingung, juga sedih dan marah. Perasaan campur aduk itu membuatnya terdiam dengan tatapan kosong.
Suara saluran berita itu makin jelas ketika liputannya kembali pada reporter.
[Seperti yang Anda lihat, di sini sudah banyak ambulans yang datang, juga pemadam kebakaran dan polisi. Situasinya masih kacau balau. Hingga saat ini tim penyelamat belum selesai mengeluarkan semua orang dari dalam sekolah. Polisi mengerahkan juga tim gabungan untuk mencari kalau-kalau ada bom yang masih tersisa.]
Jayden akhirnya mematikan suara pada tablet di tangannya. Dia bisa melihat reaksi yang tak pernah dia lihat sebelumnya di wajah Alex. Anak itu bukan hanya terlihat pucat tapi juga di ambang emosi. Jayden tahu hanya tinggal waktu sampai Alex meledak. Dan, dia tidak ingin itu terjadi.
Ketika Zet-Arm mengeluarkan peringatan tadi, Jayden sempat sendiri kebingungan. Dia segera menganalisa segala kondisi di sekeliling Alex. Ada ancaman bahaya kecil hampir di setiap penjuru sekolah. Saat menyadari kalau itu adalah bom, dia telah kehilangan waktu.
Hubungan komunikasinya langsung terputus. Jayden tak pernah ketakutan seperti itu lagi sejak dia kehilangan adiknya. Emil yang ada di dekatnya waktu itu juga mematung. Mereka tak mengira ada orang yang akan benar-benar mengincar sekolah Alex. Pada dasarnya, identitasnya rahasia. Tidak banyak orang yang mengetahui siapa di balik Zetta Sonic.
Jayden masih menatap Alex. Rautnya berubah, dahinya mengernyit, dagunya menegang. Itu bukan lagi kesedihan melainkan murka. Anak itu pasti sedang memikirkan siapa pelakunya. Jayden yakin kalau Alex memikirkan nama yang sama seperti dirinya.
__ADS_1