
Hari yang dinantikan Alex dan teman-temannya datang. Mereka pagi-pagi benar sudah berada di sekolah. Kali ini bukan langsung ke kelas, melainkan ke lapangan depan. Di sana setiap siswa melapor pada guru wali kelas mereka. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Ada pula instruksi singkat yang diberikan Tiger sebelum mereka naik ke bus.
Tiger harus mengakui kalau terkejut. Para siswa itu membawa barang bawaan banyak. Seolah mereka akan pergi ke bulan, bukan pergi berkemah. Padahal panduan yang diberikan sekolah dan instruksinya dari kelas ke kelas kemarin seharusnya cukup jelas. Tampaknya, sekolah memang punya alasan bagus untuk membuat acara semacam ini. Para siswanya lebih fasih berkeliling luar negeri daripada berkemah di gunung terdekat.
Deretan bus berangkat pukul delapan tepat. Tiger satu bus dengan Alex. Anak-anak belasan tahun duduk berdua-dua di belakangnya. Mereka berisik. Sebagian besar ngobrol dengan teman mereka, hanya beberapa saja yang bisa menikmati musik lewat earphone atau tidur.
Tiger melirik ke belakang, sekali. Alex duduk di samping seorang gadis. Dia ingat nama gadis itu Leta, seorang gadis manis bersuara merdu. Gadis itu sama dengan anak lainnya. Membawa banyak barang lebih dari yang dibutuhkan. Alex ngobrol akrab dengannya. Matanya tak sekalipun lepas dari gadis itu. Dia nyaris tersenyum sepanjang waktu. Tiger mengenali reaksi seperti itu, sesuatu yang membuatnya hampir lupa bagaimana rasanya.
Untuk sejenak, Tiger merasa kasihan pada Alex. Anak itu jelas tidak tahu sejauh apa ICPA bisa mengubah hidupnya. Kemudian, dia teringat pada ayah Alex. Mark Hill seharusnya tahu kalau ICPA mengubah hidup keluarga mereka. Rasanya aneh mengingat pria itu meninggalkan keluarganya sekarang. Kecuali, kalau dia mengawasi Alex dari jauh dengan cara yang tidak mereka duga.
[Apakah kamu sedang bermimpi duduk dengan seorang gadis seperti Alex, Tiger?] Suara Jayden mengganggu di tengah pemikirannya.
Karena seisi bus maish berisik, Tiger mengenakan headset tapi tak menyalakan lagu apa pun. Jayden menghubunginya dari sana. Itu memang cara mereka agar bisa terus berkomunikasi dengan cara yang sedikit ‘anak muda’. Menurut Tiger, itu aneh.
“Kamu menghubungiku hanya untuk ini?” Tiger membalas dengan suara rendah.
Dia duduk seorang diri. Tak ada orang di sampingnya. Di seberang kursinya pun, hanya ada seorang guru lain terlelap sejak bus berangkat. Para siswa sibuk dengan teman-teman mereka. Tak seorang pun mengawasi Tiger. Meski begitu, tak ada salahnya untuk tetap waspada. Tiger tidak mau kelihatan bicara sendiri. Dia pun sedikit melorot agar mulutnya tertutup kursi kosong lain di depannya.
[Ya dan tidak. Kamu tahu kalau Alex membawa seragamnya, ‘kan?]
Tiger mengangguk, sadar kalau Jayden bisa melihatnya. Jayden sudah meretas kamera keamanan yang ada di bus.
[Aku menemukan kecocokan di antara orang-orang yang hilang.]
“Mereka semua gadis muda cantik?”
__ADS_1
[Beberapa bahkan bintang muda, aktris pendatang baru, atau model pemula. Ada beberapa yang sudah ditemukan tewas. Beritanya selalu sama. Polisi tidak menyatakan semua penemuan mereka, bahkan terkesan menutup-nutupi berita ini. Hasilnya bunuh diri.]
“Polisi terlibat?”
[Juga para petinggi. Aku menemukan dua kasus. Satu gadis terakhir kali bertemu dengan seorang politikus ternama. Satu lagi terekam kamera pengawas bertemu dengan pengusaha terkenal sehari sebelum kematiannya.]
“Kamera pengawas? Tidak seorang pun melaporkan kejadiannya?”
[Kamera pengawas ini berasal dari hotel milik si pengusaha. Tentu saja beritanya tidak pernah keluar. Saat gadis itu di sana, dia bersama dua penjaga berbadan besar. Dia sendiri mengenakan pakaian serba tertutup. Aku mengenali wajahnya saat si pengusaha menarik tudung jaketnya dan menciumnya paksa. Di depan kamar presidential suite, di lantai paling atas. Bisa menebak apa yang terjadi.
“Seseorang menjual mereka.”
[Aku sudah mengunggah detail terbaru kasus ini ke ponselmu dan ke Zet-Arm.]
“Anak itu di bawah umur.”
“Nadira pernah bilang. Kadang untuk menyelamatkan dunia, kamu harus melanggar peraturan yang lain. Sekalipun kalau sampai dia ditilang sungguhan, itu akan sangat konyol dan memalukan.”
[Aku tidak suka pemikiran Nadira.]
Jayden serius dengan ucapannya. Dia lebih memilih menjemput Alex di rumahnya setiap hari dan mengantarkannya ke lokasi kasus, dicap jadi sopir pribadi, disebut memanjakan anak itu atau lainnya. Dia tidak mau Alex menyelamatkan dunia dengan membobol berbagai peraturan negara. Bukan begitu caranya.
Tiger tak berminat berkomentar mengenai hal tersebut.
Jayden pun melanjutkan. [Nadira bilang kita sebenarnya tidak bisa melakukan apa pun soal kasus ini. Kasus ini bukan milik ICPA.]
__ADS_1
“Aku setuju. Kita tidak boleh melangkahi polisi.”
[Tapi, Gavin mengambil kasus ini secara pribadi di luar kewenangan ICPA.]
“Aku tidak suka ke mana arah pembicaraan kita.”
[Nadira bilang kita bisa membantu Gavin secara diam-diam. Bagaimana pun juga, kita sedang menangani kasus robot pembunuh. Dari sana, kita mendapati kalau Filip ternyata dalang perdagangan manusia. Kalau semua berjalan lancar, kita akan menyelesaikan dua kasus bersamaan, menyelamatkan wanita-wanita malang, dan membuat Gavin berhutang budi.]
“Kalau semua berjalan lancar.” Tiger menekan setiap katanya.
[Ngomong-ngomong, Alex sedang jalan ke tempatmu. Sampaikan salamku padanya.]
Sambungan terputus. Tiger melirik ke spion tengah bus, mendapati seorang anak mengenakan jumper biru mendatanginya. Sambil melepas headset dari kepalanya, Tiger pun bertanya. “Butuh sesuatu, anak muda?”
“Beberapa rekan menanyakan apa mereka bisa tukar kelompok.” Alex menyampaikan pertanyaan teman-teman yang sudah dia tahu jawabannya. Kelompok sudah ditentukan oleh sekolah. Ketua kelompok saja tak boleh memilih anggotanya apalagi anggota kelompok memilih teman-temannya sendiri.
“Itu sedikit pelik. Bisakah kamu jelaskan apa saja masalah mereka?” Tiger bergeser, memberikan Alex tempat untuk duduk di sampingnya.
Begitu duduk, Alex langsung mengganti topik. “Aku melihat rentetan data baru di Zet-Arm. Penculikan? Human Trafficking? Kupikir kita menangani kasus robot pembunuh. Lalu, sekarang ada kemungkinan munculnya si robot pembunuh di balai kota akhir pekan ini? Berapa banyak kasus yang harus kita tangani dalam satu waktu?” Semua protes dilontarkannya dengan setengah suara agar tak terdengar orang lain.
“Kamu akan terjekut, Alex. Lihat sisi baiknya, setidaknya agen lapangan hanya bisa berada di satu tempat dalam satu waktu. Tapi, Jayden dan Emil tidak. Mereka bisa berada di mana pun, kapan pun. Satu kasus dalam satu waktu benar-benar kemewahan buat mereka.”
“Siapa Emil?”
“Jayden versi pendiam. Orang aneh lainnya. Kamu akan segera bertemu dengannya.”
__ADS_1
Alex mengernyit. Kemudian, dia menggelengkan kepala, kembali pada topik awal. “Kalau sampai aku harus meninggalkan lokasi perkemahan gara-gara robot pembunuh di balai kota, aku akan membencimu.”
Tiger tahu ancaman Alex hanya luapan kekesalan semata. Itu membuatnya geli, Dia menyunggingkan senyum, teringat akan usia Alex sesungguhnya. “Jangan cemas, bocah. Aku sudah membencimu lebih dulu.”