Zetta Sonic

Zetta Sonic
The Shot


__ADS_3

Alex berlari secepat yang dia bisa. Jayden melongo. Meski begitu, tidak ada teriakan terdengar. Dia masih berusaha menyembunyikan diri sambil mengintip, memeriksa apa yang dilakukan keempat orang tersebut. Mereka mulai menembak. Jayden harus jujur kalau dia sendiri ngeri melihatnya. Saat itulah, kekuatan Alex membantu.


Ketika pandangan di depan Alex berkilat hijau, dia tahu telah berhasil menggunakan kekuatan Dragon Blood. Segera saja, semua terasa lambat. Kakinya berlari cepat di atas tanah. Dia melewati jalanan tanpa terasa. Matanya bisa mencari rute paling sepi dengan mudah. Alex menoleh ke belakang. Dia bisa melihat deretan peluru meluncur padanya. Tidak seorang pun berlari padanya. Itu sama sekali tidak baik.


Jayden menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan tembakan. Salah satunya mengenai kaki seorang. Melihat rekannya tertembak, mereka kembali fokus pada Jayden.


Alex sadar kalau dirinya tak lagi jadi incaran. Merasa konyol, Alex berlari kembali.


Dari kejauhan, dia bisa mendengar suara dengung sirene. Mungkin polisi, mungkin ambulans, mungkin juga bagian dari ICPA. Emil telah lenyap. Alex mengasumsikannya sebagai hal baik. Bala bantuan telah datang.


Alex berbalik pada lawannya. Dia mungkin tidak punya seragam tempur, namun dia bisa melawan mereka dengan apa yang ada. Peralatan makan bisa cukup mematikan kalau tahu cara menggunakannya. Alex menyusup ke salah satu kedai. Dia mengambil pisau dan barang tajam lainnya. Ketika melakukannya, Alex mendapati dirinya kembali ditembaki. Dia pun menunduk, bersembunyi di balik konter yang ada.


Dia kehilangan pemandangan pada lawan namun bukan berarti dia tidak bisa melawan mereka. Ada banyak hal yang bisa dipelajari Alex ketika berlatih di ruang training. Dia lebih suka menyebutnya sebagai ruang penyiksaan karena invoasi Jayden lebih ke arah kejam daripada positif.


Alex menarik sebuah pinggan besar dari stainless. Dia pun melemparnya ke udara. Selama benda tersebut melayang, dia bisa melihat penembaknya meski tidak sempurna. Dibantu kekuatan Dragon Blood, Alex bisa bergerak cepat serta membidik. Hanya perlu sedikit waktu untuk mengintip dari tepi samping konter. Sambil memicingkan mata, dilemparnya semua pisau yang sanggup dia genggam.


Baiklah, mungkin training dari Jayden cukup efektif.


Lemparan pisau Alex meluncur cepat di udara. Kecepatannya jelas di bawah peluru. Tapi, setidaknya lebih dari cukup untuk mengenai lawan. Serangan tersebut mengenai paha lawan, membuatnya terpaksa berlutut. Tidak akan ada manusia normal sanggup melakukan lemparan seperti Alex. Tidak, tanpa Dragon Blood.


Alex mendapati kalau sudah menjatuhkan seorang penembaknya. Masih ada dua lagi. Keduanya mengincar Jayden. Alex mendengus. Tentu saja mereka lebih menganggap Jayden berbahaya. Jayden membawa senjata, dia tidak. Maksudnya, belum. Dia menyambar sederet pisau makan lengkap dengan wadahnya lalu menghambur keluar.


Alex menengadah ke udara ketika melihat tembakan datang dari udara. Tembakan ini bukan mengarah pada dirinya melainkan pada kedua orang lain. Walaupun tak melihat penembak di udara, Alex tahu kalau itu ulah Jason. Si drone menembaki lawan dengan peluru-peluru mungil. Setiap tembakan yang mengenai rompi anti peluru membuat dorongan bukan luka mematikan.

__ADS_1


Di lapangan terbuka, Alex lebih leluasa bergerak. Dia melemparkan beberapa pisau sekaligus pada lawannya lalu bergegas sembunyi di balik pot. Jangan sampai dirinya sendiri terkena serangan.


Alex kembali menengadah ketika melihat percik di langit. Matanya terbelalak. Dia melihat drone menampakkan wujudnya. Bukan hanya itu, ada percikan api di sekelilingnya. Mata tunggal si drone berkelip cepat. Tak perlu waktu lama sampai si drone terhuyung lalu jatuh ke atas lantai batu.


Panik, Alex mengintip dari balik pot. Seorang penembak sudah tergeletak di tanah dalam genangan darah. Seorang lagi sedang bergulat dengan Jayden, entah bagaimana itu bisa terjadi. Si penembak tak mau melepaskan senapannya dan malah menekan pelatuk. Tembakan membabi buta pun terjadi. Pelurunya mengenai stan juga langit-langit.


“Jangan diam saja!” seru Jayden.


Alex terkesiap. Dia sadar kalau Jayden bicara padanya. Setelah menelan ludah, dia pun berlari memenuhi panggilan Jayden. Dari belakang, Alex bersiap memberikan serangan. Melihat itu, Jayden menghentakan lawan, melepaskan diri. Saat lawannya mengira kalau berhasil lepas, Alex memberinya tendangan berputar dari belakang, membuatnya terkapar di tanah dalam sekali serang.


Setidaknya ada beberapa detik keheningan di antara keduanya. Alex merasakan jantungnya berdegup kencang. Jauh lebih kencang daripada semua pertempuran yang pernah dia lakukan di balik seragam tempur. Jayden sendiri melihat reaksi berbeda. Reaksi yang juga tak pernah dia lihat di layar ketika memandu Alex.


“Apa yang kamu lakukan?” Jayden berseru.


“Kamu bisa melakukan lebih baik dari itu!”


“Karena aku punya… kekuatan?” Alex menghindari kata Dragon Blood atau Zetta Sonic. “Aku enggak membawa seragamku.”


“Jadi, kamu mau bilang kekuatanmu ada di seragam?”


“Tidak. Tapi, ini masalah rahasia.”


Jayden menggeleng, mengucapkan apa yang terlintas di benak Alex. “Kamu takut.”

__ADS_1


“Apa? Aku--”


“Kamu sudah dilatih untuk ini. Dan, kamu gagal.”


“Tidak. Aku dilatih untuk--” Alex berhenti. Dia tak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab Jayden. Dirinya terdiam. Bahunya melorot. Dia kesal bukan karena tidak bisa membalas Jayden namun karena melihat sorot mata si pemuda. Sorot mata sedih bercampur kecewa.


Jayden melemparkan tangannya ke udara. “Kamu belum siap!”


Alex terhenyak. Jauh di dalam lubuk hatinya, dia tahu ucapan Jayden benar. Itu membuatnya menunduk dan terdiam. Ketika Alex mendapatkan keberanian untuk bicara lagi, dia mendapati mata Jayden terbelalak sesaat sebelum tertutup rapat. Sambil meringis, Jayden tumbang ke tanah.


Di belakang Jayden, Alex melihat penyebabnya. Salah seorang penembak itu masih menodongkan handgun. Sama seperti ketika Alex menyerang rekannya dari belakang, dia juga menyerang Jayden dari belakang.


“Jayden!” Hanya itu yang bisa dikeluarkan Alex. Dia tidak tahu mana yang harus dilakukannya. Menolong Jayden lebih dulu atau menyerang si penembak. Dia tidak pernah berada dalam situasi seperti itu sebelumnya.


Penolong datang di saat yang tepat. Alex melihat bagaimana beberapa petugas berseragam menghambur masuk dan menembak orang itu. Di belakang mereka, Alex melihat petugas medis lengkap dengan peralatan kesehatan dan tandu. Alex pun menghampiri rekannya.


“Jayden!” Alex bahkan tak tahu apa yang harus dia katakan pada Jayden yang sedang meringkuk kesakitan. “A-- A-- Apa yang harus kulakukan?” Alex malah bertanya. Suaranya bergetar. Tenggorokannya sakit karena menahan air mata.


“Bersiap,” jawab Jayden singkat.


Alex jelas tak paham apa artinya. Jayden menyerahkan flipad pada Alex. Mereka tak sempat bicara lagi. Para petugas medis mengerubungi Jayden, menaikkannya ke tandu, dan membawanya segera pergi dari sana. Dalam sekejap, keheningan melanda. Pandangan Alex menyapu sekeliling, melihat banyaknya korban termasuk Jason yang jatuh. Para petugas sudah lenyap entah ke mana. Dia sendirian, duduk di antara kekacauan.


Saat itu, Alex tahu ada yang salah. Sangat salah.

__ADS_1


__ADS_2