
Alex tak percaya dengan kabar itu. Begitu pula dokter Vanessa. Dokter itu baru saja melepas perban di tangan Alex namun bukan berarti kalau anak itu sudah siap diterjunkan di lapangan. Semua bermula ketika ICPA mendapat video mengejutkan.
Seperti biasa, video itu berasal dai kamera pengawas. Di sana, terlihat seekor anak anjing yang berada di ujung gang sempit. Di depannya, seorang pria bertangan besi menyiramkan satu jerigen air padanya. Anak anjing itu tak punya banyak kesempatan untuk lari. Dia hanya bisa menggelepar dan akhirnya bergeming dengan banyak luka melepuh pada sekujur tubuhnya.
Rando telah bergerak. Kali ini dia menjalankan tugasnya menguji cairan yang dia amankan dalam koper. Itu dugaan terkuat saat ini. Tinggal tunggu waktu sampai mereka sungguhan mengirimkan permintaan tebusan agar tidak mencampurkannya ke dalam air bendungan.
Kemunculan video tersebut membuat gerah Fergus. Dia cemas dan waspada di saat bersamaan. Entah atas seizin Nadira atau tidak, dia bicara dengan Emil. Para anggota Special Force pun dikumpulkan dalam satu ruangan. Emil menduga kalau mereka akan diminta bergerak begitu ICPA mendapat kepastian permintaan tebusan. Lebih tepatnya, menurunkan Alex ke lapangan. Masalah utamanya hanya satu.
Zetta Sonic sendiri belum siap, baik secara psikis maupun fisik, ditambah keterbatasan perlengkapan.
“Zetta Sonic dikirim untuk menangkap Rando? Kita baru berurusan dengan Damon, lalu muncul nama Baron dan Roban. Sekarang Rando muncul lagi?” Tiger mendesah panjang. “Kenapa mereka semua bahkan punya nama yang mirip? Seolah mereka semua berhubungan atau memang orang yang sama.”
“Dugaan kedua salah. Itu jelas. Rando adalah pembunuh bayaran. Sampai sekarang, kita tidak diketahui identitas jelasnya. Damon bisa digolongkan pahlawan. Dia membuat kita memiliki Zetta Sonic. Baron adalah tunangan Caitlin. Pengusaha muda dan kaya. Roban… Kita belum tahu lengkap.” Emil membalas dan langsung mendapat tatapan melotot Tiger. “Aku hanya membantu. Berbagi informasi.”
Emil kembali pada pekerjaannya, memperbaiki seragam tempur Zetta Sonic. Setidaknya, dia dibantu mesin canggih dan peralatan lengkap. Seragam tempur tersebut berada dalam kotak hitam besar setinggi tiga meter. Pintu kaca menunjukkan tiga pasang tangan mesin ramping yang tengah bekerja.
Dokter Vanessa memijit pelipisnya, tak berniat menjawab juga. Mereka berempat berada di ruang bawah tanah penuh perlengkapan. Jason berada di satu sudut ruangan bersama robot lebah. Alex duduk diam di sampingnya. Matanya terpaku pada tablet PC.
Ketika Fergus datang, semua menatapnya. Kecuali Alex. Alex tak membiarkan matanya beralih bahkan ketika dia bicara.
“Apa maumu?” Pertanyaan itu terdengar datar dan dingin. “Kamu sudah tahu penyelamatan Jayden jadi prioritas. Lalu, Rando muncul. Sekarang aku dapat kesan kalau kamu ingin kami menangani masalah ini.”
Fergus melipat tangannya di depan dada dan tersenyum puas mendengar ucapan Alex. “Seingatku, kamu menawarkan diri jadi asisten Emil.”
__ADS_1
“Memang,” balas Alex singkat. “Lalu?”
“Ayo, kita saling membantu.” Ucapan Fergus membuat perhatian Alex teralih padanya. “Secara teori, aku tidak bisa memerintah kalian. Aku bisa memerintah semua anggota ICPA yang ada di negara ini, kecuali kalian. Kalian adalah tim khusus di bawah perintah Nadira. Tapi, kalian—”
“Bisa bergerak sendiri,” sahut Alex. “Kamu ingin aku menangkap Rando supaya kamu bisa menolong Jayden?”
Fergus menggeleng. “Aku ingin kamu mengalahkan Rando untuk kita semua sebelum dia mengacaukan semua pekerjaan kita.”
Para anggota Special Force saling bertukar pandang.
Fergus melanjutkan. “Ada alasan kenapa aku ingin kalian berada di ruang bawah tanah ini. Ini salah satu ruangan paling aman yang ada di markas ini. Tahan api, ledakan, gempa, sebutkan saja. Aku ingin kalian aman.”
Tiger mengepalkan tangannya. “Jangan bilang kalau—”
Fergus mengangguk. Emil berhenti mengerjakan apa pun yang tengah dia kerjakan. Dokter Vanessa menatap Fergus dan Alex bergantian dan membuka mulut hendak bertanya.
Namun, Tiger yang menanyakan pertanyaan itu lebih dulu. “Kenapa kalian bisa begitu tenang? Fergus, lihat rekaman pertarungan Sonic. Jangan tersinggung, tapi dia tidak bisa mengalahkan Rando saat ini. Maksudku, belum. Lagipula, Alex, kenapa kamu enggak terlihat takut sama sekali?”
“Aku yang mendapatkan video itu,” jawab Alex. “Aku menemukan Rando berkeliaran dekat markas kita dan melakukan uji coba pada anak anjing malang itu. Seseorang harus menghajarnya. Aku ingin. Aku bersedia, tapi…” Alex berhenti sejenak. Dia menoleh pada Fergus. “Kamu ingin mengamankan Special Force di sini tapi ingin aku ke luar? Apa yang kamu sembunyikan?”
Fergus tersenyum lebar. “Kamu memang benar-benar cerdas. Sulit membuat kejutan untukmu.”
“Apa pun yang kamu siapkan saat ini pasti membuatku terkejut.” Alex harus mengakui tidka punya tebakan sama sekali soal gelagat Fergus.
__ADS_1
“Kami melakukan sedikit pemeriksaan terhadap data milik agen Jayden—”
“Kamu mencuri data Jayden?” sahut Alex.
Tiger mendengus geli. “Bahkan untuk tim khusus seperti kita, kamu masih curiga, eh? Kenapa aku enggak terkejut? Saling mengintip atau saling mengawasi? Mana istilah yang lebih tepat, Fergus?”
“Secara teknis, itu data milik ICPA — tentu saja, maksudku milik Special Force.” Fergus mengedikkan bahu dan berkata lembut. “Kami hanya melakukan sedikit pemeriksaan kecil. Sekadar memastikan tidak ada virus atau hal buruk lainnya. Kupikir kamu seharusnya berterima kasih untuk itu.”
“Data apa yang kamu periksa?” Alex mengernyit.
Fergus tak menjawab. Dia mengambil sesuatu dari saku dan melemparkannya. Dengan tangan yang telah pulih, Alex menangkap benda tersebut. Benda itu terasa kokoh dan dingin di tangannya. Tangan Alex mengenalinya. Matanya terlebih lagi. Dia melihat emblem hitam dengan bintang.
“Apa ini seperti yang kupikirkan?” Alex tak bisa menahan bagaimana senyum terkembang di wajahnya.
“Divisi Weapon and Armory membuatnya sama persis seperti data yang tercantum. Tanggalnya cukup lama. Artinya, tidak ada perkembangan terbaru ditanam di dalamnya. Namun, seharusnya cukup ampuh menahan serangan robot pembunuh.” Fergus melempar pandangannya pada Emil. “Melihat kalau Emil sedikit sibuk, kupikir dia bisa dapat sedikit bantuan.”
“Sedikit?” sahut Emil. “Kuharap aku punya banyak tangan sekarang.”
“Lagipula,” lanjut Fergus, “Aku enggak bisa membiarkan seorang remaja berkeliaran di dalam markas ICPA kecuali dia memakai seragam tempur Zetta Sonic.”
Berbeda dengan yang lain, Tiger malah mendengus. “Hei, bukannya mau pesimis. Tidak ada jaminan kalau Alex bisa menang melawan Rando.”
“Tidak. Memang tidak. Tidak tanpa bantuan.”
__ADS_1
Jawaban Fergus tak membuat Alex tersenyum kali ini. Firasatnya mengatakan kalau hal buruk telah menanti. Dia tahu kalau kecurigaannya benar. Tak lama setelah Fergus selesai bicara, pintu kembali terbuka dan seorang gadis melenggang masuk dalam balutan setelan hitam ketat. Kalau Alex bisa memilih bala bantuan, nama gadis itu tidak akan ada di dalam daftar bahkan bila dia tinggal satu-satunya agen tersisa.