
[Alex.] Suara Fergus menggema di gelang Zet-Arm. Suara itu juga terdengar dari pengeras suara di dalam pesawat tempur. [Damon melarikan diri dari pesawat yang seharusnya membawa dia kembali ke penjara. Dia merusak pesawatnya dan membunuh agen ICPA yang bertugas di sana.]
“Jadi, itu Damon yang sama? Dia sungguhan berubah jadi monster,” balas Alex.
[Ini bukan pertama kalinya ICPA berhadapan dengan kasus seperti ini.]
Alex tahu. Dia pernah melihat kasus serupa dalam kumpulan laporan dan video misi. “Apa ini pertama kalinya profesor ICPA jadi dalang di baliknya?”
[Well… Kamu akan terkejut dengan jawabannya.]
Alex menyesal bertanya demikian. Dia pun segera berdiri dan kembali menyalakan roketnya. Seiring dengan menyalanya tenaga roket, helm Alex kembali tertutup. [Mereka harus segera membawa Jayden pergi dari sini. Aku akan membereskan Damon. Kali ini, untuk selamanya. Dia enggak lebih dari copycat Zetta Sonic.”
[Setuju. Akan kukirim bala bantuan segera. Kali ini, drone.] Fergus tak ingin membahayakan nyawa para agen ICPA. Damon tidak ragu membunuh siapa pun yang menghalangi niatnya bertarung dengan Alex.
Alex berseru pada sang pilot, “Kara, buka pintu ini! Lalu, terbang secepat yang kamu bisa. Jangan berpaling apa pun yang terjadi.” Kemudian Alex bicara pada Caitlin. “Jaga Jayden!”
Pintu telah terbuka dan Alex telah siap memelesat ke angkasa ketika Caitlin malah mencegahnya. “Tunggu, Alex! Saat ini Damon tidak punya lagi akal budi seperti manusia. Dia benar-benar jadi monster saat ini. Kamu…”
Alex menunggu sebentar, namun karena Caitlin tak kunjung bicara, Alex ganti bertanya, “Aku apa?”
Caitlin sebenarnya sendiri telah membuka mulut, tetapi apa pun yang ada di mulutnya saat itu lenyap. Dia mengatupkan bibir dan segera membukanya kembali untuk bicara. “Kamu… jangan mati!”
Ucapan Caitlin membuat Alex tersenyum simpul. Sejauh ingatannya, Caitlin membencinya. Bagaimana pun juga, Alex telah merebut kesempatan Caitlin menjadi Zetta Sonic. Dia membuat gadis itu kesal sampai mengundurkan diri. Ketika Jayden diculik, Caitlin juga jadi tertuduh. Lucunya, sekarang Alex malah menitipkan Jayden padanya. Lebih lucu lagi, Caitlin seolah khawatir padanya.
__ADS_1
Alex tak bicara lagi. Dia memelesat ke langit melalui pintu panel yang ada di atas kepalanya. Sesuai janjinya pada diri sendiri, Alex terbang pada sosok tersebut.
Tak ada yang akan menyalahkan Kara karena berteriak histeris. Sosok Damon lebih mirip monster. Bajunya robek oleh karena otot-ototnya yang menyembul. Tangannya yang terpotong telah berubah jadi sayap besar, mirip sayap kelelawar. Urat-urat tak wajah bertambah banyak di sekitar wajahnya. Warna tubuhnya menggelap hingga jadi kelabu tua seperti mayat hidup bersayap. Bentuknya bahkan membuat Alex tertegun sesaat.
Tiger membuyarkan keterkejutannya. [Alex, energi Dragon Blood di dalam dirimu tidak terdeteksi. Kami tidak tahu berapa banyak kekuatan yang bisa kamu gunakan. Dok, apa ini pertanda buruk?]
Dokter Vanessa akhirnya ikut bicara. [Aku tidak yakin. Tapi, selama Alex masih sadar, seharusnya tidak seburuk itu.]
Saat itu, Alex baru sadar kalau Zet-Arm memang tidak lagi menunjukkan berapa banyak energi tersebut. Ada tulisan ‘ERROR’ menindih tempat indikator itu seharusnya berada. “Mungkin gelangnya rusak. Aku baik-baik saja,” ujar Alex, separuh menenangkan dirinya sendiri.
[Awas!] Fergus berseru di saat yang tepat.
Damon terbang cepat padanya. Alex menggunakan perisainya kali ini. Kedua tangan Damon bergiliran berusaha mencabik perisai itu. Kini ada kuku tajam pada setiap jarinya. Serangan itu membuat perisai Alex melemah tapi tidak sampai rusak. Alex terbang menjauh sebelum Damon sungguhan merusaknya. Lawan mengikutinya.
Tiger yang menjawab. [Kalau tanya padaku, saranku jangan lari. Hadapi dia dan habisi.]
Fergus segera menimpali. [Itu bukan saran. Itu apa yang harus kamu lakukan, Alex.]
Alex menoleh ke belakang. Memotong lengan seseorang yang dia tahu berpotensi jadi monster, berbeda dengan mengambil nyawa seseorang sekalipun telah menjadi monster. Untuk sesaat, dia tahu telah ragu. Keraguan itu membuatnya dalam bahaya.
Damon memelesat. Dia berusaha menangkap lawan. Cakar tajamnya mencabik paha kanan Alex, membuat anak itu oleng. Serangan tersebut berhasil menembus seragam Zetta Sonic. Tiga goresan pendek dalam melukai kulit Alex. Alih-alih sakit, Alex justru merasa takut. Kalau terus ragu, dia tahu kalau bisa terbunuh.
“Kekuatan itu telah memakannya,” kata Alex lirih, teringat ucapannya sendiri.
__ADS_1
[Fokus, bocah!] Tiger mengingatkan.
Alex bermanuver di udara, menghindari serangan yang terus datang. Damon terbang begitu gesit. Sosoknya seperti burung predator mengejar mangsa. Tak sekalipun terdengar suara atau kata hanya geraman. Matanya memicing penuh kebengisan. Alex menukik tajam, berharap bisa mendapat kesempatan menyerang balik.
Lawan pun mengikuti untuk sesaat. Namun, ketika Alex terbang semakin rendah, Damon berhenti di udara sembari mengepakkan sepasang sayap lebarnya. Dia menggelengkan kepala, mengusir rasa tak nyaman yang datang di kepalanya. Damon mengedarkan pandangan. Matanya mendapatkan pesawat tempur yang tadinya dekat. Daripada mengejar Alex, Damon mengubah haluan padanya.
“Sial!” Alex menyadari kesalahannya. Damon lebih tertarik pada pesawat Kara sekarang, bukan pada dirinya.
Kali ini gantian Alex mengejar Damon. Kecepatan lawannya tak bisa diremehkan. Roket itu hampir kesulitan mengejarnya. Damon mendekati pesawat dengan mudah. Alex harus menghentikannya. Dia tak bisa menembak karena berisiko kena pesawat ICPA tersebut. Dia harus melakukannya dengan cara yang sama.
Alex menghunuskan pedang begitu berada di dekat Damon. Bukannya menghindar atau menyerang balik, Damon membiarkan ada bagian tubuhnya yang terpotong. Pedang Alex memotong kaki sebelah kanannya. Alex hanya bisa mengerjap tak percaya.
Kaki yang terpotong berubah jadi gumpalan warna kelabu yang jatuh berceceran. Tak perlu waktu lama, muncul gumpalan-gumpalan baru. Mereka bercokol pada tepi kaki yang terpotong. Dalam sekejap, mereka bergerombol jadi satu, membentuk kaki yang baru. Alex tahu itu tidak terjadi pada monster pra sejarah buatan profesor. Damon ternyata spesies yang lain.
“Tunggu! Dia bisa beregenerasi!?” Alex berteriak tak percaya.
[Jangan biarkan dia lari! Serang dia terus!] sahut Tiger.
Damon telah keluar dari jangkauan serang Alex lagi. Monster itu mulai mendekati pesawat Kara. Pertolongan datang dari arah berlawanan. Sepasang pesawat mungil memelesat di udara. Keduanya melewati pesawat Kara. Drone telah datang. Ada moncong mungil keluar dari bagian bawah. Ujung mereka memerah dan dalam sekejap melontarkan sinar-sinar hijau laser pada Damon.
Damon berbalik secepatnya. Dia menghindari setiap sinar yang datang padanya. Alex tak membuang kesempatannya. Dengan pedang terayun, Alex menyabet salah satu sayap lawannya. Damon pun terjatuh. Belum sampai menyentuh tanah bersalju, sayapnya mulai tumbuh. Meski terseok-seok, Damon menghampiri satu drone, menghancurkannya jadi serpihan.
Alex bisa merasakan napasnya tertahan. Bagaimana dia bisa menghancurkan sesuatu yang terus menerus bisa menyembuhkan dirinya?
__ADS_1