
Alex tidak memejamkan mata. Tidak perlu. Dia sudah siap tewas sejak awal. Ketika menyadari kalau bukan pistol Naray yang meletus, justru Alex terbelalak.
Naray di hadapannya berhenti sesaat. Lalu, badannya bergerak, dia menoleh ke belakang. Alex bisa melihat sosok lain di belakang Naray. Bukan seseorang melainkan sesuatu. Sebuah robot setinggi dua meter berwarna kelabu memelesat cepat di udara. Naray hanya bisa mendengus kesal. Si robot menubruknya hingga jatuh. Tidak berhenti sampai di sana, si robot berbentuk manusia itu membelenggunya dengan borgol.
Robot pembunuh? Di sini? Bukan. Itu robot ICPA.
“Lepaskan aku!” Naray memberontak. “Kamu tidak tahu siapa kau?”
“Seorang pengkhianat suku!” Suara lain terdengar. Pemiliknya datang di atas semacam papan selancar yang melayang di udara.
Papan itu ramping dan dibuat dari bahan metal yang mengilap. Cukup tebal karena memiliki pendorong di bagian bawah dan belakang. Ada bagian-bagian tepinya yang menonjol dan diwarna putih. Bentuknya lumayan membosankan dan kecepatannya tidak mengesankan namun itu sama sekali tidak menghalangi fungsinya.
Alex mengenali sosok yang bicara tadi. Pemuda yang dia kenal sangat baik dengan rambut ikal yang lebih sering acak-acakan dan senyuman angkuh di wajah. Orang terakhir yang tak akan dia sangka berada di sana. “Jayden?”
“Sudah kubilang ‘kan, tembakanku berikutnya tidak akan meleset.” Jayden melompat turun begitu dia sudah cukup dekat dengan sisi lembah. Dia melewati Naray yang mengumpat padanya dan langsung berlari pada Alex.
Jayden tidak sendirian. Di belakangnya, ada beberapa papan melayang lagi. Ada pula Gavin di sana dan beberapa anggota suku mengenakan pakaian hitam. Seperti biasa, Bounura berada di paling belakang susunan pasukan tersebut.
“Hei!” Jayden menghampiri. “Lama tak berjumpa?” Jayden tertawa pada leluconnya sendiri.
Alex memaksakan senyum tipis sebelum ambruk.
“Alex! Alex!”
Alex mengerjap. Dia tak sadar kalau telah dibaringkan telentang sepenuhnya di atas tanah. Dirinya pasti kehilangan kesadaran meski hanya sepersekian detik. Orang yang terdekat dengannya selain Jayden adalah Mark. Ayahnya meneriakkan namanya berulang kali.
“Alex! Bertahanlah, nak!”
“Ayah? Ayah baik-baik saja?” tanya Alex, lirih.
“Rompi anti peluru. Selalu pakai itu di mana pun kamu berada,” jawab ayahnya. “Jangan khawatirkan aku.”
__ADS_1
Dominic yang berada di sampingnya langsung menambahkan, “Dan, selalu letakkan botol minumanmu di bagian ransel paling atas. Itu bisa menyelamatkan nyawa orang. Aku sudah melakukannya. Dua kali. Orang yang sama.” Dominic sibuk membereskan tas kotak berisi obat.
“Alex makin lemah, Dom,” imbuh Mark.
“Secara teknis, putramu sedang sekarat,” kata Dominic. Melihat Mark melotot padanya, Dominic menambahkan, “Maksudku, dia perlu obatnya sekarang. Kondisinya bisa jadi lebih buruk dalam hitungan menit. Dan, karena dia sudah sadar, kita bisa segera membawanya ke mata air.”
Bounura mendekat ketika mendengar pembicaraan mereka. “Alex tidak menyelesaikan tugasnya. Dia gagal mencapai desa sebelum fajar.”
“Apa maksudmu? Kamu bercanda!?” Gavin spontan protes. Dia tahu ujian yang diberikan Tesiana juga masalah yang baru saja terjadi. “Dia dihentikan oleh pengkhianat sukumu sendiri!”
“Maaf. Tapi, ini keputusan kepala suku. Alex dinyatakan telah gagal memenuhi tugas yang diberikan.”
“Tapi—“
Gavin berhenti ketika dia melihat lebih banyak pasukan datang bersama Tesiana. Mereka datang menggunakan papan melayang yang sama. Pasukan itu membantu pasukan yang sudah lebih dulu datang bersama Jayden. Mereka membelenggu Naray dengan borgol besi pada kaki dan tangannya.
Tesiana sendiri berjalan pada penasihatnya. Dia mengenakan celana panjang dan atasan kemeja lengan pendek sederhana. Rambutnya dikepang tanpa adanya aksesoris atau bulu-bulu. Wanita ini menepuk penasihatnya lalu melangkah pada Mark yang sudah berdiri.
“Itu benar. Alex gagal mencapai desa sebelum fajar,” kata Tesiana sembari berjalan mendekat. Dia mengedarkan pandangannya. Langit sudah terang benderang, mentari bersinar cerah. Satu-satunya hal yang ditinggalkan ketika fajar datang adalah embun dingin. “Kamu lihat, hari sudah pagi.”
Tesiana berhenti di depan Mark namun menoleh pada Alex yang ada di belakangnya. “Kamu terlihat berantakan. Tapi, setidaknya kamu masih dirimu sendiri. Aku bisa lihat kenapa para Seinu melindungimu.”
“Seinu?” ulang Alex lirih.
“Para hewan suci pelindung hutan. Angin membawa berita dan suara mereka sampai padaku. Mereka berusaha keras melindungimu. Sekarang aku paham kenapa.”
Hati Alex terasa lebih sakit mendengarnya. “Aku… membunuh… mereka.” Alex tak sanggup menatap siapa pun ketika mengucapkannya.
“Kamu tahu alasan para Seinu berjaga di hutan? Kami percaya dewa menciptakan mereka untuk membimbing jiwa yang suci keluar dari hutan. Termasuk juga melindungi mereka. Mereka tidak pernah membunuh. Mereka cukup membiarkan orang berjiwa busuk di dalam sana. Orang-orang itu akan mati sendiri karena diserang hewan, masuk dalam jebakan, atau tidak menemukan jalan keluar. Kamu sadar? Para Seinu tidak berusaha membunuhmu.”
“Mereka… menyerangku.”
__ADS_1
“Benarkah? Menyerang atau mencoba mengarahkanmu ke jalan keluar?” Tesiana malah bertanya.
Hati Alex mencelos mendengarnya. Itu bukan sesuatu yang pernah terpikir olehnya.
“Mereka hanya menyerang ketika kamu hendak masuk ke kuil merah. Bangunan kecil yang dikelilingi pilar-pilar yang ada di dalam hutan. Kamu pasti melihatnya.”
“Apa yang disimpan di dalamnya?”
“Kematian.”
“Apa?” Alex mengernyit tak mengerti.
“Kuil merah adalah ciptaan para tetua untuk menjebak orang-orang yang berusaha mencari mata air dewa. Cukup dengan satu sentuhan pada pilar maka jebakannya akan aktif. Orang-orang yang tamak akan masuk ke dalam kuil dan tewas di sana. Tapi, kamu tidak. Para Seinu menghentikanmu.”
“Mereka berusaha mencegahku masuk ke sana?” tebak Alex lirih. “Tapi, mereka tewas pada akhirnya.”
“Itu tugas mereka, ingat? Lagipula, pada akhirnya kamu juga tidak masuk ke sana. Kurasa kematian mereka tidak sia-sia.”
Alex terdiam. Dia membiarkan para hewan penjaga hutan menolongnya dan sebaliknya malah membunuh mereka. Dia merasa buruk. Sangat buruk. Alex menarik kain tenun yang diberikan Bounura padanya. Sambil memaksakan diri, Alex bangkit meski sudah dicegah Dominic. Alex berjalan pelan, menyerahkan kain tersebut pada Bounura.
“Aku merusak kain berharga ka—“ Alex tak sampai menyelesaikan kalimatnya. Dia sudah ambruk lebih dulu. Jayden dan Dominic bergegas menghampirinya yang meringkuk di lantai.
Mark tercengang meski sesaat. “Jangan lakukan ini, Tesiana!” Mark bicara sambil menatap dalam-dalam mata wanita itu.
Dominic pun menambahkan. “Di mana hatimu? Kamu lihat bagaimana kondisi Alex. Satu-satunya yang membuatnya bertahan saat ini adalah Dragon Blood. Sayangnya, cairan itu pula yang berusaha meracuninya hingga sekarang.”
Tesiana malah tersenyum. “Tidak, dokter. Kamu salah. Itu lebih dari sekadar Dragon Blood. Bagaimana menurutmu, Mark?”
“Itu keinginannya untuk hidup.”
Tesiana tersenyum lebih lebar mendengar jawaban Mark Hill. “Kamu mengenal putramu sangat baik. Sayangnya, bagaimanapun juga seorang pemimpin harus bisa menepati omongannya sendiri. Kamu sendiri tahu itu, Mark. Tapi,” tambahnya, “kami selalu bisa membantu teman. Kalian menangkap Naray dan tidak menghakiminya di dunia luar seperti janjimu. Sementara anak buahnya…” Tesiana membiarkan kalimatnya menggantung.
__ADS_1
“ICPA akan membebaskan mereka dan mengirimkan mereka ke sini. Utuh. Kamu bisa pegang kata-kataku.”
“Lihat? Seorang pemimpin harus bisa menepati omongannya, bukan?” Tesiana berpaling pada penasihatnya. “Bounura, saatnya kita menuntun mereka pada mata air dewa.”