Zetta Sonic

Zetta Sonic
Rocket


__ADS_3

Alex mengaktifkan roketnya dengan prosedur yang sudah diajarkan sebelumnya. Dia punya tombol sentuh di bagian luar. Tombolnya dilindungi sensor, jadi hanya Alex atau anggota ICPA terdaftar yang bisa menyalakannya. Sisanya bisa diatur lewat Zet-Arm. Roketnya menyala lembut meski hempasan udaranya terasa kuat. Sayap-sayap yang tadinya tersembunyi di dalam roket, kini mencuat ke luar. Ukurannya bahkan lebih panjang daripada ketika Alex merentangkan tangan.


Jayden memberikan peringatan singkat. [Alex, itu alat baru. Kita belum benar-benar mencobanya di lapangan sekalipun Emil dan aku cukup yakin kalau dia tidak akan meledak di udara.]


“Apa roket ini disertai parasut?”


[Tidak. Jadi tidak ada alasan buatmu asal-asalan terbang sampai melakukan pendaratan darurat.]


“Dimengerti.”


Alex merasakan dirinya mulai terangkat ke udara. Sensor dalam layarnya berubah. Dia punya garis-garis tambahan untuk ketinggian dan semacamnya termasuk kecepatan angin. Helm itu membaca perintah dalam kepala Alex. Dalam sekejap, dirinya mengudara di langit malam. Tubuhnya memelesat langsung ke posisi Bernard Gregory sedang dicegat.


“Kenapa mereka tidak langsung menembak?” tanya Alex.


Dia melihat kelompok orang bersenjata di depan sepasang mobil jip. Di seberang mereka, ada sebuah sedan hitam dan dua mobil lain. Bernard sudah ada di luar, mengangkat tangan seperti orang-orang lainnya. Sementara itu, ada seorang lain sudah terkapar dalam genangan darah.


[Filip pasti ingin menghilangkan jejak. Dia ingin orang-orang itu dibunuh robot pembunuh, bukan anak buahnya. Manusia lebih sering membuat kesalahan. Mereka juga lebih sulit disingkirkan.]

__ADS_1


Di sisi lain, Alex melihat kedatangan benda yang sudah ditunggu-tunggu. Si robot pembunuh juga datang. Robot itu punya warna merah dengan mata menyala pula.


[Robot merah punya senjata laser dan suka melempar gerigi kecil.]


Alex ingat robot pertama yang dia lawan ketika berada di pabrik. Pada dasarnya, kedua robot ini mirip. Hanya saja, robot yang dia lawan sebelumnya, bisa menyemburkan api bukan melontarkan laser. Sebenarnya, itu jauh lebih menenangkan.


Alex menguji kepiawaiannya terbang. Dia mengambil pistol lasernya padahal masih berada di udara. Badannya stabil, tidak begitu terpengaruh oleh arah angin. Alex berusaha membidik lawan. Dibantu sensor pada helm, Alex berhasil mengenai bahu si robot. Robot itu pun oleng meski tidak jatuh.


Sebagai gantinya, ada deretan roda-roda gerigi terlontar padanya. Alex menghindar dengan cara berputar. Alex melesat di atas orang-orang yang hanya mampu terbelalak melihat pemandangan tersebut. Sebelum si robot berulah lebih jauh, Alex sengaja menabrakkan dirinya. Robot itu pun terjatuh ke tanah dengan suara berdebum.


Gavin membidik dengan senapan biasa. Dia sebisa mungkin membidik tangan atau kaki. Tembakannya menghindari titik-titik vital, terlihat tak ingin membunuh lawan-lawannya. Jayden dan Emil sepakat kalau dia cukup bagus.


Alex berusaha menahan si robot agar tidak mendekat pada orang-orang itu. Keduanya pun terlibat pertarungan jarak dekat. Robot itu dibekali program bela diri yang cukup mumpuni. Dia bisa menahan serangan Alex juga melepaskan. Alex harus melompat dan menahan agar si robot tak terbang lagi.


Dia mendengar derak tak ramah dekat kepala si robot. Belajar dari pengalaman lama, Alex tahu kalau kepala tersebut akan terbuka, menyingkap senjata di baliknya. Benar saja. Alex menolakkan kepala begitu sebuah moncong muncul dari kepala lawannya. Ukurannya tidak begitu besar. Kecil meruncing. Selalu begitu. Ciri khas senjata laser.


Sinar laser merah mengarah lurus. Alex memang berhasil menghindar. Sayang pohon di belakangnya tidak. Pohon itu tertembus. Bagian tengahnya berlubang. Pinggiran lukanya menghitam dan mengepul. Gantian Alex melepaskan diri lawannya yang bak monster. Alex menghunuskan pedang ke badan robot.

__ADS_1


Kesempatan itu justru digunakan lawannya untuk terbang kembali. Tebasan Alex gagal. Alex buru-buru ganti melepaskan tembakan ke udara. Dua tembakan laser beruntun. Bidikan pertamanya berhasil mengenai kaki lawan, tapi bukan sayapnya. Bidikan kedua memeleset. Lawannya melemparkan deretan gerigi ke bawah sebagai balasan. Meski begitu, si robot terus terbang ke arah pihak yang masih tembak menembak.


Alex pun mengejarnya. Dia tak lagi menembakkan senjata lasernya. Kalau tembakannya memeleset, dia justru bisa membunuh orang-orang yang ada di bawahnya. Setidaknya, dia bisa menggunakan pedangnya lagi. Alex memelesat lebih cepat. Dorongan roket dan kekuatan Dragon Blood berhasil membuatnya mengejar lawan. Kali ini, Alex meyabetkan pedang ke roket di punggung lawan.


Si robot menurunkan ketinggian. Pedang Alex hanya mampu melukai bagian luarnya saja. Alex tak melepaskan lawan. Dia mengejarnya dalam kecepatan tinggi. Lawan berbalik, melemparkan roda-roda gerigi. Beberapa gerigi menggores seragam dan sayap, namun tak cukup kuat untuk memaksa Alex jatuh.


Si robot akhirnya melakukan pendaratan. Pendaratan tepat di atas kap mobil sedang yang dikendarai Bernard. Mobil itu padahal baru saja hendak melaju. Sekarang, si sopir terpaksa mengerem mendadak. Keterkejutan mereka belum selesai. Si robot melemparkan gerigi yang memecahkan kaca mobil berikut melukai si sopir.


Para penghuni mobil pun panik. Mereka menghambur keluar termasuk Bernard sendiri. Bukan keputusan tepat tentunya. Jumlah kedua belah pihak telah berkurang. Melihat kehadiran si robot, sisa orang-orang bersenjata itu pun masuk ke dalam mobil. Mereka hendak kabur. Tapi, Gavin jelas tak membiarkannya. Dia menembak roda mobil. Sayangnya, tak satu pun berhasil menghentikan mobil. Kedua mobil jip itu melaju cepat. Gavin tak punya pilihan selain masuk dan bersembunyi di dalam mobilnya sendiri.


Alex sendiri mulai kehabisan waktu. Robot itu bagaikan predator dan Bernard tak lebih dari sekadar kelinci tak berdaya. Alex menerjang si robot lagi sebelum menangkap Bernard. Dalam kondisi seperti itu, agaknya sangat sulit membedakan mana kawan, mana lawan. Alex mendapati dirinya ikut ditembaki para bodygudard Bernard. Sisi baiknya, itu hanya peluru biasa. Mereka hanya akan menimbulkan sedikit lecet di seragam tempurnya.


Si robot kembali membuka bagian kepalanya. Alex mengelak. Dia mencengkram leher lawan, berusaha mengarahkan senjata laser itu ke udara. Ke arah yang tak akan melukai siapa pun. Si robot berontak, sama sekali tak suka serangannya diganggu. Begitu serangannya melucur ke udara, penutup kepalanya kembali, matanya menyala merah. Si robot mengulurkan kedua tangannya pada Alex. Sekelompok gerigi lain pun keluar. Mereka menghambur seperti lebah keluar dari sarang. Karena jarak yang terlalu dekat, Alex tak bisa mengelak. Gerigi tersebut menggores seragam beserta perutnya dan dadanya.


Alex merasakan perih dan basah bersamaan. Gerigi dalam jumlah banyak itu berhasil merusak seragam tempur Alex. Serangan mereka terpusat pada titik yang sama. Titik pada seragam tersebut akhirnya menyerah. Beberapa gerigi pun berhasil menjumpai tubuh manusia di baliknya. Alex terkesiap. Tangannya memegangi seragamnya yang berlubang. Di sana, dia merasakan tangannya basah oleh darah.


Sejauh Alex bertempur bersama Dragon Blood, dia tak pernah terluka seperti itu. Alex tertegun. Matanya terbelalak di balik helm. Itu darah sungguhan. Dia bahkan tak tahu separah apa lukanya. Untuk pertama kalinya, Alex harus mengakui kalau dia benar-benar ingin lari dari pertarungan itu.

__ADS_1


__ADS_2