
[Alex!] Jayden berseru.
Jason mengikuti, baru saja datang ke dalam pertempuran.
Alex tersentak. Si robot baru saja terbang melewati dirinya. Dia menemukan targetnya. Bernard baru saja masuk ke mobil lain. Sopir mobil yang ini tak ambil pusing dengan adanya makhluk besi sedang terbang ke arahnya. Dia menginjak gas secepatnya, menyambut kedatangan si robot.
Si robot menembakkan gerigi-gerigi lagi. Mereka melukai ban mobil. Ban pun meletus dibuatnya. Mobil oleng keluar dari jalan, menabrak pohon di tepi jalan. Si robot sudah melayang di luar, bersiap mengeluarkan serangan lainnya.
Tembakan melintas di udara. Mobil Gavin sudah diparkir tak jauh dari si robot. Pemiliknya sekali lagi, berada di luar mobil, melepaskan tembakan dari balik pintu. Tembakan tersebut mengenai bagian perut si robot namun tak memberikan luka berarti.
Sementara orang-orang Bernard keluar dari mobil, terseok-seok. Melihat robot melayang di depan mobil, orang-orang ini akhirnya berlari ketakutan mencari keselamatan masing-masing. Bernard sendiri tidak berani keluar dari mobil. Jadi, si robot pun merusak pintu mobilnya agar mendapat pengelihatan lebih jelas. Mata merahnya memeriksa wajah ketakutan Bernard, memastikan kalau orang itu benar targetnya.
Gavin tak berhenti melepaskan tembakan. Dia bahkan kini sudah berada di luar mobilnya, tak lagi sembunyi. “Hei, robot pembunuh! Lihat ke sini! Kenapa? Terlalu takut menghadapi pistolku?”
Gavin mungkin berusaha menarik perhatian dengan mengeluarkan kalimat-kalimat provokasi. Namun, itu tidak begitu efektif. Si robot telah mendapatkan targetnya. Dan, tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Begitu pula serangan Jason. Si drone memuntahkan sinar-sinar laser kecil yang sejauh ini tak berhasil melukai tubuh robot.
Kecuali, Zetta Sonic.
Alex kembali memelesat di udara. Pikirannya akhirnya berhasil mengabaikan segala rasa takutnya. Dia menerjang tubuh si robot sebelum sempat menarik Bernard keluar dari mobil atau menembakkan laser di dalam. Alex sadar kalau kepala robot itu telah kembali terbuka. Dalam sekejap, sinar laser tertembak ke udara. Jaraknya hanya beda beberapa milimeter saja dari wajah Alex. Hawa panasnya menembus masuk dari helm hingga ke kulitnya.
Alex menghempaskan tubuh si robot ke aspal. Dirinya sendiri mendarat, sedikit terhuyung ke belakang. Adrenalinnya mengalir deras. Separuh dirinya ingin menanti lawannya bangun. Separuh lagi ingin segera pulang.
Gavin menghampiri Bernard, menyuruhnya lari ke dalam hutan atau bersembunyi ke mana pun. Setidaknya, orang-orangnya telah kembali untuk membantu. Bernard masih sempat bergidik ngeri melihat robot bermata merah mulai berdiri. Kepalanya tak lagi bulat seperti telur, melainkan agak penyok. Sementara sosok hitam bersayap putih di depannya bergeming.
__ADS_1
“Lari! Cepat!” teriak Gavin.
Orang-orang itu pun berlari menjauhi pertempuran.
Gavin menodongkan senjatanya ke arah robot pembunuh. Ada yang salah. Si robot tak berhasil berdiri sempurna. Salah satu kakinya telah hancur akibat serangan Alex sebelumnya. Perutnya juga terluka akibat tembakan Gavin. Tapi, serangan terakhir ini membuat kerusakan di kepala. Mata merahnya sesekali berkedip. Ada pula percikan api di sekitar leher dan kepala.
[Alex, aku memindai kerusakan pada sistem si robot.] Jayden menjelaskan.
“Kerusakan macam apa?” Alex mendapati suaranya bergetar.
[Sepertinya dia tak lagi bisa mendeteksi mana targetnya.]
“A-- Apa maksudmu?”
Alex menelan ludah keras-keras. Awalnya, dia cukup yakin kalau itu akan jadi dirinya. Ternyata tidak. Si robot berpaling ke sisi kiri, jauh ke belakang Alex, di mana Gavin sudah bersiap menembak dengan senjatanya.
[Alex, jatuhkan robot itu! Dia mengincar Gavin. Sistem robotnya kacau. Dia mendeteksi wajah manusia terdekat lalu meregistrasinya sebagai target baru.] Jayden terdengar panik. Wajah Alex yang tertutup helm jelas tak masuk hitungan si robot.
Alex tak sempat berpikir. Dia langsung patuh pada perintah Jayden. Dia pun mengangkat tangan kanannya hanya untuk mendapati kalau tak lagi menggenggam pistol laser. Alex tersadar kalaui telah menjatuhkannya di belakang. Jauh di belakang. Di posisi ketika si robot berhasil menembus seragam tempur dan melukai tubuhnya.
Si robot telah memelesat lagi. Gavin melepaskan tembakan beruntun yang tak berarti bagi tubuh si robot. Alex kembali mengejar. Tanpa pistol, Alex hanya memiliki pedangnya. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Alex mempercepat dirinya.
Gavin berlari ke balik pohon. Si robot menghancurkan pohon tersebut dengan senjata lasernya. Sinar laser memotong pohonnya secara horisontal. Untung Gavin sempat menunduk sebelum sinar itu juga mengenai kepalanya.
__ADS_1
Si robot tak berhenti di sana. Dia mendarat di atas Gavin. Tangannya mencengkram leher Gavin. Tubuh dan berat si robot membuatnya terkunci di tanah. Mata merah kembali mengidentifikasi ulang lawannya. Gavin berusaha melawan, tapi tinju dan tendangan tak berarti banyak. Apalagi senjatanya sendiri terlempar cukup jauh. Tangan robot itu mengencang, membuat Gavin tercekik.
Si drone mungil mengudara dekat, melepaskan tembakan tanpa arti.
“Hei!” Alex berseru. Kali ini, tanpa helm. Pedangnya telah terhunus ke depan. Satu ayunan terarah langsung ke leher si robot.
Robot berpaling cepat. Tangannya menangkap pedang. Tapi, tebasan Alex jauh lebih kuat. Serangannya justru memotong tangan itu. Si robot berusaha mendeteksi wajah Alex. Seperti dugaan Alex, sistem yang kacau itu kini mendeteksi wajah Alex sebagai target baru.
[Alex, apa yang kamu lakukan!?] Jayden langsung protes.
Menghiraukan protes tersebut, Alex langsung melesat menjauh. “Ke sini, robot bodoh!”
Si robot mengikuti provokasi tersebut. Dia mengejar Alex yang terbang dengan kecepatan tinggi. Alex tak lagi mengenakan helm pelindung. Angin kencang dan dingin menampar-nampar wajahnya tanpa ampun. Dia harus membawa robot itu cukup jauh dari kerumunan. Alex terbang di atas senjata lasernya. Tangannya menyambar senjata tersebut dengan cepat. Dia pun berbalik ke belakang, hendak menembak.
Namun, lawannya lebih cepat. Si robot telah membuka kembali pelindung pada kepalanya. Moncong kecil itu memuntah sinar laser. Alex berusaha menghindar, tapi terlambat. Serangannya memotong separuh sayap dari roketnya. Ini terpaksa melakukan pendaratan darurat sungguhan.
Alex berusaha mengaktifkan helmnya kembali. Namun, perintah dari pikirannya tak bisa terbaca dengan jelas. Pikirannya juga ikut kacau. Tanpa helm, kepala Alex tak lagi terlindungi. Meski sempat menutupi kepalanya dengan kedua tangan, benturan tetap berhasil membuat pelipisnya berdarah.
[Alex! Bangun!]
Alex berhenti di tepi jalan. Seluruh badannya terasa sakit. Matanya mengerjap. Dia sadar kalau berada cukup dekat dengan jembatan. Jauh di bawahnya, sungai gelap dan dalam membentang. Alex masih mengumpulkan kesadarannya ketika dia merasakan lehernya dicengkram pula.
Setidaknya dia berhasil berpaling, menghadapi si robot kembali. Tangannya berusaha mencengkram balik leher si robot. Meski sadar kalau robot ini tidak seringkih robot yang kemarin dia lawan, usaha itu masih layak dicoba. Dibantu Dragon Blood, ide itu mulai membuahkan hasil. Mata merah si robot berkelip-kelip acak. Saat Alex mengira kalau dirinya akan dilepaskan, Alex justru mendapati dirinya melayang di udara.
__ADS_1
Si robot mengangkatnya. Mereka terbang ke atas sungai dan jatuh bersama.