
[Alex! Diam di sana. Jangan—]
Mengabaikan ucapan Jayden, Alex malah kembali berteriak lagi, kali ini tanpa helm menutupi wajahnya. “Kamu mau Zetta Sonic. Kamu mau aku. Bukan dia! Lepaskan dia!” Alex meminta.
Untuk sesaat, semua perhatian tertuju padanya. Beberapa anggota suku Kloster saling pandang cepat sementara Naray terpaku pada sosok anak muda di balik seragam hitam. Bukan. Bukan terpaku. Naray melongo melihat Alex. Gavin tak membuang-buang kesempatannya. Selagi Naray diam, Gavin berontak lepas dan lari sejauh mungkin.
Para anggota Kloster berteriak. Beberapa siap menembak Gavin yang berlari ke arah Alex. Tiger pun sigap. Dia mengangkat senapannya juga. Jika keadaan memburuk dan baku tembak terjadi, Tiger bersiap untuk hal terburuk. Namun, Naray mengangkat tangan. Gerakan itu menenangkan semua anggotanya. Ketenangan itu tak langsung menular pada pihak ICPA. Tiger masih membidik Naray.
Alex bergeming, tak tahu harus bicara apa lagi. Gavin berdiri di sampingnya, sedikit lebih depan.
Dalam keheningan itu, Naray tahu harus bertanya apa. “Kamu tahu siapa dirimu, Zetta Sonic?”
Alex tak yakin dengan jawaban apa pun yang akan dia lontarkan.
“Kenapa tidak menjawab? Katakan, apa menurutmu kamu pahlawan atau kriminal?” Naray bertanya lagi namun Alex masih diam. Naray pun berseru sekali lagi. “Beri tahu aku namamu! Apa kamu juga tidak tahu siapa namamu? Apa kamu melupakan semuanya saat bergabung dengan ICPA?”
“Kamu sudah tahu siapa namaku dan di mana aku tinggal.” Alex akhirnya membalas.
Naray mengulangi pertanyaan terakhirnya. “Apa kamu sudah meninggalkan semua kehidupan lamamu saat bergabung dengan ICPA? Kamu melupakan keluargamu. Meninggalkan temanmu. Menyangkal identitas dirimu sendiri. Apa itu alasan kenapa kamu tidak bisa memberitahu aku siapa dirimu?”
“Yang kutahu, aku tidak mau berbuat jahat,” ujar Alex.
“Tidak mau, bukan tidak mampu.” Naray terkekeh. Dia lantas merentangkan tangan lalu berpaling pada rekan-rekannya. “Kamu tahu siapa kami?”
“Pembunuh bayaran,” jawab Alex.
Spontan, seluruh anggota Kloster tertawa kecuali Naray. Pria itu kembali menatap Alex lekat-lekat. “Aku tidak akan menyalahkanmu kalau menilai kami seperti itu. Kami membunuh seperti katamu. Tapi, jangan lupa. Kalian juga pembunuh.”
Tiger menggeram tapi tak bicara apa pun.
“Apa kamu tahu berapa nilai kepala Zetta Sonic di situs pembunuh bayaran?” tanya Naray lagi.
“Sangat besar. Lebih dari cukup untuk melengkapi persenjataan kalian.” Alex tak tahu jumlah persisnya.
Naray tertawa kali ini. “Kamu lucu, tidak seperti laporan yang kudengar. Kamu benar soal jumlah yang besar. Tapi, kamu salah kalau mengira kami ingin uang itu. Uang sebesar itu hanya sampah!”
“Mereka mulai bicara ngawur.” Tiger berdecak kesal. “Dan, di mana Jayden saat—”
__ADS_1
[Di sini.]
“J! Sejak kapan kamu berhasil memperbaiki jaringan—”
[Bala bantuan akan datang kurang dari satu menit. Pertahankan seperti ini dan kalian akan selamat. Pastikan Alex tidak berbuat gegabah.]
Tiger berpaling. Dia melihat kalau Alex mulai melangkah.
Gavin buru-buru merentangkan tangan, mencegah Alex melangkah lebih jauh. “Apa yang kamu lakukan? Jangan maju! Diam di sana,” bisiknya.
Alex menurut. Dia hanya melempar pertanyaan lagi. “Apa yang kamu mau dariku? Kalau memang bukan uang yang kalian incar, apa lagi? Ketenaran?”
“Itu justru lebih buruk dari uang!” Naray meludah seakan jijik mendengar ucapan Alex. “ICPA berpikir kami terbelakang. Mungkin kalian seharusnya berpikir ulang siapa. Kami punya moral yang lebih baik dari dunia luar.”
Pembicaraan mereka terpotong oleh pecahnya permukaan laut. Sebuah kapal selam hitam muncul ke permukaan. Bentuknya tak terlihat jelas tetapi moncong senjatanya nampak mencolok. Kapal selam itu tak sendirian. Ada deru mesin lain di udara. Beberapa drone sebesar ransel datang. Jumlah mereka tidak sampai selusin. Namun dengan sepasang senjata pada setiap drone, mesin tak berawak itu bisa menembak setiap anggota Kloster.
Para suku Kloster mulai ketakutan. Mereka berulang kali mengedarkan pandangan dan selalu berakhir pada sang pemimpin. Naray bergeming di posisinya. Situasi memang tidak menguntungkan bagi Kloster. Secara jumlah, mereka menang. Secara teknologi, untuk saat ini, tampaknya ICPA lebih unggul. Armada drone itu siap menembak. Ini terlihat dari bintik-bintik laser merah penanda. Bintik-bintik itu menandai setiap anggota dan tak mau pergi bagaimana pun anggota Kloster bergerak.
[Kamu pasti tahu telah melewati batas wilayah, Kloster!] Suara Jayden bergema entah dari mana. [Mundur atau kami tidak akan ragu menembak.]
“Kamu Jayden?” Naray malah balas bertanya. “Suaramu tidak segarang reputasimu.”
Salah satu drone melepaskan tembakan. Tembakan itu mengenai lantai dekat Naray berdiri. Sebuah tembakan peringatan.
“Drone ICPA ternyata penembak yang payah.”
[Percayalah, tembakan berikutnya tidak akan meleset.]
“ICPA, kalian benar-benar buta!” Naray terkekeh. Berikutnya, dia mengangkat tangannya. Telunjuk kanannya menuding Zetta Sonic. “Dan, kamu, Alex! Kamu monster. Suka atau tidak, kamu tidak bisa melawan takdirmu.”
[Kalian punya waktu sepuluh detik sebelum para drone menembak!]
Naray tak ketakutan pada peringatan Jayden. “Zetta Sonic bukan pahlawan. Zetta Sonic juga bukan senjata biologis.”
[Sepuluh…] Jayden pun mulai menghitung mundur. Hitungan itu membuat para anggota Kloster melompat ke mobil mereka.
“ICPA telah membuat monster yang tidak bisa mereka hadapi sendiri.”
__ADS_1
[Sembilan…]
“Cepat atau lambat, kenyataan akan datang.”
[Delapan…]
“Saat itu tiba, kamu akan datang pada kami, Alexander Hill.”
Satu per satu mobil pun mulai pergi.
[Tujuh…]
“Kamu akan kehilangan akal sehatmu…”
[Enam…]
“…sama seperti yang lain.”
[Lima.]
“Kamu akan memohon sampai tak tahu bagaimana lagi caranya.”
Setiap ucapan Naray dan hitungan Jayden membuat benak Alex tak karuan. Jantungnya berdegup kencang seolah ingin meloncat keluar dari tubuhnya.
[Empat.]
“Kamu akan sadar kalau tewas di tangan kami hari ini…”
[Tiga.]
“…adalah akhir yang indah.”
[Dua.]
Saat itu, barulah Naray berpaling. Dia berlari-lari kecil ke satu-satunya mobil yang tersisa. Mobil pun segera meluncur setelah Naray naik. Para Kloster lenyap ke balik kepulan asap. Gavin mendesah lega. Tiger malah mengumpat karena mereka kehilangan buruan mereka, Bompeii. Penjahat itu pasti kabur selagi Naray bertarung melawan Gavin.
Alex bergeming. Pikirannya kosong. Bibirnya terasa basah dan asin. Itu darah. Aromanya yang seperti karat terendus lezat. Rasa asin itu lebih ke arah gurih. Lidahnya juga merasakan rasa manis. Segera saja, rasa haus datang meronta-ronta. Alex sadar telah mengecap darahnya sendiri. Dia mimisan. Lagi.
__ADS_1
Darahnya menetes ke tanah. Mungkin itu hanya perasaannya, tapi darah itu terlihat lebih gelap. Bukan. Bukan gelap, namun menghitam.