
Di waktu yang sama, tempat berbeda, Jayden menyadari benar apa maksud Alex. Rasanya memang sedikit aneh kalau robot itu datang untuk membunuh Honey Lemon. Sejauh penyelidikan Jayden, yang biasanya delapan puluh persen akurat, gadis itu tak lebih berbahaya dari anak kucing. Dia tidak terlibat dengan obat terlarang atau situs berbahaya mana pun. Begitu pula dengan orang tua dan kerabat dekatnya.
Justru lebih cocok kalau seandainya robot itu datang untuk Zetta Sonic.
Di pabrik, Zetta Sonic mengacak-acak kediaman mereka dan memaksa mereka semua kehilangan tempat persembunyian. Dalam kondisi seperti itu, program akan mengenali Zetta Sonic sebagai ancaman yang harus dibasmi di bawah target mereka.
Ingat dengan teori Jayden sebelumnya. Prioritas utama terletak pada perintah utama sang majikan. Perintah ini tidak bisa diganti secara daring. Harus dilakukan secara manual langsung pada robot. Prioritas kedua terletak pada target. Berurutan dari target utama lalu target-target lainnya. Prioritas ketiga adalah agar tidak tertangkap. Dari ketiga prioritas tersebut, Honey Lemon dan Zetta Sonic mungkin berada di urutan kedua.
Jayden sendiri telah selesai memilah data yang mereka dapatkan dari pabrik sebelumnya. Dia berhasil mendapatkan rancangan beberapa model robot juga sederet nama orang terkenal yang kemungkinan jadi target. Penemuan ini tentunya di luar penemuan Emil soal cangkang robot dan daftar nama korban penculikan serta resi pengiriman.
Jayden mendesah sendirian di ruangannya. Dia sendirian. Lampu tunggal menyorot meja komputer beserta dirinya. Emil masih sibuk dengan rancangan roket. Profesor sedang sibuk dengan data baru yang didapat dari pertarungan Alex semalam. Dokter Vanessa mondar mandir dari lantai ke lantai, membantu memeriksa ini dan itu. Sementara Tiger akan segera ke tempatnya.
Acara amal akan berlangsung hari dan besok dengan tamu berbeda di setiap acaranya. Kemungkinan munculnya para robot di sana masih ada, justru cukup besar. Jayden ingin Alex menyelinap ke sana. Dia bisa saja membuatkan undangan palsu. Membuat Alex mau datang ke sana itu justru masalah lain.
Jayden mulai memeriksa nama-nama tamu undangan yang akan datang hari itu. Beberapa nama memang tidak akan berubah, sebut saja seperti wali kota mereka dan beberapa nama perwakilan dari pemerintah daerah. Nama-nama lainnya berbeda-beda. Ada artis, model, pengusaha, sampai koki selebriti. Beberapa nama cocok dengan yang ditemukan Jayden.
Nama-nama itu bisa saja merupakan salah satu pemegang saham pabrik robot, klien yang pernah membeli barang, atau memang target. Sama seperti daftar nama korban penculikan, daftar nama orang-orang ini tidak punya keterangan jelas. Mereka hanya berbagi satu kesamaan. Orang kaya dan berpotensi jadi target.
Mengingat jumlahnya tidak sedikit, si robot haruslah bolak-balik untuk menghabisi semua nama itu. Sekali lagi, bila nama-nama itu memang target.
Selagi Jayden tenggelam dalam pemikirannya, pintunya terbuka.
__ADS_1
Tiger masuk. Dia tak lagi mengenakan seragam konyol warna cokelat muda. Dia mengenakan celana training biru dan kaus putih biasa. Alex menyusul di belakangnya. Dia belum berganti pakaian sejak pulang dari perkemahan. Masih dengan jaket bertudung hitam dan kaus putih.
Jayden memutar kursi, menyambut tamunya. “Bagaimana pendapatmu?”
“Markas ini sepertinya hebat.” Alex menjawab asal.
“Dan, ini ruangan terhebat di antara yang lain.” Jayden berdiri dari kursinya.
Dengan satu sapuan tombol di atas Flipad, semua lampu di ruangan itu menyala, menampakkan kondisi sesungguhnya. Meja komputer Jayden hanya memakan sedikit tempat dari ruangan tersebut. Dia juga tak lagi sendirian. Ada meja komputer lain di sisi kiri, lebih kecil tapi tak kalah canggih.
Meja komputer Jayden punya sepasang monitor fisik, sementara layar yang sedang dia lihat saat ini diproyeksikan ke udara. Persis seperti hologram, tapi bisa disentuh dan digerakkan. Jayden memperlihatkan bagaimana dia bisa menyentuh jendela di layar hologram, menyembunyikannya di bawah, bahkan melemparkannya ke dinding jauh di depan mereka. Jendela itu kini berubah raksasa seukuran dinding.
Alex berdecak kagum, separuh kesal karena harus mengakui dia ingin membawa pulang komputer itu beserta semua perangkatnya.
“Kejutkan aku!” pinta Alex pada Jayden. Ruangan itu besar, juga cukup kedap.
Jayden mematikan tampilan layar pada dinding di depan mereka. Lampu ruangan meredup. Kemudian, tangannya mengambil jendela lain dari layar hologram, melemparnya ke atas meja kaca. Persis seperti apa yang ada dalam bayangan Alex. Meja kaca itu kini berubah jadi layar hologram lain.
Apa yang tampil saat ini adalah peta kota. Alex memainkan tangannya di atas tampilan tersebut. Dalam sekejap, tampilannya berubah menjadi tiga dimensi. Memang tidak seakurat apa yang ada di lapangan. Cukup untuk memberikan gambaran garis besar. Misalnya saja museum kota. Alex bisa memperbesarnya dengan mudah, lalu memutar-mutar gedungnya agar dapat pemandangan lebih jelas.
Alex berdecak kagum lagi. Semua teknologi ICPA selalu membuatnya terpukau. Jayden berdiri di sampingnya sekarang bersama Tiger.
__ADS_1
“Kamu enggak memberitahunya soal Emil?” tanya Tiger.
“Belum. Lebih penting dia tahu apa yang sedang dikerjakan Emil.” Jayden menggerakkan jemarinya di atas sisi kosong, mengakses sebuah menu. Dia menampilkan rancangan roket dengan sepasang sayap besar seperti capung, tapi ini berbentuk trapesium putih pada setiap sisinya. Roketnya sendiri punya dua pendorong di bawah dan satu pendorong di bagian atas. “Kamu ingin terbang? Kami akan membuatmu terbang tanpa tiket.”
Mata Alex terbelalak. Jemarinya memutar-mutar gambar roket tersebut tanpa mampu berkata apa-apa. Dia sangat ingin mencobanya.
Jayden melanjutkan. “Asalkan tak ada masalah, seharusnya roket ini bisa dicoba satu jam lagi. Memang tidak bisa dipakai untuk jarak jauh seperti pindah negara. Tapi, kalau hanya dari rumahmu ke sekolah, pasti lebih cepat dari naik mobil.”
Alex masih tersenyum lebar. Jayden bisa mewujudkan impiannya soal terbang. Dia mulai memikirkan ide lain yang bisa diwujudkan Jayden. Kemudian, dia tersadar akan hal lain. “Tunggu. Kamu bilang satu jam lagi? Ada apa lagi ini? Kamu mau menyuruhku ke acara amal di balai kota?”
“Apa lagi, jenius?” Jayden beranjak ke sisi lain meja ke samping tas kertas yang ada di atas kursi. “Ngomong-ngomong, acaranya akan dimulai pukul enam. Masih ada sedikit waktu untuk berdandan. Kami juga sudah menyiapkan tuxedo untukmu.”
Alex melipat tangannya ke depan dada. “Aku enggak perlu menyamar jadi pelayan kali ini?”
“Enggak perlu. Kamu tahu kenapa acara amal ini sampai digelar dua hari?” Jayden bertanya lagi. Dia mengambil sebuah kotak kecil, lalu menggesernya di atas meja ke depan Alex. “Acara amal hari ini merupakan puncak dengan tema masquerade. Semua tamu memakai topeng. Kamu bisa jadi dirimu sendiri kali ini.”
Alex bergeming sejenak. Tangannya telah membuka kotak, di dalamnya ada topeng hitam dengan hiasan bulu. Sebenarnya dia ingin menunjukkan wajah kesal karena harus pergi ke balai kota, ternyata wajahnya tak mampu berbohong. Alex justru tersenyum. Semua itu membuatnya bersemangat.
Melihat Alex senang, Jayden mulai mengutarakan sedikit masalah di balik acara itu. “Mungkin nanti kamu akan bertemu dengan beberapa orang yang cukup familiar. Kusarankan tetap low profile.”
Alex paham apa maksud peringatan Jayden. “Siapa yang kamu maksud?”
__ADS_1
“Gavin River dan William Sims.”