Zetta Sonic

Zetta Sonic
Talk


__ADS_3

Lokasi perkemahan yang disewa sekolah punya pemandangan luar biasa. Danau kecil dan sungai jernih, rerumputan bak beludru, dikelilingi gunung dan bukit. Setiap kelompok mulai mendirikan tenda mereka masing-masing. Mereka yang sudah selesai bisa mengurus hal lain seperti memancing atau bergabung untuk mendirikan api unggun.


Sementara itu, para ketua kelompok dipanggil bergiliran oleh sang instruktur alias Tiger ke tenda terbuka. Tenda besar ini diperuntukkan bagi para guru. Mereka bisa menggelar rapat di sana atau sekadar makan malam menggunakan meja dan kursi nyaman. Sementara dengan alasan kebersamaan, para murid mereka akan menggunakan gelondongan kayu. Tiger sebenarnya lebih memilih gelondongan kayu. Sayangnya, dia tidak memilih.


Dia juga tidak tahu kenapa harus membagikan lightstick pada para siswa di sana. Informasi yang dia terima hanyalah itu nanti akan digunakan ketika malam api unggun. Sesuai rumor yang beredar, sekolah telah mengundang penyanyi sungguhan untuk mengisi acara. Seorang penyanyi pendatang baru, sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan, berparas cantik, terkenal dengan suara emas dan kepiawaiannya bermain gitar. Nama panggungnya Honey Lemon.


“Wow! Sekolah kita benar-benar layak diacungi jempol kali ini!” Willy begitu bersemangat. “Honey Lemon akan bernyanyi di depan kita. Padahal setahuku dia sibuk diundang konser di berbagai tempat.”


“Kalau tidak salah, dia alumni Wood Peak, kan?” balas Alex.


“Oh, ya? Pantas saja. Katanya dia sampai menolak undangan wali kota minggu ini.” Willy kemudian menyenggol lengan Alex. “Eh, kamu bawa konsol game portable, ‘kan? Setelah makan siang, main yuk. Ada waktu bebas sampai pukul tiga.”


“Eh, aku sudah ada janji.”


“Dengan Leta?” tebak Willy sambil mengangkat kedua alis.


“Leta dan teman-temannya. Mereka mau berkeliling, mengambil foto. Biasa. Buat diunggah di media sosial begitu, lha.” Alex tak bisa menahan senyum terkembang di wajahnya. Setiap waktu yang dia habiskan bersama gadis itu terasa sangat manis.


“Kalau begitu, kuatkan kakimu.”


“Kaki? Bukan hati?”


“Mengambil foto cewek-cewek bisa makan waktu jauh lebih banyak dari dugaanmu.”


 

__ADS_1


 


Alex tahu kalau Willy benar. Tapi, sahabatnya tak perlu khawatir. Alex punya kekuatan lebih sekalipun dia tak mau menggunakannya. Tidak di sini, tidak di depan teman-temannya. Lebih baik menjaga identitas Tiger dan Zetta Sonic tetap di bawah permukaan. Mengingat hal itu, Alex juga mengirim pesan pada Jayden untuk memeriksa profil Honey Lemon.


Dia sempat membaca data-data tambahan yang diberikan Jayden dalam Zet-Arm. Alex tak mau berprasangka buruk. Dia juga berharap kalau perkiraannya salah. Tidak bisa disangkal kalau Honey Lemon masuk kategori seperti gadis-gadis lain yang lenyap. Masih muda, cantik, bahkan diundang ke acara di balai kota akhir pekan ini.


“Alex?” Leta mendekatkan wajahnya. “Kenapa kok diam?”


Alex bergeming, tak berani bergerak, sembari menyadari kalau wajahnya memanas. Wajah Leta kini hanya sejengkal dari wajahnya sendiri. Dia tak berani menggerakan wajahnya menjauh karena tengah menikmati wajah gadis itu dari dekat. Tentu saja, dia juga tak berani mendekatkan wajahnya. Alex hanya menggeleng.


“Anemia?” Salah seorang teman Leta ikut mendekat.


“Enggak. Aku enggak punya anemia.” Alex akhirnya mampu menjawab setelah Leta mengalihkan pandangan dari wajahnya. “Aku bahkan enggak tahu kenapa dokter bisa bilang kalau aku anemia.” Alex tersenyum sendiri.


Teman Leta itu pun bergerak ke danau, bergabung dengan dua teman lainnya.


Alex selalu bisa berbohong dengan mudah. Bukan soal undangan ke universitas. Undangan itu sungguhan, dia bahkan telah menanti-nantikannya sejak lama. Pameran tersebut mengenai teknologi ciptaan para mahasiswa tingkat akhir. Ini juga bukan pertama kalinya Alex mewakili ayahnya.


“Undangannya untuk dua orang,” lanjut Alex. “Selesai pameran, ada perayaan kecil. Semacam pesta makan malam. Tertarik?”


“Kamu mengajakku?” Leta tersenyum manis, membuat Alex tak bisa mengerjap. “Apa itu pameran Universitas Altaur?”


“Kamu juga dapat undangan.” Alex menebaknya dengan mudah.


Leta tersenyum geli. “Sebenarnya tidak. Ayahku yang dapat undangan ke sana. Dia diminta membawakan beberapa lagu. Kemudian, dia bilang supaya aku ikut. Makan malam. Sedikit menari, mungkin. Aku tidak pernah ke acara semacam itu.”

__ADS_1


“Itu bagus!” sahut Alex cepat. “Setidaknya aku akan punya teman di sana.”


“Ini bukan pertama kalinya kamu diundang ke acara semacam ini, ‘kan?”


“Kupastikan juga bukan jadi yang terakhir.” Alex berharap tak perlu melangkah cepat-cepat. Dia menikmati hembusan udara segar yang tak bisa didapatkan di kota. Lebih dari itu, dia menikmati percakapannya dengan Leta berdua.


“Ayahmu jarang pulang ke rumah. Aku penasaran apa kamu juga akan sesibuk itu nanti. Kamu pasti akan mewarisi semua perusahaannya.”


Alex hanya tersenyum, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Setidaknya, saat ini dia tahu kalau ayahnya tidak memiliki perusahaan. Dirinya juga tahu jelas tak perlu mewarisi perusahaan apa pun dari ayahnya. Biasanya saat seseorang bicara soal ayahnya, Alex merasakan rasa penasaran pada ayahnya bertambah. Entah kenapa, sekarang sepertinya rasa penasaran itu berganti jadi rasa kesal.


“Bagaimana denganmu?” Alex balas bertanya. “Kamu akan bernyanyi keliling dunia?”


Leta mengedikkan bahu. “Itu impian kedua orang tuaku. Aku enggak benar-benar tahu apa yang kuinginkan. Bernyanyi itu menyenangkan. Keliling dunia juga kedengaran bagus. Aku hanya enggak tahu apakah itu yang kuinginkan.”


“Mereka tidak memaksamu ikut jadi seniman?”


“Memaksa? Tidak. Menganjurkan? Mungkin. Itu dunia mereka.”


Mereka diam sejenak. Alex menyadari kalau dirinya kini malah menunduk. Matanya mengamati bagaimana sepatunya menyusuri rerumputan halus selagi pikirannya berkelana jauh. Dia tidak mengenali kedua orang tuanya seperti Leta. Dia tidak tahu dunia ayahnya sampai beberapa saat lalu.


“Alex,” Leta memanggilnya lagi. “Kalau kamu bisa memohon pada bintang jatuh yang akan mengabulkan permohonan apa pun, apa yang akan kamu minta?”


Pertanyaan Leta membuat Alex melongo.


Menyadari hal tersebut, Leta tersipu malu dan tertawa pada dirinya sendiri. “Kalau aku, aku pasti akan minta supaya aku bisa makan apa pun tanpa jadi gendut.” Ucapan Leta terdengar sebagai kebohongan di telinga Alex. “Lupakan saja pertanyaanku tadi. Yuk, yang lain sudah menunggu.”

__ADS_1


Di depan mereka, teman-teman mereka sudah duluan mengambil gambar. Leta berlari-lari kecil menghampiri. Alex berjalan pelan membiarkan pertanyaan Leta bergulung dalam benarknya. Kalau boleh jujur, dia punya banyak keinginan untuk dijabarkan pada bintang jatuh. Salah satunya adalah supaya acara malam api unggun mereka berjalan dengan lancar dan aman.


Alex baru saja mendapat pesan singkat dari Jayden dengan judul ambigu : Hati-hati.


__ADS_2