
Tanahnya bergetar. Alex sempat mengira kalau dirinya begitu pusing sampai salah mengira sekitarnya bergerak. Namun, itu bukan karena pusing. Dia menyadari bagaimana lingkaran yang tadi dia sentuh kini berpendar merah seolah ada mata yang menyala di dalamnya. Cahaya itu tidak berhenti di sana. Cahayanya bergerak menyusuri setiap garis dan tulisan. Seiring dengan itu, tanahnya mulai bergerak. Lalu, berhenti.
Sinarnya tidak. Sinar itu bergerak terus. Ketika ukirannya berakhir di ujung bawah, sinar itu menunjukkan adanya ukiran lain di tanah. Lebih tepatnya bukan tanah, melainkan lantai batu. Sinar tersebut menyalakan garis tunggal pada lantai batu, lalu tangga menurun, pilar lain, lantai lagi, tangga lagi, begitu seterusnya.
Alex terperangah di tempatnya. Hutan yang monoton itu kini dipenuhi pendar cahaya merah. Dia bisa melihat adanya pilar-pilar yang terhubung satu sama lain, juga lantai batu dan tangga menurun, hingga semuanya tertutup oleh kabut.
Jantungnya berdegup kencang. Kali ini bukan karena takut. Dia bersemangat. Penasaran akan apa yang menantinya di ujung. Alex telah berlari sebelum dia sadari. Kakinya melangkah gesit di atas lantai batu. Jalanan itu terus membawanya ke bawah. Pilar-pilar berjajar di sampingnya bagai tiang lampu jalanan. Untuk sesaat, Alex bahkan berpikir dirinya adalah pemburu harta karun. Terlebih setelah dia melihat apa yang ada di ujung.
Alex berhenti di posisinya. Dia melihat sebuah bangunan kecil dengan gerbang sebesar dindingnya. Terbuat dari batu yang sama seperti lantai juga dihiasi garis-garis yang tengah berpendar. Dia juga melihat adanya pilar lain di kejauhan yang berkumpul jadi satu pada bangunan tersebut. Nampaknya pilar-pilar itu memiliki ujung yang memang berjauhan. Semuanya mengantar pada bangunan kecil tersebut.
Alex ragu untuk berjalan lebih jauh. Dan, kali ini, itu keputusan tepat.
Ada hawa dingin yang ganjil. Sumbernya jelas. Hewan itu lagi. Alex melihat hewan yang tadi menyerangnya. Sosok ramping mereka dengan ekor unik yang memiliki bagian tajam. Alex menyadarinya. Hewan itu tidak sendirian. Kali ini, dia berkelompok. Setidaknya ada satu hewan mengintip dari pilar-pilar yang berdekatan.
__ADS_1
Alex menyadari hal lain. Dia melihat lingkaran besar di atas bangungan tersebut entah mengapa mengingatkan dirinya pada bandul batu yang dibawa Gavin. Bandul yang sama yang menyengatnya hanya dengan sentuhan. Warnanya hijau. Bagaimana kalau seharusnya cahaya yang berpendar bukan merah melainkan hijau?
Bagaimana kalau dia yang mereka sebut terkutuk telah menyentuh pilar tersebut? Lalu, para hewan itu adalah penjaganya smenetara dia penyusupnya? Maka, apapun yang ada di balik bangunan itu pastilah sesuatu berharga. Benda yang ingin dilindungi Kloster dan tak ingin ditemukan oleh para penyusup. Dia harus segera maju.
Sama seperti dirinya, para hewan itu juga berpikiran sama. Mereka berlari pada Alex selagi mengeluarkan suara melengking. Itu membuat Alex berjingkat meski sebentar. Matanya bergulir dari para hewan kepada bangunan yang ada di sana. Dia pun mengepalkan tangan. Sudah terlambat untuk mundur.
Alex berlari tanpa memedulikan hewan-hewan yang sedang berlari padanya. Dia akan aman begitu masuk ke dalam sana, pikir Alex. Ketika salah satu hewan menerjang, Alex menghindar dengan gesit. Dia menggunakannya. Kekuatan Dragon Blood.
Hewan kedua melompat padanya. Alex menghindar lagi. Namun saat itu, si hewan pertama kembali lagi. Dia menggigit ujung baju tenun Kloster. Melihat salah satu temannya berhasil menghentikan pergerakan si penyusup, hewan lain pun berdatangan dengan cepat. Alex memberontak lepas. Kain tenun yang menutupi badannya pun terkoyak. Alex tak peduli. Sekencang apa pun hewan itu berteriak, niatnya untuk maju sama sekali tidak surut.
Ketika hewan lain berusaha menggigit tangannya, Alex justru maju. Dia menendang perut si hewan, menyingkirkannya dengan mudah. Diterjang beberapa hewan sekaligus memang merepotkan. Alex kesulitan mempertahankan dirinya agar tidak cedera. Dia kalah jumlah. Selagi menghadapi satu hewan, yang lain akan menyerang. Salah satunya berhasil menggigit tangan kiri Alex.
Alex berteriak kesakitan. Darahnya memercik ke lantai. Rasa sakit itu membuatnya marah. Semakin marah, pandangan di sekelilingnya semakin hijau. Dia telah menggunakan kekuatan Dragon Blood untuk mendapatkan kecepatan dan kekuatan pukulan. Dia membalas setiap serangan yang dia dapat. Dia juga berhasil memukul kepala hewan yang menggigitnya. Gigitan itu pun terlepas. Si hewan terpelanting dan tak bergerak lagi di atas tanah.
__ADS_1
Sedikit demi sedikit, Alex berhasil merangsek maju. Kain yang tersampir di bahunya kini tak lagi berbentuk elok. Hampir setiap sisinya telah terkoyak oleh serangan para hewan.
Lalu, saatnya tiba. Alex melihat salah satu hewan membuka mulutnya. Sebuah pendar biru muncul di sana disertai hawa dingin. Alex bersumpah melihat adanya pusaran udara di sekeliling mulutnya. Terpana, Alex malah terlambat menghindar. Serangan itu meluncur mulus di udara. Alex menolak, namun serangan itu menyerempet pipinya.
Dingin dan tajam. Ketika Alex meraba pipinya, dia merasakan ada yang basah di sana. Bau karat tercium dan rasa itu kembali memenuhi kepalanya. Rasa haus darah. Seseorang atau sesuatu harus membayar kemarahannya.
Alex berlari pada hewan yang baru saja menyerangnya. Menyambut, si hewan juga ikut menyerang. Hewan itu kembali membuka mulut. Serangan es memelesat di udara. Alex menghindar meski serangan itu berhasil mengenai bahunya, membuat bunga es bermunculan pada kain tenun. Dengan sedikit menunduk, alex menangkap rahang lawannya. Dia mencengkram erat-erat tubuh berbulu itu sebelum membantingnya ke tanah. Debu tanah dan serpihan es pun berterbangan ketika hewan itu menghantam tanah.
Beberapa hewan lain yang berada dekat mengeluarkan suara rendah. Mereka mulai ketakutan. Beberapa lagi bersikeras untuk maju. Melihat kalau masih ada dari kawanan mereka yang berlari pada Alex, hewan-hewan itu pun memilih diam mengamati.
Alex menumbangkannya satu per satu. Dia menarik hewan terdekat darinya lalu melemparkannya pada hewan lainnya. Sebelum ada serangan sinar es lain, Alex menangkap moncongnya. Sinar itu memercik dari sela-sela taring. Mata hitam itu bertemu dengan mata hijau Alex. Ada penyesalan di mata si hewan. Dia seharusnya diam seperti teman-temannya. Terlambat. Alex melemparkan tubuh itu jauh-jauh, menggelinding di atas tangga batu, merusak bagian tepinya, hingga berhenti jauh dari mereka.
Alex buru-buru berbalik. Dia menjumpai seekor hewan lagi yang hendak mencabiknya dari belakang. Namun, kini hewan itu bergeming. Bersama kawanannya, hewan ini menggeram pelan. Alex menyadari kalau suara mereka kalah dibandingkan suara geramannya sendiri. Manusia tidak menggeram seperti itu. Namun, lain ceritanya dengan naga. Dari pantulan bola mata si hewan, Alex mendapati kalau dirinya yang tercermin di sana bukan sosok yang biasa dia jumpai di cermin.
__ADS_1