
Baron dan Caitlin beranjak pergi ke meja mereka sementara kedua orang tua Alex masih ngobrol dengan seorang sutradara di sana. Di belakang mereka, Alex melihat pasangan lain datang. Alex mengenalinya. Sang pria melempar pandang padanya lalu mengantar pasangannya ke meja. Setelahnya, dia berjalan ke meja minuman seorang diri.
Alex berpamitan pada Willy dan menghampiri meja minuman pula.
“Apa yang terjadi di sini, Gavin?” bisik Alex pada sang pria yang dia kenal baik pada perjalanan di desa Kloster beberapa waktu lalu. Dirinya membelakangi ruangan pesta selagi mengambil jus jeruk.
“Bukannya sudah jelas?” Gavin membalas lalu menyesap minumannya.
“Kamu di sini untuk ayahku?”
“Ya dan tidak.”
Alex memahaminya. Ayahnya harus dijaga dari berbagai macam ancaman yang muncul, bagaimanapun dia seorang pemimpin ICPA. Alex tak akan kaget kalau ada agen lain dalam penyamaran pula di sana. Alex juga memahami kalau Gavin ingin menangkap Baron. Laki-laki itu telah membuat kekacauan di Regis dan Sinde. Nadira dan Mark jelas ingin menangkapnya segera. Itu harus dilakukan dengan hati-hati agar tak ada kehebohan. Terakhir kali terancam, Baron hampir membuat nyawa Alicia terancam.
Itu bisa berlaku sama bagi Gavin. Alex berhenti ketika hendak menegak jusnya. Gelas itu menutupi bibirnya ketika dia bicara. “Kamu membahayakan pacarmu. Lagi.”
“Situasinya berbeda.” Gavin berbalik. Dia meletakkan gelas kosongnya dan mengambil minuman lain untuk Silvy.”
“Beri tahu aku.”
“Dia juga sama sepertiku sekarang. Kami rekan kerja.”
Alex hampir tersedak saat mendengar ucapan Gavin. “Kamu menjadikannya agen?” Alex ikut berpaling dan meletakkan gelas kosongnya pada baki di atas meja.
“Kalau dia berulah, kita akan siap,” ujar Gavin.
Gavin melihat Alex mengangguk. Dia tak bisa menyembunyikan senyumnya. Anak yang pernah dia selamatkan dari tenggelam itu kini jauh lebih dewasa, bahkan meski Alex tak memahaminya, Gavin melihat Alex semakin mirip ayahnya.
__ADS_1
Alex dan Gavin berpisah di sana tanpa bicara apa pun lagi.
Alex kembali ke mejanya sendiri. Setelah beberapa saat antara kebosanan dan terjebak di game, Alex mengedarkan pandangan hanya untuk menyadari adanya Leta di sana. Gadis itu duduk bersama keluarganya. Leta juga menyadari kehadiran Alex. Dia melempar senyum dan bangkit dari kursinya.
Itu adalah momen serba salah bagi Alex. Dia tak bisa menyembunyikan betapa senangnya dia bisa melihat Leta dalam penampilan seperti itu. Leta tampak berbeda dalam balutan gaun putih off shoulder dan rambut ombak. Dia juga berharap Baron tak melihat kedekatannya dengan Leta terlebih ketika gadis itu duduk di sampingnya. Kursi ibunya masih kosong.
“Kalau aku tidak ke sini, apa kamu akan berpura-pura tidak melihatku?” tanya Leta, membuka percakapan.
“Apa? Tidak. Kenapa kamu berpikir begitu?”
“Karena kurasa kamu butuh waktu sendirian?” Leta menebak. Alex memasang tampang kebingungan. Itu membuat Leta tertawa kecil yang menular.
“Kamu akan tampil malam ini?” Alex balik bertanya.
“Ayahku. Dia senimannya, bukan aku.”
“Ya, benar.”
“Jangan khawatir, Leta,” tukas Alicia. “Aku senang kamu menemani Alex ngobrol. Dia sering merasa kesepian di pesta semacam ini. Terima kasih.”
“Kamu ingat namaku?”
“Tentu saja. Alex pernah cerita soal dirimu.” Alicia mendekatkan dirinya pada Leta, “Kata Alex, kamu sangat menawan.”
Alex tahu apa pun yang dikatakan ibunya pasti cukup memalukan. Wajah Leta merona merah. Gadis itu jadi salah tingkah dan buru-buru berdiri dari kursinya.
“Sa— Sangat menyenangkan bisa bertemu denganmu di sini. Film terakhir yang kamu bintangi luar biasa. Aku yakin Alex berpikiran sama.” Leta melempar senyum pada Alex lalu melambai sebelum akhirnya kembali ke mejanya sendiri.
__ADS_1
Alex langsung pasang tampang cemberut.
“Apa?” Alicia melongo dibuatnya.
“Tidak apa-apa.” Alex membuang wajahnya. Dia memeriksa Baron. Pria itu duduk cukup jauh dari posisinya dan sedang ngobrol dengan teman-teman semejanya. Setidaknya Baron tidak melihatnya bersama Leta, itu bisa membahayakan Leta.
Alex terdiam sejenak pada pemikirannya. Orang-orang di ruangan itu bisa berada dalam bahaya hanya karena dirinya di sana. Tidak. Alex menepis pikiran tersebut. Baron seharusnya tidak berani berulah selama ada Caitlin di sana. Dia tidak akan membuat gadisnya berada dalam masalah.
Lampu mulai dipadamkan. Acara pun dimulai. Pembawa acara memasuki panggung dengan asap membumbung dan lantunan lagu orkestra megah. Lampu sorot memberikan efek dramatis. Dalam keramaian itu, Alex masih bisa menemukan Caitlin dan Baron. Mereka juga sedang menikmati acaranya.
Tarian, nyanyian, bahkan jamuan makan malam itu sempurna. Bahkan, kata sambutan tak membuat bosan sama sekali. Namun, kedua pasangan di samping Alex lain ceritanya. Ayahnya menguap beberapa kali, dia bosan. Sementara ibunya, terlihat bersemangat. Di tengah jamuan makan, dia bahkan sempat berkeliling untuk menyapa koleganya.
Kemudian, Alex melihat makanan baru yang dibawakan oleh pelayan ke mejanya. Makanan itu berupa mutiara di dalam kerang terbuka. Ukurannya hampir sebesar piring saji itu sendiri. Ia berada di atas es kering yang menyemburkan es. Mutiranya sendiri putih mengilap tanpa cela. Kerangnya berwarna hitam entah terbuat dari apa.
Alex teringat pada saat Caitlin mengetuk antingnya. Gadis itu berusaha mengatakan sesuatu padanya. Alex tidak paham. Namun, mutiara beserta kerang di depannya itu terasa cukup mirip dengan antingnya.
Alex melirik meja Caitlin. Gadis itu tidak di sana hanya ada Baron dan teman semejanya. Gadis itu baru saja datang. Dia memutar tubuh, berpura-pura membenahi gaunnya sebelum duduk, padahal melempar pandangannya pada Alex.
Begitu sadar kalau dugaannya benar, Alex melirik ayahnya. Mark juga sepertinya memahami apa yang telah terjadi. Keduanya mengamati hidangan di tengah meja tersebut. Hidangan cantik tersebut tak lain adalah kue. Mereka sudah berada di penghujung acara. Itu adalah hidangan penutup mereka.
Seorang pelayan datang membawa pisau panjang. Pelayan itu mulai memotong mutiara putih tersebut menjadi beberapa bagian. Dia hendak membagikannya kepada para tamu yang ada di meja tersebut. Pasangan pertama menolak makanan manis tersebut. Pelayan pun membagikannya pada Mark, lalu Alex, pada Alicia yang sedang tidak ada di tempat.
Alex memperhatikan potongan kue di depannya. Krim putihnya menempel di tepi kue dengan sempurna. Itu membuatnya jadi mutiara tak bercela. Isinya sendiri merupakan kue tiga lapis dengan warna biru, ungu, dan merah. Bau wangi kue tersebut membuatnya merasa ganjil. Aromanya terasa lebih kuat lagi ketika dia mengangkatnya mendekati wajah.
“Alex, jangan.” Mark berbisik padanya.
Alex, sekali lagi, menoleh pada Caitlin. Namun, baik gadis itu maupun Baron sudah tidak berada di sana lai. Alex tahu ada yang tidak beres dengan kuenya. Alex mengedarkan pandangannya pada sang ayah. Ayahnya juga belum menyentuh kue itu. Lalu, Alex mulai melihat sekeliling. Dia melihat pelayan yang baru saja selesai memotong kuenya sudah ada di depan pintu darurat.
__ADS_1
“Alex, jangan,” kata Mark sekali lagi.
Sejak kapan seorang pelayan lari ke pintu darurat setelah selesai memotong kue?