Zetta Sonic

Zetta Sonic
Reason


__ADS_3

Alex tak sekadar bicara, dia serius. ICPA membuat operasi khusus untuk pengembangan Dragon Blood. Zetta Sonic memang dibutuhkan. Dia paham sepenuhnya ketika melihat robot pembunuh. Membayangkan kalau robot pembunuh semacam itu dibuat masal membuat darahnya naik. Killer Bee akan ketakutan membayangkannya. Zetta Sonic tidak, dia akan geram dan menghancurkannya.


Robot di depannya punya trik yang sama. Dia mengulurkan tangannya ke depan. Satu per satu jemarinya terbuka, menunjukkan lubang mungil serupa ujung pistol. Dari sana, meluncur deretan peluru. Kalau sudah ada helikopter di sana, robot itu akan menghancurkannya dalam sekejap.


Alex menghindari semua tembakannya dengan mudah. Dragon Blood membuat kecepatannya meningkat drastis. Helm dari profesor Otto memberikannya kalkulasi dan informasi yang tak pernah dia pikir akan dibutuhkan. Misalnya, kecepatan si robot mengisi kembali peluru agar bisa menembak lagi. Robot itu membutuhkan waktu sebelum melakukan serangan lagi. Di sanalah kesempatan Alex.


Angin kencang berhembus lagi. Dinginnya tak pernah mencapai Alex. Badannya tak digoyahkan oleh angin atau rasa takut. Tangannya menggapai badan bawah robot, dekat roda. Tapi, kali ini dia tak sempat melakukan serangan. Kepala robot telah berkilau biru. Alex memelesat mundur sebelum sambarannya mengenai badannya. Terciptalah jarak di antara mereka.


[Nikola memanggil bala bantuan, Alex.]


Alex menatap ke arah bangunan. Sekelompok orang mengenakan jas membawa senapan panjang. Mereka akan melakukan apa pun agar Nikola bisa kabur. Alex butuh senjata. Dia menggapai pistol laser yang disimpannya di sabuk. Seragam buatan profesor dilengkapi beberapa holster untuk menyimpan senjata. Tapi, Alex harus memasukkannya sendiri.


Sebelum meninggalkan mobil SUV, Tiger memberikannya pistol laser tersebut, pistol biasa, sebilah belati berukuran sedang, juga alat yang bisa menembakkan pengait. Alex tak bisa terbang. Pengait itu bisa membedakan hidup dan matinya bila dia jatuh dari sana. Sesuatu yang tak pernah Alex pikirkan.


Alex telah menekan pelatuk pistol laser, tapi tak ada apa pun yang keluar. Dia sempat terperangah selama beberapa saat. Saat yang digunakan lawan untuk mulai menembakinya. Setiap peluru dari senapan tak pernah benar-benar melukainya. Bagaimana pun, mereka memaksanya mundur dan mundur.


“Jayden!” Alex protes.


[Ups. Aku lupa membuka pengamannya.]

__ADS_1


Setelah mendengar bunyi klik samar, Alex menyadari kalau pistol lasernya punya sistem pengaman. Dia hanya bisa menggunakannya setelah mendapat izin. Izin dari Jayden, operatornya, atau Nadia, si pemimpin.


Alex menekan pelatuk lagi. Moncong pistol laser telah membidik dengan tepat. Alex mengincar tubuh si robot. Kali ini sinar hijau memelesat cepat. Dia bergerak secepat sinar, sewajarnya. Laser ini merusak tubuh si robot. Memisahkan bagian atas dan roda penggeraknya. Di belakang, Nikola hanya melongo dengan wajah pucat.


Pemandangan di depannya bukan pemandangan wajar. Sosok hitam itu seperti pembunuh bayaran profesional di matanya. Caranya bergerak, kekuatannya, juga kecepatannya. Dalam waktu singkat, semua anak buahnya telah bergelimpangan di tanah. Beberapa pingsan, beberapa pasti mengalami patah tulang atau gegar otak. Nikola menatap lekat-lekat sosok hitam di depannya.


“Siapa kamu?” Nikola bertanya, suaranya serak, persis seperti dalam ingatan Alex.


Alex tak berniat menjawab. “Kamu ditahan.”


“Kamu bukan polisi,” sahutnya. “Kamu seorang tentara bayaran, ya? Siapa yang mengirimmu? Roban? Willargo? Beritahu aku berapa yang mereka berikan padamu. Akan kubayar dua kali lipat. Ah, tidak! Tiga kali lipat! Bekerjalah untukku!”


Alex mengernyit di balik helm. Dia bahkan tidak tahu berapa yang akan dia terima dari ICPA. Sesungguhnya, Alex bahkan tidak tahu apakah bisa mendapatkan sesuatu dari ICPA. Sekalipun sudah menginap seminggu di markasnya, Alex baru benar-benar berinteraksi sebagai anggota resmi kurang dari dua puluh empat jam.


Raut wajah Nikola berubah. Alisnya bertautan, mulutnya bergetar. “Tunggu, tunggu, tunggu! Kita bisa bicarakan ini. Aku bisa membantu ICPA. Sebutkan berapa denda yang harus kubayar. Akan kubayar dua kali lipat. Tunai! Kalian bisa menggunakannya untuk penelitian. Aku juga bisa membantu kalian dengan informasi yang kutahu.”


Alex berbisik pelan agar hanya Jayden yang bisa mendengarnya. “Apa yang sedang dia bicarakan?”


[Hanya omong kosong. Ini bukan pertama kalinya penjahat bersikap demikian supaya dilepaskan atau diberi keringanan. Hiraukan saja. Borgol dia. Tiger sudah menunggumu di pintu belakang. Bawa dia ke sana!]

__ADS_1


Alex bergeming. Dia sadar kalau masih menodongkan pistol lasernya pada Nikola. Dia juga sadar benar kalau tidak akan menembak. Di atas semua fakta itu, dia sadar seharusnya langsung menuruti instruksi Jayden. Sayangnya, mulutnya lebih menuruti rasa penasarannya daripada hal-hal tersebut.


“Kamu tidak bergerak sendirian. Kamu punya rekan-rekan. Sindikat kejahatan dunia. Tapi, saat ini kamu melakukannya untuk kepentingan diri sendiri. Untuk apa? Apa rencanamu dengan  gas beracun itu?” Alex melempar pertanyaan yang tidak perlu.


[Alex. Interogasi bukan bagianmu!] Jayden memberikan peringatan.


Menghiraukan peringatan Jayden, Alex kembali bertanya. “Kenapa kamu membutuhkan formula gas beracun sampai rela berbagi rahasia dengan kami?”


Nikola tertawa. Alex tak paham alasannya tertawa sampai dia menyadari adanya sinar terang terang dari belakang. Bukan itu saja, dia melihat beberapa bintik merah melayang di lantai lalu perlahan bergerak ke belakangnya. Bersamaan dengan itu, terdengar suara baling-baling kencang dan dengung mesin. Nikola hanya mengulur waktu. Mengulur waktu sembari menanti kedatangan anak buahnya.


[Alex! Lari!]


Alex sempat mendengar teriakan panik Jayden. Dia berbalik untuk mendapati kepolosannya serta rasa penasarannya berbuntut bencana. Sepasang helikopter terbang di belakang. Pintunya terbuka, menunjukkan setidaknya empat orang penembak jitu dengan senapan di tangannya. Titik merah penanda sudah berpusat di tubuhnya.


“Tembak dia, anal-anak!”


Kalau Nikola sudah cukup gila untuk mendapatkan formula gas beracun, maka dia juga cukup gila menyuruh para penembaknya untuk menembak Alex yang berada di dekatnya. Meleset sedikit, dia akan ganti jadi korban. Memahami kegilaan bos mereka, para penembak pun melakukan tugas mereka.


Alex lengah. Dragon Blood pun terlambat bereaksi. Tembakan itu mengenai dirinya, dadanya, perutnya, juga lengannya. Rasa sakit melompat mengambil alih. Alex hanya bisa berteriak. Dibandingkan rasa sakit ketika operasi Zetta Sonic dilakukan padanya, ini tidak ada apa-apanya.

__ADS_1


Ketika tembakan itu selesai, Alex mendengar bagaimana Nikola tertawa dan seruan Jayden. Matanya mengerjap. Rasa sakit itu perlahan lenyap. Sekalipun dirinya tengah meringkuk di tanah, Alex tahu kalau dia belum tewas. Tembakan itu tidak benar-benar melukainya sekalipun dia melihat cairan merah.


Gantian Nikola yang lengah. Dia tidak awas ketika Alex menarik tubuhnya ke lantai. Nikola berteriak. Alex membuat tangannya terkilir. Para penembak panik tapi tak bisa berbuat banyak. Alex tengah menodongkan pistol ke kepala bos mereka. Pistol yang berbeda. Kali ini, dia tak ragu untuk menembak.


__ADS_2