
Alex akhirnya bisa melepas seragamnya di tempat dokter Vanessa. Dia duduk di atas ranjang merah, membelakangi si dokter yang sedang mengoleskan obat pada punggungnya. Profesor Otto duduk di sudut ruangan dekat deretan lemari obat. Jayden dan Tiger berada di sisi lain dekat meja dengan camilan dan coklat hangat di atasnya. Mereka semua sedang menghangatkan diri.
Kontainer tersebut jauh lebih hangat daripada tempat manapun yang ada di area gedung terbengkalai. Setiap sisi dalamnya bernuansa putih dengan pencahayaan berupa lampu garis seperti kebanyakan perangkat ICPA lain. Ada penghangat diletakkan di salah satu sisi ruangan, terpisah dari kebanyakan barang lain.
“Aku cukup yakin ini akan membuat bekas lebam besar. Di beberapa tempat. Tapi, hanya sementara. Tidak perlu cemas, Alex. Obat-obatan yang digunakan ICPA jauh lebih baik dari yang beredar di pasaran.” Dokter Vanessa bergerak menjauh sambil menutup obatnya.
Alex berputar agar bisa menghadap ke orang-orang lainnya. Tangannya menyambar kaus merahnya sembari turun dari ranjang. Latihan berturut-turut membuat badannya lebih terbentuk, terutama otot pada tangan dan perutnya. Belum bisa menyaingi Willy, lagipula dia juga tidak berniat punya otot sebesar itu.
“Jadi?” Alex menarik kausnya menutupi perut. “Misi apa lagi ini? Pabrik robot?” Alex menghampiri Jayden. Dia mengambil satu gelas coklat hangat dalam gelas kertas. Asap tipis masih mengepul. Panasnya membuat nyaman tangannya. Alex pun meletakkan tangan satunya ke sisi gelas juga.
“Penghancuran pabrik robot. Akan lebih sulit daripada yang kamu lakukan hari ini. Tapi, kamu sudah belajar caranya.” Jayden menyunggingkan senyum simpul. Alex hanya menggelengkan kepala. “Tidak akan ada laba-laba juga di sana.” Jayden terkikik.
“Diam!” sahut Alex. Bibirnya meniup permukaan coklat.
Jayden membuka laptop yang dia bawa. “Seperti orang-orang jahat lainnya, mereka selalu menggunakan kedok pabrik lain untuk menutupi produk sesungguhnya yang mereka buat. Dari luar, pabrik ini hanya tampak seperti pabrik biasa.”
Layar laptop menunjukkan sebuah pabrik dengan cat kelabu. Dindingnya dihiasi deretan kaca. Ada taman indah di bagian luarnya. Gedungnya dikelilingi tembok tebal dan dua gerbang pada sisi depan juga belakang. Gerbangnya nampak kokoh, bahkan mungkin terlalu kokoh. Selain kokoh, juga tinggi.
“Apa yang mereka produksi selain robot?” Alex mengernyit. Dia mendekatkan dirinya pada layar, berusaha menebak pabrik tersebut dari lambang besar di sisi atas pabrik. Lambang segiempat biru dalam segitiga sama kaki. “Sepertinya aku pernah melihat lambang ini.”
“Robot,” jawab Jayden. “Robot yang lain.”
__ADS_1
“Robot sapu!”
“Tepat. Robot sapu, vaccum cleaner, dan barang-barang pembersih lainnya. Biar kutebak, kamu memakainya satu di rumah.”
Di rumah, Alex tidak hanya memperkerjakan banyak pelayan. Dia juga menggunakan berbagai peralatan dan teknologi. Termasuk robot sapu yang disebutkan Jayden. Robot itu berbentuk lingkaran sebesar piring dan cukup tebal. Ketika diaktifkan, robot itu akan mengelilingi rumah, menyedot kotoran serta debu yang ada.
Robot itu biasanya digunakan di lantai satu, di ruang tamu yang luas. Tapi, dia tidak pernah sekalipun masuk ke dalam kamar Alex. Rover tidak suka padanya. Si anjing pernah mencengkram si robot di bawah kuku-kuku tajamnya membuat baret panjang juga dalam.
“Ini mengejutkan. Kukira mereka hanya memproduksi alat-alat rumah biasa.”
Jayden mengubah gambar layar. Kini, ada wajah si pemilik merk dagang tersebut. Seorang pria tua dengan kumis tebal yang sudah kelabu. “Seharusnya memang begitu. Aku sudah memeriksa pemiliknya.”
“Biar kutebak. Dia bersih.”
“Kupikir dia juga tidak akan membiarkan pabriknya disusupi produksi seperti ini.”
“Sejak beberapa tahun lalu, dia mulai mewariskan pabrik ini pada anak-anaknya. Salah satunya pada putri bungsunya. Tracenita Gracia Killeron. Dia menikahi pengusaha kaya dari status sosial yang sama.” Jayden mengganti lagi layar laptop. Kali ini muncul beberapa foto pernikahan dan foto keluarga. “Sejak menikah, nama keluarganya berganti jadi Shah.”
“Nikola Shah!?” sahut Alex. “Dia menikahi Nikola Shah?”
Alex merasakan dahinya langsung berkerut. Tangannya mencengkram gelas kertas. Isinya langsung tumpah keluar. Seketika itu juga, Alex sadar membiarkan emosinya meluap. Dragon Blood merespon, memberikan kekuatan yang berlebihan. Dia sadar kalau emosi dan mentalnya ternyata terkait dengan kekuatan tersebut, jauh dari bayangannya.
__ADS_1
“Sabar, bocah!” Tiger melemparkan kain lap padanya.
Alex menunduk malu. Misi pertamanya tidak berjalan baik. Nikola shah memang berhasil ditangkap, tapi orang itu berhasil membuat salah satu model ternama tewas. Alex bukan kesal karena model itu cukup digandrungi teman-temannya. Dia kesal karena sebuah nyawa melayang akibat kelambanannya.
Jayden melanjutkan setelah Alex membersihkan kekacauannya. “Dia bukan menikah dengan Nikola. Nikola terlalu jelek untuknya. Dia menikah dengan Filip Shah, adik kandung Nikola Shah. Dengan pengaruh Filip, pabrik itu kini memproduksi barang lain selain peralatan pembersih. Sepertinya mereka ingin membersihkan dunia dari hal-hal yang tidak sesuai keinginan.”
“Orang-orang tamak!” gerutu Alex. “Jadi, mereka memproduksi robot pembunuh?”
“Tepat sekali!” Jayden menjentikkan jari.
Alex mengambil satu gelas coklat hangat lagi. Dia membiarkan ingatannya soal robot pembunuh itu keluar ke permukaan. Alex ingin menghabisi mereka sampai ke akarnya. Teknologi sesungguhnya tidak jahat. Manusialah yang jahat. Mereka memanfaatkan teknologi dengan salah. Alex jadi berpikir apa yang akan terjadi seandainya Dragon Blood jatuh ke tangan Damon bukan dirinya. Selanjutnya, dia langsung sadar bukan di posisi untuk mengomentari. Dragon Blood seharusnya bukan dibuat untuknya.
Profesor Otto berdehem. Perhatian orang-orang itu tertuju padanya sekarang. “Kulihat kalau kamu bisa mengontrol kekuatanmu dengan lebih baik, Alex. Aku mengapresiasi itu. Jadi, aku mengajukan namamu untuk menjalankan misi ini pada Nadira.”
Mendengar ucapan si profesor, Alex merasa terkesan dan curiga. Apalagi ketika Jayden mendesah pendek dan Tiger melempar pandangannya menjauh. Si profesor nampaknya lebih tertarik pada penelitian daripada penghancuran robot pembunuh. Alex tahu dugaannya benar ketika profesor bicara lagi.
“Aku menyiapkan barang-barang baru untukmu. Selain itu, aku juga membuatkan seragam baru yang bisa kamu pakai besok.”
Alex mulai berpikir kalau seragamnya sekarang hanya akan digunakan untuk latihan. Jadi, tidak masalah sama sekali kalau seragamnya rusak parah oleh bom. Pantas saja Nadira memasang peledak sungguhan di sana. Penasaran, Alex tergoda untuk bertanya, “Apa seragam baru ini berwarna putih?”
Profesor Otto tertawa. “Seragam barumu bisa berubah warna sesuai keinginanmu.”
__ADS_1
“Kedengaran menarik. Apa seragam ini juga disertai dengan sayap? Kupikir Zetta Sonic tidak perlu izin penerbangan untuk menjelajahi angkasa.” Alex tak mendapat jawaban, namun dia mendapat sebuah seringai seorang ilmuwan gila.