
Tempat itu masih sama seperti yang diingat Mark. Mereka masuk melalui sebuah gua yang berada di tepi tebing. Bedanya, kali ini mereka ke sana siang hari. Mark bisa mengamati perjalanannya. Hal lain yang terasa berbeda adalah jalannya. Gua itu kini benar-benar berada di sisi tebing curam. Mustahil bagi pejalan kaki ke sana tanpa bantuan alat memanjat.
Untungnya, mereka tidak perlu berjalan ke sana. Suku Kloster, dibantu oleh ICPA, telah mengembangkan papan yang bisa melayang di udara. Menggunakan papan tersebut, mereka bisa tiba di mata air jauh lebih cepat.
Suasana di dalam gua juga sedikit berbeda. Mata air itu masih mengalir dari dinding batu. Kejernihannya tak berubah. Hal terasa paling berbeda adalah sekeliling dinding gua. Hampir seluruhnya kini ditutupi oleh ukiran bahasa Kloster. Di sisi kanan dan kiri mata air ikut berubah. Tesiana menempatkan sepasang patung manusia. Keduanya ditutupi oleh kain tenun serupa yang diberikan pada Alex tadi. Mereka juga memakai kalung berbandul bulat.
Tanpa membahas bagaimana kondisi lebih lanjut, mereka membaringkan Alex di tepi aliran air sementara profesor langsung bekerja. Jayden bersedia di samping Dominic untuk membantu. Gavin masih terperangah oleh dinding gua. Para pasukan suku yang lain berjaga di depan pintu gua.
“Tanahnya longsor, kalau kamu penasaran.” Tesiana memberi tahu ketika Mark berjalan di dekatnya.
“Aku bahkan akan percaya kalau kamu meledakkannya,” balas Mark.
Tesiana tak membalas lagi. Dia hanya menempatkan jarinya di bibir.
Mark menghampiri Alex yang terbaring. Putranya lebih mirip mayat sekarang. Tergeletak, bergeming. Wajahnya pucat dan bibirnya begitu kering. Ketika Mark memeriksa suhu badannya, dia tahu kalau demamnya di atas rata-rata yang bisa ditanggung oleh manusia.
“Kamu sebaiknya cepat,” katanya pada sang profesor.
“Aku melakukan secepat yang aku bisa. Perca—“
“Aku percaya padamu, Dominic.”
“Terima kasih.”
Alex membuka matanya perlahan. Situasi itu asing baginya. Tempatnya berbaring sama sekali tidak rata dan justru menusuk-nusuk punggungnya sekalipun kepalanya sudah diganjal. Dia merasa dingin dan mulai mati rasa di beberapa bagian. Alex mencoba menggerakkan jarinya. Dia menggunakan mereka untuk menyentuh ayahnya yang sedang mengamati pekerjaan si profesor.
“Hei.” Mark berpaling sebelum jemari Alex sempat menyentuhnya.
__ADS_1
“Apa yang akan terjadi?” tanya Alex pelan.
“Kamu akan baik-baik saja. Tunggu sebentar, oke?”
“Apa yang akan terjadi setelah ini?” Alex mengulang pertanyaannya. Matanya terasa begitu berat, jadi dia membiarkan matanya kembali tertutup. “Kita kembali ke markas masing-masing. Bertindak seolah ini tidak pernah terjadi. Terdengar seperti rencana?” Alex tak yakin apa yang keluar dari mulutnya benar-benar keluar juga dari pikirannya. Dia merasa seperti sedang melantur.
“Tidak.” Mark tidak perlu menggeleng. Itu bukan suatu ide yang sempat terlintas di benaknya. “Apa yang sudah muncul di permukaan tidak akan bisa ditutupi selamanya, Alex.”
Alex membuka matanya lagi. “Kalau begitu, apa?”
“Aku akan membawamu kembali.”
Alex tak paham ucapan ayahnya. Dia diam sembari mengamati wajah ayahnya, berusaha mencari pesan di sana. Namun, pikirannya terlalu lelah. Pada akhirnya, Alex kembali memejamkan mata. Kali ini, dia tak membuka matanya lagi untuk bicara.
Spontan, Mark meletakkan tangannya pada dahi Alex tadi. Entah karena kecemasannya atau memang suhunya meningkat. Tubuh itu panas seperti terbakar. Mark melirik Dominic yang masih sibuk menyiapkan cairannya. Dia sendiri telah memilih untuk percaya pada si profesor dokter tersebut dan akhirnya hanya diam.
Tesiana memilih bergabung dengan Mark. “Kamu melakukan tugasmu dengan baik.”
“Kamu sebenarnya sudah tahu lama soal identitas Alex namun tidak bicara apa pun. Kenapa? Kamu ingin dia berkembang apa pun risikonya. Itu keputusan yang layak diambil. Percayalah, kamu telah melakukan tugasmu dengan baik. Aku tahu bagaimana rasanya.”
“Ini soal bagaimana kamu menjadi kepala suku, bukan?” Mark akhirnya menoleh. “Langkahmu berani.”
Tesiana sama sekali tidak tersenyum, “Para tetua hingga hari ini masih menganggap kalau keputusan ayah menjadikanku penerus adalah sebuah kesalahan. Ini bukan soal gender, ini soal merahasiakan suku Kloster. Kalau kami memilih tetap tertutup dari dunia luar, Kloster akan tetap aman. Nyatanya, aku percaya kalau kami tidak bisa seterusnya berdiam diri. Dunia membutuhkan kami dan kami membutuhkan dunia. Aku hanya melakukan apa yang kubisa untuk membantu kalian. Sekalipun itu berakhir pada masuknya ajaran korup ke dalam suku.”
“Naray?” tebak Mark.
“Kamu tahu, dia bukan orang pertama. Kami telah mendapati beberapa anggota suku mulai memiliki paham yang berbeda. Mereka melupakan kehormatan suku dan memilih menjadi tentara bayaran di luar. Karena orang-orang tamak itu, pandangan kalian pada kami berubah. Banyak orang berpikir kalau kami adalah suku pembunuh. Itu sangat menyakitkan.”
__ADS_1
“Kamu berjanji untuk membawa keadilan bagi suku Kloster. Menghukum mereka yang bersalah dan tidak membiarkan dunia luar mengadili mereka.” Mark menepuk bahu Tesiana. Wanita itu masih sama seperti yang dia ingat. Gadis cerdas, tegas, berpendirian teguh, juga menyembunyikan banyak hal termasuk kelemahannya. “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Kamu mungkin kehilangan anggota sukumu, tetapi yang terpenting kamu tidak kehilangan dirimu sendiri.”
“Benar. Dan, aku berhutang maaf padamu. Maafkan aku.”
“Soal apa?” Mark menarik tangannya dari bahu Tesiana. Sebagai gantinya, dia memeriksa denyut nadi Alex yang makin sulit dideteksi.
“Sebenarnya, pada awalnya aku tidak berniat memberi tahu kamu kalau Alex berada di sini. Ada Gavin di sini, jadi seharusnya kamu sudah tahu. Kalau seandainya aku langsung memberi tahu, mungkin kondisinya tidak akan seperti ini.”
Mark melirik Gavin yang berada jauh di belakang mereka. Pria itu hanya diam dekat para penjaga sejak mereka tiba. “Gavin tidak pernah bilang apa pun padaku. Tapi, aku tahu dia menyembunyikan sesuatu.”
“Kamu mengirim dia untuk menangkap Naray yang kabur ke Sinde.”
“Karena aku yakin Nadira akan berang kalau tahu soal adanya agen Regis di sana. Sementara kalau Gavin yang kukirim, masih ada kemungkinan dia meminta bantuan Special Force. Jujur saja, aku sendiri tidak mengira kondisinya akan seperti ini.” Kemudian Mark teringat akan hal lain. “Bandul itu, liontin yang selalu kalian berikan pada pendatang, apa yang tersimpan di dalamnya?”
“Kamu penasaran kenapa batunya bisa menyengat orang berjiwa kotor? Sayangnya, aku tidak punya jawaban soal itu.”
“Kamu belum siap membuka rahasianya pada kami?”
“Tidak. Kamu sendiri tahu kalau kami bahkan tidak tahu ada berapa banyak rahasia yang disimpan oleh pulau ini. Siapa yang sangka kalau mata air ini bisa menciptakan monster?”
“Otto sudah tewas.”
“Dia layak mendapatkannya.”
“Bagaimana dengan pelaku yang membocorkan informasi itu? Aku tahu seseorang membocorkan berbagai keunikan Kloster ke dunia luar.”
“Kami sedang mencarinya. Daripada itu, bagaimana denganmu? Apa kamu sudah menemukannya, juga si penadah? Hampir semua informasi yang dijual berakhir pada satu orang. Aku yakin itu bukan kebetulan.”
__ADS_1
Mark mengangguk. “Di dunia kita, kebetulan itu sesuatu yang terlalu indah. Kami juga belum menemukannya, tapi kami sudah dapat namanya. Roban. Ini hanya soal waktu.”
Dominic akhirnya berbalik dengan suntik berisi cairan kebiruan. Mark memperhatikan bagaimana cairan tersebut berpindah ke dalam tubuh Alex. Mereka menanti. Menanti. Dan, menanti tanpa hasil.