
Alex menerobos kerumunan. Matanya mengawasi setiap sudut ruangan yang makin penuh. Dia tak berhasil menemukan sasarannya. Naray telah lenyap.
[Dia hilang.]
“Aku tahu,” ujar Alex nyaris tanpa suara pada Jayden.
[Bukan Naray. Cody.]
“Tunggu! Apa?” Alex bergeming di posisi sambil masih memegang gelas jusnya. Matanya mengawasi setiap orang yang berlalu lalang di dekatnya. Dia tak mau kalau Naray atau Cody sampai mengejutkannya.
[Sinyal pemancarnya tiba-tiba hilang begitu saja. Dia mungkin tahu kamu memasukkannya dan segera membuangnya begitu ada kesempatan. Tapi, itu mustahil. Kecuali kalau dia tahu kamu Zetta Sonic—]
“…dan dia Bug yang kita cari.”
Alarm kencang meraung. Alex terperangah bersama orang-orang di sekelilingnya. Seseorang berteriak kalau itu alarm kebakaran dan mulai memicu kepanikan. Beberapa orang mencoba berlari keluar. Di tengah keributan itu, ada teriakan lain yang menyebut hantu. Alex tahu telah kecolongan.
“J! Di mana dia?” Alex pun langsung berlari.
[Cody atau permatanya?]
Alex menerobos kerumunan. Ralat. Dia berusaha melawan arus. Orang-orang itu berusaha keluar dari ruangan sementara dirinya ingin menuju ke lokasi tempat Opal hitam itu dipamerkan. “Dia mendapatkannya?”
[Aku enggak melihat Cody di mana pun. Tapi, permatanya masih di sana. Melayang-layang ke arahmu dan…] Jayden berhenti di sana.
Alex menengadah ke atas. Dia melihatnya. Sebuah permata bulat warna hitam hampir seukuran kepalan tangan. Warna hitamnya berkilauan ketika diterpa cahaya lampu. Elegan dan mengundang mistis. Alex terpukau untuk sesaat sampai permata tersebut berhenti di atasnya. Seolah kehilangan sihir atau apa pun yang membuatnya melayang, opal hitam itu pun jatuh ke bawah tepat di atas genggaman tangan Alex.
“Pe— Permatanya—”
__ADS_1
[Tunggu! Apa yang terjadi?] Jayden tak kalah keheranan seperti Alex.
“Itu dia!” Terdengar teriakan disertai derap kaki mendekat. Sekumpulan orang membelah kerumunan itu dan tiba di depan Alex. Kumpulan laki-laki berbadan besar mengenakan seragam hitam. Petugas keamanan.
Sebelum Alex berbisik lirih, Jayden sudah bicara lebih dulu. [Jangan lari, tetap tenang. Serahkan permata itu pada mereka.]
Alex suka jadi pusat perhatian tapi bukan di tengah kerumunan dan ditatap petugas keamanan seperti itu. Setiap orang bergeming di posisinya. Hanya ada beberapa tamu undangan yang mundur perlahan seolah ingin menjaga jarak.
Di antara mereka ada Cody yang menatapnya juga dengan melongo. “Alex? Apa yang kamu lakukan?”
Alex tahu. Cody terlibat. Dirinya menggeram tanpa sadar.
[Alex.] Jayden memanggil lagi.
Alex berhasil memulihkan dirinya dari kekesalan. Dia mencoba sebaiknya tampil seperti saksi mata atau korban di sana. “Permata ini melayang di udara lalu jatuh begitu saja. Apa ini bagian dari pertunjukkan?” tanya Alex seraya mengulurkan batu permata di tangannya pada petugas terdekat.
Bukannya menerima batu tersebut, si petugas justru menangkap pergelangan tangannya. “Kamu lebih baik ikut dengan kami.”
Sementara itu, petugas lain mendekat. Dia memungut batu lalu menyerahkannya pada pria tua berjas hitam dengan name tag, si penyelenggara pameran. Kalau dia orang yang mengenal Nadira, Alex yakin Nadira akan membantu meluruskan kesalahpahaman ini.
“Apa yang kamu butuhkan dariku, pak petugas?” Alex bertanya. Matanya menatap lekat-lekat si petugas keamanan. Dia memastikan akan menghafalkan wajah dan nama yang tertera di seragam, siapa tahu ingin membalas ketidakramahan itu suatu hari nanti.
Si petugas melepaskan cengkramannya. “Tolong ikut dengan kami,” katanya lebih lembut.
Merasa kalau itu pilihan terbaik, Alex mengangguk. Dia menyempatkan diri melirik ke arah Cody yang tersenyum simpul. Alex pun meninggalkan kerumunan yang mulai berangsur-angsur lenyap. Penyelenggara pameran memilih untuk menyelesaikan pameran mereka lebih awal.
Alex dibawa ke sebuah ruangan sempit. Satu sisi dindingnya tertutup deretan lemari sementara ada papan tulis besar di seberangnya berisi jadwal piket. Ada juga meja di tengah ruangan dengan beberapa kursi besi. Seorang petugas menyuruh Alex duduk. Kali ini pun, Alex tidak membantah.
__ADS_1
Si petugas itu pun duduk tepat di seberang Alex. Dia sudah membawa tablet PC berisi daftar tamu dan sedang memeriksa. “Alexander Hill?” tanya si petugas. “Kamu putra aktris Alicia Remnant?” Matanya bolak balik melihat ke daftar tamu lalu ke wajah Alex. “Ya, kalian lumayan mirip.”
“Boleh kutahu kenapa aku dibawa ke sini?” Alex bertanya lagi. Dia menatap laki-laki di depannya lalu menoleh pada beberapa petugas lain yang berjajar dekat pintu ruangan.
“Baiklah.” Si petugas pun memutar tablet PC agar Alex bisa melihatnya. Di sana nampak rekaman kamera pengawas. Ada sosok berbaju merah yang sedang berlari menerobos kerumunan orang. “Bisa kamu jelaskan kenapa kamu berlari ke arah podium, melawan arus, sementara kebanyakan orang berusaha lari ke luar?”
Alex mendengus geli. “Aku mendengar salah seorang tamu berteriak soal hantu dan ingin melihatnya.”
“Hantu? Kamu tahu siapa yang berteriak atau kenapa dia berteriak?”
Alex mengangkat bahunya. Itu pertanyaan konyol dan siap dia jawab juga dengan jawaban konyol. “Kuharap aku tahu jadi aku bisa tanya. Aku belum melihat hantu sejauh ini.”
“Batu Opal itu jatuh padamu. Tepat ke tanganmu. Apa kamu tahu kalau kami mendapat ancaman pencurian sebelumnya dari penjahat bernama Bug? Dia semacam penyihir. Kupikir mungkin kamu mengenalnya.”
Alex memasang muka melongo dan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya malah tertawa. “Hahaha… Apa ini lelucon?” Tak seorang pun membalas. Jadi, Alex berpura-pura salah tingkah dan meminta maaf. “Maaf, itu sungguhan?”
Petugas di seberang Alex menggelengkan kepala. “Tidak ada lelucon di sini, nak. Kamu baru saja jadi saksi mata pada percobaan pencurian Opal hitam. Perlu kutekankan kalau statusmu sebagai saksi mata bisa naik jadi tersangka.”
“Aku tidak tahu apa-apa soal itu. Soal opal yang melayang atau… serangga. Apa pun itu.” Alex mengangkat kedua tangannya. “Aku tidak tahu sedang terlibat apa. Perlukah aku membawa pengacara ke sini?”
Lawan bicaranya menyipit. “Mungkin kamu bisa mulai mempertimbangkannya.”
Alex pun terkekeh. “Aku baru saja berpikir kalau kalian menuduhku mencurinya hanya karena batu opal itu jatuh padaku. Wow! Bayangkan saja. Aku menggunakan sihir lalu membuat batu itu melayang padaku. Seharusnya kulakukan itu di luar agar tidak tertangkap kamera. Oh, tunggu. Mungkin aku bisa menukarnya dengan kartu kredit.”
Ucapan Alex membuat para petugas keamanan saling melempar pandang. Kenyataan bahwa keluarganya sanggup membeli batu permata tersebut memang bukan kebohongan. Belum lagi logika kalau benar dia pelakunya, dia seharusnya membuat batu itu datang padanya di luar ruangan.
“Baiklah,” kata si petugas keamanan lagi, “mungkin ada sedikit kesalahpahaman di sini.”
__ADS_1
Alex hendak membalas ketika ada pria lain berlari-lari masuk ke ruangan. Pria muda ini mengenakan jas dan mengenakan name tag pula. Pria muda ini berbisik pada petugas keamanan dan segera saja ada perubahan raut wajah. Si petugas keamanan melongo. Berikutnya, gantian Alex yang melongo ketika melihat pria lain memasuki ruangan.
Ayahnya.