
Di sisi lain ibukota, dua sejoli sedang menikmati sarapan mereka yang tenang. Mungkin, malah terlalu tenang. Dominic menuangkan kopi untuk wanita yang selalu membuatnya terpesona sekaligus tertantang. Dokter Vanessa membuatnya panas dingin. Memuji gadis adalah hal yang begitu mudah buatnya — juga memberinya predikat playboy. Namun, mengajak seorang wanita dalam hubungan serius itu jelas lain ceritanya.
Topik pembicaraan adalah hal pertama yang selalu mereka bahas. Mereka punya pekerjaan yang sama, seorang dokter. Sejak mencuatnya kasus di pulau Kloster, Dominic menceritakan semuanya pada Vanessa. Itu tak membuat si dokter wanita terkejut. Tidak perlu. Vanessa sudah berulang kali mendapat pencerahan ketika bicara dengannya. Semuanya jadi lebih masuk akal ketika Dominic mengaku kalau dia sedikit banyak paham soal Dragon Blood. Bagaimanapun juga, dia pernah meneliti cairan yang sama. Sayangnya, Otto punya visi yang bertolak belakang dengan miliknya.
“Saat kamu bilang kalau tahu banyak hal soal Zetta Sonic, aku sama sekali tidak berpikir kalau kamu juga pernah berniat membuat eksperimen yang sama,” ujar Vanessa sembari menarik cangkir mendekati dirinya. Ada beraneka jenis roti di antara mereka selain teko kopi.
“Tidak sama,” sahut Dominic cepat-cepat. Dia menawarkan gula pada lawan bicaranya. Vanessa menggeleng, jadi dia menambahkan gula hanya di dalam cangkirnya sendiri. “Aku tidak membuat cairan berbahaya untuk membunuh orang.”
“Baiklah, tidak sepenuhnya sama. Aku setuju. Mendengar sulitnya kamu bisa mencapai mata air itu, apa kamu tidak penasaran bagaimana profesor Otto bisa mendapatkan akses ke sana?”
“Orang dalam.”
“Lalu?”
“Lalu?” Dominic mengulang pertanyaan Vanessa. Dia melihat wanita itu mengangkat kedua alis menunggu jawabannya. “Lalu… aku tidak punya jawabannya. Maksudku, kami belum tahu soal itu. Para agen sedang mencarinya. Tesiana sendiri sudah memeriksa anggota sukunya. Mereka semua bersih.”
“Artinya, itu dilakukan oleh orang dalam yang sudah tidak tinggal di desa itu lagi,” lanjut Vanessa.
“Benar.” Dominic menyesap kopinya. Hangat dan manis, namun wanita di depannya mengalahkan itu semua. Dominic menggeleng, membuang jauh-jauh lamunannya yang mengalihkan perhatian. “Tesiana juga berpikir kalau mungkin ini dilakukan oleh anggota yang sudah meninggalkan suku. Kloster lebih membuka diri sekarang. Banyak yang bersekolah di luar atau menikah dengan orang luar.”
“Menikah? Kupikir suku Kloster dianggap sebagai suku pedalaman.”
“Memang, tapi itu bukan alasan mereka tidak bisa bahagia di luar sana. Sejak Tesiana menjadi kepala suku, Kloster lebih luwes. Dia membiarkan ajaran luar masuk ke dalam dan mengizinkan anggota sukunya keluar. Itu agaknya membuat masalah.”
“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana gadis itu menghadapi para tetuanya.”
“Sulit. Tapi, dia bertahan. Tesiana sendiri pernah bersekolah di luar bahkan menjadi anggota ICPA meski hanya sebentar. Dia mempertahankan agar hubungan ini tetap terjaga. Menangkap siapa pelaku kebocoran data ini akan membantu semua pihak.”
__ADS_1
Vanessa mengangguk. “Membantu kalian juga membantu Tesiana mengembalikan kepercayaan orang padanya.”
Dominic mulai menyantap sarapannya. Vanessa melakukan hal yang sama. Wanita itu memperhatikan bagaimana pria di depannya kadang mencuri pandang padanya. Alih-alih bertukar senyum, Dominic malah langsung mengarahkan pandangannya pada hal lain.
“Jadi,” kata Vanessa sambil menghentikan semua kegiatannya, “mengaku saja, kamu mendekatiku karena Zetta Sonic, bukan? Kamu penasaran soal Dragon Blood dan Otto.”
Dominic mendapat pertanyaan sama sebelumnya. Dia menghela napas pelan lalu ikut menghentikan kegiatannya. “Harus kuakui, iya. Tapi, sekarang? Tidak. Justru sebaliknya. Aku mendekati Special Force karena ada dokter cantik di sana yang memikat hatiku. Kalau tidak, untuk apa aku repot-repot kembali ke sini?”
“Entahlah. Mungkin kamu berjiwa sosial sehingga mau membantu ICPA cabang lain yang sedang membutuhkan.”
Dominic tergelak. “Jadi, bagaimana kalau kita bicarakan soal masa depan kita?”
Vanessa tersenyum simpul. “Kamu tahu aku sudah punya anak, ‘kan?”
Dominic tahu kalau Vanessa telah berpisah dari suaminya. “Aku tahu. Aku kenal anak-anakmu. Jayden, Emil, Alex. Ada lagi yang perlu kukenal?”
“Sepertinya masih ada. Ini masih dalam tahap dibicarakan.”
Seperti kata Vanessa. Itu masih dalam tahap pembicaraan. Nadira berang dibuatnya.
[Aku tidak percaya kamu memberikan akses pada Alex untuk bicara dengan penjahat!] Nadira berteriak. Dia tidak peduli bila pengeras suara di seberang sana protes karenanya. [Kamu keterlaluan, Jayden! Tiger, berikan dia hukuman!]
Jayden mengangkat kedua alisnya. Dia berada di ruang kontrol bersama Emil dan Tiger. Tiger bergeming sambil memutar bola matanya dan Emil malah menutup telinganya dengan kedua tangan.
“Alex tidak menghubungi penjahat, hanya menghubungi temannya,” balas Jayden. “Dia—]
[Semua orang yang ada di penjara khusus ICPA adalah penjahat. Apa maksudmu kita salah tangkap? Jangan bercanda! Untung Fergus menangkapnya tepat waktu sebelum kabur. Kalau tidak, dia akan kabur seperti Bompeii.]
__ADS_1
“Bompeii sudah tewas.”
[Tepat. Itu yang terjadi kalau kita tidak berhati-hati.] Nadira memijat dahinya. [Apa yang kalian pikirkan sampai mau melibatkan anak itu? Kalian ingin teknologinya? Kita sudah mendapatkannya.]
“Belum sepenuhnya. Ada kode yang belum terpecahkan. Robot mikro itu mengenali pemiliknya lewat DNA. Itu pernyataan dari tim riset ICPA di bawah pengawasan Fergus.”
[Dia bukan pembuatnya.]
“Robot mikro itu patuh padanya bukan pada kita. Selama kita tidak bisa menerobos sistem keamanannya, mustahil mengganti kode DNA pengalnya. Kalau gegabah, robot itu malah akan berbalik menyerang kita. Dan, kudengar itu memang sudah terjadi.”
[Kita akan segera memecahkan kodenya, Jayden. Seperti biasa.]
Jayden ikut memutar matanya. Bicara dengan Nadira selalu terasa alot. “Alex dan aku berpikir kalau kita butuh sesuatu yang baru untuk melawan Baron. Cody mungkin bisa jadi jawabannya.”
[Tidak. Cukup satu bocah saja di Special Force.]
Tiger terkekeh tanpa bicara apa pun. Emil mengalihkan perhatian, dia sudah bosan mendengarkan percakapan tanpa hasil itu.
Setelah Nadira menghela napas panjang, dia pun kembali bicara. [Kalau kalian punya agenda lain, langsung katakan saja. Kenapa harus sejauh ini sampai ingin mengajaknya bergabung? Apa yang diinginkan Alex?]
“Baiklah,” kata Jayden sambil membawa dirinya condong ke depan, sedikit lebih dekat dengan layar. “Awalnya ini memang hanya ide gila Alex. Dia ingin ngobrol dan mencari tahu cara agar para robot itu bisa menurut pada kita.”
[Lihat? Alex berpikir sama denganku!]
“Tapi,” sahut Jayden.
[Aku tidak suka kata ‘tapi’.]
__ADS_1
“Alex melihat Cody dalam kondisi menyedihkan. Anak itu terlihat putus asa. Alex berpikir kalau kalian mungkin bisa mempertimbangkan ulang hukumannya. Mungkin, hukumannya bisa diganti dengan membantu kita seperti Special Force menghadapi Baron.” Jayden bicara lebih pelan di akhir kalimat karena sesungguhnya dia tidak yakin dengan ide Alex tersebut.
[Cody bukan Alex. Dia tidak siap untuk tewas demi membela kebenaran. Membiarkan Cody membantu kita hanya akan menambah masalah baru. Katakan pada Alex, aku menolak mentah-mentah permintaannya. Ah, bukan. Katakan padanya, aku tidak menerima usulan buruk.] Sebelum mematikan jaringan komunikasi, Nadira menambahkan. [Kupikir semua sudah selesai dibahas. Kalian bisa lanjutkan tugas kalian sementara aku akan bicara pada Fergus soal hukuman Cody.