
Siswa yang lebih besar melepaskan cengkraman tersebut setelah mendapatkan yang dia mau. Sebuah kotak kecil plastik dengan gambar naga dan ledakan di belakangnya.
“Ada apa, nih?” Alex berdiri di belakang mereka dengan tangan terlipat di depan dada.
“Yo, Alex! Akhirnya kamu masuk lagi, toh.” Anak yang lebih besar menyambar tasnya sendiri seraya menghampiri Alex. “Coba lihat! Ini versi baru Drake and His Land!”
Alex melirik pada anak yang lebih kecil. Anak itu menghindari tatapan matanya. Dia membenarkan seragamnya yang berantakan, lalu buru-buru pergi menjauhi keduanya. Alex melirik temannya. “Kamu … mengambil barang itu darinya, Willy?”
“Aku hanya pinjam, kok. Papa Cody ‘kan salah satu pemegang saham di Nile App. Makanya, dia selalu dapat copy terbaru, seperti ini. Drake and His Land. Expansion Pack. Combustion.” Willy mulai berjalan di lorong luas tersebut. Dia sedikit lebih besar dari anak seusianya. Badannya bagus karena dia menghabiskan waktu di gym sama banyaknya dengan waktu untuk bermain game. Rambutnya dipotong cepak, separuh emas, separuh hijau.
Wood Peak tidak pernah melarang siswanya mengecat rambut. Alex punya beberapa pemikiran. Mana pun yang benar tidak membuatnya ikut mengecat rambut.
Alex menyamakan langkahnya dengan Willy. Anak itu punya kebiasaan berjalan dan bicara dengan cepat. “Kedengarannya seru. Kamu mau coba itu?”
“Iya, dong. Gimana kalau kita main di tempatmu? Nanti akan kuajak Ivan juga dan Leta.” Willy berdehem. “Aku yakin kamu akan suka ide itu.”
“Ya, tentu saja!” Alex tidak bohong. “Masalahnya, aku sudah punya rentetan acara kursus. Mrs. Bellsey enggak akan melepaskanku begitu saja setelah misi-- … maksudku camp tempo hari. Kamu ada ide?”
“Kita bisa bermain di ruanganmu selama kamu kursus.”
“Ide brilian! Akan kusuruh Rover jadi teman bermainmu nanti. Dasar kejam!”
“Kamu yang kejam!”
Keduanya tertawa. Alex tak ingat kapan terakhir kali dia bercanda dengan teman-teman sekelasnya atau membicarakan soal cewek. Willy sendiri sudah punya pacar dari sekolah lain. Dia cukup berambisi membuat Alex jadian dengan Leta agar mereka bisa segera kencan ganda. Alex tak menolak idenya.
__ADS_1
Mereka tiba di ruang kelas besar. Ruangan itu dibagi jadi empat tingkat. Tiga tingkat untuk tempat duduk mereka dan tingkat paling bawah dilengkapi podium serta papan tulis untuk pengajar. Di pagi hari seperti ini, jendela di sisi kanan memancarkan cahaya hangat juga pemandangan halaman dalam yang luas. Alex dan Willy tidak akan duduk di sana. Terlalu terang. Kurang nyaman untuk tidur.
“Jadi, kamu ikut camp apa?” Willy meletakkan tas di meja. Tidak berniat menarik kursi, dia langsung saja duduk di samping tasnya.
Alex mengeluarkan laptop dari ransel sambil bergumam. “Bukan camp menyenangkan. Hanya pelatihan sederhana untuk bertahan hidup. Aku heran kenapa ibuku bisa tiba-tiba saja mendaftarkanku untuk camp semacam itu.” Alex sendiri heran kenapa dia bisa berbohong semudah itu pada siapa pun.
Willy mengangguk. “Mungkin ibumu berpikir kamu bisa belajar duluan sebelum kita camping,” katanya sambil menguap.
“Itu hanya camping dua hari satu malam.”
“Terlalu lama atau terlalu cepat?”
“Terlalu cepat! Kita seharusnya bisa menghabiskan waktu beberapa hari. Enggak gampang meyakinkan orang tua untuk memberikan izin seperti itu pada anak-anaknya. Ayahmu juga awalnya enggak mengizinkan, ‘kan?”
“Kamu dengar ceritanya dari Ivan, ya? Papaku memang sempat menelepon kepala sekolah bilang kalau acara itu enggak pentinglah, berbahayalah, macam-macam deh. Akhirnya setelah ngobrol sama mama, beres sih. Kamu?”
“Tahan jiwa petualangmu, Alexander yang agung. Masih ada beberapa hari sebelum camping tiba. Kita masih harus melewati kelas membosankan dan kuis.” Willy menguap sekali lalu melompat turun. “Eh, kamu sudah dengar topik kelas Self-Defense minggu ini?”
“Kalau kamu nanya, pasti sesuatu yang aneh, nih.” Alex mengabaikan laptop yang sudah menyala. Sambil memicingkan mata pada temannya, dia mulai membuat tebakan. “Memanah?”
Willy langsung tertawa terbahak-bahak karenanya. “Memanah? Buat apa kita belajar memanah? Itu sudah kuno, bro!”
“Oke, oke. Gulat?”
“Hampir benar. Kita akan belajar boxing minggu ini. Katanya, mereka sudah mempersiapkan arena tinju sungguhan di gedung gym. Terus, nanti bakal ada turnamen kecil begitu buat menentukan siapa yang terbaik di setiap kelas. Bakal seru, nih!”
__ADS_1
Alex menyadari kalau senyumnya sempat tertahan. Dia bukannya tidak suka dengan ide sekolah mereka. Sebaliknya, dia yang biasa akan langsung bersorak bersama Willy. Tapi, dia yang sudah terinjeksi Dragon Blood sekarang merasakan sedikit kecemasan. Dia sudah merasakan pertarungan sungguhan melawan robot dan pembunuh bayaran. Bukan sesuatu yang ingin dia ulang.
Meski begitu, Alex tetap bisa tersenyum lebar. “Pasti asyik, tuh!”
Saat itu, mata Alex menangkap tiga gadis yang baru berjalan masuk ke kelas. Satu di antaranya punya rambut lurus sebahu berwarna coklat muda dengan mata hitam legam seperti langit malam. Salah satu siswa populer di sekolah mereka. Leta, putri bungsu dari pasangan musisi internasional. Kemampuan bermain musik dan suaranya tak perlu dipertanyakan sama sekali. Teman-teman mereka justru heran kenapa Leta belum merilis album hingga sekarang.
“Ayo!” sahut Willy sambil menepuk bahu Alex. Tanpa menunggu balasan Alex, dia menghambur pada ketiga gadis tersebut. “Yo! Leta, nanti malam ada acara enggak?”
Leta tak lantas menjawab. Dia hanya mengembangkan senyum manis yang justru membuat Alex berdebar.
Willy bergeser sedikit, memberi tempat agar Alex bisa berhadapan langsung dengan Leta. “Alex ngajakin kita ke rumahnya. Makan malam, main bareng, gitu deh. Mau ikut? Yang lain juga boleh ikut, kok.”
Begitu Willy selesai bicara, Alex langsung menyahut. “Aku baru saja mendapat kiriman tuna arktik besar. Kupikir, makan bersama pasti lebih menyenangkan. Jadi, mungkin nanti malam jam tujuh di rumah?”
Leta masih tersenyum. “Aku suka tuna.”
Willy berbalik pelan sambil berbisik di telinga Alex. “Lanjutkan. Dia suka tuna.”
Alex sadar kalau ide tuna itu didapatkannya dari misi terakhirnya di pengalengan ikan. Kalau boleh jujur, dia lebih memilih makan daging saat ini daripada ikan.
Seolah paham, dua gadis di samping Leta ikut pergi. Alex dapat kesempatan ngobrol berdua dengan gadis favoritnya. Jangan mengira kalau Alex tidak punya saingan. Ada kakak kelas dan adik kelas penggemar Leta juga. Jangan mengira juga kalau Leta tidak punya kompetitor. Alexander Hill juga salah satu siswa populer di Wook Peak School.
Alex beberapa kali menjadi wakil sekolah dalam berbagai lomba. Dia tidak memenangi semuanya. Itu saja sudah cukup menjadikannya populer. Sangat wajar kalau Willy mendukung Alex mendapatkan hati Leta. Mereka serasi. Sayangnya, percakapan itu tidak bisa berlangsung lama karena bel sekolah berbunyi.
Alex pun kembali ke kursi. “Kerja bagus, Will! Sekarang saatnya cari ide bagaimana membatalkan rentetan kursus itu.”
__ADS_1
Dalam hatinya, Alex punya beberapa ide. Salah satu yang paling umum jelas adalah tugas kelompok. Mrs. Bellsey biasanya akan membatalkan kursusnya meski dengan berat hati. Wanita itu sadar kalau tugas sekolah tetap nomor satu. Alex tidak perlu mencemaskannya. Dia justru lebih khawatir soal kehidupan satunya. Semoga saja ICPA tidak memanggilnya dengan tiba-tiba.