
Alex hendak melanjutkan percakapan ketika melihat ada pesan aneh masuk ke ponselnya. Dia melihat sederet angka dan huruf acak dari komputernya sendiri. Sejak Jayden pertama kali mengirim virus ke komputer, Alex memasang sistem informasi penerus. Apa pun benda asing yang datang ke sana akan dikirim langsung ke ponselnya. Baru saja, sesuatu masuk ke komputernya.
Caitlin menangkap kegelisahan Alex. “Ada yang terjadi?”
Alex tak sempat bicara. Ponsel di tangannya berdering. Tiger menelepon. Jelas bukan hal baik. Dia mengangkat panggilan tersebut, mendengarkan instruksi super singkat, lagi-lagi tanpa sempat merespon.
Caitlin membaca respon Alex lagi. “Masalah datang.”
“Ada kekacauan di kota. Pelakunya, sepertinya, bukan manusia.”
“Kalau begitu, pergilah. Mereka membutuhkanmu. Dan, kalau kalian membutuhkanku, Tiger punya nomorku.”
Alex hanya mengangguk singkat lalu menghambur pergi.
Dia meninggalkan dua hal yang mungkin perlu diteliti lagi. Hal pertama adalah soal pesta. Dia seharusnya jadi wakil tamu undangan penting malam itu tetapi malah pergi sebelum produknya benar-benar diluncurkan. Hal kedua adalah soal Caitlin. Masih ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Caitlin. Alex berharap akan menyelesaikan masalah dengan cepat, kembali ke sana sebelum pesta usai, sambil berharap kalau tak seorang pun memerlukan seorang Hill di sana.
Alex tak memerlukan tumpangan. Dia hanya butuh sedikit tempat yang gelap juga tertutup untuk memasang pelindung. Dia hanya butuh beberapa detik. Setelahnya, Alex menemukan mobil putih ICPA sesuai arahan Tiger. Ketika Emil melemparkan roket ranselnya, Alex tahu kalau dia tak butuh tumpangan.
Zetta Sonic memelesat dalam kegelapan. Tanpa perlu mencemaskan angin dingin, dia bisa terbang dengan kecepatan penuh. Hanya perlu beberapa menit buatnya untuk tiba di tempat musuhnya berada.
Sebuah makhluk berbadan besar berdiri di atas reruntuhan dinding yang hancur. Dinding itu merupakan bagian dari mini market pada tempat pengisian bahan bakar. Setidaknya, itu beberapa menit yang lalu.
Sama seperti ketika Alex menghadapi para anjing penyembur api, para polisi juga sudah tidak nampak lagi. Hanya ada sebuah mobil polisi di sana, dalam kondisi terbalik, di atas serpihan kaca, ringsek parah. Setidaknya belum ada api di sana. Mengingat ada banyak bahan yang mudah terbakar, Alex tak ingin terlibat dalam ledakan apa pun.
Sosok itu mengenali Alex. Gigi putihnya nampak mengilap, kontras dengan wajah serta tubuhnya yang berwarna gelap. Tubuh itu besar serta kekar. Alih-alih binaraga, Alex justru menggambarkannya seperti king kong. Bahu serta lengan atasnya jelas mengintimidasi. Kepala itu juga. Ada urat-urat tampak jelas pada bagian yang tidak wajar.
__ADS_1
Ketika Alex mendarat tak jauh di depan sosok itu, Alex menyadari kalau dia pernah bertemu dengan sosok tersebut. Namun, dia yakin sosok itu dulu tidak seperti itu. Alex menahan dirinya untuk menebak terlalu jauh.
“Halo, Alex!” Sosok itu melangkah maju. Kaus hitamnya berjuang keras untuk tetap muat di tubuh tersebut. Sementara celana jeans serta sepatu botnya masih terlihat normal. “Waktu terakhir kali kita bertemu, aku ingin bilang kalau kamu berubah banyak. Sepertinya, sekarang aku juga berubah banyak.”
Alex bergeming. Dia memang mengenali sosok itu namun enggan menyebutkan namanya.
Sebaliknya, Tiger tidak. Suara Tiger di seberang sana terdengar terkejut. [Apa itu sungguhan Damon? Bagaimana dia bisa seperti itu? Maksudku… Lihat tubuhnya dan warnanya. Kupikir itu tidak wajar.]
Emil hanya menjawab singkat. [Setuju. Dia kelihatan seperti keracunan.]
[Keracunan apa?]
[Entahlah. Tapi, kupikir. Aku tidak mau tahu jawabannya.]
“Kamu memang terlihat berbeda.” Alex akhirnya menjawab. Dirinya berjalan menghindari. Entah sejak kapan, keduanya berjalan dalam pola lingkaran yang kasat mata. Alex di satu sisi dan Damon di sisi lain. “Jadi, kamu yang membuat ledakan di penjara?”
“Cara keluar dari penjara yang spektakuler, kan? Bagaimana menurutmu?”
Alex mengedikkan bahu. “Lumayan. Kupikir kamu akan datang ke rumahku, bukan mengacau di keramaian seperti ini. Ternyata aku salah. Kamu bukan dendam padaku. Kamu ingin menguasai dunia, eh?” Alex bukan hanya bisa berbohong dengan mudah, dia juga bisa mengganti topik pembicaraannya.
Damon pun tertawa. “Menguasai dunia sebenarnya bukan ide buruk. Uang dan kekuasaan, selalu menggoda. Tapi, sebelumnya aku harus mencoba kekuatan ini lebih dulu. Kekuatan yang sama denganmu.”
Seringai Damon membuat Alex gelisah sama seperti ucapannya tadi. Damon tadi bilang soal kekuatan yang sama dengannya. Alex tak perlu menebak-nebak. Damon pasti bicara soal Dragon Blood. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bisa dia mendapatkan Dragon Blood?
[Apa dia bicara soal Dragon Blood?] Pertanyaan Tiger terdengar begitu jernih. Sayangnya, tak ada jawaban. Itu membuatnya bertanya lagi langsung pada Emil yang seruangan dengannya. [Apa memungkinkan bagi Damon mendapatkan rahasia formula itu dan membuatnya sendiri?]
__ADS_1
[Aku tidak tahu.]
[Tidak. Kamu tahu sesuatu.]
Damon menggeretakkan jeramarinya. Suaranya cukup keras untuk bisa didengar Alex dengan jelas. Ukuran jemari tersebut pun terasa sedikit janggal. Alex tak yakin apa ukurannya termasuk normal untuk ukuran manusia mengingat tubuh atas Damon kini jadi kekar. Kekar tentu saja bukan hal buruk, kecuali kalau dia jadi kekar bukan karena hal-hal wajar.
“Apa kamu tahu berapa banyak orang yang tewas karena kekuatan ini?” Damon melempar pertanyaan yang jelas tak ingin dijawab Alex. Jadi, Damon memberikan jawabannya langsung. “Beberapa. Beberapa nyawa telah melayang akibat cairan terkutuk ini.”
“Maksudmu, kematian para relawan?”
“Tentu saja. Kamu pikir mereka akan membiarkanmu jadi satu-satunya Zetta Sonic?”
Alex tak terkejut. Dia bisa menduganya. ICPA meneruskan penelitian Dragon Blood. Nadira memerintahkan profesor Otto membuat Dragon Blood yang lain. Kalau mereka bisa membuat banyak orang dengan kekuatan Zetta Sonic, mereka bisa melindungi dunia dari para penjahat. Bukan pemikiran yang sepenuhnya salah tetapi juga bukan pemikiran yang murni benar. Kekuatan mentah tanpa hati akan selalu membawa bencana. Alex yakin Damon akan membuktikan pemikirannya, cepat atau lambat.
Damon menyeringai. “Kita beruntung masih hidup padahal ada cairan asing mengalir di tubuh ini. Jadi, ayo kita coba.”
Laki-laki itu maju dengan kecepatan tinggi. Alex terkesiap. Dia tak siap dengan serangan tersebut. Gerakan lawan itu membuatnya tak mampu menghindar. Alex spontan mengulurkan tangan ke depan. Kedua tangannya menangkap kepalan tangan Damon sebelum mengenai badannya.
Sebuah pertemuan antara dua kekuatan mentah sungguhan terjadi.
Damon terus mengerahkan kekuatan, mendorong tangannya pada lawan, disertai seringai lebar. Alex sendiri mendapati dirinya terdorong mundur. Kakinya yang menjejak ke tanah terkena imbasnya. Alex yakin merasakan kalau tanah di bawah kakinya mulai melesak. Kakinya menolak menyerah, lain halnya dengan tanah tersebut.
“Apa kamu perlu buktinya kalau aku lebih baik darimu, Alex?” tanya Damon.
Alex mendengus. “Lebih baik? Kamu. Pasti. Bercanda!”
__ADS_1