Zetta Sonic

Zetta Sonic
Right on Time


__ADS_3

Damon tertawa terbahak-bahak sebelum melempar dirinya pada Alex. Kekuatannya meningkat dibanding sebelumnya. Gerakan tersebut begitu cepat sampai Alex tak mampu menghindar. Kedua tangan Alex kini menahan dua kepalan tangan Damon. Mereka terlibat dalam adu kuat tenaga mentah yang dipengaruhi Dragon Blood. Entah bagaimana dengan Damon, Alex mendapati pemandangannya berkilat hijau sekarang.


“Apa kamu tahu kalau kekuatan Dragon Blood dipengaruhi oleh emosi?” Damon bertanya. Suara itu terdengar parau dan mencekam dari jarak begitu dekat. “Semakin marah dirimu, semakin kuat pula kekuatannya.”


Damon membenturkan kepalanya pada kepala Alex yang tertutupi oleh helm. Kekuatan itu memang tak berhasil menghancurkan helm, namun cukup membuat Alex terhuyung ke belakang. Kepalanya tak siap oleh serangan semacam itu. Dalam keterkejutannya, Alex sadar kalau telah terlepas dari adu kuat tersebut. Sebagai gantinya, Damon kembali menyerang.


Alex bertahan. Dia harus mengakui kalau perisainya selesai di waktu yang tepat. Beberapa pukulan Damon berhasil ditahan sempurna. Alex sesekali juga mengayunkan serangan balasan namun Damon menangkisnya. Jason menembaki punggung Damon. Serangan laser mungil itu tidak membuat luka-luka hangus di sana. Selagi lawannya kesakitan, Alex melepaskan diri. Pistol laser juga telah tergenggam di sana. Kalau laser Jason terlalu kecil buatnya, maka milik Alex jelas bukan sesuatu yang bisa diremehkan.


Damon sadar benar pada gerakan Alex. Sebelum Alex melepaskan tembakan, dia menyergap sosok hitam itu. Tanpa pikir panjang, Damon menggigit tangan Alex. Gantian Alex berteriak oleh rasa kaget dan sakit.


Di seberang sana, lebih tepatnya di markas ICPA, terdengar suara-suara perdebatan. Ada suara dokter Vanessa, suara Tiger, juga Fergus. Mereka bukan memperdebatkan serangan Damon namun lebih kepada bagaimana gigi Damon bisa menembus seragam Zetta Sonic. Dari sana, mereka memang tak bisa melihat sejelas di lokasi. Alex, sebaliknya, bisa melihat jelas sosok Damon dan gigi taring.


Fakta tersebut membuat Alex terjebak dalam kebingungan sesaat. Setelah saat itu berlalu, Alex buru-buru meninju kepala lawan. Gigitannya pun lepas. Alex menjaga jarak. Lawannya berusaha bangkit setelah terhuyung.


Ada empat lubang mungil di bagian lengan seragam Alex sekarang. Mereka membentuk pola gigi taring atas dan bawah. Ini mengingatkannya pada hewan buas bukan manusia. Kalau melihat kondisi Damon yang berangsur-angsur aneh, Alex memang menyadari kalau lawannya sekarang lebih mirip monster.


“Kekuatan itu memakannya.” Pemikiran Alex meluncur dalam suara lirih.


Dia pernah melihat hal serupa dalam video laporan agen ICPA. Ada kasus percobaan gagal yang memakan jiwa manusia. Beberapa di antaranya mengubah si manusia jadi monster lebih dulu sebelum menewaskannya. Percobaan berbahaya tersebut bukannya berhenti justru semakin banyak dilakukan. Ironisnya, mungkin Dragon Blood juga bisa digolongkan pada kasus yang sama.


Damon mengerang keras. Erangan itu membuatnya lebih mirip lagi pada monster. “Aku akan mengalahkanmu, Zetta Sonic!”

__ADS_1


Pistol Alex telah terjatuh. Lawan telah melompat mendekat. Alex melupakan idenya menembak. Dia mengambil pedangnya dan menghunuskannya. Damon menghindari tebasan pedangnya. Tangannya memukul Alex hingga terjerembab. Sementara si drone tak bisa menyerang kalau Damon terlalu dekat dengan Alex. Ceritanya akan lain kalau ada operator di baliknya. Sayangnya, dalam mode otomatis seperti itu, sistem keamanan mencegahnya menembak terlalu dekat pada agen lapangan.


Alex melupakan rasa sakit pada wajahnya. Dia buru-buru bangkit sambil menghunuskan kembali pedangnya. Damon bersenjata sekarang. Dia telah mengambil potongan besi entah dari mana. Ketika pedang itu bertemu dengan potongan besi, pedang pun membelahnya dengan mudah. Alex tak bisa bangga karena itu. Dia sadar telah termakan jebakan Damon. Lawannya melayangkan pukulan, membuatnya terjatuh lagi.


Kali ini, Alex belum sempat bergerak. Damon melompat ke atasnya dengan lutut lebih dulu. Alex berteriak. Lutut Damon menekan tubuhnya ke tanah. Udara dalam perut dan dadanya dipaksa keluar. Alex terbatuk. Pedangnya terlepas. Meski dekat, dia tak bisa menggapainya. Badan Alex kini terkunci. Dia sama sekali tak bisa meloloskan diri.


Merasa di atas awan, Damon tertawa lagi. Lalu mulai memukulinya sambil berteriak, “Aku lebih baik darimu!”


Dalam helm pelindungnya, Alex mendapat banyak sekali peringatan. Pukulan Damon memang tidak akan merusak helm itu secara langsung. Tapi, serangan beruntun bisa membuat kondisinya berbeda. Telinganya mendengar kepanikan dokter Vanessa dan hanya satu seruan. Satu seruan Fergus yang hampir bersamaan dengan Tiger.


[Tangkap!]


Damon berteriak. Dirinya dipaksa mundur. Tangannya memegangi dahi yang berdarah. Warnanya tidak merah seperti darah segar melainkan kehitaman. Damon mengerang-erang, marah dan kesakitan. “Kamu akan membayar ini!”


Alex tak membuang waktu untuk bicara. Dia balas meluncurkan serangan beruntun. Damon dipaksa mundur dan bertahan. Serangan baliknya selalu bisa ditangkis oleh Alex. Damon terpojok dan akhirnya lengah. Dia tak melihat tumpukan puing dan akhirnya terjatuh ke belakang. Belum sempat berdiri, Alex sudah berada dekat. Pedang terhunus ke depan. Ujungnya terpaut begitu dekat dengan leher Damon.


“Kamu dibutakan kekuatan!” ujar Alex. “Menyerah saja dan mungkin ICPA akan memberimu sel khusus yang nyaman.”


“Kenapa? Kamu terlalu takut untuk membunuhku? Aku tahu.”


“Jangan memprovokasi. Itu enggak akan berhasil padaku.”

__ADS_1


“Biar kuberitahu, ini kesempatan terbaikmu. Kamu akan menyesal kalau melewatkannya.”


“Aku enggak menerima perintah dari musuh.”


Damon menyeringai. “Kalau begitu, kamu akan menyesal. Api akan membara dan kamu akan selalu teringat kalau aku lebih baik darimu.”


Alex terbelalak, menyadari apa maksud ucapan Damon. Lawan telah menggenggam pistol lasernya. Damon menodongkan senjata bukan padanya melainkan pada pesawat yang berjarak tak jauh dari mereka. Damon membidik tangki bahan bakar mereka. Pelatuk pun ditarik. Tidak ada yang terjadi. Tentu saja. Damon berulang kali menarik ulang pelatuknya namun tetap tak ada tembakan terjadi.


“Coba lihat siapa yang sekarang bersembunyi di belakang mainan.” Alex mengernyit. “Biar kuberitahu. Senjata ICPA punya pengaman dari pusat. Tanpa izin, kamu enggak akan bisa menembak.”


Di luar dugaan Alex, Damon malah tertawa. “Kalau begitu, bunuh aku. Kalau tidak, aku akan kembali meloloskan diri. Saat itu terjadi, aku akan mencari orang-orang yang kamu sayangi dan membunuh mereka. Satu per satu, tanpa ampun. Aku akan menyebarkan videonya dan membuatmu menyesal pernah melewatkan kesempatan ini.”


Tanpa sadar, genggaman Alex pada pedangnya mengeras. Alex mengayunkan pedang. Namun, dia tidak membunuh Damon. Dia menebas kedua tangannya, membuatnya mengumpat dan berteriak-teriak. Alex menarik diri, terengah-engah, dengan jantung yang berdetak kencang. Pedangnya telah terlepas. Dia benci dan puas oleh keputusannya di saat yang sama.


Kejadian itu memicu keheningan sesaat di markas ICPA juga membuat dokter Vanessa bertanya-tanya. [Bagaimana Alex melakukannya? Gerakannya, cara berpikirnya, semua. Jangan bilang kalau kamu mengajarinya, Tiger. ]


Tiger tertawa. [Kalau aku yang mengajarinya, Damon sudah tewas sekarang. Dia belajar dari yang terbaik, dok. Dari para agen terlatih ICPA. Video-video itu mengajarinya sebaik ruang training. Mari berharap kalau muridku satunya juga berbuat sebaik bocah ini.]


[Siapa maksudmu?]


[Jayden.]

__ADS_1


__ADS_2