Zetta Sonic

Zetta Sonic
Brown


__ADS_3

Alex, pertama kalinya, tertidur di kelas. Jangan salah, dia sering mengambil waktu jam makan siang untuk tidur, tapi tidak di tengah jam pelajaran. Preston menanamkan motivasi yang benar pada majikannya. Alex melihat pelajaran sebagai suatu bentuk untuk mendapatkan informasi dan bertukar pikiran.


Willy membangunkannya ketika jam istirahat datang. “Kamu beruntung enggak mendengkur. Bu Wilson enggak suka ada yang tidur saat dia mengajar.”


“Jam berapa sekarang?” Alex meregangkan badan sembari menguap.


“Jam makan siang. Kamu melewatkan dua jam pelajaran berturut-turut.”


“Pantas aku lapar. Ayo, makan.”


Willy tertawa. Bersama Alex, keduanya turun ke lantai satu di mana ruang makan berada. Ruangan itu memiliki banyak kelompok meja kursi. Sebuah meja bundar dengan empat kursi di setiap sisinya. Jumlahnya tidak pernah berbanding lurus dengan jumlah siswa. Selalu ada tempat lebih bagi mereka yang ingin makan sendirian.


Alex biasanya akan makan siang bersama Willy dan Ivan serta Ben dari kelas sebelah. Tidak ada alasan khusus. Mereka hanya teman sejak kecil dari sekolah dasar yang sama. Menu makan siang hari itu bukan favorit Alex. Sesuatu yang melibatkan ikan tak pernah membuatnya terkesan.


Keempat anak laki-laki itu menikmati obrolan santai mereka. Tak ada pelajaran dibahas di saat makan siang, mereka sudah sepakat. Mereka biasanya membicarakan soal permainan terbaru, film terbaru, pertandingan bola, atau event sekolah. Keempatnya menantikan acara camping yang akan segera diadakan.


Itu memang bukan acara besar. Mereka akan pergi dua hari satu malam di perkemahan. Menikmati alam, mencari air bersih, memancing untuk makan malam, mendirikan tenda, dan tentu saja tidak ada kamar mandi apalagi air panas. Bukan suatu kenyamanan bagi mereka, meski begitu keempatnya merasa tertantang.


Alex hanya mengkhawatirkan satu hal. Tempat itu bukan tempat yang mudah mendapatkan sinyal. Tanpa Dragon Blood, dia tidak perlu mencemaskan apa pun. Dengan Dragon Blood, Alex memilih punya akses ke organisasi rahasia tersebut. Dan, kalau diingat-ingat, dia belum mengatakan hal ini pada Nadira.


Pada dasarnya ICPA menjaga kerahasiaan agen mereka sebisa mungkin. Ini sangat penting bagi organisasi mereka dan si agen sendiri. ICPA pada dasarnya berfungsi mencegah terjadinya kejahatan bukan menanggulangi kejahatan yang telah terjadi. Sekalipun di lapangan, hal berbeda sering terjadi.


Alex yakin Nadira tidak akan mengganggunya saat camp tersebut. Dia justru mencemaskan hal lain. Dragon Blood dalam dirinya belakangan ini bersikap seperti anak patuh. Ketika dia beraksi di pabrik kemarin, energinya hanya berkurang satu bar dari lima bar yang ada. Sayangnya, itu bukan jaminan kalau cairan tersebut tidak akan berulah.


Sepulang dari misi kemarin, profesor Otto memutuskan untuk tidak mengisi kembali daya Dragon Blood. Dia hanya minta Alex makan makanan bergizi dan istirahat. Setelah tidur sebentar dan sarapan, anak itu memang mendapati indikator energinya kembali utuh. Masalahnya, energinya tubuhnya sendiri tidak. Itu pasti penyebab kenapa dia akhirnya tertidur di kelas hari ini.

__ADS_1


Alex memutuskan akan menghubungi Nadira segera sepulang sekolah. Dia perlu membahas hal ini dengan si pemimpin. Mungkin profesor Otto punya sesuatu untuknya mencegah hal-hal tak diinginkan. Bahkan, mungkin sesuatu yang jauh lebih baik dari perkiraannya.


Jason kemarin beraksi cukup keren. Drone mungil itu berhasil mencuri data, memberikan tembakan, melihat yang tak dia lihat, meski akhirnya jatuh di saat terakhir. Seandainya saja, dia boleh membawa itu di camping kali ini, itu akan lebih keren lagi. Kemudian, Alex teringat pada Jayden. Dia bisa membayangkan Jayden sedang memperbaiki si drone ketika dia menikmati makan siangnya.


“Hei, kamu tahu kalau kita akan dapat instruktur khusus?” Ivan, si jangkung melempar pertanyaan pada kedua anak yang beda kelas darinya. Rambut ikalnya persis seperti jagung dan bintik merahnya di hidungnya nampak cocok. “Tadi wali kelas memperkenalkan instruktur perkemahan yang akan menjadi pendamping kita.”


Willy bertukar pandang dengan Alex.


“Aku hanya dengar rumor kalau sekolah mengundang penyanyi sungguhan untuk mengisi acara di malam api unggun. Tapi, instruktur khusus? Aku belum dengar soal itu,” kata Willy. “Apa yang akan dia lakukan? Mengawasi kita sepanjang berkemah?”


“Oh, lebih baik dari itu.” Ben tertawa. Beda kontras dengan Willy. Ben setinggi Alex tapi dengan badan nyaris dua kali lipat lebih lebar dari Ivan. Cocok sekali sebagai putra tunggal dari pabrik coklat internasional. “Dia akan mengajari kita segala sesuatunya sebelum berkemah. Termasuk berburu, memancing, dan memasak.”


Alex langsung lompat pada kesimpulan. “Intinya, dia akan menjejali kita dengan teori membosankan sebelum acara camping tiba?”


“Lima puluh halaman pengantar tidur,” sahut Ben.


“Jangan ingatkan aku lagi soal itu. Instruktur yang ini berbeda.”


“Dia sendiri seperti tantangan,” imbuh Ben.


“Sedikit sombong, kalau boleh kubilang.” Ivan mendengus geli. “Dia bilang punya pengalaman melawan beruang. Aku meragukan keaslian ceritanya.”


“Sedikit menakutkan, kalau boleh kutambahi. Ingat ceritanya soal jamur beracun?”


“Jangan sentuh benda berwana hijau selain daun, maksudmu?”

__ADS_1


“Itu juga. Aku sedikit takut pada suaranya dan tatapannya.”


Ivan dan Ben menambahkan komentar satu dengan yang lain mengenai instruktur baru mereka. Alex dan Willy hanya bisa diam. Setidaknya mereka mendapatkan gambaran umum mengenai si instruktur. Seseorang yang cukup sombong, mungkin seorang pembual, dengan pengetahuan luas mengenai alam liar.


“Aku yakin dia akan datang setelah ini.” Alex bicara ketika mereka sudah kembali ke kelas. “Jam pelajaran selanjutnya bahasa. Kudengar, guru bahasa kita sedang menyiapkan perwakilan untuk lomba pidato bulan depan.”


“Hei, maksudmu si instruktur ini akan merampas jam kosong?”


“Itu yang kutakutkan. Padahal aku masih ingin tidur.” Alex kembali menguap. Dia duduk di kursi lalu menarik tas ranselnya. Tas ransel itu terasa jauh lebih nyaman daripada tidak ada sama sekali. Baru memejamkan mata, dia merasakan Willy menepuk-nepuk bahunya.


“Bangun, Al! Bangun!”


“Hah? Apa?” Alex bahkan belum benar-benar terlelap.


“Dia di sini,” ujar Willy separuh berbisik. “Si instruktur. Dia lebih mirip bodyguard kelab malam atau mantan tentara daripada instruktur. Darimana sekolah mengenal orang ini?”


“Jangan tanya aku!” balas Alex sambil menoleh ke arah pintu kelas.


Willy sendiri berhenti bicara ketika si instruktur melewatinya menuju ke depan kelas. Sebenarnya tak seorang pun berani bicara saat itu. Kemudian, Willy menambahkan lagi, tetap dalam bisikan, “Setidaknya dengan badan itu, aku masih percaya kalau dia bisa melawan beruang. Paham maksudku? Dia hampir sebesar beruang itu sendiri.”


“Ya. Dia memang besar.”


“Dia lebih cocok jadi pegulat.”


“Atau agen rahasia.” Alex membiarkan pendapatnya meluncur mulus dari bibir tanpa sempat dipikir ketika dia melihat Tiger datang dalam balutan setelah cokelat, topi lebar, dan selempang merah.

__ADS_1


__ADS_2