
Alex menarik dirinya dari dokter Vanessa. Wanita itu menatapnya lembut. Dia menempatkan kedua tangannya di wajah Alex yang basah. Sekali lagi, dokter Vanessa berkata padanya.
“Semuanya akan baik-baik saja. Kita semua akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama, Alex. Kamu tidak sendirian.”
Sambil menyeka matanya yang basah, Alex mengangguk. Entah sejak kapan menangis di depan dokter Vanessa sama sekali tidak menakutkan buatnya. Dia tidak perlu khawatir agar terlihat lemah. Wanita itu bahkan dia lebih percayai dari ibunya, bahkan lebih dirinya sendiri. “Terima kasih, dok.”
Belum selesai dokter Vanessa menghibur Alex, mendadak layar di komputer ruangan itu berkelip. Sebuah panggilan masuk. Tak perlu menunggu lama, wajah Jayden pun muncul di sana. Ketika mengira kalau Jayden akan memberikannya informasi dan briefing misi, Jayden justru memanggilnya ke ruang komando.
Bersama dokter Vanessa, Alex bergegas ke sana.
Di ruang komando itu, seperti biasa, sudah ada Jayden dan Emil menghadap komputer mereka masing-masing-masing-masing. Di meja rapat, ada Tiger dan Caitlin. Keduanya duduk berjauhan satu sama lain. Pada layar di depan meja rapat besar sudah ada wajah Nadira. Tanpa perlu diberitahu sebelumnya, Alex sudah bisa menangkapnya. Itu berita buruk.
“Kalian menemukan bomnya?” tanya Alex.
Nadira menghela napas pelan. [Tidak sama sekali.]
“Kalian tidak menemukannya satu pun?” Alex mengulang kembali pertanyaannya.
[Tidak satu pun.] Inti jawaban Nadira masih sama.
Melihat kalau wanita itu sudah malas menjelaskan semuanya, Jayden pun mengambil alih. “Fergus sudah melakukan pemeriksaan. Tidak ada yang mencurigakan. Semua bersih.”
“Bahkan balai kota?” Alex menebak.
“Bahkan balai kota.” Jayden kemudian menarik dirinya dari komputer. Sambil melipat tangannya, dia melirik ke bawah agar bisa melihat meja rapat dengan lebih jelas. Dia melihat lurus pada Caitlin. “Semua tempat umum sudah diperiksa. Kalau mengesampingkan rumah-rumah penduduk, kota ini aman. Kecuali, tentu saja, Baron mengincar rumah murid-murid Wood Peak.”
“Kalian memperlakukan Baron seperti penjahat!” Caitlin akhirnya bicara. “Dia tidak bersalah. Semua adalah perbuatan saudara kembarnya.”
“Dan,” sahut Tiger, “kamu percaya padanya? Kamu jelas-jelas sudah dibutakan cinta.”
“Tidak! Kalian yang sudah dibutakan oleh kebencian. Kalian bahkan melarangku meninggalkan tempat ini. Kalian pikir aku juga penjahat?”
“Memang tidak ada yang boleh keluar masuk markas Special Force semudah itu. Kamu tahu peraturannya.”
“Aku dulu bagian dari kalian.”
__ADS_1
“Dulu.” Tiger menekankan kata tersebut. “Dulu kami memang percaya padamu. Dulu.”
Nadira menggelengkan kepalanya. Perdebatan itu agaknya telah terjadi cukup lama sampai membuatnya bosan. Emil dengan santai mengambil headset lalu memakainya. Jayden hanya berdecak kesal. Dokter Vanessa berinisiatif turun untuk melerai. Alex mengabaikan perdebatan Tiger dan Caitlin.
Di tengah perdebatan itu, dia menghampiri Jayden agar bisa bicara lebih jelas. “Kota ini masih berada dalam sanderanya?”
“Kurang lebih begitu. Selama kita tidak bisa memeriksa setiap bangunan yang ada di kota, siapa yang bisa memastikan kalau kota ini aman? Bahkan, sekalipun Fergus bilang telah memeriksa tempat umum, itu hanya mencakup tempat umum yang besar. Kita belum bisa menjangkau semua tempat umum di pinggiran kota.”
“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita tidak mungkin menunggu sampai tengah malam,” sahut Alex. “Kalau bom itu sungguhan meledak, korban jiwa akan berjatuhan lagi. Kita harus melakukan sesuatu.”
“Nadira lebih memilih opsi yang simpel.”
“Menunggu sampai tengah malam?” Alex menghela napas tak percaya.
“Kita tidak tahu apakah dia serius atau tidak. Kamu ingat bangunan yang meledak ketika kamu berusaha mengejarnya? ICPA telah memeriksanya. Ternyata bangunan itu sendiri adalah milik Baron. Kosong melompong. Hampir tidak ada kerugian bagi Baron. Tempat itu ternyata bahkan menyalahi tata kota dan sudah mendapat ancaman akan dibongkar. Kamu tahu apa artinya ini?”
“Itu hanya gertakan?” Alex memutar bola matanya. “Dia Baron. Orang yang berani meledakkan sekolahku. Dia telah menanam bom di satu tempat. Sekarang mungkin dia sedang menertawakan kita karena gagal menemukan bomnya. Kita tidak bisa membiarkannya, J. Tidak adakah yang bisa kita lakukan?”
“Menunggu. Setidaknya untuk sementara ini. Fergus masih melanjutkan pencariannya.”
Alex melirik jam di Zet-Arm. Sisa tidak sampai lima belas menit menuju pukul dua belas malam. “Selagi Fergus melakukan pencarian, bisa saja bom itu sudah meledak lebih dulu di suatu tempat.”
“Kita bisa mendapatkan bantuan lebih banyak.”
Jayden menggeleng. “Jangan. Alex.”
Alex jelas tidak menghiraukan ucapan Jayden. “Nadira, seberapa serius kamu mau menemukan bom-bom itu?” tanya Alex sembari berjalan maju mendekati layar.
“Apa maumu, Alex?” sahut Nadira.
“Lepaskan Cody. Dia bisa membantu kita.”
Nadira mendesah tak percaya dengan apa yang dia dengar. [Lakukan.]
Alex justru lebih tak percaya lagi dengan yang dia dengar dari Nadira. Benarkah pemimpinnya baru saja memberikan dia izin untuk membebaskan Cody. Alex mengerjap tanpa bergerak di posisinya.
__ADS_1
Nadira memijit pelipitnya dan berkata lagi. [Jangan buat aku mengulangi ucapanku lagi. Aku sendiri tidak percaya keputusan apa yang telah kubuat. Jadi, bebaskan saja dia sebelum aku berubah pikiran.]
Tiger jelas sudah tidak berminat dengan berdebat. Dia pun bergegas melangkah. “Aku akan menjemputnya ke sini.”
[Alex akan ikut bersamamu.] Nadira menyahut cepat. [Cody tidak akan bekerja sama dengan ICPA. Tapi, dia akan bekerja sama dengan Alex yang membantunya keluar dari sana. Tiger, kamu bertugas mengawasi mereka. Kamu tahu apa yang harus dilakukan kalau mereka sampai berulah.]
“Operasi Barb Wire?” sahut Tiger.
Jayden mendengus geli karenanya. “Tentu saja tidak. Kamu tunggu sampai aku datang untuk membantumu.”
“Kalau kamu datang, kamu akan membawa lebih banyak masalah.”
Caitlin pun ikut menyahut. “Kalau tidak ada bom meledak lewat tengah malam, artinya itu hanya gertakan sambal. Baron, Roban, atau siapa pun yang kalian curigai itu berarti tidak bersalah.”
“Pada dasarnya,” kata Emil lirih, “membuat ancaman seperti itu. Termasuk kejahatan. Dia membuat ICPA ketakutan. Meresahkan masyarakat.”
Caitlin spontan melotot.
“Bagaimana kalau bom itu benar-benar meledak? Apakah Zetta Sonic harus ke sana untuk memeriksa?” tanya Alex.
[Tentu saja. Seragam tempurmu saat ini adalah yang terbaik. Setidaknya seragam itu sudah membuktikan kalau menjagamu tetap utuh di sekolah.]
“Apa menurutmu, Baron akan muncul?”
[Bisa iya, bisa tidak. Kenapa kamu tanya?]
“Kupikir aku punya ide brilian!”
[Kenapa aku punya firasat kalau tidak akan suka dengan ini?]
“Tidak kali ini.” Alex menggeleng. Kemudian, dia malah berpaling pada Caitlin yang duduk jauh darinya dengan wajah cemberut. “Kupikir Caitlin yang tidak akan suka.”
“Kenapa aku?” balas Caitlin sinis. Meski begitu, dia tetap bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Alex.
“Karena, mungkin, kamu akan bertemu dengan Baron.” Alex melipat tangannya di depan dada dan malah tersenyum. “Apa menurutmu kamu siap untuk itu?”
__ADS_1
“Aku mengenal Baron sangat baik.”
“Baguslah kalau begitu. Ini akan sangat mengejutkannya.”