
Tempat yang bisa disebut sebagai rumah.
Ucapan Jayden membekas dalam pikiran Alex sepanjang perjalanan mereka pulang ke rumah. Dirinya penasaran maksud pemuda tersebut. Di sisi lain, dia sendiri tak yakin dengan manor mewahnya yang lebih sering membuatnya kesepian daripada nyaman. Berhari-hari menginap di waduk, dirinya hanya rindu Preston, Rover, meja komputernya.
Jayden tak banyak bicara sejak masuk ke dalam mobil. Begitu pula Alex. Mereka meninggalkan waduk lewat jalan rahasia di bawah jembatan.
Cahaya matahari cerah menyinari mobil SUV hitam mereka. Kondisi dalamnya tak berbeda dengan mobil SUV pada umumnya. Tak ada monitor atau fitur canggih dari ICPA. Hanya ada pemutar musik, layar sentuh, juga gantungan dadu pada spion. Aromanya sendiri mengingatkan pada aroma mobil baru.
Alex menatap ke luar. Dia mengamati semua yang bisa dia amati. Gedung-gedung tinggi perkantoran, keramaian pejalan kaki, antrean di lampu merah. Ini kota yang dia kenal. Suasana yang umum terjadi. Mengabaikan semua keramaian yang ada, segalanya terasa damai. Semua yang terjadi kemarin seperti mimpi yang terlalu nyata saja.
“Berapa lama?” Alex memecah kesunyian saat mereka berhenti di perempatan jalan besar dekat rumahnya.
“Perbaikan markas? Siapa yang tahu? Nadira punya banyak hal dalam kepalanya.”
“Jadi, ini akan jadi hari-hari yang tenang bagi kita semua?” Alex berharap Jayden akan memberikan semacam jawaban ‘tidak’ dengan pasti atau setidaknya berkata ‘jangan berharap banyak’. Kenyataannya, Jayden hanya mengedikkan bahunya. “Kamu juga punya banyak hal dalam genggamanmu.”
“Kalau maksudmu itu pekerjaan, iya.”
“Bisa kubantu?”
Jayden terdiam, menoleh ke anak di sampingnya yang sejak tadi menatap ke jalanan luar. “Kamu? Membantuku?” Jayden menjalankan mobilnya lagi begitu lampu lalu lintas berubah jadi hijau. “Pekerjaanku tidak selalu berhubungan dengan meretas sesuatu, Alex. Memeriksa Baron bukan prioritas sekarang.”
“Oke.”
__ADS_1
“Jangan lakukan itu!”
“Aku enggak bilang apa pun.”
“Justru itu,” Jayden tergelak. “Hei, semuanya tertulis jelas di wajahmu. Saranku, lebih baik gunakan waktumu untuk istirahat dulu. Aku serius. Kamu membutuhkannya. Aku sependapat dengan dokter Vanessa.”
Alex mendesah. “Apa itu artinya Zetta Sonic tidak akan muncul sementara waktu?”
“Sepertinya begitu.”
Alex tak akan menyangkal kalau itu bukan jawaban yang ingin dia dengar. Namun, mengingat tidak ada misi yang selesai sempurna di tangannya, mungkin ada baiknya kalau dia mundur dulu untuk sementara. Nadira merencanakan sesuatu untuk mereka. Apa pun itu, pastilah untuk kebaikan bersama.
Hingga hari ini pun, dia masih tak bisa melupakan wajah ayahnya. Wajah tegas itu menyembunyikan ketenangan di baliknya juga rahasia besar kalau dirinya merupakan salah satu pimpinan ICPA. Dia sempat bertanya-tanya bagaimana mungkin ayahnya tak pernah memberitahukannya hal sepenting itu? Kini, pertanyaan itu kembali padanya. Mungkinkah suatu hari nanti dia bisa memberitahukan hal sepenting itu pada ayahnya?
Jayden berhenti di depan rumah Alex. Seperti biasa, Preston sudah ada di sana, menunggu dirinya. Kali ini, ada Rover di samping Preston. Alex tak berkata apa pun lagi. Dia tahu jelas kalau ICPA sudah mengatur alasan tepat baginya sampai Preston dan Mrs. Bellsey diam saja hingga hari ini.
Alex pun turun tanpa membawa apa pun, tanpa bicara apa pun lagi, juga tanpa berpaling sedikit pun ke belakang. Dia tidak perlu melakukannya. Dia tahu, mereka akan segera berjumpa lagi.
Semuanya kembali ke titik nol. Titik nol yang berbeda.
__ADS_1
Alex kembali ke kamarnya. Preston membawakan camilan dan susu dingin kali ini. Mrs. Bellsey sudah meninggalkan kamar selesai membacakan jadwal barunya. Dia punya waktu beberapa jam sebelum rentetan kursus dimulai. Alex menjatuhkan dirinya di atas kursi putar, menghadap ke meja komputer. Rover terlelap di bawah kakinya.
Layar besar itu menunjukkan layar polos. Dengan satu sentuhan, lampu kamarnya meredup dan layarnya mulai berpendar. Dimulai dengan layar polos hita, dengan siluet lebah di bagian bawah. Jayden meminta dirinya dan Zetta Sonic beristirahat. Dia menuruti nasiat ini. Tapi, Killer Bee punya rencana berbeda.
Di mobil, Jayden pasti mengira kalau dia akan menyelidiki Baron. Agaknya itu tidak tepat. Alex punya hal lain untuk diselidiki.
Beberapa waktu lalu, dia meretas keuangan ayahnya demi sedikit mengenal lebih dalam siapa dan apa yang dilakukan. Saat itu, dia justru mendapatkan surel. Surel yang seharusnya dikirimkan pada sang ayah bukan dirinya. Mengingat kalau setiap ICPA saling melakukan spionase, tidak akan aneh kalau pengirim surel tersebut juga merupakan salah satu anak buah ayahnya.
Meski begitu, pemikiran ini memiliki beberapa kejanggalan. Misalnya, kenapa surel tersebut masuk ketika sistem keuangan diretas? Kenapa tidak masuk ke alamat surel ayahnya? Bukankah ICPA seharusnya punya jalur komunikasi rahasia mereka sendiri?
Bagi Alex, jawabannya mudah. Pengirim surel tidak tahu kalau sistem keuangan tengah diretas. Dia mengirimkannya sambil berpikir kalau Mark Hill tengah memeriksa rekeningnya sendiri bukan orang lain. Rasanya aneh kalau ada anggota ICPA melakukan hal ceroboh demikian mengingat bagaimana mereka bisa bertahan dalam rahasia hingga hari ini. Alex cukup yakin pengirim surel bukan anggota ICPA. Dia adalah orang awam yang ingin operasi Zetta Sonic dihentikan. Tidak peduli siapa pun penerima surel tersebut.
Jayden akan menangkapnya lagi kalau dia meretas sistem ayah atau sistem ICPA. Tapi, ini lain ceritanya. Si pengirim surel bukan anggota mereka. Killer Bee akan menemukannya, menangkapnya, dan ngobrol dengannya. Sebaiknya orang itu mengenal ayah dan punya alasan jelas. Alex berharap besar untuk mengenal ayahnya lebih dari sebelumnya.
Sekalipun kemarin Alex tidak mendengarkan rapat para petinggi ICPA sampai selesai, dia tahu kalau operasi Zetta Sonic atau Special Force Zetta Sonic ini tidak cukup dapat dukungan dari para pemimpin lainnya. Dia sendiri tidak berniat mengadu domba antar pimpinan. Sejauh si pelaku bisa memuaskan Alex dengan jawaban, dia tak berencana menyeret orang ini di depan ICPA.
Tentu saja, kecuali, kalau si pelaku memang membahayakan dirinya.
Jemari Alex menyusuri gelang putih di tangannya. Zet-Arm. Itu satu-satunya pengingat kalau dia adalah Zetta Sonic sendiri. Dragon Blood sudah tercurah. Tak satu pun bisa mengulang atau membatalkan proses ini. Tak ada jalan lain selain terus maju. Tak seorang pun akan menghentikannya.
Alex tersenyum sambil memainkan jemarinya di atas keyboard. Kalau semua pemikirannya bersama Jayden benar dan Baron memang ada di balik semua kejadian tersebut, sebaiknya dia berdoa. Alex tak akan membiarkan laki-laki yang berusaha meledakkan ayahnya itu lolos begitu saja. Apa pun alasannya.
Dia harus menghadapi Zetta Sonic, Killer Bee, dan Alexander Hill. Percayalah, nama yang terakhir lebih berbahaya dari dua nama sebelumnya.
__ADS_1