Zetta Sonic

Zetta Sonic
Another


__ADS_3

Alex segera beranjak dari posisinya. Sedikit kesal, sedikit bersemangat karena misi percobaannya belum usai. Kalau harimau pertama ada di sana, temannya mungkin juga ada di sana. Dan, benar saja. Alex menemukan harimau satunya sedang makan, membelakangi dirinya. Ketika memicingkan mata, Alex tahu harimau ini tengah menikmati daging segar. Daging potong, bukan hewan yang dia bunuh. Mungkin itu memang jatah makanannya.


[Tembak!] Jayden memerintah.


Sepertinya hewan yang ini lebih peka. Alex baru mengangkat pistol, si harimau telah berbalik. Ukurannya lebih kecil dibandingkan harimau pertama. Gerakannya lebih gesit dan cepat. Alex terkesiap. Dia tidak menduga hal tersebut. Mengingat kalau harimau pertama bisa ditumbangkan dengan mudah, Alex mengira harimau kedua sama mudahnya.


Alex berguling di atas tanah sementara si harimau itu mendarat di sampingnya. Alex pun segera bangkit dan mundur. Kali ini, dia bisa merasakan kekuatan Dragon Blood dalam dirinya. Dia tidak bisa bergerak secepat itu sebelumnya. Kalau tanpa Dragon Blood, dirinya pasti sudah kena serangan tersebut. Selain itu, dia juga sempat melihat kelebat hijau.


Bukan dari lawan, melainkan dirinya. Ini terdengar gila, tapi Alex cukup yakin melihat kelebat hijau itu di matanya. Lebih tepatnya, Alex merasakan ada asap hijau samar keluar dari matanya ketika kekuatan Dragon Blood mengambil alih.


Sayangnya, tak ada waktu untuk memikirkannya lebih jauh. Lawannya telah menggeram. Dia siap melakukan serangan lagi.


[Kulihat tekanan darah dan detak jantungmu meningkat sekarang. Kamu takut? Terlalu bersemangat?] Jayden bertanya.


Alex tak menjawab. Lawannya datang lagi. Dengan kecepatan dan lompatan secepat itu, Alex harus melakukan sesuatu. Dia tidak bisa terus-terusan menghindari serangan. Sedikit panik, Alex sampai menabrak tong sampah. Tong tersebut jatuh bersama dirinya. Ini jelas bukan keuntungan buatnya. Selagi mencoba berdiri dan membersihkan diri, harimau tersebut datang lagi. Kali ini, Alex tak sanggup menghindar.


Harimau itu mendarat di atasnya. Tangan Alex reflek memegangi kepala si kucing besar sebelum mencabik dirinya. Sialnya, salah satu cakar harimau itu menekan dadanya. Alex terbatuk. Kucing besar ini jelas seberat kelihatannya. Mulutnya terbuka, menunjukkan gigi-gigi runcing dan menyebarkan aroma tak sedap.


“Minggir!” Alex berseru. Lagi-lagi, dia melihat ada kelebat hijau di matanya. Seiring dengan munculnya fenomena tersebut, Dragon Blood dalam dirinya bereaksi. Bobot lawan terasa ringan. Dengan sedikit dorongan, Alex mendorong si harimau sampai terjungkal. Alex buru-buru berdiri sebelum serangan datang lagi.


Sekalipun tinggal di sirkus, si harimau tetaplah hewan buas. Geramannya terdengar lagi. Serangan akan datang. Alex bersiap. Tapi, harimau itu tidak melompat. Dia bergeming di posisinya selama beberapa detik sebelum akhirnya tumbang.


Alex tak perlu bertanya apa penyebabnya. Dia melihat sebuah drone mungil bersayap empat berada di belakang harimau. Ada sebuah corong mungil di bawahnya yang sedang terlipat naik kembali ke badan drone.


“Jayden, apa itu kamu?” Alex bertanya. Suaranya bergetar, mengejutkan.


[Iya. Kamu baik-baik saja?]

__ADS_1


“Kamu menembak harimau ini?” Alex masih tak percaya bagaimana Jayden bisa memantau semuanya dari ketinggian menggunakan drone. Jayden bahkan mampu menembak sasarannya. “Kenapa kamu enggak menembaknya dari awal?” Protes Alex menyusul.


Jayden tergelak dibuatnya. [Hei, kita di sini untuk mencoba kekuatan Zetta Sonic, bukan kecanggihan drone mungilku. Sekarang, bereskan barang-barangmu dan keluar dari sana. Aku akan memberikan laporan ke Nadira.]


Alex mengedarkan pandangannya berkeliling sementara drone tersebut sudah terbang kembali lebih dulu. Jayden jelas tidak menyuruhnya membereskan tong sampah. Dia minta Alex memungut pistol biusnya yang terjatuh tadi. Dimanfaatkannya kesempatan itu untuk mengamati area tersebut. Sirkus ini sepertinya akan menyenangkan didatangi pada waktu yang tepat, bukan waktu ada hewan peliharaan yang lepas.


Mobil Jayden masih terparkir di luar pagar. Alex melewati pintu yang sama, tak lupa memasang rantai dan menggembok ulang. Barulah dia masuk ke mobil. Jayden baru selesai melapor. Tangannya yang satu memegang ponsel, tangannya yang lain memegang drone tadi. Jayden membereskan peralatan, meletakkannya di jok belakang, barulah menjalankan mobil lagi ke arah mereka datang.


“Kamu enggak apa-apa? Masih sedikit syok?” Jayden membuka percakapan.


Alex bergumam pelan. Tatapannya terpaku ke luar jendela. Dia menyadari kalau mereka melewati pintu masuk tol dan mengarah ke tengah kota. Keramaian terlihat lebih jelas. Mobil-mobil berlalu lalang, pejalan kaki memenuhi trotoar, gedung-gedung tinggi berjajar sepanjang jalan.


“Kalau kamu merasa sakit atau tidak enak, segera beri tahu aku. Profesor Otto sekarang sedang meneliti datamu bersama dokter Vanessa,” lanjut Jayden. “Mereka bisa memantau kondisi tubuhmu dari gelang itu. Gelang Zetta Sonic.”


Alex bergumam. Dia tak ingin ngobrol. Bukan karena kesal pada Jayden dan fakta kalau mereka bisa menembak kedua harimau itu lebih awal menggunakan drone. Bukan pula karena cakar harimau mengotori bajunya. Melainkan karena dirinya merasa tak berguna. Jauh di dalam hati, Alex berharap kekuatannya membuat sesuatu yang spektakuler. Sesuatu yang membuat semua orang terkesan. Sayangnya, dia tidak tahu bagaimana cara menggunakan Dragon Blood yang menjadikannya Zetta Sonic. Operasi ini tidak memperlengkapi dirinya dengan buku manual dan video tutorial.


Alex baru menyadari kalau mobilnya telah berhenti. Mereka berada di tempat parkir bawah tanah sebuah gedung. Ada mobil-mobil lain juga di sana. Beberapa orang baru saja keluar dari dalam lift, mereka masuk ke mobil, dan pergi menjauh. Sementara itu, ada satu pengendara motor baru datang. Di belakangnya, ada mobil sedan lain. Ada pula sekelompok orang mengenakan jas dan menenteng koper tipis. Tempat itu jelas cukup ramai.


“Pakai ini!” Jayden menyodorkan topi bisbol hitam polos pada Alex. “Kita tidak mau ada yang sampai tahu kamu sedang membolos.”


“Apa yang kita lakukan di sini?” Alex bertanya sambil mengenakan topi tanpa protes.


“Sarapan. Aku tahu kamu belum sempat menyentuh sarapanmu tadi pagi.”


“Tiger mengirimkannya ke tempatku pukul enam pagi. Aku enggak sarapan sepagi itu.”


“Aku tahu. Ada di data.”

__ADS_1


Alex mendesah panjang, sedikit dibuat-dibuat. “Apa lagi yang kamu tahu?”


“Aku tahu suka makan roti di pagi hari. Roti kismis di sini lumayan enak dan kopinya luar biasa. Itu lebih penting.” Jayden membuka pintu mobil, menengok ke arah tangga menuju lantai dasar. “Ada cafe kecil di sini. Sedikit sempit. Jadi, lebih baik kita makan di mobil.”


Rasa penasaran Alex perlahan kembali. Mereka menyeberangi tempat parkir menuju ke tangga kelabu di satu sudut. Tangga tersebut menuju langsung ke cafe yang dimaksud Jayden. Cafe itu memang kecil dan sedang dipenuhi pengunjung. Antreannya bahkan sampai ke luar. Mayoritas adalah pekerja kantoran gedung itu sendiri.


“Apa roti kismis di sini benar-benar enak?” Alex melihat beberapa pelanggan cafe keluar membawa kopi panas dan bungkusan kertas. Dirinya sendiri ada di antrean terakhir. Tak perlu waktu lama, datang orang-orang lain di belakangnya. “Apa saja yang mereka jual?”


“Banyak. Pilih saja sesukamu.” Jayden kemudian tersadar akan hal lain. “Kamu masih selera makan sekalipun baru diserang harimau, ‘kan?”


Alex tak menyangka dirinya tersenyum saat itu. “Aku kelaparan.”


“Kamu harus makan banyak. Kalau tidak, dia akan merampas energimu.”


“Dasar parasit.”


“Apa? Itu bukan parasit! Anggap saja seperti bayi. Ibu hamil dan bayi.”


Alex cekikikan mendengarnya. Sesuatu analogi yang tak akan terpikir olehnya. Mereka berdua laki-laki. Suasana hatinya, entah bagaimana, sedikit membaik. “Jadi, kamu akan mengantarku pulang setelah ini? Rover juga?”


“Kamu enggak mau pulang?”


Alex mengedikkan bahu, tak yakin dengan jawaban yang hendak dia lempar.


“Tunggu sebentar!” sahut Jayden, sambil memegang earphone bluetooth di telinganya.


Beda dengan Alex, Jayden tidak melepasnya setelah beranjak dari sirkus. Lantas, dia mengambil ponsel dan memeriksa sesuatu di sana. Alex berusaha mengintip. Layarnya menunjukkan sederetan data sebelum berganti jadi deretan rekaman CCTV. Apa pun itu, wajah Jayden berubah.

__ADS_1


“Ngomong-ngomong, aku baru ingat ada toko roti yang lebih enak dari ini. Ayo!” Jayden menarik lengan Alex, menggiringnya keluar dari antrean.


__ADS_2