
Cody mengerjap. Dia mendengar suara yang dia kenal.
Merasakan perubahan ekspresi Cody, Jayden pun menambahkan. [Cody, tetaplah berpura-pura ketakutan. Kita akan sedikit main sandiwara. Jangan khawatir, dia tidak bisa mendengar suaraku.
“Apa kalian satu sekolah?” tanya Baron.
Cody mengangguk sementara Baron terus melangkah. Cemas kalau Baron bisa saja mendengar suara Jayden, Cody spontan melangkah mundur. Hanya satu langkah. Baron langsung memicing dibuatnya dan Cody berhenti lagi.
Baron akhirnya juga berhenti, membiarkan ada jarak di antara mereka. “Sudah berapa lama kamu bergabung dengan ICPA?”
[Bilang saja baru.]
“Baru…”
“Anak baru? Kamu pasti begitu dipercaya sampai langsung terjun ke lapangan bersama Zetta Sonic. Kamu kenal Alex secara personal, ya? Kamu tahu apa yang dia lakukan pada sekolahnya?”
[Jawab saja, bom.]
“Bom?” tebak Cody, mengikuti instruksi Jayden.
“Kamu beruntung tidak berada di sana.”
[Bilang, aku memang beruntung. Setidaknya aku bukan korban juga bukan pelakunya.]
Cody tidak punya keberanian untuk mengusik Baron. Dia juga tidak bisa mengingat terlalu banyak kata sekaligus. Dia masih terlalu takut. Akhirnya dia hanya menjawab singkat. “Ya.”
[Cody, sekarang tanyakan apakah dia pelakunya.]
“Kamu… Kamu pelakunya?” tanya Cody, sesuai permintaan Jayden.
“Kupikir ICPA sudah tahu jawabannya.” Baron malah tersenyum.
Cody berhenti. Dia menantikan lanjutan instruksi dari Jayden, namun tidak ada apa pun. Hening. Cody menatap lawannya lekat-lekat. Dia tak tahu apa yang harus dilakukan sampai dia melihat bayangan hitam datang dari pinggir gedung. “Alex!”
Baron pun menoleh. Dia bisa melihat sosok hitam dalam balutan seragam tempur. “Ah, Zetta Sonic. Sepertinya bom yang kutanam di dalam memang kurang banyak.”
“Baron!” Sosok itu berjalan cepat. Mengabaikan Baron, dia malah berseru pada Cody. “Cody, menyingkir darinya!”
Cody sama sekali tidak bergerak. Dia lebih takut pada moncong pistol tersebut.
Baron sangat memahami hal tersebut. Dia malah mengangkat pistolnya sejajar dengan kepala Cody. “Kuharap kamu paham bagaimana situasinya, Alex. Aku bisa membunuh temanmu. Apa kamu masih perlu contoh lain betapa lemahnya kalian?” Melihat sosok berseragam hitam itu berhenti, Baron pun mengangguk. “Itu lebih cerdas.”
__ADS_1
Jayden pun kembali. [Cody, bicaralah lagi padanya; ICPA punya dugaan pelaku, apa kamu benar pelakunya?]
“ICPA punya dugaan siapa pelakunya. Kamu pelakunya?” Cody bertanya.
“Aku? Bukan aku. Dia pelakunya. Alex.” Baron menoleh pada Zetta Sonic.
Cody menggeleng, tidak percaya. “Apa? Tidak. Dia—“
Baron melanjutkan, “Dia memaksaku melakukan itu semua.”
Cody terbelalak. “A— Apa? Apa maksudmu?”
[Bagus. Lanjutkan.] Jayden harus mengakui kalau percakapan itu berlangsung lebih baik dari dugaannya. Dia membiarkan Cody bertanya langsung pada sang pelaku. Ketidaktahuan dan kebingungannya asli.
“Alex mencoba sok pahlawan. Dia ingin melindungi dunia ini? Tapi, coba lihat? Dia tidak sanggup melindungi siapa pun. Sekolah itu hanya salah satu buktinya. Dia ada di dalamnya ketika ledakan terjadi. Apa yang dia lakukan? Meringkuk di dalamnya.”
Cody menggeleng, tak yakin dengan apa yang dia dengar. “Kamu… meledakkan sekolahku. Kamu… Kamu berusaha membunuh banyak orang.”
“Untuk menunjukkan kalau ICPA tidak berguna. Termasuk Alex. ICPA membuang terlalu banyak tenaga dan uang untuk menciptakan Zetta Sonic. Aku hanya membantu menyadarkan kalau mereka semua tidak berguna. Tidak berdaya. Dunia ini butuh pelindung yang lebih kuat.”
“Maksudmu… Kamu?” tebak Cody lagi.
“Kamu cukup cerdas juga. Selain kreatif.” Baron tersenyum. Dia kembali melangkah mendekat. Moncong senjata itu ikut mendekati Cody. “Alex dan kamu. Sebenarnya kalian terlalu muda untuk tewas. Bagaimana kalau kuberi penawaran terbaik? Kalau kamu mau membantuku, aku akan memberikanmu kesempatan hidup.”
“Aku tahu bot mungil yang kamu pakai untuk mencuri. Sangat brilian, sangat kreatif. Aku bisa membantumu mengembangkannya. Kamu ingin lebih kuat. Aku bisa membantumu.”
“Bagaimana caranya? Kamu ingin aku bekerja untukmu?”
“Kurang lebih begitu.”
[Tanyakan padanya, apa benar dia bosnya atau Roban?]
Cody menurut. “Apa kamu benar bosnya?”
“Kamu tidak percaya padaku?” Baron akhirnya terkekeh. “Tidak banyak orang yang beruntung bertemu langsung denganku. Mereka tidak pernah tahu siapa bos mereka sesungguhnya. Roban? Baron? Itu hanya permainan nama menggunakan nama saudaraku yang sudah meninggal. Hasilnya? ICPA sepertinya juga cukup pusing soal itu.”
“Kamu gila.” Cody membiarkan ejekan itu meluncur mulus dari mulutnya. Dia buru-buru mundur selangkah.
Baron malah tertawa. “Kadang butuh orang gila di dunia ini.”
“Benar,” kata Cody lagi. Dia ingat ucapan Tiger di dalam mobil. “Memang butuh orang gila untuk melawan orang gila.”
__ADS_1
Tawa Baron lenyap digantikan senyuman tipis lagi. “Jadi?”
[Tidak perlu menjawabnya Cody. Caitlin sudah cukup banyak mendengar ini keluar dari mulut kekasihnya.]
“Cukup!” Suara Caitlin pun terdengar.
Cody dan Baron menoleh ke sumber suara, lebih tepatnya ke arah Zetta Sonic. Sosok itu sedang berjalan cepat ke arah mereka. Bahkan, Baron dibuat bergeming karena penasaran. Sosok itu melepaskan helm seragam tempur, melemparkannya ke tanah, lalu menampar Baron. Sosok itu memang bukan Alex.
“C— Caitlin?” Baron tak percaya apa yang terjadi. Caitlin mengenakan seragam tempur Alex lalu berlari dari sisi gedung yang terbakar. Sandiwara murahan itu sama sekali tidak bisa dia tebak.
Mata Caitlin telah basah oleh air mata. Gadis itu berteriak histeris. “Kamu pembunuh! Aku tidak percaya aku percaya pada seorang pembunuh! Kamu kejam! Penipu!”
Jayden memberikan nasihat bijak selagi Caitlin meledak. [Cody, kerja bagus. Sekarang saatnya kamu keluar dari sana. Ikuti Jason. Dia akan mengantarkanmu pada Tiger.]
Baron kehabisan kata-kata selagi Caitlin memaki dirinya. Dia tidak tahu harus bicara atau bersikap bagaimana pada Caitlin. Saat dia ingin bicara, Caitlin sudah berteriak terlalu banyak. Ketika dia ingin memegang Caitlin, gadis itu langsung menepisnya. Caitlin bahkan berulang kali mendorongnya.
Baron terpaksa ikut berteriak. Dia terus menerus meneriakkan hal yang sama. “Aku melakukannya untukmu!”
Setelah sekian lama Baron berteriak, Caitlin akhirnya merespon. “Melakukannya untukku? Pembohong! Kamu melakukan itu semua di belakangku! Seharusnya aku tidak pernah percaya padamu! Semuanya bohong! Kamu pembohong!”
“Baiklah, mungkin aku tidak menceritakan semuanya padamu. Tapi, aku tidak berbohong cinta ini. Aku tidak ingin kamu terluka. Aku ingin dunia yang aman untukmu. Aku melakukan ini semua untukmu!”
“Kamu mengorbankan banyak orang!”
“Aku ingin melindungi yang kucintai. Cait, kumohon, dengarkan aku dulu. Aku berulang kali memintamu keluar dari ICPA. Aku tidak tahan melihatmu terluka. Tapi, kamu terus menolak. Kamu bilang itu mimpimu. Aku ingin kamu bahagia. Jadi, kalau aku tidak bisa membuatmu keluar dari ICPA, akan kuciptakan dunia yang aman—“
“Dunia penuh sandiwara?” tebak Caitlin. “Itu sampah!”
“Semuanya kulakukan untukmu!”
“Omong kosong! Kamu benar-benar sudah gila! Hentikan kegilaan ini. Beritahu aku di mana semua bom yang kamu tanam. Jangan jatuhkan lebih banyak korban lagi!”
“Itu diperlukan untuk membuka mata semua orang.”
“Termasuk aku?” sahut Caitlin. “Orang yang harus disadarkan adalah kamu!” Caitlin berteriak. Dia terisak dan merasa sesak. Ada jeda singkat di antara mereka sebelum Caitlin mulai melembut. “Hentikan semua ini, Baron. Kumohon. Jangan ada lagi korban!”
“Aku hanya ingin kamu tinggal di dunia yang aman.”
Caitlin menggeleng. “Aku ingin tinggal di dunia yang nyata bukan ilusi. Jadi, kumohon. Serahkan dirimu. Akhiri semua permainan ini.”
Baron menggeleng. Dia mengusap dagunya, bingung.
__ADS_1
Caitlin melanjutkan lagi. “Lakukan ini untukku dan calon buah hati kita.”